
πJangan malu dengan kegagalan, belajarlah darinya dan mulai lagiπ
.
.
.
.
Chloe tak mengindahkan teriakan anaknya yang kesakitan, ia sudah tidak bisa mentoleransi lagi dengan kelakuan sang anak. Xavier yang baru keluar dari ruang kerjanya mengerutkan keningnya melihat sang istri dan anak ketiga mereka.
"Baby" panggil Xavier dengan suara lembut.
"Daddy please help me. Aarrgghh! Mom sakit" (papa tolong aku) rengek Victor dengan manja.
"Apa yang terjadi baby?" tanya Xavier sambil memeluk Chloe.
Chloe yang di peluk dari belakang mau tak mau melepaskan jewerannya di telinga Victor. Ia terus menggerutu sambil meraba kupingnya yang sudah kemerahan seperti tomat.
"Sekali lagi mommy lihat gosip kamu di TV mommy bakal jewer telingamu sampai putus" ancam Chloe.
"Mommy ada-ada aja deh, lagian wajar kan tiap hari muka aku muncul di TV karena aku itu seorang artis mom" ucap Victor dengan kesal.
"Lah wajar kalau gosip tentang kamu baik, tapi ini apa tiap hari ada saja gosip kamu yang gonta ganti pacar" ucap Chloe dengan tatapan tajam.
"Come on mom. Aku gonta-ganti pasangan ya karena tidak cocok mom lagian ini juga buat seleksi mom" (ayolah mama) bantah Victor dengan santai.
"Kamu pikir mereka itu barang apa jadi harus di seleksi" ucap Chloe dengan suara tinggi.
"Yang bilang mereka barang siapa mom, kan mommy sendiri yang bilang mereka itu barang" ucap Victor dengan santai.
"Besok kamu bersihkan kolam berenang di luar tidak ada bantahan" ucap Chloe sambil berkacak pinggang.
"Apa! No no aku tidak mau mom mau taruh dimana muka ku kalau sampai fansku tahu" tolak Victor dengan cepat.
"Pokoknya mommy tidak mau tahu! Besok kamu harus bersihkan kolam renang sampai bersih" ucap Chloe dengan suara tegas.
"Daddy" rengek Victor dengan manja.
"Baby sudahlah jangan beri Victor hukuman" ucap Xavier sambil mencium kepala sang istri.
"Oh hubby pilih belain anak nakal ini" ketus Chloe.
"Dia kan anak kita baby"
"Baiklah"
Victor senang bukan main mendengar sang mommy yang tak jadi menghukumnya. Melihat hal tersebut Chloe tersenyum menyeringai melirik suaminya.
"Kalau begitu biar hukuman Victor di ganti saja. Selama 1 minggu tidak ada jatah buat hubby" ucap Chloe dengan tegas.
Deg........
Xavier melotot kaget mendengar ucapan sang istri, bisa gagal fantasinya untuk malam ini. Satu hari saja tidak dapat jatah serasa 1 tahun apa lagi ini seminggu, ini tidak bisa dibiarkan.
"Victor turuti kata mommy jangan membantah" ucap Xavier dengan tegas.
"Daddy" pekik Victor dengan kesal.
"Baby aku sudah menyuruh Victor menerima hukumannya jadi tidak boleh mengurangi jatahku ya baby"
"Heemmm"
Xavier lalu pergi bersama Chloe menuju kamar utama milik keduanya, Victor sendiri berteriak kesal karena harus membersihkan kolam renang. Ia yakin pasti kedua kakaknya akan memuat aksinya di internet.
"Aaaarrghh! Sial" teriak Victor dengan kesal.
...π π π π π...
Zelena yang baru pulang jalan-jalan bersama Liliana anak Kevin dan Rahel, seketika kaget mendengar teriakan di dalam mansion. Ia melihat ke lantai dua dan kaget melihat kakak ketiganya sudah pulang.
__ADS_1
Dengan cepat Zelena masuk ke lift dan naik ke lantai dua, sampai di sana ia langsung berlari dan melompat ke punggung Victor membuat keduanya jatuh di lantai karena Victor tak berdiri seimbang.
Brugh............
"Kurang ajar siapa yang berani naik ke punggungku!" bentak Victor.
"Brother Vic" ucap Zelena dengan suara lembut.
Mendengar suara yang sangat ia kenali, Victor berbalik melihat siapa yang ada di atas punggungnya. Victor kaget melihat mata sang adik yang sudah berkaca-kaca.
"Princessku, my darling sweety" ucap Victor dengan senang.
"Brother Vic bentak aku" ucap Zelena dengan takut.
"Tidak princess, tadi brother pikir bukan princess makanya marah"
"Beneran" ucap Zelena dengan polos.
"Iya princess" ucap Victor sambil mencubit pipi Zelena yang chubby.
Aarrghhh..........
Teriak Zelena merasa kedua pipinya yang sangat sakit di cubit kakaknya itu, bukannya berhenti malah Victor semakin mencubit pipi Zelena yang seperti bakpao di matanya.
"Sakit brother" ucap Zelena dengan kesal.
"Habis pipimu gemesin sih pengen di cubit terus" ucap Victor sambil terkekeh.
"Ckk!!" decak Zelena dengan ketus.
Victor tertawa melihat wajah sang adik yang sangat kesal, apa lagi bibirnya yang mengerucut seperti bebek. Dengan jahil Victor kembali mencubit bibir Zelena hingga ia berteriak kesakitan.
Hahahahaha...........
Tawa Victor menggelegar di lantai dua membuat semua pelayan hanya bisa menutup telinga saat keduanya ada di mansion.
Biasanya mereka akan mendengar teriakan sang nyonya, tapi kali ini satu mansion akan pusing dengan kelakuan Victor dan Zelena.
Berbeda dengan suasana di mansion Xavier yang di penuhi dengan tawa, di mansion Albert hanya ada keheningan meski semua anggota keluarganya lengkap.
Leon yang tadi di jemput oleh sang kakak di mall dan merengek untuk tidak memblokir kartu kreditnya, hanya bisa diam tidak berani berbicara satu kata pun. Albert melihat anak pertamanya dengan bangga, sedangkan Mira menatapnya dengan sedih.
"Kenapa tidak pulang kesini saat kamu pulang son?" tanya Albert dengan suara lembut.
"Daddy know the answer" (papa tahu jawabannya) ucap David dengan suara dingin.
Hah.......
Albert menarik napas dalam tahu maksud sang anak, sudah belasan tahun mereka seperti ini sejak istrinya pergi meninggalkan mereka. Mira yang tahu maksud sang anak dengan cepat berlari ke kamar.
"Ka" ucap Leon dengan sedih.
"Jangan paksa aku untuk memaafkan dia" ucap David dengan tatapan tajam.
"Iya ka" ucap Leon dengan patuh.
"Leon pergi ke kamar bersihkan tubuhmu" ucap Albert.
"Iya dad"
Albert lalu mengajak David menuju ruang kerjanya karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Setelah masuk ke dalam Albert memeluk David dengan erat sambil menepuk pundaknya dengan lembut.
"Daddy bangga sama kamu sudah menunjukkan kemampuanmu selama ini" ucap Albert dengan tulus.
"Terima kasih dad" ucap David dengan tulus sambil tersenyum hangat.
Hanya di depan Albert saja ia bisa menunjukkan senyumnya, melihat senyum sang anak tanpa terasa air matanya jatuh. David dengan cepat mengelap air mata Albert.
"Jangan pernah menangis dad, karena aku tidak suka melihat air mata daddy jatuh seperti waktu itu" ucap David dengan getir.
"Ini air mata kebahagian son, kamu tahu hal itu"
__ADS_1
"Heemm! Semoga apa yang daddy katakan sama seperti yang ada di hati daddy"
Deg.........
...π π π π π...
Tubuh Albert menegang mendengar ucapan sang anak, ia tahu David sangat mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Selama ini ia tidak bisa membohongi anak pertamanya dengan apa yang ia rasakan selama ini.
"Daddy jangan pernah paksa aku untuk hal itu" ucap David dengan suara dingin.
"Tapi son biar bagaimana pun dia mommy kamu"
"Mommyku sudah mati saat dia pergi meninggalkan kita dad" ucap David dengan mata memerah menahan emosi.
Melihat perubahan di wajah sang anak Albert memutuskan untuk tak membicarakan tentang istrinya. Bukan hanya David saja yang sakit hati tapi ia juga, hatinya hancur berkeping-keping saat itu tapi tetap perasaannya ia tidak bisa berbohong.
Aku sangat mencintai istriku begitu juga dengan kedua anakku, batin Albert.
"Apa kamu yakin tidak ingin bekerja di perusahaan milik daddy?" tanya Albert sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Biar Leon yang mengurusnya dad, aku akan mengikuti jejak daddy yang mengabdi untuk keluarga uncle Xavier"
"Baiklah jika itu keputusanmu, tapi ingat kamu masih tetap jadi salah satu pemilik saham di perusahaan daddy"
"Iya dad"
"Besok bos besar akan mengumumkan pengangkatan bos muda sebagai direktur utama Wesly Group"
"Aku tahu dad"
"Pekerjaan daddy otomatis akan kamu yang lanjutkan, jika kamu bingung jangan pernah sungkan untuk bertanya ke daddy"
"Iya dad. Jadi daddy akan pensiun mulai besok"
"Heemm! Tapi sepertinya daddy akan pusing mengurus adikmu itu" ucap Albert memijit dahinya yang sakit.
"Hehehehe! Selamat menikmati momen mengurus anak nakal itu dad" ucap David sambil terkekeh.
"Semoga darah tinggi daddy tidak kambuh nanti" ucap Albert dengan gusar.
David terkekeh melihat daddynya yang belum mulai mengurus adiknya tapi sudah pusing. Selama ini Leon sangat nakal dan suka membuat keonaran di luar sana, apa lagi Leon adiknya itu tidak pernah takut dengan Albert.
Bahkan David masih ingat saat Leon berumur 6 tahun, saat itu Albert begitu pusing mengurus kenakalan Leon yang menghancurkan satu sekolah. Leon sendiri tidak pernah takut di hukum oleh Albert tapi berbeda jika David sudah turun tangan.
Anak itu hanya patuh dan sangat takut jika sang kakak sudah turun tangan, sejak itu semua urusan sekolah Leon sang kakak yang mengurusnya. Bahkan hingga saat ini.
Albert lalu menyuruh anaknya untuk pergi beristirahat, saat keluar dari ruang kerja sang daddy ia berpapasan dengan sang mommy. Tatapan matanya tajam dan penuh dengan kebencian.
"Nak" panggil Mira dengan suara lembut.
David tak mengucapkan satu kata pun dan melewati Mira begitu saja. Air matanya jatuh melihat sang anak yang terus menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Maafkan mommy nak" ucap Mira dengan suara serak.
Langkah kaki David terhenti mendengar ucapan mommynya barusan. Hatinya hancur berkeping-keping melihat sosok yang dulu ia panggil mommy.
Kilasan kejadian waktu itu terus berputar-putar di kepalanya membuat mata hitam itu berkilat penuh kebencian. Leon yang berdiri di depan pintu kamarnya menjatuhkan air mata melihat keduanya.
"Mommy aku sudah meninggal sejak hari dimana dia pergi meninggalkan aku, daddy, dan adikku" ucap David dengan suara dingin.
Brugh...........
Mira terjatuh di lantai tak kuasa menahan tubuhnya mendengar ucapan sang anak, David tak perduli dengan mommynya dan berlalu pergi menuju kamarnya di paling ujung.
Hiks.......hiks......hiks......hiks........
Mira menangis meraung-raung sambil memukul dadanya yang terasa sangat sakit, Leon yang berdiri di balik pintu kamarnya menutup pintu dan ikut menangis. Ia sangat sedih melihat kondisi keluarganya yang seperti ini.
...π π π π π...
To be continue................
__ADS_1