Heartless 2

Heartless 2
Chapter 24


__ADS_3

🍁Bersabarlah wahai diri, tak selamanya kau akan diuji. Akan datang saatnya bahagia yang kau nanti-nanti🍁


.


.


.


.


Setelah mengirim kedua foto tersebut ke tuannya, orang itu bergegas pergi dari sana. Tanpa ia sadari ternyata pengawal bayangan Zelena mengetahui apa yang ia lakukan sehingga memberi tahu pengawal Zelena untuk menangkap pria tadi.


Saat pria itu melajukan mobilnya ia melirik spion saat mengetahui ada 1 mobil hitam yang mengikutinya. Merasa dia sudah ketahuan ia lalu menekan tombol darurat di hpnya yang terhubung dengan temannya.


Dengan cepat pria itu melajukan mobilnya menuju mall yang tak jauh dari sana. Sampainya di mall ia segera masuk ke dalam dan berlari menuju tangga darurat.


Saat sudah berada di tangga darurat ia menyodorkan hpnya ke temannya dan mengambil hp yang sudah disiapkan teman. Dengan cepat ia bergegas turun ke basement lewat tangga darurat, sedangkan temannya bersembunyi di ruangan staff di dekat sana.


Langkah kaki yang banyak terdengar di luar sana, pria itu diam dan mendengar apa masih ada langkah kaki atau tidak. Setelah 20 menit ia bergegas keluar dan menuju lantai 3 lewat tangga darurat.


Setelah di lantai 3 ia berbaur dengan pengunjung mall dan keluar dari mall tidak memikirkan temannya. Sampai di parkiran ia segera melajukan mobilnya keluar dari mall.


^^^"Halo tuan"^^^


"Bagaimana"


^^^"Richie sudah ketahuan tuan, tapi saya berhasil mengambil hpnya dan menukar dengan hp kosong yang ada 2 foto gadis itu tuan"^^^


"Bagus, selidiki keduanya mana yang putri Xavier"


^^^"Baik tuan"^^^


Panggilan langsung di matikan oleh pria itu, sedangkan di basement mall pengawal Zelena sedang menatap pria yang mereka kejar tadi sudah terbujur kaku.


"Cari identitas pria itu" perintah Joe kepala pengawal Zelena.


"Hanya ada handphone saja bos, kartu identitasnya tidak ada" ucap anak buah Joe.


"Periksa seluruh tubuhnya siapa tahu ada yang terselip"


"Baik bos"


"Bos" panggil Bisma.


"Gimana apa loe dapat sesuatu di mobilnya"


"Tidak ada bos, ternyata itu mobil curian bos"


"Sial" umpat Joe dengan kesal.


"Bos gimana dengan mayat orang ini?" tanya anak buahnya yang bernama Riko.


"Loe ambil sidik jari dia dan lacak dentitasnya"


"Oke bos"


Joe lalu mengutak hp milik pira itu dan mendapati 2 foto di dalam hp itu. Ternyata foto itu adalah foto Clarisa dan Zelena yang tadi sedang di kantin, dengan cepat Joe segera menelpon David.


"Halo"


^^^"Halo bos, kami menemukan seseorang yang mengambil foto nona muda dan temannya diam-diam barusan"^^^


"Siapa dia dan dimana dia?" tanya David dengan suara dingin dari seberang.


^^^"Orang itu tidak ada identitas sama sekali bos dan saat ini ia sudah mati karena meminum racun"^^^


"Cari tahu identitasnya sampai dapat"


^^^"Baik bos"^^^


"Selidiki juga apa foto nona muda di kirim ke seseorang atau tidak"


David segera mematikan panggilannya sepihak tidak menunggu balasan Joe. Melihat panggilannya sudah terputus Joe segera menyuruh anak buahnya membawa jasad pria tadi ke markas mereka.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Selesai membeli es boba Clarisa lalu pamit pulang lebih dulu karena ia akan pergi kerja part time di cafe. Zelena yang bosan jika pulang ke mansion memilih pergi ke taman.


"Buset deh kenapa gue bodoh banget datang kesini panas-panas kayak gini" dengus Zelena dengan kesal.


Ia lupa jika Jakarta tidak sama seperti California, cuacanya terasa sangat panas di siang hari. Saat akan sampai taman ia kaget bukan main mendengar bunyi decitan ban mobil tak jauh di depannya.


Cekiitt..........


Zelena mengelus dadanya yang hampir copot karena kaget, entah kenapa langkah kakinya membawanya ke mobil itu.


"Mobilnya bagus tapi sayang orangnya pasti ngak pernah lulus ujian mengemudi" gumam Zelena yang melihat mobil itu terparkir dengan sembarang.


Tok.........tok.........tok........tok..........


Zelena mengetuk kaca mobil sport jenis Ferrari warna hitam di depannya. Ia ingin memarahi pengemudinya karena susah parkir dengan sembarang.


Lama Zelena mengetuk kaca mobil tapi tak ada respon, ia lalu mencoba membuka pintu mobil dan ternyata tidak terkunci.


"Loe itu tahu...." ucap Zelena yang terpotong melihat orang didepannya.


Matanya melotot kaget melihat seorang laki-laki yang berlumuran darah di bagian perut. Wajah pria itu pucat karena terlalu banyak mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Loe terluka" pekik Zelena dengan kaget.


Mendengar suara berisik di sampingnya mata pria itu terbuka. Mata tajam hitam itu seketika memandang gadis disampingnya yang terlihat panik, tak lama mata keduanya saling menatap.


Jantung keduanya berdetak dengan cepat seperti baru habis lari maraton. Zelena terpesona dengan mata tajam hitam itu seakan ada perasaan rindu dan hangat dari tatapan itu.


"Gantengnya" ucap Zelena tanpa sadar.


Kening pria itu mengerut mendengar ucapan Zelena, sesaat ia terkekeh melihat wajah polos yang memandangnya tak berkedip.


"Loe siapa?" tanya pria itu.


Zelena seperti disengat listrik mendengar suara baritone serak di depannya. Entah kenapa suara baritone itu sangat seksi di telinganya.


Eeehh........


Zelena tersentak dengan pikirannya yang mengatakan seksi untuk orang di depannya. Ia menggelengkan kepala tak mau berpikir yang tidak-tidak.


"Pergi" usir pria tadi dengan suara dingin.


"No, om lagi berdarah jadi harus segera diobati" ucap Zelena dengan cepat.


"Heemmm"


"Om ayok kita ke rumah sakit sebelum om mati" ucap Zelena dengan panik.


Pria ia memandang Zelena dengan tajam karena mengatainya mati. Zelena dengan cepat memapah pria itu keluar dari mobil dan bergegas mencari taksi di sekitar sana.


Beruntung ada taksi yang lewat jadi keduanya segera masuk dan menyuruh sopir taksi menuju rumah sakit terdekat.


"Om jangan mati dulu. Kasian nanti gue sama om sopir repot harus jelasin ke polisi" celoteh Zelena sepanjang jalan.


"Ckk!!" decak pria tadi mengumpat ucapan Zelena sedari tadi.


~ Wesly Hospital ~


Sampainya di Wesly hospital pria yang di tolong Zelena tadi langsung di bawa ke ruang operasi. Setelah membayar taksi Zelena bergegas masuk kembali ke dalam rumah sakit.


"Maaf apa nona istri pasien?" tanya salah satu suster.


"Hah! Suster aku masih kecil seperti ini apa aku kelihatan seperti istri om itu" dengus Zelena dengan kesal.


"Oh maafkan saya nona, saya pikir nona istri pasien tadi"


"Gue belum nikah suster, alias masih singel" ketus Zelena.


"Sekali lagi maaf nona atas kesalahan saya" ucap suster tadi dengan kikuk.


"Heemmmm"


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Bukan dok, tadi saya cuma menolong om itu di tengah jalan"


"Lalu dimana keluarganya"


"Mana saya tahu dok? Kan saya ngak kenal sama om itu! Memangnya kenapa dok?" tanya Zelena dengan wajah cemberut.


"Pasien harus segera di operasi untuk mengeluarkan peluru di perutnya nona dan kita butuh tanda tangan keluarga untuk menyelesaikan administrasinya"


"Ya kalau begitu segera operasi om itu dok, nanti biar saya yang mewakili om tadi sebagai keluarganya"


"Baik nona"


Dokter kembali masuk ke dalam ruang operasi, sedangkan Zelena mengikuti suster tadi mengantarnya ke bagian administrasi.


Selesai melakukan pembayaran administrasi Zelena bergegas kembali ke ruang operasi. Entah kenapa ia merasa tak ingin meninggalkan pria yang disebutnya om tadi.


Semoga om tadi selamat, batin Zelena.


~ Wesly Group ~


Brak..............


Xander mengebrak meja kerjanya sambil menatap David dan Luki dengan tatapan tajam. Ia sangat marah mendengar informasi yang David berikan barusan.


"Aku tidak mau tahu cari data tentang pria tadi sampai dapat!" bentak Xander dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap keduanya dengan serentak.


"Luki cek cctv di sekitar mall, aku yakin pria tadi tidak bekerja sendiri"


"Baik bos" ucap Luki dengan cepat.


"David apa belum ada juga perkembangan mengenai penyelidikan princess?" tanya Xander dengan mata mengelap.


"Maaf bos" ucap David dengan menunduk karena belum ada informasi apapun.


Bugh........bugh.......bugh........bugh.......


David terpental ke belakang saat tubuhnya di pukul Xander dengan kuat. Mata Luki melotot melihat gerakan tangan bosnya yang sangat cepat memukul David.


"Aku tidak butuh maaf David tapi hasil!" bentak Xander menggelegar.


"Aku akan segera membawa hasilnya bos" ucap David sambil menahan rasa sakit.


"1 minggu David"

__ADS_1


"Baik bos terima kasih"


"Keluar" ucap Xander dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap keduanya dengan serentak.


Xander menutup mata menormalkan emosinya, ia duduk di kursi kerjanya membuang napas dengan kasar. Perlahan mata itu terbuka saat hpnya berbunyi.


^^^"Heeemmm"^^^


"Brother i miss you" ucap Victor dari seberang.


^^^"Sepertinya kamu punya waktu luang" ucap Xander dengan suara dingin.^^^


"No brother saat ini aku sangat sibuk, aku hanya mau beritahu jika ulang tahun princess aku tidak bisa hadir nanti"


^^^"Alasannya"^^^


"Aku harus syuting selama seminggu di Swiss tepat di hari ulang tahun princess brother" keluh Victor.


^^^"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan twin"^^^


"Ya brother, aku akan menelponnya di hari ulang tahun princess dan mengirim hadiah"


^^^"Selesai syuting segera temui princess"^^^


"Oke brother"


Xander lalu memutuskan panggilannya sepihak tak ingin berbicara lagi dengan adiknya Victor. Xander menatap email yang dikirim oleh pengawal gelap princess kepadanya.


Dahinya mengerut melihat foto sang adik yang berada di rumah sakit, tapi setelah menggeser foto-foto yang lain ia sudah mengerti kenapa adiknya berada di sana.


"Princess kamu masih tetap polos dan baik hati" gumam Xander sambil tersenyum tipis.


~ VA Corp ~


Mikhail tersenyum smirk melihat rekaman di basemant mall tentang pria yang mati di kejar anak buah Xavier.


"Bodoh" ucap Mikhail dengan sinis.


"King ini laporan mengenai nona muda hari ini" ucap Damon menyodorkan iPad.


Mikhail menerima iPad tersebut dan melihat foto-foto tentang kegiatan adiknya hari ini. Ia menatap datar semua foto yang di kirim oleh X.


"Apa sweety bertemu berengsek itu?" tanya Mikhail.


"Tidak King. Nona muda terakhir kali bertemu tuan muda ketiga Wesly di mansion tuan Albert"


"Heemmm"


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Mikhail lalu menyodorkan kembali iPad ke Damon. Tak lama pintunya di ketuk dari luar, setelah menekan tombol di samping meja, pintu lalu terbuka dan masuklah Teivel.


"King perwakilan Livaro Group sudah sampai" ucap Teivel dengan sopan.


"Heemmm"


Mikhail segera memakai jasnya dan berlalu keluar diikuti Damon dan Teivel. Ketiganya bergegas menuju ruang meeting di lantai 97, saat masuk ke dalam ruang meeting tatapan mata tajam Mikhail langsung menatap perwakilan dari Livaro Group.


"Siapa dia?" tunjuk Mikhail ke seorang perempuan berpenampilan menor sambil duduk di kursi kebesarannya.


"Maafkan saya presdir Mikhail, kebetulan tuan Livaro tidak bisa hadir di meeting ini jadi mengirim putrinya Leila untuk mewakilinya" ucap asisten Mr. Livaro.


"Ckk! bi**h" dengus Mikhail dengan kesal.


Leila mengepal tangannya mendengar dengusan Mikhail barusan. Baru kali ini ada orang yang menyebutnya b***h di depannya langsung.


Laki-laki bangsat beraninya dia mengatai aku b***h, batin Leila dengan emosi.


Wajah Mikhail mengelap mengetahui pikiran Leila barusan, aura dingin seketika menyeruak di dalam ruang meeting membuat mereka semua bergidik ngeri.


"Teivel batalkan kerja sama ini" ucap Mikhail dengan suara dingin.


"Apa" teriak asisten Mr. Livaro dan Leila serentak.


"Usir mereka dari perusahaanku" ucap Mikhail dengan tatapan tajam.


"Presdir mohon jangan batalkan kerja sama ini! Memangnya apa salah kami?" tanya asisten Mr. Livaro dengan bingung dan cemas.


Dor...............


Aaarrghhhh............


Bukannya menjawab pertanyaan asisten Mr. Livaro malah Mikhail menembak Leila di pahanya. Teriakan Leila bergema di dalam sana merasakan pahanya berdenyut sakit terkena timah panas.


"Damon buang semua yang tersentuh ja***g itu" ucap Mikhail dengan suara dingin dan tatapan tajam.


"Baik King" ucap Damon dengan suara tak kalah dingin.


Mikhail berlalu pergi bersama Teivel meninggalkan Damon dengan kedua orang itu di sana. Sesaat petugas keamanan datang dan menarik keduanya keluar.


"Seharusnya anda tahu, King sangat membenci orang yang tidak profesional" ucap Damon dengan suara dingin.


Asisten Mr. Livaro melotot mengetahui maksud ucapan Damon. Ia lupa jika presdir VA Corp sangat membenci orang yang tidak profesional dalam bekerja, apa lagi menyuruh orang lain datang mewakili meeting.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue.................


__ADS_2