
πOrang yang berusaha dengan mencucurkan air mata akan menuai hasil yang terbaikπ
.
.
.
.
Mikhail tiba di markas utama di Black Shadow sudah tengah malam. Meskipun begitu semua anak buahnya berdiri menyambut kedatangannya di landasan jet tempur.
"Selamat datang King" sambut Teivel dan semua anak buah Mikhail dengan serentak.
Seperti biasa Mikhail tak membalas sapaan mereka dan berlenggang masuk ke dalam markas diikuti Damon dan Teivel.
Semua anak buah Mikhail menunduk merasakan aura King mereka yang terasa sangat mengintimidasi.
Apa lagi mereka mendengar kabar jika Eksel dan beberapa anak buahnya di buat koma beberapa jam yang lalu, entah apa yang sudah mereka lakukan hanya Mikhail dan orang kepercayaannya saja yang tahu.
Aku yakin Eksel dan lainnya akan pulih dalam beberapa bulan ke depan, batin Teivel bergidik ngeri.
Masih terkenang suara teriakan kesakitan di ingatannya saat melihat kekejaman King saat berada di markas Black Shadow yang berada di Indonesia.
Prang............prang.........prang.............
Bunyi pecahan bergema dari lantai 10 tempat pribadi Mikhail yang tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.
Hanya Damon, Teivel, dan Marcel yang diijinkan masuk ke lantai itu. Bahkan kedua orang tuanya dan adiknya tidak diperbolehkan untuk menginjakan kaki dilantai tersebut.
"Fu*k" maki Mikhail dengan suara menggelegar.
Prang...........prang.......prang..........
Kembali bunyi pecahan bergema disana membuat Teivel menelan salivanya dengan susah merasakan aura Mikhail yang terasa sangat mencekam.
Bahkan ketiga pengawal gelapnya juga dibuat merinding dari kegelapan merasakan aura seorang King Black Shadow.
"King nyonya sudah tiba disana dan Marcel baru saja mengirim video terbaru" ucap Damon saat melihat pesan masuk di iPad miliknya.
Mikhail menatap Damon dengan tatapan membunuh apa lagi iris matanya sudah berubah menjadi warna merah, menandakan emosinya sedang tidak stabil.
Damon yang tahu arti tatapan Mikhail segera menunjukkan video yang baru saja dikirim Marcel. Rahang Mikhail mengeras melihat sang istri yang didorong dengan kasar hingga terjatuh di lantai tepat didepan Erich.
"Siapkan pasukan inti aku karena besok pagi kita serang mereka" titah Mikhail dengan suara menggelegar.
"Baik King" jawab Teivel dengan patuh.
"King you muat look this" ( King anda harus melihat ini) ucap Damon menunjuk video didepan sana.
Mikhail menatap ke arah tv melihat video tersebut dimana Marcel sedang menulis sesuatu. Matanya terbelak setelah merangkai maksud ucapan Marcel dalam kertas tersebut.
Brak..............
Teivel kaget bukan main saat Mikhail tiba-tiba memukul meja di sampingnya hingga terbelah menjadi dua bagian.
Darah segar mengalir dari tangannya tapi tidak di pedulikannya karena saat ini pikirannya hanya tertuju ke video didepan sana.
Prang.............prang............prang...........
Teivel tersentak saat tiba-tiba semua kaca didalam sana pecah. Tubuhnya gemetar merasakan aura Mikhail saat ini yang terasa sangat menakutkan.
Wajahnya menghitam dengan mata berwarna merah seutuhnya menandakan iblis dalam dirinya sudah tidak bisa dikontrol lagi.
Bukan hanya Mikhail saja tapi semua anggota Black Shadow yang berada disana gemetar ketakutan. Tubuh mereka semua tidak bisa digerakkan seakan ada yang melilit kaki mereka dari bawah.
"Jangan ada yang berkeliaran" ucap Damon memberi peringatan lewat pengeras suara untuk seluruh anggota Black Shadow.
__ADS_1
...π π π π π...
"Marcel" lirih Mikhail dengan tatapan membunuh.
Ia sangat kepikiran dengan istrinya dimana Marcel memberitahu jika istrinya terpapar racun yang ia sebarkan di pulau itu.
Bukan itu saja racun itu akan perlahan-lahan menggoroti seluruh organ tubuh penderita dalam 2 minggu.
Yang lebih membuat ia emosi itu karena penawar untuk istrinya tidak ada dan harus dibuat terlebih dahulu.
"King Marcel memberitahu jika kita harus membawa racun yang ia buat 3 tahun lalu untuk menjadi pelengkap penawar racun dalam tubuh nyonya" ucap Damon membaca pesan Marcel yang paling akhir.
Mikhail berlalu pergi dari sana diikuti oleh Damon, sedangkan Teivel ia memegang dadanya yang terasa sakit merasa tidak ada udara disana.
Prang.............prang.............prang.........
Malam itu semua barang di dalam markas hancur tak berbentuk lagi karena menjadi pelampiasan emosi Mikhail.
Beruntung Damon mengikuti Mikhail dan menyingkirkan anak buah Mikhail yang berada disekitar sana karena tubuh mereka tidak bisa digerakkan saat merasakan aura Mikhail.
~ California, Los Angeles ~
Xander menatap David dengan tatapan membunuh setelah mendengar kabar dari anak buah mereka tentang musuh-musuh mereka yang sudah menunggu mereka disana.
"Jadi saat ini di semua mansion keluarga kita pihak musuh sudah menunggu kedatangan kita?" tanya Xander dengan suara dingin.
"Benar bos" jawab David.
"Cari bandara terdekat agar kita bisa landing" titah Xander dengan suara tegas.
"Baik bos"
"Siapkan helikopter di bandara dan juga cari tempat yang aman untuk kita semua pergi ke sana"
"Tidak perlu mencari bandara terdekat son" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Maksud daddy?" tanya Xander dengan selidik.
"Tapi bukannya mereka akan terus menyerang kita disana daddy?" tanya Xander dengan cepat.
"Ya benar tapi kemungkinan kecil mereka akan berhasil melewati pasukan gelap King" jawab Xavier dengan suara tegas.
"Menurut aku ucapan bos besar ada benarnya juga bos. Untuk saat ini lebih baik kita berkumpul di satu tempat agar bisa meminimalkan kematian anak buah kita bos" tambah David.
"Daddy setuju dengan ucapan David" ucap Xavier.
"Baiklah. Kita semua menuju ke mansion uncle Thomas" ucap Xander dengan suara dingin.
~ Mansion Utama Parker ~
4 jet pribadi baru saja landing di landasan pribadi Thomas dan Valeria. Pak Dev dan para pelayan segera menyambut kedatangan mereka semua.
"Dimana Raksa?" tanya Valeria dengan suara dingin.
"Tuan Raksa berada sedang mengontrol anak buah Black Shadow yang sedang berjaga di luar mansion nyonya" jawab pak Dev dengan sopan.
"Suruh dia temui aku di ruang kerjaku" titah Valeria.
"Baik nyonya"
Valeria segera masuk ke dalam mansion sedangkan pak Dev segera menyuruh pelayan untuk mengantar semuanya kamar mereka masing-masing.
"Aunty" panggil Xander dengan suara dingin.
"Kamu dan David ikut aunty ke ruang kerja aunty sekarang" titah Valeria dengan suara dingin.
"Baik aunty" ucap kedua dengan serentak.
__ADS_1
Ketiganya segera naik ke lift menuju lantai 3 dimana itu ruangan pribadi Valeria disana. Thomas yang melihat ketiganya pergi segera bergegas menyusul mereka.
"Honey tolong ambilkan aku makanan ya" ucap Natasha.
"Kamu masih lapar honey?" tanya Vincent dengan suara lembut.
"Iya honey" jawab Natasha sambil memamerkan giginya.
"Baiklah honey" ucap Vincent dengan senyum manis.
...π π π π π...
"Gimana rasanya punya suami siaga kayak twin kakak ipar?" tanya Victor sambil menarik turunkan alisnya.
"Tidak bisa diungkapkan Vic" jawab Natasha sambil tersenyum lebar.
"Twin itu orangnya sangat lembut dan perhatian dengan orang yang dicintainya. Meski diluar sana sifatnya sangat dingin kayak kulkas berjalan! Hehehe" ucap Victor sambil terkekeh.
"Siapa yang kamu panggil kulkas berjalan Vic" hardik suara dingin dari belakang Victor.
"Hehehehe! Twin kamu jelek kalau lagi marah" ucap Victor sambil terkekeh.
Mata Vincent menatapnya dengan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup. Melihat hal itu dengan cepat Victor segera kabur tidak ingin mendapat bogem mentah dari kembarannya.
"Awas kamu Vic" teriak Vincent dengan kesal.
"Udah jangan di pedulikan Victor honey" ucap Natasha dengan suara lembut.
"Heemmm"
Vincent lalu menyuapi Natasha dengan makanan yang ia bawa. Ia tersenyum melihat perut buncit sang istri dimana 3 bulan lagi ia akan melahirkan buah hati mereka dan ia sudah tidak sabar menyambutnya.
Victor yang tadinya kabur ingin sekali menemui Katy tapi ia urungkan saat melihat Maxim yang sedari tadi tak pernah jauh dari adiknya.
Pangeran sialan! Selalu aja menganggu waktu aku untuk mendekati Katy, batin Victor dengan wajah cemberut.
"Vic ayok kita meeting" ajak Rio yang sedari tadi berkutat dengan iPad.
"Cih!" decih Victor sambil menatap Rio dengan kesal.
Rio mengerutkan keningnya melihat Victor yang menatapnya dengan kesal, seakan ia telah melakukan satu kesalahan besar.
"Kenapa lagi tuh bocah? Memangnya aku ada salah apa?" tanya Rio dengan bingung.
Meskipun begitu ia tetap menyusul Victor yang sudah masuk ke salah satu kamar yang disiapkan untuknya.
Sedangkan di ruang kerja Valeria saat ini ia sedang menatap suaminya dengan kesal, karena suaminya itu tidak pernah melepaskan sedikit pun jauh dari pandangannya.
"Aku lagi ingin bicara penting sama Xander dan David honey" ketus Valeria dengan kesal.
"Ya sudah bicara saja. Aku tidak akan menganggu kok" balas Thomas dengan santai.
Phew...........
Valeria membuang napasnya dengan kasar mendengar ucapan sang suami. Sedangkan David dan Xander keduanya tidak perduli karena sudah terbiasa dengan sifat posesif uncle Thomas.
"Jadi apa yang aunty ingin bicarakan?" tanya Xander dengan suara dingin.
"Menurut aunty sebaiknya kita pergi ke markas aunty atau markas kamu jangan menetap di mansion" jawab Valeria dengan suara tegas.
"Maksud aunty apa?" tanya David dengan penasaran.
"Penyerangan kali ini sudah memakan korban sangat banyak. Musuh kali ini mereka berbeda dengan yang dulu karena mereka mereka terus melakukan penyerangan ke kediaman kita meski kita tidak berada di sana" jawab Valeria menjelaskan.
Keduanya diam memikirkan ucapan aunty Valeria yang ada benarnya juga. Xander tadi menerima laporan dari kepala pelayan di mansionnya dan orang tuanya yang juga sedang diserang musuh.
Brak.................
__ADS_1
...π π π π π...
To be continue.................