
πSeberat apa pun keadaanmu janganlah kamu menyerah dan tetap hidupπ
.
.
.
.
Deg.............
Jantung Clarisa berdetak dengan cepat mendengar suara perempuan hamil di depan sana. Entah kenapa tubuhnya gemetar merasa akan ada sesuatu yang besar akan terjadi kepadanya.
"Ak.....u" ucap Clarisa dengan gugup karena gemetar.
"SIAPA YANG MENYURUHMU MASUK KESINI BERENGSEK! APA KAMU TIDAK TAHU KALAU AREA INI TERLARANG UNTUK ORANG LUAR SEPERTI KAMU!" bentak Natasha dengan suara menggelegar membuat Clarisa tersentak.
"Honey ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Vincent dengan khawatir mendengar suara sang istri barusan.
"Baby ada apa?" tanya Thomas yang baru saja datang.
Mata Clarisa melotot melihat Thomas yang sangat mirip dengan suaminya. Seketika ia ingat kalau wanita yang membentaknya tadi adalah adik sang suami.
Berarti nyonya itu mommy suamiku, batin Clarisa melihat ke arah samping dimana Thomas berdiri.
Clarisa menunduk melihat keluarga sang suami yang sangat memukau berbeda dengan dia yang hanya orang dari kasta rendah. Seketika ia merasa sangat kecil berada satu ruangan dengan mereka.
"Ka ada apa sampai ka Natasha teriak-teriak?" tanya Henry yang datang bersama Katy dan Jesica.
Tak lama semua keluarga besar Wesly berada disana, mereka datang dengan panik saat mendengar teriakan Natasha barusan.
"Sayang kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Chloe dengan khawatir takut menantunya kenapa-napa.
"Tidak mom" jawab Natasha dengan suara lembut.
"Kamu siapa?" tanya Albert membuat semua pandangan menatap ke arah Clarisa.
Glek...............
Clarisa menelan salivanya dengan susah melihat tatapan semua orang yang menatapnya dengan tajam. Mereka melihat Clarisa dari ujung kepada sampai ujung kaki memindainya.
Kenapa mereka semua liatin gue kayak gitu ya, batin Clarisa dengan bingung.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa berada disini?" tanya Valeria dengan suara dingin.
"M......aaf" ucap Clarisa dengan takut melihat tatapan Valeria.
Tatapan itu persis seperti tatapan suaminya meski tatapan suaminya lebih mengerikan dari pada Valeria. Sejenak ia tahu dari mana asal tatapan dingin dan datar sang suami.
"Apa kamu tuli! Aku tanya siapa kamu dan ada urusan apa kamu datang kesini?" tanya Valeria dengan suara menggelegar.
"Sa...ya Clarisa nyonya. Saya ingin melihat kon....disi orang yang sudah menolong saya nyonya" jawab Clarisa dengan lantang meski suaranya bergetar.
Semua disana menatap Clarisa dengan bingung pasalnya baru kali ini ada orang yang berani menjawab pertanyaan aunty Valeria seperti itu.
"Wah siapa gadis cupu itu? Berani sekali dia menatap langsung ke mata aunty Valeria?" tanya Leon dengan penasaran.
"Baru kali ini ada yang berbicara seperti itu dengan aunty Val" ucap Jesica dengan kaget.
"Ya kamu benar" tambah Katy.
"Besar juga nyalimu anak muda" ucap Xavier tersenyum menyeringai.
"Nak kamu mau ketemu siapa? Di dalam ada 5 orang pasien dan mereka adalah anak dan kakak dari kami semua yang berada di sini?" tanya Chloe dengan suara lembut.
"Saya ingin bertemu dengan kelimanya nyonya" jawab Clarisa dengan sopan.
"Bagaimana bisa kamu mengenal anakku?" tanya Thomas dengan suara dingin dan tatapan tajam.
"Itu karena mereka telah menyelamatkan saya tuan" jawab Leila dengan jujur.
Hah.................
...π π π π π...
Semua orang disana di buat kaget mendengar ucapan Clarisa barusan. Mereka saling berbisik bertanya kenapa kelimanya siapa yang menyelamatkan Clarisa.
"Uncle dia siapa?" tanya Luki adik angkat Teivel menunjuk Clarisa.
"Dia orang yang selamat bersama King" jawab Andre.
"Apa maksud uncle? Jadi dia adalah satu-satu orang yang selamat di pulau itu?" tanya Victor dengan suara lantang mengagetkan mereka semua.
"Eh! Iya tuan muda ketiga Wesly" jawan uncle Andre sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Uncle yakin?" tanya Henry dengan selidik.
"Yakin tuan muda Walts" jawab Andre.
"Bagaimana dia bisa selamat sedangkan ka David dan lainnya mengalami luka parah?" tanya Lili dengan penasaran.
"Katakan apa yang terjadi dengan anakku selama disana!" bentak Valeria dengan emosi menarik baju Clarisa hingga wajah kedua sangat dekat.
Tubuh Clarisa gemetaran melihat tatapan Valeria yang sangat mengintimidasi. Apa lagi mata Valeria yang sesekali berubah warna merah di bagian irisnya membuat Clarisa semakin ketakutan.
"Aunty lepaskan dia" ucap Maxim yang baru saja datang dengan napas ngos-ngosan.
Brugh.............
Valeria mendorong Clarisa hingga terjatuh di lantai dan beruntung Clarisa menahan tubuhnya sehingga perutnya tidak mengenai lantai.
"Honey tenangkan dirimu jangan terbawa emosi" ucap Thomas memeluk sang istri dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Jelaskan pangeran Maxim" ucap Xavier dengan suara dingin dan tegas.
Maxim lalu menjelaskan semua yang dikatakan Clarisa tanpa kekurangan satupun. Ia juga memberitahu tentang informasi pribadi Clarisa yang tidak ada sangkut pautnya dengan musuh mereka.
Disini Clarisa juga menjadi korban penculikan Erich, karena mereka ingin menjadikan Clarisa sebagai eksperimen virus yang dibuat oleh Marcel selama disana.
"Jadi kamu satu-satunya yang selamat dari ledakan itu?" tanya Thomas dengan suara dingin.
"Iya tuan" jawab Clarisa dengan jujur.
"Bagaimana bisa kamu selamat dari ledakan itu dan tidak terpapar racun selama disana?" tanya Xavier dengan suara dingin.
"Maafkan saya. Saya waktu itu di tolong oleh pria yang wajahnya mirip dengan tuan itu" jawab Clarisa menunjuk Thomas.
Plak..............plak.............
"Honey! Natasha" pekik semua orang didalam sana dengan kaget melihat apa yang dilakukan Natasha.
Sedangkan Clarisa berdiri mematung dengan tubuh gemet tak menyangka akan mendapat tamparan dari Natasha.
Saking kuatnya tamparan Natasha barusan, kedua bibir Clarisa sampai robek. Air matanya mengalir tak menyangka akan diperlakukan seperti ini saat ia hendak menemui suaminya.
"Jadi kamu yang sudah membuat tubuh kakakku terbakar dan terpapar zat radioaktif yang sangat berbahaya!" bentak Natasha dengan emosi.
"Karena kamu anak saya harus koma didalam sana dengan tubuh penuh luka" hardik Valeria dengan suara menggelegar.
Ia tidak menyangka kondisi suaminya akan seperti itu dan itu semua karena dia.
"Pergi kamu dari sini sialan! Karena kamu anak aku harus koma didalam sana" teriak Valeria mengusir Clarisa.
Duar...............
Bagai disambar petir tubuh Clarisa mematung mendengar kondisi sang suami. Ia memang mengetahui kabar suaminya dari cerita anak buah Mikhail saat berada didalam kamar, tapi ia tidak menyangka kondisi suaminya akan seperti ini.
Brugh.............
"Nyonya..........hiks hiks hiks...........saya mohon ijinkan saya bertemu dengan orang yang sudah menolong saya.......hiks hiks......saya mohon nyonya" pinta Clarisa sampai berlutut di bawah kaki Valeri.
...π π π π π...
Clarisa terus memohon sambil menangis untuk menemui Mikhail tapi tetap di tolak Valeria.
"Tuan.........hiks hiks hiks.......saya mohon tolong ijinkan saya bertemu dengan putra anda sekali saja tuan.......hiks hiks hiks" pinta Clarisa didepan Thomas.
"Nak kamu pergi saja karena sampai kapanpun saya tidak akan mengijinkan orang yang sudah membuat putra saya seperti ini bertemu dengannya" lirih Thomas sedih mengingat kondisi putranya.
"Tuan saya mohon.......hiks hiks hiks"
"Juan bawa perempuan ini pergi dari sini dan pulangkan dia ke negera asalnya" titah Valeria dengan suara tegas.
"Baik master" jawab Juan dengan suara dingin.
Hiks..........hiks.......hiks..........
Tangis Clarisa semakin pecah saat anak buah Juan datang menyeretnya pergi. Chloe yang melihat itu merasa sangat kasian dengannya.
"Lepaskan dia. Biarkan dia bertemu dengan anak-anak kita" ucap Chloe dengan suara tegas.
"Terima kasih nyonya.........hiks hiks.....terima kasih" ucap Clarisa tulus sambil tersenyum.
"Keputusan aku sudah bulat. Dia tidak akan bertemu dengan siapapun dan Juan cepat seret dia pergi" ucap Valeria dengan suara lantang.
"Valeria! Apa loe ngak punya hati lagi? Dia itu juga korban disini bukan musuh kita!" bentak Chloe dengan emosi.
"Tapi dia penyebab anak gue dan loe koma didalam sana sialan!" bentak Valeria dengan suara menggelegar.
Sret.............
__ADS_1
Jantung Clarisa seperti ditikam pisau mendengar ucapan mommy mertuanya. Air matanya menetes dengan deras merasa bersalah sekaligus sedih.
Dengan langkah cepat Clarisa menghampiri Valeria dan kembali berlutut didepan Valeria. Ia tidak meminta macam-macam hanya ingin bertemu dengan Mikhail dan lainnya.
"Nyonya saya mohon.........hiks hiks hiks" pinta Clarisa dengan memohon.
"Uncle Juan cepat seret dia" teriak Natasha dengan suara lantang.
"Nona aku mohon........hiks hiks hiks.......ijinkan aku bertemu dengan mereka........hiks hiks" pinta Clarisa sambil mengatup kedua tangan di dada sambil menangis histeris.
Chloe memeluk suaminya dan ikut menangis melihat Clarisa dengan kasihan. Ia lalu mendekatinya dan memintanya untuk bangun tapi tidak dihiraukan Clarisa.
"Juan cepat bawa dia!" bentak Valeria dengan suara tinggi.
"Nona saya mohon.......hiks hiks hiks.....tolong saya nona" lirih Clarisa didepan Natasha.
Bugh.........bugh.........bugh.........
Natasha menendang Clarisa karena sudah sangat emosi. Apa lagi melihat Clarisa yang kekuh tidak ingin pergi dari sana, apa dia pikir keluarganya akan baik-baik saja setelah mendengar apa yang terjadi dengan kakaknya.
"Kamu pikir kamu siapa sialan? Masih baik kami mengusirmu saja tidak sampai membunuh kamu karena sudah membuat kakakku seperti ini berengsek!" bentak Natasha dengan emosi.
"Honey tenangkan dirimu" ucap Vincent memeluk istrinya.
Ia membawa Natasha pergi dari sana tak mau sampai dia kenapa-napa. Sedangkan Clarisa ia menangis di lantai merasa tubuhnya yang sangat sakit di tendang Natasha.
"Kakak tidak kenapa-napa kan?" tanya Katy dengan khawatir.
Clarisa hanya mengangguk kepalanya menjawab ia baik-baik saja. Katy di bantu Ana memapah Clarisa pergi dari sana untuk di bawa pergi dari pulau ini.
"Loe keterlaluan banget Val!" bentak Chloe dengan suara tinggi.
Ia berlalu masuk ke dalam ruang kesehatan ingin melihat kondisi putra sulungnya. Valeria pun pergi dari sana menuju kamar pribadinya untuk mengontrol emosinya.
"Uncle aku pamit pulang sekaligus mengantar perempuan itu kembali ke negera asalnya" ucap Maxim dengan suara dingin.
"Kamu yakin pulang sekarang?" tanya Thomas.
"Iya uncle"
"Baiklah titip salam buat daddy dan mommy kamu. Jaga diri kamu dan Katy ya Max" ucap Thomas dengan suara lembut.
"Pasti uncle. Kabari aku kondisi ka Mikhail nanti"
"Heeemm"
...π π π π π...
Maxim segera berlalu pergi dari, sedangkan yang lainnya juga sudah masuk ke dalam kamar anak dan kakak mereka masing-masing.
Victor yang mendengar ucapan Maxim dan uncle Thomas tadi, bergegas pergi mencari kekasihnya sebelum ia pulang.
Dengan langkah cepat Victor menuju ke kamar Katy setelah pelayan memberitahu keberadaan Katy.
Brak............
"Ka Victor" ucap Katy dengan kaget saat pintu kamarnya di buka dengan kuat.
Cup............
Victor mencium bibir Katy dengan rakus membuat Katy melotot tak menyangka akan dicium. Victor mengigit bibir kekasihnya sehingga mulutnya terbuka dan dengan cepat ia mengekspor isi dalam mulut Katy.
Napas Katy satu-satu saat ciuman keduanya terlepas. Tak berselang beberapa detik Victor kembali ia menyerang bibir Katy dengan ganas seakan tidak ada lagi hari esok.
"Ka" panggil Katy dengan napas satu-satu.
"Sampai sana jangan lupa kabari aku sweety" ucap Victor dengan suara lembut sambil memeluk kekasihnya.
"Pasti ka" balas Katy dengan suara lembut.
Keduanya menikmati pelukan hangat didalam sana sebelum Katy pulang kembali ke kerajaan Wizpet di Italia.
2 Jam kemudian
Jet pribadi milik Maxim akhirnya mengudara membawa Clarisa dengan sedih dan hati yang hancur pergi dari Shadow Island.
Air matanya mengalir dengan deras melihat pulau dibawah sana. Ia sangat merindukan suaminya dan ingin melihat kondisinya tapi tidak diijinkan keluarga sang suami.
Hubby.........hiks hiks hiks.........aku sangat merindukanmu........hiks hiks hiks.......cepat sadar hubby karena kami membutuhkanmu, batin Clarisa dengan perasaaan hancur berkeping-keping.
Sedangkan di Shadow Island tepatnya di ruangan rawat Mikhail, air matanya jatuh dari kedua sudut matanya merasa sebagian jiwanya pergi meninggalkan dia sendiri.
...π π π π π...
To be continue..............
__ADS_1