Heartless 2

Heartless 2
Chapter 93


__ADS_3

🍁Jangan berhenti mencintai hanya karena pernah terluka, karena tak ada pelangi tanpa hujan, tak ada cinta sejati tanpa tangisan🍁


.


.


.


.


Teriakan Steven Lim bergema dari dalam ruangan membuat Ares yang sudah berada di depan pintu langsung berlari masuk ke dalam gedung.


"MI AMOR" teriak Ares bergema di dalam sana.


Dor...............dor.............dor..............


"Kalian salah memilih lawan bangsat" hardik Ares.


"Bunuh dia" teriak anak buah Keiko.


Dor.............dor...........dor.........bugh..........bugh......


Ares melepas tembakannya hingga pelurunya habis dan ia langsung memukul anak buah Keiko dengan brutal langsung di titik saraf mereka hingga tak bisa bangun lagi.


Mata Ares berkilat tajam melawan anak buah Keiko yang entah datang dari mana sambil membawa sabit, parang, dan tongkat bisbol.


"Kalian sendiri yang mengantar nyawa kalian ke gue" ucap Ares sambil tersenyum menyeringai.


Bugh............bugh............bugh........


Crash............Aarrrgghh...........


Jeritan kesakitan anak buah Keiko bergema didalam sana bersamaan dengan pukulan dan tebasan Ares yang menarik parang salah satu anak buah Keiko.


"Tuan biar kami yang urus disini" ucap Gery setelah membereskan musuh di bagian luar.


Ares tak menjawab ucapan Gery dan berlari menuju ke dalam bangunan mencari keberadaan kekasihnya. Sampai di salah satu pintu yang berada paling bagian belakang ia langsung menendangnya.


Brak...................


Pintu didepannya terlempar dari engselnya, saat masuk ke dalam Ares kaget bukan main melihat Steven Lim yang sudah terkapar dilantai dengan darah di sekujur tubuhnya.


Apa lagi saat melihat Zelena yang sedang menendang kepala Steven tidak memperdulikan sekitarnya karena matanya hanya tertuju kepada Steven.


...Bunuh dia! Hancurkan kepalanya...


Bisikan-bisikan itu terdengar dengan jelas ditelinga Zelena membuat ia terus menendang kepala Steven seakan itu adalah bola.


"Mi amor" panggil Ares.


Bugh..........bugh...............bugh.........bugh....


"Bunuh dia Bunuh dia" gumam Zelena dengan tatapan kosong.


Ares mendekati kekasihnya dan langsung memeluknya dengan erat dari belakang. Zelena berontak ingin lepas tapi pelukan Ares sangat kuat.


"Tenangkan dirimu mi amor. Aku sudah disini" bisik Ares dengan suara lembut di telinga Zelena.


"BUNUH DIA" teriak Zelena menggelegar.


Issshhh..............


Ares meringis saat Zelena tiba-tiba menusuk pundaknya dengan kalung mainan Steven yang tadi ia pakai, dan saat melihat kalung itu jiwa psycopath dalam diri Zelena seketika mengambil alih dirinya.


"BUNUH DIA!!! BUNUH DIA!" teriak Zelena menggema.


Ares terus memeluk kekasihnya tidak memperdulikan Zelena yang terus berontak beruntung ia sudah membuang mainan yang tadi dipegang Zelena saat menusuk di pundak.


"KENDALIKAN DIRIMU MI AMOR!" bentak Ares dengan suara lantang sambil memegang bahu Zelena hingga mata keduanya saling bertatapan.


Perlahan-lahan tatapan Zelena yang tadinya kosong berubah kembali seperti biasa. Matanya menatap Ares dengan sayu seakan sedang mengadu kepadanya.


"Hiks hiks hiks hiks..........querido aku takut........hiks hiks hiks" tangis Zelena pecah di pelukan Ares.


"Kamu sudah aman mi amor. Kamu sudah aman" ucap Ares sambil mengelus kepala kekasihnya dengan lembut.


Ares membiarkan Zelena menangis sepuasnya dalam dekapannya. Matanya lalu menatap Steven yang bernapas dengan lemah di lantai dengan mata kiri yang sudah hancur.


Kepalanya terus berdarah dan kedua tangannya penuh dengan tusukan bahkan sekujur tubuhnya penuh dengan goresan luka panjang.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Entah apa yang terjadi tadi sebelum ia datang karena hanya dengan melihat saja ia bisa membayangkan bagaimana kekejaman kekasihnya tadi.


Kamu sengat mengerikan mi amor dan aku suka hal itu, batin Ares sambil mencium kepala kekasihnya dengan lembut.


"Bos" ucap Gery.


"Bawa bajingan ini ke markas dan jangan biarkan dia mati" perintah Ares dengan suara dingin.


"Baik bos. Di luar kami juga menangkap tangan kanannya dan ternyata semua orang diluar adalah anak buah dia bos" papar Gery.


"Bawa dia ke markas. Bakar semuanya dan jangan meninggalkan bukti"


"Baik tuan"


Ares lalu mengendong Zelena yang sudah tertidur karena kelelahan menangis.


Sedangkan di dalam hutan Z panik mencari Clarisa yang entah menghilang kemana saat ia berkelahi dengan 6 orang teman penculik tadi.


Sial bagaimana bisa aku kehilangan jejak nona Clarisa, batin Z dengan bingung.


Tanpa sadar Z mencari Clarisa ke arah timur sedangkan Clarisa berjalan tak tentu arah menuju ke arah barat sambil menutup kedua telinganya mendengar suara-suara itu.


"Hiks hiks hiks hiks...........ibu..........hiks hiks.......Cla takut bu........hiks hiks" tangis Clarisa pecah.


Clarisa berjalan sambil menangis histeris memanggil nama sang ibu. Tanpa dia sadari ternyata di depannya ada lubang yang cukup dalam dan karena tak memperhatikan jalan akhirnya ia tergelincir ke dalam lubang.


Aarrgghh.............


Teriak Clarisa bergema mengagetkan burung-burung disana hingga berterbangan membuat Z yang sempat mendengar suara tersebut menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Nona Clarisa" teriak Z bergema tapi sayangnya ia hanya mendengar pantulan suaranya kembali.


"Sial! Aku pasti akan dihajar King nanti" keluh Z dengan cemas.


~ Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta ~


Langkah kakinya yang panjang menuruni tangga jet pribadi dengan cepat saat jetnya mendarat di landasan pribadinya.


"Helikopter?" tanya Mikhail dengan suara dingin.


"Sudah siap King" jawab Damon.


Ya orang yang baru saja turun dari jet adalah Mikhail. Mata coklat tajamnya mengelap saat Damon memberitahu pesan dari Z yang mengabari tentang kekasihnya.


"Dimana mereka?" tanya Mikhail setelah didalam helikopter.


"Jejak keduanya hilang di dalam hutan di pinggiran kota XXX King" jawab Damon sambil menatap GPS Z di ipad.


"F**k" maki Mikhail dengan suara tinggi.


Auranya menguar didalam helikopter membuat pilot dan Teivel bergidik ngeri. Keduanya saling melirik di kursi depan tak berani mengeluarkan suara jika masih sayang dengan nyawa mereka.


~ Mansion Utama Wesly ~


Prang.................


"Mommy! Baby!" pekik Xander dan Xavier serentak saat mendengar suara pecahan gelas.


Keduanya saat ini sedang membahas penculikan Zelena didalam ruang kerja Xavier. Chloe yang akan mengantar minum buat keduanya kaget bukan main saat mendengar pembicaraan keduanya.


"Princess di cu.....lik?" tanya Chloe dengan tubuh bergetar.


"Kamu tenang ya baby. Putri kita akan baik-baik saja" ucap Xavier sambil menghampiri istrinya dan memeluknya.


"Hubby.........hiks hiks.........bagaimana putri kita........hiks hiks.........aku takut dia kenapa-napa hubby" ucap Chloe sambil menangis.


"Mommy tenang ya princess pasti baik-baik saja" ucap Xander menenangkan sang mommy.


Hiks..........hiks...........hiks............


Tangis Chloe pecah didalam pelukan suaminya, Xander menatap daddynya bertanya apa yang harus mereka lakukan tapi Xavier memberi isyarat kalau dia yang mengurus istrinya.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


"Segera beritahu daddy jika kamu sudah dapat kabar princess son"


"Oke daddy"


Xavier berlalu pergi ke kamar bersama Chloe yang masih menangis dalam pelukan suaminya. Tak berselang lama setelah kepergian kedua orang tuanya tiba-tiba Victor masuk kedalam sana dengan wajah cemas.


"Bagaimana princess brother?" tanya Victor dengan napas satu-satu.


Xander meneliti penampilan sang adik yang masih memakai pakaian ala kerajaan kuno. Melihat sang kakak yang menatapnya dari atas ke bawah membuat Victor semakin kesal.


"Brother" pekik Victor dengan suara tinggi.


Bugh................brugh...........


"Arrggh! Pinggangku" keluh Rio yang tertindas tubuh besar Victor dilantai.


Victor yang tak merasa sakit di bagian belakang hanya perutnya saja bergegas bangun dan melihat Rio yang meringis sakit di lantai.


"Siapa suruh kamu berada dibelakang aku? Salah kamu sendiri kan!" ketus Victor tapi tetap membantu Rio berdiri.


"Ini semua karena kamu Vic" kesal Rio dengan tatapan tajam.


"Aku tidak suka keributan" ucap Xander dengan suara lantang.


Glek.............


Keduanya menelan saliva mereka dengan susah mendengar suara Xander yang sangat dingin seakan mereka sedang diperhatikan oleh seekor monster kelaparan.


"Brother" panggil Victor dengan suara pelan.


Xander memberi isyarat lewat gerakan matanya kepada keduanya untuk duduk di sofa. Tak berkata apa-apa keduanya duduk di sofa sambil menunduk.


Sedari tadi Rio gemetaran merasa aura Xander yang sangat mengerikan apa lagi tatapan tajamnya yang seperti belati siap menusuk kapanpun.


"Princess belum ada kabar" ucap Xander.


"Bagaimana bisa princess diculik brother. Bukannya pengawalannya sangat ketat?" tanya Victor dengan bingung.


"Princess itu terlalu polos dan susah membedakan mana musuh dan sekutu" dengus Xander dengan kesal sambil memijit keningnya yang berdenyut sakit.


Phew.............


Victor membuang napasnya dengan kasar membenarkan ucapan sang kakak yang benar adanya. Dari mereka berempat hanya Zelenalah yang paling polos dan gampang dibodohi.


Kring..............


^^^"Bagaimana princess?" tanya Xander to the point saat melihat nama Ares tertera disana.^^^


"Zelena baik-baik saja dan aku sudah bersama dengan dia"


Phew................


Xander membuang napasnya dengan lega mendengar kabar tentang Zelena dari Ares barusan.


^^^"Dimana berengsek itu?" tanya Xander dengan emosi.^^^


"Ada di markasku"


^^^"Serahkan dia kepadaku"^^^


"No! Dia milikku karena aku yang akan menghabisi nyawanya dengan tanganku sendiri karena sudah berani menculik kami waktu itu" hardik Ares dengan suara tinggi dari seberang.


^^^"Kami?" tanya Xander dengan kening berkerut.^^^


^^^"Jangan bilang kamu bocah yang diculik bersamaan dengan princess" tebak Xander dengan cepat.^^^


"Ya itu aku" balas Ares dengan singkat dari seberang.

__ADS_1


^^^"F**k!" umpat Xander^^^


^^^"Jaga princess jangan sampai hal ini terulang kembali jika tidak aku akan mengambilnya dari tanganmu"^^^


"She is mine and no one can't take her away from me" (dia milikku dan tidak ada seorangpun yang bisa bawa dia dariku) tegas Ares.


^^^"Heemmm! Apa jiwa psycopath princess muncul?" tanya Xander.^^^


"Heemmm"


^^^"Apa parah"^^^


"Mi amor kehilangan kendali atas dirinya sendiri sebelum aku sampai. Kondisi berengsek itu saat ini hidupnya hanya 30% saja" jelas Ares dengan singkat.


^^^"Aku percayakan princess ke kamu Ares. Jaga dia seperti kami menjaganya"^^^


"Itu sudah menjadi tugasku"


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...


Xander lalu mematikan panggilannya sepihak tak menjawab ucapan Ares yang terpenting adiknya baik-baik saja.


Baru saja ia berbalik ia mengerutkan keningnya melihat Victor dan Rio yang menatapnya seperti anjing kelaparan itu menurutnya.


"Muka kalian berdua seperti anjing yang tidak makan 100 hari" ejek Xander dengan sinis.


"Brother" pekik Victor dengan mata melotot kesal dibilang muka seperti anjing.


"Princess baik-baik saja. Saat ini dia bersama dengan Ares" ucap Xander tak memperdulikan tatapan kesal adiknya.


"Beneran. Apa princess terluka brother?" tanya Victor.


"No"


"Ah! Syukurlah" ucap Victor dengan lega.


"Kamu sudah menjenguk Natasha?" tanya Xander.


"Sudah brother. Aku kasian dengan twin" lirih Victor dengan mata berkaca-kaca.


"Biarkan Vincent mengurus rumah tangganya sendiri karena dia tahu apa yang harus dia lakukan"


"Oke brother"


"Jangan menganggu putri Katy lagi Vic" ucap Xander memperingati adiknya.


"Brother tahu?" tanya Victor dengan wajah polos.


"Aku tahu semua yang kamu lakukan Vic. Bahkan siapa saja teman tidurmu selama ini" ejek Xander sambil tersenyum menyeringai.


Glek................


Victor menelan salivanya dengan susah melupakan jika kakaknya ini pasti memantau semua pergerakan mereka selama ini.


"Aku hanya ingin berteman saja dengan Putri Katy brother" elak Victor.


"Jangan mengganggunya jika kamu hanya penasaran Vic. Pangeran Maxim bukan bocah sembarang" ucap Xander memperingati adiknya.


"Apa maksud brother?" tanya Victor dengan penasaran.


"Suatu saat kamu akan tahu" jawab Xander sambil berlalu pergi meninggalkan Victor yang kebingungan disana.


"Kira-kira apa maksud brother Rio?" tanya Victor.


"Mana aku tahu Vic" jawab Rio.


"Ckk!! Kamu itu memang manajer menyebalkan" decak Victor dengan tatapan kesal.


"Yaelah Vic hanya itu saja kamu bilang aku menyebalkan" dengus Rio.


"Memang kamu itu menyebalkan dan bodoh" ketus Victor berlalu pergi.


Rio hanya bisa mengelus dadanya dan menyiapkan stok sabar yang banyak untuk mendengar semua ucapan Victor yang sering mengatainya.


Meskipun begitu Rio tahu jika Victor sangat menyayanginya dan memperlakukannya seperti keluarganya sendiri. Semua kata-kata kasar Victor itu adalah cara ia mengekspresikan kasih sayangnya kepada orang yang dia anggap penting.


~ Mansion Light Clayton ~


Saat ini Light sedang berdiri di balkon lantai dua menghadap ke belakang mansion yang sangat jauh dari perkotaan dan berada di dalam hutan jauh dari kota California.


"Tuan" panggil Ray yang baru saja datang.


"Apa semua sudah siap?" tanya Light sambil menghembuskan asap rokok.


"Sudah tuan" jawab Ray.


"Bagus. Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah terkejut mereka besok" ucap Light sambil tertawa.


Ray diam saja mendengar tawa Light yang terdengar sangat menyeramkan. Tak berselang lama Lina datang menghampiri keduanya dengan wajah cemberut.


"Kakak sampai kapan kakak akan menahan kekasihku disini" ketus Lina.


"Ckk!! Kekasihmu itu tangan kananku Lina" decak Light dengan kesal.


"Aku tahu tapi aku itu kekasihnya ka"


"Baby" lirih Ray menatap sang kekasih dengan tajam untuk menyuruhnya diam.


Lina berdecak kesal sambil menghentak kakinya dan berlalu pergi dari sana. Melihat kelakuan adiknya Light hanya bisa menggelengkan kepala.


"Kamu boleh pergi sebelum pengacau itu kembali" ketus Light dengan kesal.


"Baik tuan. Selamat beristirahat"


"Heemm"


Light menatap ke langit sambil mengepal kedua tangannya sudah tak sabar ingin menghancurkan keluarga besar Valeria sama seperti Valeria menghancurkan keluarga besar mommy dan daddy mereka.


Aku akan membalaskan dendam kalian mom dad, batin Light.


...🍁 🍁 🍁 🍁 🍁...

__ADS_1


To be continue..................


__ADS_2