
Happy Reading.
.
.
.
.
“*Karangan surat untuk malaikatku."
Ayah? Ibu? Apa itu? Siapa dia? kenapa kami dilahirkan tak seperti anak lain?
Awalnya kami bertanya pada bibik, bagaimana kami lahir dan siapa itu ayah dan ibu? Kami tak mengerti sebab sejak kecil kami tak diajarkan memangil seseorang dengan nama ibu atau ayah.
Ibu? Bagaimana kah wujudmu? Apakah wajahmu bulat? Hidungmu mancung? Atau rambutnya panjang? Ditutup hijab?, tapi aku yakin wajahnya bercahaya layaknya lentera ditengah kegelapan.
Kau laksana deburan ombak, tak ada ombak, maka tak akan disebut laut. Bunda, Aku tak tau menulis dirimu dengan kata-kata. Aku tak mampu melukis wujudmu karena aku belum pernah bertemu dengamu. Tapi terimakasih Ibu.
Kau kirimkan kami bunda yang sangat baik, wajahnya cantik dan manis, sikapnya yang lembut dan juga bijaksana. Kami laksana raja yang mendapatkan sebuah tahta didunia ini. kami dijadikan bunga syurga yang cantik dan menjadi langit berhias bintang.
Bunda? Namanya Rindu Azzahra. Bolehkah kami memanggilnya dengan sebutan Bunda bu? Boleh ya?
Katanya syurga ada dikaki ibu, tapi nyatanya kami tak mampu mencium kaki ibu supaya kami tau bagaimana rasanya berdekatan dengan syurga. Tapi bolehkah kami mencium kak bunda Rindu? mungkin Bunda Rindu bukan yang melahirkan kami, tapi maafkan kami ibu, jika kami menyematkan jiwamu diraganya. Kami mencintaimu dan juga dia .
Ayah? Katanya ayah adalah manusia yang paling kuat didunia? Pahlawan tanpa jasa? Bahkan Manusia terkuat kalah karena ketegaranmu. kata teman-temanku kaki ayahnya sering terluka karena berkerja, kulit tanganya kasar karena mencari nafka. Tutur katanya laksana kaisar yang mengema dan tegas. Nampu membuat mereka tunduk dan takut. Apakah itu benar ayah?
Katanya kau adaah sosok yang pertama rela untuk lapar supaya anaknya tak lapar? Katanya kau sosok yang pertama tak bisa tidur ketika anaknya kesusahan dalam materi? Katanya kau yang tak pernah menangis, tapi faktanya kau yang paling rapuh dalam fisik dan fikiran? Apa kah itu benar ayah?
__ADS_1
Aku sudah tak kuat lagi yah untuk menggambarkan betapa hebatnya dirimu, aku tak kuat lagi bu untuk mengambarkan betapa mulianya ibu, ibu yang rela mengantikan nyawamu demi melahirkan kami maafkan kami yang bu, maafkan kami ya...
Kau tau bu? Bunda Rindu sangat memiliki jiwamu yang mulia ia didik kami dengan ilmunya, ia cium kami dengan kasih sayang yang besar, ia dekap kami dengan lembut. tak pernah membentak dan tak pernah membiarkan kami bersedih.
Kami juga memiliki sosok ayah daam dirinya, ia bekerja keras untuk kami. kami tau itu, sebab ia dulu sering kerja dari panti, pergi nya tak menentu dan pulangnya sampai larut malam, wajahnya kadang pucat dan juga lelah dulu aku bahkan pernah melihatnya mengelap ingusnya yang berdarah, katanya itu hanya efek capek bu, apa itu benar?
Katanya ibu sebagai tanda bahwa ia kuat dan aku mempercayai itu... Ia juga bisa mengajari kami bela diri, ia kuat dan ia orang yang melindungi kami. jadi apakah ia sudah cocok menjadi ayah?
Ibu,ayah.. kami merindukan kalian, terimakasih karena sudah memberi bunda sekaligus ayah untuk kami kami menyayangi kalian meski tak mampu melihat wujud kalian. Mungkin ini yang namanya, cinta tak memandang fisik.
Dari Rian...
Rian sudah tak mampu menulis, ia menangis dengan tangan yang gemetar, hidungnya kembang kempis karena ingus yang naik turun, ia memunggungi Bundanya dan mengambil jarak jauh supaya menyembunyikan isi suratnya.
*Surat hitam dari sang malam*
Rindu tanpa jiwa apakah ada bunda? Kadang fatamorgana terlalu bercanda kepada kami..!!! bagaimana bisa kami merindukan kegelapan tanpa jiwa?
Kau tau tidak bu? Aku bertanya pada sosok yang menyayangiku saat ini. 'aku membenci gelap karena gelap membuatku tak bisa melihat dengan jelas, bagaikan ibu yang hanya melahirkan kami, tanpa menyisahkan apapun untuk kami kecuali penyiksaan.' Lalu ia menjawab penuh kasih sayang ‘Kadang kita butuh malam untuk meneyeimbangi siang.. jika selalu siang, maka dunia akan mencair, dan jika selalu malam, maka dunia akan beku, lalu kau yang membenci gelap, sedangkan gelap sang malamlah yang mengarakanmu untuk istiirahat dan kesendirian. Kau tau? Dunia sekarang sedang bilang, istirahatlah, karena saatnya kau istirahat pada malam hari bukan? Maka dari itu, gelapnya malam adalah berkah darinya.’
Setelah itu aku baru menyadari, jika ibu adalah berkah, gelapnya iiu adalah ilmnuku, ibu yang melahirkanku padahal aku tak memintanya, maafkan aku ibu, karena aku sempat membencimu. Padahal kau menyerahkan nyawamu demi kami.
Ayah? Kau membencikami kah? Layaknya Maroiposa yang meninggalkan kepompongnya? Kau bahkan lebih memilih mengikuti ibu dari pada mengajarkan kasih sayang kepada kami? apakah kami ulat yang sangat menjijikan? Kau penopang hidup kami, tapi kau pergi. Bagaimana bisa penopamg hidup kami tiada? Lebih baik kami mati saja Ya dari pada kami tak punya penyangga.
Aku juga bertanya pada seseorang ‘bunda, dunia terlalu kejam kepada kami. apaka ayah membenci kami sehinga ia memilih pergi dan meningalkan kami berdua saja didunia ini’
Lalu ia mengusap kepala ku denga lembut, dan Ya, ia berkata dengan sayangnya. ‘Ayah itu laksana pelangi, indah, namun datang ketika hujan, sesaat, sebab suatu saat ia akan diganti dengan matahari. Kalian itu tak diberi pelangi bukan karena kalian berbeda, tapi kalian tak diberi hujan, kareja hujan terlalu gelap. Kalian hanya diajarkan untuk terbiasa. Jadi, kalian itu kuat, karenanya kalian diberi ujian yang sangat sulit. Mari terima takdir, supaya ayah kalian bangga memiliki kepompong cantik ini. kalian mau jadi maroposa yang indah bukan?’
Dan setelahnya aku tau, jika ayah memang benar menyayangiku, dan ayah masuk kejiwanya bunda kami saat ini, aku bisa merasakan usapan hangat dikepalaku yah. ilmu yang tiada tara kami dapatkan yah. Aku tau, Ayah bukan, yang memberi doa pada Tuhan? Terimakasih ibu, ayah. Kami
__ADS_1
mencintaimu..!!!”
Dari Rani*
Hiks hiks.. Isakan Rian dan Rani lolos saat ini setelah menggoreskan tintanya pada kuas.
Rindu yang meluhat itu membuat ia ikut menangis, ia memeluk Rani dan dokter Rey memeluk Rian. “Jadi sekarang, kalian ikatkan surat yang udah kalian gulung untuk bundanya yang buat ayahnya, tapi syaratnya jangan percaya jika surat ini akan sampai pada bunda dan ayahnya, percayakan pada Allah, supaya Allah mengangkat kegundaan hati kalian, sebab ini hanya perantaranya..!!” perintah Rindu membuat mereka menarik ingus serentak. Rindu terkekeh melihat tingkah lucu mereka.
Dengan segera mereka mengikatnya ditari balon udara itu. “Udah bun!!” Ujar Rian dan Rani serentak.
Rindu mengangguk sebagai jawaban.” Naahh. Kita terbangin ya.. kita ucap Apa?”
“Bismillahirrohmanirrahim.!!!” Ujar Rian dan Rani serenta lalu melepaskan balon itu . balon Rian yang berwarna biru dan Rani yang berwarna Ping. Rindu tersenyum menatap twinsnya itu. Sesaat setelahnya Rian dan Rani memeluk Rindu erat membuat Rindu mengerutkan keningnya. “Kalian kenapa?” Tanyanya pelan.
Hiks hiks.. tak ada jawaban, yang ada hanya isakan membuat Rindu merasakan hatinya tergores. Rian dan Rani menatap wajah Bundanya sayu.” Bunda janjikan pada kami? jika bunda tidak akan meninggalkan kami? kami enggak mau bunda juga pergi seperti ibu dan ayah. Kami menyayangi bunda.!!” Ujar Rian dengan bibir yang bergetar, entah kenapa, hatinya saat ini sangat takut.
Rindu merasakan hatinya diremas. Ia memeluk Rian dan Rani erat, ia tak boleh menangis dan menunjukan sakitnya pada anaknya.
Dokter Rey yang mendengar itu hanya mampu menatap langit yang kelabuh. Ia tak sanggup, sungguh!!!
.
.
.
.
.
__ADS_1
**Maaf yaudah lama up. Soalnya ada musibaah...
Jangan lupa tinggalkn jejak ya**..