
Hallo guys. Masih ada yang ngefavoritkan Rindu? haha. Semoga masih ya.. maaf ya aku nggak upfate selama tiga minggu belakangan ini. Sebagaimana yang aku bilang kemarin. Laptop aku rusak, jadi sekarang insyaallah aku bakal rutin ok upnya sampek tamat. Oh iya.. sebenarnya mungkin akhir bulan nanti ini tamat ya.. atau mungkin lebih enggak ta deng. Tapi yang apsti aku bakal tamatan kog. Tenang saja... Heppy reading guys..
yang udah lupa scannya baca ulang aja ya hhh..
“Nayla masih diIndonesia...!!” Tiba-tiba Rindu bicara membuat yang lain menatap Rindu.
“Kamu tau dari mana? Apa Nayla mengatakannya padamu?” Nina menatap Rindu penuh harap.
Rindu menganguk. Ia mendekati mereka dengan gaya santaynya. Lalu memperlihatkan cctv dan semua data yang ada diatas meja. “Disini kita bisa lihat. Nayla pergi kebandara dan mencairkan uang dbandara begitu banyak. Kalian tidak bertanya untuk apa Nayla uang tersebut?” tanyanya dengan alis terangkat membuat mereka bungkam, namun ketika Yohan ngin menjawab Rindu sudah menyelah.” Untuk membayar tiket?” tanyanya dengan alis terangkat.
Yohan dna lain mengangguk.” Tiket tidak memakan uang sebanyak itu. Lagi pula kita harus boking tempat sebelum berangkat bukan? Setidaknya mulai dari dua hari atau sehari sebelum terbang.” UJar Rindu melempar foto-foto Nayla dibandara.” Lagipula, uang kita rupiah sedangkan duluar sana orang mengenakan apa ha? Masa iya Nayla pergi dan belanja menggunakan uang rupiah?” Ujarnya terkekeh.
“Benar..” Sahut Habalib dengan ucapannya Rindu.” Aku ga yakin jika Nayla kabur, bukan berada diluar, tapi dimana dia? Dan apa tujuanya kebandara jika tidak melandas kenegar seberang?” tanyanya dengan alis terangkat.
Rindu ingin menjitak kepalanya Habib. katanya CEO, Tapi kok bodoh, katanya pintar, kog lemot?” Mungkn karena Nayla ngin menghilangkan jejaknya dna tak ingin diketahui kalian. ia hanya mengunakan trik mengelabui kalian saja.” Ujar Rindu dengan nada tegasnya membuat yang lain menganguk. Dan Hendrawan juga mengangguk. Ia saja tak sampai kepikiran keisitu, bagaimana bisa Rindu kepikiran?
Rindu mulai membka hapenya.” Kita lacak saja. Aku yakin Nayla masih berada disekitar sini. Dan untuk Tuan Hendrawan dan Tuan Panji cari informasi didalam kamarnya Nayla sedetail mungkin, nyonya Nina dan nyonya Sarah cukup tenang dan istirahat. Kita akan menemkan Nyala secpatnya. Tenang saja.. dia aman.” Ujarnya dengan tenang.
“Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Seakan tau saja..: Sinisnya Nina karena ia masih takut dan berkabut. Ia takut Nayla melakukan hal hal yang tak terduga diluar sana, seprti bunuh dirikan? Atau dengan kabur dan tak kembali lagi karena tak mau dijodohkan?
Rindu mengangkat bahu acuh saja. Ia tak suka menjawab perkataan orang dengan ucapan. Ia bisa membuktikanya. Lagi pula ia tau sebenarnya Nayla orang yang penakut dan juga polos. Ia tak akan berani menginjakkan kakinya diuar kota tanpa ada yang menjaga. Ia yakin seratus persen jika Nayla tak akan senekat tu. Saat ini pasti Nayla sedang berada disekitarnya dan berdekatan dengan teman-temanya.
Semuanya sibuk dengan kamar Nayla sampai Rindu yang masih melacak hpnya Nayla. Hanya saja Hpnya Nayla sekarang itu sedang ta aktip membuat ia menghunus kan nafansya ia tak bisa mendapatkan semua informasi melalui gadgednya. Ia harus memuar otak. sampai disuara Habib dan Panji membuat Rindu menatap mereka dengan alis yang terangkat.
“Ini.. kmai menemukan surat kepemilikan apartemen di Xx jalan Yy. Disana setau saya apartemen milik dari teman saya dan apartemen yang lumayan mahalll. “ Ujar dari Panji semangat memberikan mab yang bersih kertas kepemilikan itu.
Rindu menganguk dengan senyum tipisnya. Ia sudah tau sekarang.” Tapi dari mana Nayla mendapatkan uang untuk membelikan apartemen itu? Setahu saya, saya tidak pernah memberikan ia uang ataupun apartemen sebagai hadia? Atau dari kalian ada yang pernah memberikan hadia itu pada Nayla?” Tanyanya menatap anggota keluarganya tajam.
__ADS_1
Yohan dan Hendrawan menggeleng tegas, sedangkan Habib memutar bola mata malas. Nina? Ia bahkan mengeleng dengan kuatnya dan tangan yang mengisayartkan bukan dia. Sarah? Ia bahkan mendengus. ‘Aku bahkan tak pernah memberikan hadia semahal itu dengan anak-anakku.’ Itulah batinya memeronta. “lalu siapa yang membelikannya?” Tanya panji sedikit keras.
Rindu terkekeh.” Mungkin dia menabung atau lainnya. dari pada menanyakan dari mana ia mendapatkan uang atau apapun itu mendingan kita pergi dari sini dan pergi kealamat ini untuk menemukan Nyala secepatnya. Saya takut dia dijebak oleh teman-temanya atau dihasut oleh teman-temanya. Soalnya dipenglihatan saya mereka bukan orang baik.” Ujar Rindu jujur.
Panji mengangguk.” Ayo kita kesana. Saya juga berfikir jika teman-temannya Nayla itu memang bukan teman-teman yang baik..” Ujarnya dengan khawatir. “ Saya sudah beratus ratus kali memperingati Nayla. Tapi dia tak pernah mendengaran saya sampai sekarangkan siapa yang terebak.. Hais anak itu buat masalah saja bisanya..!”! Gerutunya untuk Nayla,
“Kalian dirumah saja. Biarkan Aku, papa dan Rindu yang ikut. Kami saja cukup untuk mengawasi Nayla dan membawahnya pulang..!!” Tegas Habib pada keluarganya yang juga tak kalah khawatir disana.
“Loh.. kan ibu maminya Nayla. Kenapa Rindu yang diajak Bib? Mami mau liat Nayla dan temput dia.. kamu gimana sii..” gerutunya kesal menatap ibunya itu. Bagaimana bisa orang lain lebih diutamakan pada darinya yang menyandang gelar ibu itu? Apa ia tak sepenting itu dimata putra dan suaminya.
“Ma..” Tegur dar Panji..” Kita disana bukan buat pai kondangan, makan-makan atau konser mau pergi bareng-bareng. Atau piknik sekalian kalo mau pergi satu keluarga..!” Ketusnya pada istrinya itu.” Kita itu mau jemput Nayla, nanti jika ada apa-apakan Rindu ada, Rindu jago silat lo. Kalo mami bisa memang? Memang mami bisa apa?” Tanyanya dengan lembut.
“Bisanya nyusahin..!” Ketusnya Yohan membuat Nina mendelik keluarganyan tak suka. Bagaimana bisa ia lebih mendukung orang lain dari pada anaknya sendiri? Atau ia mau mengangkat Rindu anaknya dan membuangnya sebagai anak kandung? Oh tidak.. ini terlalu drama baginya. Itu mungkin kisha yang sangat menyakitkan. Lagipula ia sadar, jika sebenarnya disini ia hanya peran pelengkap bukan peran utama.. wkwk.. jadi harus ngalah ya dengan tokoh utamanya...
Setelah percakapan itu Habib dan lainnya pergi menuju apartemennya Nayla. Mereka hanya menggunakan satu mobil dan mobil itu adalah mobil Habib. sebenarnya Habib sangat lelah, tapi mau bagaimana lagi? Ia harus menahan lelahnya, sungguh, pinggangnya terasa remuk karena seharian ini ia duduk. Kepalanya terasa mau pecah lantaran banyaknya kerjaan yang mengejarnya layaknya fanss sedangkan jari-jari dan lengannya terasa mau pisah dari tempatnya karena seharian mengetik dan mengerjakan semuanya yang berhubungan dengan komputer apalagi matanya? Yang sedari pagi harus jeli mentaap setiap ketikan dan setiak hurup. Semuanya terlalu lelah untuk ia rasakan.
“Kenapa sii kakek giniin aku? Apa gara-gara aku kotor?” Gumamnya. Ia masih terpukul akan tragedi kemarin itu. Dimana ia hampir diperkosa oleh sesoerang. Ia takut, bahkan ia juga merasa bersalah, karenanya Rindu menjadi masuk rumah sakit. Ia yang suka menghina dan juga menjauhi Rindu. ia menjadi malu akan Rindu. bagamana bisa sosok yang selalu ia rendahkan meyelamatinya dengan mengorbankan diri sendiri.
Sebenarnya kakeknya Yohan tak ada niatan untuk menikahi cucunya ini. namun bagaimana lagi? Nayla sudah dilecehkan, tak semua orang bisa menerima kelamnya kehidupan Nayla. Lagipula ia mau Nayla melupakan kejadian itu. Ia tau Nayla pasti mal udan tertekan, tapi jika ia memiliki suami yang bisa menerima dia apa adanya, memahami tubuhnya yang sudah disentu orang lain. lagipula yang djodohkan dengan Nayla juga memilki penyakit dan masalalu yang sama sperti Nayla. Jadilah ia dan kedua orang tuanya berinisiatip untuk menjodohkan keduanya. Ia hanya ingin Nayla tak dihina oleh suaminya kelak, karena suaminya kan sama sama memiliki masa lalu kelam, jadi mereka sama-sama tak bisa mengungkit hal itu.
Setelah memikirkna itu semua Nayla tertidur. Ia memang tak kabur keluar kota, ia kabur keapartmenen yang ia beli sendiri menggunakan uang tabungannya. Itu adalah rumah kedua baginya ketika ia memiliki masalah. Jadi jika ia punya masalah, maka disinilah tempat ia nenenangkan diri. Dan disini tempat ia menyendiri. Orang tuanya bahkan teman-temannya tak ada yang tau tentang apartemen itu karena memang ia menyembunykan hal ini, ia menyembunyikannya karena memang ini ruang privasinya.
Diluar sana Rindu dan Habib, Panji berjalan menuju apaartemen yang lantainya di lantai 9 itu dengan langkah tegas sampainya dia menyedot banyak perhatian orang. Karena parasnya yang tapan belum lagi Rindu yang menggunakan Niqob berjalan dibelakangnya tak kalah tegas. Panji? Meskipun ia sudah berumur. Tapi masih pantas menyandang sugar dady. Ia maish gagah dan juga tampan.
Toktoktok... ‘suara ketokan pintu dari Habib itu membangunkan Nayla yang tertidur pulas diataa kasurnya. Ia baru saja tertidur selama empat jam, dan sekarang ada yang mengetok apartemenya.” Siapa sii?” Gumamnya sambil menggaruk lehernya yang terasa gatal. Lalu bangkit.
Toktoktok... “ Iya erdecap malas dikala mendengar ketokan yang keberepa kali itu. “Apa tukang bersih-bersih ya? Tapi perasaan gue belum pesen deh?” Gumamnya.
__ADS_1
Seingatnya memang tak ada yang tau tempat ini, yang tau hanya tetanganya. Dan dia adalah kakak tingkatnya yang tak lain adaah Dimas, mantanya Rindu. itupun Dimas tak pernah menyapa ataupun tersenyum padanya. Dimas sosok yang sangat dingin dan kaku.
Ia melangkahkan kakinya menuju pintu apartemenya. Ia bergumam tak jelas lalu membuka pintunya.” Iya.. siapa sii? Gue enggk pesen cleaning service tauk akh. Ganggu aja.” Dengusnya tanpa melihat tamu. Ia bahkan masih menguap dan menggaruk rambut belakangnya.
Disana ada Habib, Panji dan Rindu yang menatapnya datar. Dan “Par...
Satu tamparan mendarat mulus dipipinya Nayla membuat sang empu mendadak sadar dari dirnya. Seakan nyawanya langsung tersedot kedunia nyata menatap kedepan. Siapa gerangan yang berani-beraninya memukulnya ini? dan ternyata disana ada ayah dan kakaknya membuat ia membelalakkan matanya. Tangan kananya mengelus pipi kananya yang terasa panas saat ini.
Panji menampar Nayla menggunakan pungung tangan kirinya. Dan itu tujuannya supaya Nayla tak merasakan sakit. ia hanya mau memberikan pelajaran untuk Nayla.
Tapi ia lupa jika ditangan kirinya ada batu akik berwarna hijau lumur membuat sudut bibir Nayla berdarah karenanya. Itu membuat ia terkejut. “ Sekarang sudah berani kabur? Berani membuat papi khawatir ha?!”! Bentak Panji yang sudha disulut oleh api kemarahan.
Rindu menatap mereka dengan tatapan tenang. Ia tak tau harus apa. Sungguh, ia galau jika berada diposisi seprti ini. SEDANGKAN Habib menatap adiknya dengan tatapan tajamnya.” Mau kamu apa Nay? Mau diperosa lagi ha?! masih berani kamu keluar tanpa sepengetahuan kami? sok bisa hidup diluar aja...!” Ujarnya sinis pada adiknya.
Nayla menatap ayah dan kakaknya dengan tatapan kecewa. Matanya sudah berkaca-kaca, sudah menuaikan benih air sucinya yang bisa kapan saja dipanenkan karena sedih. Baru kali ini kakak dan ayahnya memukulnya“Klaina mukul Nay? Kalian bentak Nay?” Tanyanya dengan nada kecewa,
Namun saat Panji mau mengatakan dan membentak Nayla kembali Rindu sudah mengangkat tanganya dnegan tanda berhenti. Dan Panji paham itu” Kita selesaikan dirumah. kita bisa menjadi konsumsi publik disini. Nama kalian yang akan tercemar nanti.” Ujarnya singkat. Sedikit berbisik lalu diam.
Panji menatap sekeliling dan benar saja. Ada beberapa pemilik apatemen dan Ob menatap mereka membuat ia menghela nafas. Habib? ia menyeret tangan adiknya membat Nayla menangis sembari terisak.” Kak sakit . lepasin kak.. aku enggak mau pulang..!” Ujarnya berteriak namun tak digubris oleh Habib.
Panji melihat itupun segera menyusul. Ia melangkah dibelakangnya Nayla. Namun Rindu?saat ia mau melangkah mena tangannya diekal oleh seseorang. dan itu adalah Dimas. “Rindu...” Gumamnya dengan mata binar bahagia. ia bahagia bertemu dengan sosok yang pernah ia kecewaakan itu. Inilah yang namanya, penyesalan dikalah sudah berakhir.
Rindu melihat itu langsung menepis tangan Dimas dan menunduk.” Maaf Dim. Aku harus pulang, aku masih ada pekerjaan.” Ujarnya mau pergi. Namun ia ditahan oleh Dimas membuat ia menatap Dimas.
“Beri nomor ponselmu Rin. Supaya nanti aku bisa mengobrol denganmu. Bisakah?” Tanyanya dan dengan cepat Rindu memberikan satu kartu yang tertulis namanya. Dan memberikannya pada Dimas. Dimas mengambilnya dengan cepat.
“ Rindu.. kau kenapa lama sekali? Cepat..!” Teriak Habib kesal membuat Rindu menatap arah lift, Disana Nayla menangis didekapannya Habib membuat ia menatap Dimas dengan tatapan sendu.
__ADS_1
” Assalamu;alaikum sampai jumpa dilain waktu.” Ujaranya lalu pergi...