Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Bukit Azza


__ADS_3

“Gue Dilan. Kakaknya Ifyan alias Ify kembaran gue.” Ia mengulurkan tanganya untuk berkenalan pada Rindu.


Rindu mengerjab tanpa mau menatap wajah tampan pria didepanya ini. ia menangkup kedua tanganya diatas dada lalu berucap pelan.” Rindu.”


jujur, suara Rindu itu tak seperti gadis biasanya. Karena suara Rindu itu lebih keBas, atau seperti suara laki-laki, basah, tapi ia juga bisa lembut dikalah dilembutkan. Karenanya, jika ia berbicara, maka ia terlihat tegas dengan pembawaannya yang datar dan suara yang bas membuat aurahnya seprti pria. Entah kenapa, karenanya semua orang segan jika berbicara pada Rindu. adakah suaranya seperti Rindu?


Saat Rindu tak menerima jabatan tanganya. Dilan memilih menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Malu? Tentu saja malu., tapi harus bagaimana lagi? Masa ia harus marah. Udah ditolak marah pulak, ada yang lebih parah lagi enggak kiranya?


“Kamu beneran calon istrinya kak Habib?” Tanya Ify mengalihkan kecangungan. Ia sudah Kepo sedari Habib mengatakannhal itu tadi.


Dan Sebenarnya mereka saja yang canggung. Rindu mah tidak, ia sudah biasa dengan hal semacam ini.


Rindu menggeleng.” Tidak... Saya hanya pembantunya...” Jawabnya jujur. habib saja yang ngaku-ngaku.


“Tadi kok kak Habib ngomongnya kamu calon istrinya? Berarti bohong dong. Ih kamu pembohong.” Ucapnya sedikit ketus.


Rindu mengerutkan keningnya. Ia memijat pelipisnya yang terasa sakit.” Gini ya nona Ify. Kamu ada denger saya bilang saya ini calonnya tuan Habib?” Tanya Rindu menatap Ify dalam. Ify sepertinya berfikir terlebih dahulu lalu mengeleng. “Kamu ada denger saya panggil Habib sayang?” Tanya Rindu lagi dan merka kembali menggeleng.” Lalu, apakah saya berbohong?” Tanyanya lagi.


Merka diam tak bisa menjawab.” Kalo mencari jawaban itu harus pakek otak. Kalo kamu memutuskan suatu hal hanya dengan mendengarkan tanpa melihat maka kamu adalah orang yang buta, tapi saat kamu hanya melihat tanpa mau mendengarkan maka kamu adalah orang yang tuli. Jadi gunain kedua-duanya. Tuhan cipatain itu buat difungsiin, bukan buat dipajang aja. Paham?!!” Tanya Rindu.la tak suka dibilang pembohong, padahal ia tak tau apa-apa.


“Ma maaf.” Cicit Ify yang merasa jika Rindu marah. Ia menundukkan kepalanya takut.


Rindu menghela nafs, mudah sekali ia ini emosi. ia mengelus lengan Ify.” Saya juga minta maaf ya kalo saya bicara sedikit keras, saya memang emosian orangnya.” Ucap Rindu sedeikit lembut.


“Engak apa-apa kok. Kan aku yang salah.” Ucap Ify semangat.


Dilan hanya menjadi pengamat yang handal saja. Ia tak tau harus mengatakan apa, sebab, rasanya kenapa sangat bungkam jika bicara dengan Rindu, salah dikit rasa bacok. Enak kalo dibacok pakek pisau, na ini pakek kata-kata mutiara yang bisa ngebuat ia mati rasa, baik dalam hati maupun otak, sakitnya sampai batin tau. Ia tak mampu berfikir secara jauh dan mendalam. Sungguh, ia tak mampu jika harus berbicara dengan Rindu.


“Kamu kok disini Rin? Kamu enggak tidur?” Tanya Dian mencari pembicaan.


Rindu mengeleng.” Saya mau tidur kok barusan.” Jawabnya jujur.


“Disini?” Tanya Dilan memicingkan mata.


Rindu mengangguk.” Iya. Sayakan engak tau mau tidur dimana, ya jadi saya tidur disini saja tidak apa-apakan?” Tanya Rindu ringan tanpa beban.


“Aduh Rin. Kalo kamu tidur disini, nanti kamu sakit looo, mending kamu tidur dikamar aku aja, bareng aku. Mau ya?” Tanya Ify antusias pada Rindu.


“Saya mau. tapi apakah saya tidak merepotrkan dn tidak mengangu kamu?” Tanya Rindu pada Ify. Tak akan menolak jika ini rezeky. Mohon maaf. ini Rindu, bukan gadis malu malu.


Ify menepuk tangan Rindu kuat membuat Rindu menahan sakit. Kasar coy..


!” Enggak lah, gue malah seneng ada temennya. Yuk bocan.” Ia menarik tangan Rindu membuat Rindu langsung bangkit..


Ify yang kecil tenaganya bukan main. Kecil-kecil cabe rawit Uyyy..


“Dilan kami duluan. Assalamu’alikum...” Ucap Rindu lalu melangkah mensejajarkan langkahnya Ify.

__ADS_1


“Dadah kembaran. Muachh..” Ify memberikan Kiisbye pada kembaranya membuat Rindu terkekeh. ada-ada saja dua beradik ini.


Sedangkan Dilan hanya mengeleng melihat sang adiknya yang manja dan juga sangat manis. Ia kembali menatap punggung Rindu yang tertutup baju longgarnya. “Kenapa ya dia tutup mukanya? Apa karena jelek? Atau bibirnya monyong?” Gumamnya pelan. Ia mendesah sebenar.” Tapi entah kenapa gue yakin dia cantik, meskipun engak cantik, dia pasti manis. Keliatan dari matanya. Ya pasti cantiklah ya, namanya juga cewek.” Gumamnya lagi terkekeh.


Namanya juga manusia. Pasti masih liat mukakan?


...


Setelah malam itu, Rindu lebih dekat dengan Ify yang sangat baik dan juga ramah.


Meskipun ia tau jika Rindu pembantu, ia sama sekali tak keberatan. Ia bahkan tak keberata harus berbagi kasur kepada Rindu membuat Rindu sangat bersyukur. Ternyata dunia masih tak kekurangan orang yang baik dan tulus.


Sudah satu minggu mereka disini dan membuat keluarga Habib dan keluarag yang lainya harus kembali kerumah besok pagi, tapi hari ini Fy mengajak Rindu untuk pergi kebukit Azza, tempat wisata bukit yang katanya sii sangat cantik dan sekarang lagi trens nya untuk foto disana., maklum.buat Story IG. Ingin Rindu menolak, tapi tak kuasa jika melihat wajah memelas Ify.


“Kalian mau kemana Rindu?” Tanya Panji dikala melihat Rindu mengunakan tas jinjitnya lalu bergandengan manis dengan Ify. Disana juga ada Habib dan keluarga lainya. Maklum rumah baru saja diberesi semua akibat mereka harus pergi besok.


Sebagai informasi. Satu keluarga ini akan tingal satu rumah. baik dari keluarga Hendrawan, Robby dan juga Nina. Yohan sebagai ayahpun juga satu rumah. kenapa mereka akan tingga satu rumah? itu atas permintaan ayahnya mereka. Yohan tak mau merasakan kesepian, ia ingin menghabiskan masa tuanya dengan anak-anak dan cucunya.


Karena mereka tak kuasa menolak hal itu membat mereka menganguk pasrah saja. Dan rumah yang menjadi sasarannya adalahg rumah Habib, sebab Rumah Habib itu sangat besar. Lantainya saja sampai lantai 5. Kamar? Jangan tanya, rumahnya sudah tak pantas lagi disebut rumah ataupun mensions, tapi istana. Maklum ya, namanya holang Kaya....!


“Kita mau kebukit Azza Om. Ify yang ngajak Rindu buat kesana. Boleh ya? Sebelum kita pergi pulang...” Ucap Ify manja. Rindu? hanya diam..


Sepertinya memang karakter Rindu yang tak suka berbicara yang menurutnya tak pentingnya? Jika orang bertanya baru menjawab. Apatis ya? Tentu apatis. Tak peduli dengan tangapan orang lain. tapi dia hanya apatis dalam watak saja kok. padahal dalam hati. ia pengamat yang handal dan juga orang yang sangat peduli dengan orang lain. ia tyfe malas bertanya dan lebih suka jika orang lain bercerita sendiri atau ia mencari tau sendiri.


“Kita ikut...” Sahut Nayla manja. Ia beranjak mendekati Ify yang memeluk Rindu erat. “Ih fy jangan peluk Rindu. peluk aku aja... dia Cuma pembantu tau..” Ia menarik paksa tangan Ify.


Hendrawan memijit pelipisnya melihat keributan itu.” Kalo kalian mau pergi, ajak Ustadzt Fatih aja ya, supaya sekalian dia yang mengajain kalian dan nunjukin arah jalan.” Ucanya memisahkan mereka. Pusing jika harus melihat merka ribut.


“Engak...!” Ucap Habib membuat mereka menoleh. Habib yang awanya melihat Hp karena pekerjaan sekarang menatap Hendrawan tajam.” Biar saya saja yang menemani mereka.” Lanjutnya. Ia tak suka dengan ustadz itu. Ia tak suka saat Kyai mengatakan ini menjadikan Rindu calon mantu. Susah-susah ia membuat Rindu jadi pembantunya, dengan andai-andai Rindu mencintainya dengan jangka dekat lalu akan menikah dengan penuh cinta. Ehh malah datang manusia abal-abal. Kan sadis.


“Lo.. katanya abang sibuk tadi, emang udah engak?” Tanya Nayla pada sang abangnya.


Habib beranjak dari duduknya.” Udah enggak. ayo pergi..” Ucapnya melirik Rindu yang sama sekali tak meliriknya membuat ia mendengus kesal. Sama sekali gak pernah Rindu meliriknya kah? Tak adakah rasa suka dihati Rundu padanya?


“Tapi Fatih tetep ikut ya. Soalnya takut nanti kalian tersesat. Kaliankan enggak yau jalan disini, lagi pula Fatih itu orang kampung sini asli, meskipun dia itu kulianya diKairo dulunya.” Ucap Yohan pada Habib. Ia tau jika Habib cemburu, tapi dari pada tersesatkan? Mau tersesat atau mau menerima cemburu buta itu?


“Wah.. Fatih dari Kairo? Dia kulia diKairo?” Tanya Rindu kagum. nampak sekali dimatanya penuh binar menatap Yohan membuat Habib mendengus kesal. Wajah apa’apaan itu.


“Iya. S1 dan s2nya disana, dapet beasiswa lagi dia.” Ucapnya Yohan membangakan Fatih. Sepertinya ia cukup kenal.


Rindu menganguk."Pantesan Rindu rada ciren sama dia(Kenal) soalnya dia tu mirif sama yang nyeleksi Rindu pas lagi daftar beasiswa disana dulu looe, tapi Rindu rada-rada lupa.” Ucap Rindu cengengesan. Ia bahkan mengaruk pelipisnya yang gatal.


“Kamu daftar beasiwaa? Pasti engak dapet ya?” Ejek Habib. padahal dia sii hanya kesal dan mau memalukan Rindu.


“Dapet kok.” Sahut Rindu cepat.” Tapi enggak dapet dimesir atau kairi, kan aku bukan dari santren. Cuma dapet Di Amerika. Pas mau ngambil tapi engak jadi. Soalnya enggak ada biaya buat tinggal disana, belum lagi uang makan dan lainnya.” Lanjutnya polos membuat Habib mengerang marah. Kapan ia bisa menjatuhkan Rindu.


“Sudah. Katanya mau pergi, ayoo, nanti kesiangan loo..” Ucap Ify membuat lamunan merka buyar. Lamunan memuji akan Rindu. ada yang memuji dan ada juga yang mengumpat tak suka. Fakta ya. Pasalnya manusia itu rambutnya aja sama hitam. Kalo fikiran? banyak kotorannya dari pada berlianya.

__ADS_1


...


Buki Aza. Bukit yang katanya dulu kembar, tapi karena penjajahan membuat penjajah melempar bom kesalah satu bukul Azza membuat salah satunya meledak dan hancur, jadilah hanya tinggal satu disini, tapi sepertinya itu benar adanya, karena dibawah bukit ini nampak jika ada bebatuan yang hancur berkeping keping. Belum lagi saat menaiki bukit ini, dipinggirnya itu seperti ada lapangan luas yang ada batu-barunya membuat Rindu dan lainnya bisa melihat pemandangan yang sangat indah meskipun belum menaiki puncak bukitnya disini mereka bisa melihat kebun Kopi, sawit dan juga perumahan warga. Disini enggak ada kebun Teh ataupun cengkeh ya sebab jika mau kesana, mereka harus menghabiskan waktu Dua jam dulu, karena jarak yang sangat jauh.


Disini juga ada tempat menunggang kuda, ada tempat memamah membuat Rindu girang. Padahal ia bisa merasakan jika dadanya sakit. Kalian ingatkan jika paru-paru Rindu sudah rusak akibat kankernya? Karenanya Rindu sudah tak bisa menaiki tebingan ini, ia sudah tak sekuat dulu yang bisa berlari dan berjalan sesukanya. “Kita naik kuda saja ya.” Ucap Rindu dengan nafas yang sudah sangat sakit.


Disana ada Fatih dan lainya.” Eggak Rin. Kita mau naik jalan kaki aja. Soalnya kalo naik kuda enggak enak. Pantatnya bau banget. Sumpah..!” Ucap Ify polos membuat yang lain tertawa.


Rindu hanya memegang dadanya yang sudah mulai sakit.” Kalo gitu saya nunggu disini saja. Soalnya saya mau naik kuda kalo keatas.” Ucapnya pelan..


“Ih kamu enggak setia kawan banget, kita capek, kamu naik kuda. Kamu mahhh..” Ucap Dilan melihat Rindu kesal. Bagaimana bisa Rindu mau naik kuda, sedangkan yang lainnya jalan kaki. Sebenarnya ia mau naik kuda, tapi karena ia tak bisa memilih ia berjalan saja. Kalo ia paksakan nanti ia takut, takut jika jatuh. Kalo jatuh disini itu resikonya menanggal. Sebab mereka sudah hampir diatas bukit.


Sebenarnya Rindu juga enggak bisa naik kida lo. Ini bahkan pertama kali baginya mau nunggang kuda, tapi yaaa gimana ya. Ia tak kuat jalan kaki.


Rindu diam. tapi setelahnya ia melihat sekitar, tanpa mengatakan apa-apa. Ia menarik tangan Fatih membuat Fatih sedikit mendekatinya lalu.


Bugh..


Ia menendang pria yang menggunakan switer Putih itu membuat sang empu terguling kebawah dan terhantam pohon besar,


“Asstaga... Asstagfirullah Rindu...!” Teriak mereka terkejut.


Rindu merasakan dadanya sesak, tapi bukan berarti ia lengah. “kamu kenapa Rindu?” Tanya Habib mendekati Rindu. setelahnya ia menepis tangan Rindu yang memegang tangan Fatih. Baru saja Rindu ingat membuat ia menatap Fatih. Habib cemburu!


“Hey anjing. Ngapain loe nendang temen gue....!” Bentak pria lain yang menggunakan baju kaos oblong hitam dan mendekati Rindu, tapi dihadang oleh Habib.


“Awas. Liat temen gue mau mati gara-gara terroris ini..!” Bentaknya menjulak Habib. Tapi dengan tegapnya Habib tak tergeser sedikitpun.


Orang yang Rindu tendang ternyata masih sadar, ia dibantu beberapa pria yang sepertinya temannya. Ia merangkak mendekati Rindu dan lainnya. Tapi mata Rindu masih tenang dan tak tersentu membuat mereka bingung. Kenapa Rindu menendang orang tanpa masalah?


Saat pria yang Rindu tendang mendekat. Ia menarik jilbab Rindu, tapi sayangnya tanganya lebih cepat Rindu pelintir dan membuat ia berputar. Dengan cepat ia mengambil dompet disweaternya pria itu lalu melemparnya pada Dilan. Domper berwarna coklat.” Mau maling cari tempat, soalnya kalo maling disini loe caro mati!!!” Bentak Rindu la;u mendorong pria itu membuat pria itu terhuyung kedepan.


Dilan yang dilemparkan dompot itu terkejut. “Dompet gue.” Gumamnya, ia merabah pantatnya dan tak mendapatkan dompetnya lagi. Ia membuka dompet itu tergesa-gesa.


“Loe copet ya?!!!” Bentaknya menatap pria itu. Ia menatap horor pria itu.


Sedangkan Rindu? ia sudah merasakan sesak didadanya menjadi-jadi membuat ia terhuyung. Ia sudah satu minggu tak minum obat.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Like. komen and vote yeyyy


__ADS_2