Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Pilihan


__ADS_3

Gevan yang mendengarnya menjadi tak tahan untuk tidak menangis. Ia ingin sekali mendekap Rindu dan juga mengelus punggngnya. Menghapus air mata yang jatuh dipinya. Tapi ia sadar dan ia ingat. Jika Rindu membenci akan hal itu a tau hal itu membuat ia hanya menatap Rindu dengan rasa sayangnya. Menyiratkan rasa aman. Padahal Rindu cerita biasa saja tanpa ada air mata. Sebab Rindu sosok yang selalu menjaga air matanya. Air matanya mahal untuk orang-orang lihat.


“Rindu..” Gevan menatap Rndu dengan air matanya yang jatuh. “ Loe masih ingetkan. kalo gue selalu ada buat loe..” Ujarnya dengan serak menatap Rindu dengan tulus. Rindu menatap Gevan dengan tatapan sendunya.


“Iya dong.. Gue selalu inget kalo loe selalu ada buat gue Gev.. thanks ya sempai saat ini loe masih mau jadi temen gue meskipun dunia sedang ngebenci gue. thanks ya Gev. Loe temen terbaik yang gue punya selama hidup gue..” Ujar Rindu jujur kepada Gevan.


“Akh Rindu.. pen gue peluk loe tapi gue takut gue kena tampol. Astgaga Rindu. dikit aja ya peluknya boleh ya boleh..” Ujar Gevan dengan gemoynya dan mengedipkan mata imutnya supaya Rindu luluh. Biasanya sii siapapun melihatnya akan luluh.


Rindu tetaplah Rindu. “ Loe pasti udah tau jawabnya ya Gev.. "Ujar Rindu dengan kekehan, membuat Gevan memanyunkan bibirnya. sudah ditebakkan apa yang Rindu katakan? Meksipun itu Gevan dia tak akan memeluknya ataupun memegang tanganya. Dulu Rindu masih mau pegangan tangan meskipun sedikit saja. Tapi sekarang? Ia selalu menjaga jarak untuk setiap orang yang ada.


"Jadi loe bakal nikah ni sama Nayla?" Tanya Rindu kepada Gevan membuat Gevan menghela nafas dan menyenderkan kepalanya disenderan kursi. Tanganya menentang jika dilihat dari belakang ia nampak seperti merangkul Rindu. kakinya selonjoran karena lelah. Dia menjawab pertanyaan Rindu dengan mengangkat bahu acuh tanda ia tak tau.

__ADS_1


Gevan menatap Rindu dari samping. Air matanya sudah kering karenanya. “Gue nggak tau Rindu. kalo gue boleh bisa buat pilihan, gue bakal milih pilihan gue sendiri, milih gadis yang gue pilih sendiri Rin..” Ujarnya dengan sendu. Tatapannya sulit diartikan saat ini.


Rindu menatap Gevan dengan alis terangkatnya.” Loe ada cewek atau kek gimana ni?” Tanyanya dengan nada terkejutnya Atau loe suka sama cewek? Kenapa nggak kenalin sama gue cuy.. kenalinlah supaya gue bisa lihat cewek kek gimana yang bisa ngebuat Gevan jatuh cinta...” Ujar Rindu dengan kekehannya. Setahunya Gevan memang tak mau berdekatan dengan perempuan, bukan karena dia gey tapi karena rasa takutnya yang berkepanjangan itu.


Gevan mengangkat satu sudut bibirnya menatap kearah lain, karena air matanya hampir jatuh lagi. Ia tak bisa mengatakannya pada Rindu. dia mencintai Rindu dari dulu, sejak pertama Rindu membantunya dibully. Tapi Rindu selau mengangap nya teman. Bahkan Gevan tak pernah meluruskan gosip yang ada yang mengatakan jika mereka pacaran karena memang dia menyukai gosip yang ada..


Ia mendongak menatap langit supaya sungai tak meluncurkan aliran airnya. “Iya..” Suaranya tersirat sangat dalam ditelnga Rindu membuat Rindu tertegun. “ Iya gue suka sama cewek.. tapi ceweknya nggak tau gue suka sama dia. Dan gue milih buat suka sama dia dalam diam aja. Kayak ucapan loe. Kalo jodoh ngak bakal kemanakan? Lagipula jodoh udah ada yang ngatur...” Ujarnya ngelantur kemana-mana.


Gevan terkekeh dengan pedihnya namun ia paksakan supaya tampak tegar dan baik-baik saja.” Loe tau aja sii Rin..” Ujarnya membuat senyumnya Rindu pudar.” Dia nggak bakal mau sama gue Rin... sioalnya ‘kita’ tu deket Rin. Gue nggak bakal mau ngerusakin apa yang udah gue bangun selama ini demi keegoisan gue... “Ujarnya Gevan dengan tulus.


Rindu tertegun. Dia tak peka namun ia sedikit bisa menafsirkan ucapan Gevan. Apakah Rindu sekarang sedang keegran? Entahlah, tapi ia mencoba menghilangkan pemikiranya tentang Gevan yang menyukai nya itu dan menghela nafas. “ Bener sii. Kalo jodoh nggak bakal kemana-mana Gev... gue sebagai sahabat sii dukung apa yang terbaik sama loe... dan gue yakin loe cocok kog sama Nayla. Soanya Nayla itu baik. Persis kayak cewek yang loe suka dulu.” Ujar Rindu dengan semangat mengenyampingkan rasa tak enaknya.

__ADS_1


Gevan menatap Rindu dengan tatapan nanar. Ia pikir Rindu tidak peka membuat ia tersenyum kecut. Ia menghela nafas “Coba loe jelasin gimana sii Nayla sebenarnya.. ya kali kan nanti gue bisa jatuh cinta sama dia..” Ujarnya jujur.


Rindu memutar bola mata malas, baru tadi dia bilang mencintai gadis lain. sekarang terima aja...” Tadi katanya udah suka sama cewek. Sekarang dikasih tau tentang cewek cantik dikit aja mau. cih dasar laki..” Ujar Rindu mencibir Gevan dengan sinisnya.


Gevan yang disinisi seperti itu menatap Rindu dengan alis terangkat.” Woy.. ingat kata pepata tak ada rotan akar pun jadi..” Ketusnya membuat Rindu mundur.” Ih gue kasih clue buat loe tentang cowok ya. Dikit aja.. kalo cowok tu biasanya tebar jaring. Sana sini goda, nah yang mana dapetnya nanti baru dia angkat.. sama kek gue. gue nggak pakek jaring si. Takutnya nanti ketangkep banyak ceweknya. Cukup satu aja. Tapi apa daya ikan yang gue pancing kayak nggak peka ada cacing, gak peka ada peletnya. Jadi ya disamber sama ikan lain. ya gue sebagai pemancing sii pasra dan bersyukur ajalah. Dari pada enggak dapet ikan sama sekali ye nggak?” Tanyanya dengan kekehan.


Rindu yang bodohnya hanya mengangguk-nganguk mendengar ucapan dari Gevan yang menjelaskan percintaan menggunakan filosofi menangkap ikan. “Hidup jangan dibawah pusing kalo kata loe. Nikmatin aja. Syukurin aja... soalnya kalo kita bersykukur maka Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan dengan sebaik perkiraanya ye nggak? Nikmat mana lagi yang kita dustakan? ” Lanjut Gevan membuat Rindu terkekeh.


Rindu mengangguk lagi dan bertepuk tangan.” Gue bangga sama loe Gev..” Rindu mengangguk yakin menatap Gevan.” Makin lama loe makin pinter ya.. nggak nyangkah gue sumpah.. “ Ujar Rindu dengan kekehanya.


Gevan mendengus.” Loe fikur gue mau jadi begook mulu gitu.. anjim emang ye lu..” Ujarnya menunjukkan kening Rindu membuat Rindu terkekeh menatap temannya itu. Teman pria yang seharusnya dilarang agama. Agama melarang untuk terlalu berdekatan degan bukan makhrom tapi Rindu langar. Sebab Rindu terlalu awam untuk menjadi istiqoma seperti yang kalian inginkan.

__ADS_1


__ADS_2