
Karena kemarin gw nggak up, jadi aku bakal kasih up yang doble. tapi cuka satu Eps saja. Panjang ya ini....
.
.
.
“Kamu duduk aja Rindu. engak usah Kerja, kamu masih sakit..!!” Habib yang tadinya fokus pada pekerjaan sekarang menatap Rindu yang sedang menghantarkan kopi padanya. Padahal sedari tadi ia menyuruh Rindu tidur saja diruangan pribadinya, disana ada kamar, sofa, kamar mandi dan sebagainya. Lenglap. Tetapi Rindu tetap saja ngeyel.
Rindu meletakan kopi itu didepan Habib, tak terlalu dekat, takut terkena file atau laptopnya. “Saya kesini mau kerja pak, bukan mau istirahat. Jika cuma mau istirahat saya cukup dirumah saja mah..!”! Ujarnya sembari memeluk nampannya. Sebenarnya ia juga takut jika tidur dikamar privatnya Habib, ia takut ada kekhilafan. Sebab menurut dia. ‘Kejahatan itu teradi ketika ada kesempatan’ karenanya, ia tak mau memberikan kesempatan pada setan.
Bukannya Rindu berfikiran kotor. Hanya saja sedang jaga jaga... Sebab ia sudah dua kali hampir diperkosa dan itu membuat ia sangat hati hati...
Habib menghela nafas.” Saya yang bossnya disini. Jika saya suruh kamu duduk ya duduk, jika saya suruh, tidur ya tidur. kan saya yang menggaji kamu disini. Mau saya potong gaji kamu?” Acamnya sengit. Berdebat dengan Rindu memang tak akan ada menang-menangnya. Rindu terlalu keras kepala, jika sudah berkata A maka matipun tak akan berubah jadi B.
Rindu mengangguk pasrah. “Jika begitu saya letak nampan kedapur terlebih dahulu ya pak..!!” Ujarnya menunjukan nampan dipelukanya kepada Habib. sebenarnya ia tak mau mau menurut, tapi ia juga sadar posisi. Dia pembantu disini. Jadi dia harus nurut jika dalam hal fositif. Jika sudah menyangkut ke negatap. Ia akan mundur paling duluan.
Habib menggeleng.” Kamu letakkan saja diata s meja sana. Nanti saya suruh OB yang ngambilinnya.” Ujarnya mengarahkan dagunya pada meja shofa berwarna Merah Tengah ruangan. Tak jauh dari pintu masuk kantor itu.
“Tidak ada tapi-tapi Rindu..!! Jangan jadi pembangkang ya..!!” Bibir Rindu yang tadinya mangap untuk membantah sekarang menguap saja. Kata-katanya harus ia telan karena ucapan Habib mutlak dan tak mau dibantah. Ia hanya menghela nafas lalu menganguk.
“Kamu istirahat saja dishofa situ ya.. jika butuh sesuatu kamu bilang saja kesaya, biar nanti saya usahakan..” Ujar Hbaib kembali mengarahan pandanganya pada Keyboard. Sedangkan Rindu tersenyum tipis sembari meletakkan nampan itu.
Habib Hollmas adalah sosok yang dingin dan sombong. Namun ia sangat hangat dan perhatian. Entah kenapa hal semacam inilah membuat ia menyukai Habib. ralat, sedikit menyukai. Sebab lelaki yang dingin pada orang lain itu adalah laki-laki yang setia pada pasangannya menurut Rindu, sebab dulu ia pernah memiliki pasangan yang seperti itu.
Fikiran Rindu melayang dengan dokter Rey yang berjanji akan belajar agama islam juga. Sosok yang juga bertekat dan juga baik. Tapi sayangnya Rindu tak tertarik kepadanya. Namanya juga hati bukan, hati tak dapat dipaksa, andai hati dapat dipaksa, maka banyak orang akan memaksakan hati supaya mencintai orang yang tulus cinta kepada kita. tapi mau setulus apapun orang, mau sebaik apapun orang lain. Tapi kita tidak akan cinta jika hati menolak, bahkan ada sebagian orang akan menjadi Ilfel jika sudah terlalu dikejar kejar orang mencintai kita bukan?
Akh, memikirkan hal itu saja Rindu tertidur diatas shofa dengan kepala bersandar pada shofa dnegan cara duduk, tanganya memeluk bantal sofa dengan eratnya membuat lehernya sedikit terpituk kekanan, bukannya jelek, ia bahkan tampak bagaikan air yang tenang. Damai dan juga suci.
Ini posisi yang aman ya bagi perempuan nika ingin tidur jika takut sesuatu...!
...
Dilain tempat sosok yang sedang berjuang untuk orang yang ia cintai, sosok yang sudah mencuri hatinya, sekarang harus berhadapan dengan keluarganya. Keluarganya yang menatapnya tajam dan juga menusuk.”Tumben banget kamu mau ngumpulin kita dirumah. ada apa? Ada masalah? “ sosok pria paru bayah yang tak lagi setampan dulu namun masih nampak berwibawah itu membenarkan kaca matanya yang sedikit melorot. Ia menatap sang anak tajam.
Keluarga itu adalah keluarganya dokter Rey. Sebenarnya kelyarga doker Rey ini tak seakrab dan juga sedamai keluarga Habib
__ADS_1
Jika keluarga Habib hangat maka dia tidak. keluarga ini itu terllau sibuk dengan urusan masing-masing. Ibunya yang sibuk arisan berlian dan juga usaha berlian. Papinya sang pengusaha tambang harus bolak balik ke kalimantan membuat keluarganya tak ada kehangatan. Jika mereka pulangpun mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing. Ayah nya yang menghendel pekerjaan secara jauh, sedangkan sang ibu berjualan online membuat Dokter Rey kesepian dan butuh kehangatan.
Dokter Rey itu memiliki kakak, namun kakanya berada dinegara lain, kakaknya perempuan dan menjabat sebagai dokter pesialis jantung. Dia jarang pulang karena mengambil pelantikan kedokteran tingkat profesor... iya.. kakak dokter Rey itu sangat cerdas membuat ia kutu buku dan pendim. Bahkan dokter Rey saja berasa tak punya kakak.
Dokter Rey mengela nafas dikalah ayah dan ibunya menatapnya penuh selidik. “Key mau masuk agama silam..” Ujarnya. Disini ia mengunakan kaya Key’ karena memang hanya Rindu yang memangilnya Rey, salah nama sii Rindu tu..
Tak bisa disembunyikan raut shok dari kedua orang tuanya dokter Rey, bahkan kakaknya juga terkejut.” Kamu mau masuk agama islam? Kamu yakin?” Tanya ibunya doter Rey ragu dengan logat koreanya patah patah. Ia mengerjab pelan karena ta yakin.
Dokter Rey menganguk.” Ya.. aku yakin Mom. Aku mau masuk agama islam dan belajar agamanya, bolehkan?” Tanyanya penuh keyakinan. Ia bahkan menatap ibu dan ayahnya dengan mata yang bersih dan tulus. Kalian bisa bedakan kan mana yang tulus mana yang modus?
“No Key..!! Punya agama itu ribet..!!!” Ayahnya dokter Reypun unjuk suara menatap sang anak. “Jika kamu punya agama, kamu harus bagi waktu kamu. Waktu yang sama sekali ngga ada gunanya. Kamu harus sempatin sholat kalo diagama islam, bahkan kamu harus sholat lima waktu dengan gerakan seperti itu. Emang kamu percaya akan adanya Tuhan? Punya agama nggak ngejamin orang bakalan kaya Key. Kaya enggak sibuk iya... Kamu lihat mereka yang punya Tuhan, selalu doa kepada Tuhannya supaya jadi kaya. Apakah Tuhannya mengabulkan? Tidak Key tidak..!! Jadi jangan bodoh..!!” Lanjutnya lantang sembari memberikan pendapat pada anaknya.
Dokter Rey menggeleng tida setuju. “ Kaya miskin itu sudah ada tadirnya masing-masing pi. Tuhan nggak salah. Aku Cuma mau belajar dan mendalami agama islam. Aku mau punya tujuan hidup selain kaya dan bahagia didunia pi. Katanya setelah kita mati nanti bakal ada akhirat, dan ketika kita yang ngga punya agama ini, apakah kita enggak bakal punya akhirat pi? Key mau masuk islam pi. Key mohon..!!” dokter Rey menatap ayahnya penuh hapap.
“Ngak Key. Kamu enggak ngerti apa-apa. Kita yang enggak punya agama sama mereka yang punya agama itu sama aja. Banyak diluar sana punya agama tapi enggak nurutin aturan Tuhannya, ngelangar perintahnya. Enggak menyembah Tuhannya. Papi nggak mau kamu masuk dalam golongan itu.” Ujar ayahnya. "Kamu pikir gampang punya agama?" Lanjutnya.
Dikata katanya saja sudah ada rasa percaya akan adanya Tuhan. Hanya saja rasa takut repot dan sibuknya yang membutakan matanya.
“Papi kamu benar Key. Kita enggak perlu Tuhan untuk hidup..!!” Sahut ibunya lembut.
Dokter Rey menatap orang Tuanya tak percaya. “Pi. Sekarang Key mau nanya sama papi. Papi pernah nggak sii Iri sama merea yang punya agama? Mereka yang dilahirkan itu didoakan dan dianggap berkah dan rahmat? Sedangkan kita, kita mengangap itu biasa. Papi penah nggak sii iri sama mereka yang mati tapi diddoakan sama-sama sesama umatnya. Sesama agamanya? Sedangkan kita, kita Cuma bisa nangis diatas dikubur. Udah itu aja. Seakan-akan kita hidup enggak punya tujuan selain Dilahirkan Lalu mati dimuka bumi ini?” dokter Rey menatap keluarganya dengan mata yang berkaca-kaca.” Terkadang Key tu capek pi. Mom sama papi ningalin Key dirumah, kak Jiung ningalin Key sendirian sedari kecil. Key nggak punya temen, Key mau curhat tapi engga ada tempat Key curhat. Key mau ngaduh tapi Key ngga punya tempet buat ngaduh Pi..” Air mata yang sedari tadi ia pendam sekarang jatuh membasahi pipinya karena menghanyutkan kata-katanya.
Dan kedua orang tua Dokter Rey memikirkan dan merenungkan kata kata dokter Rey.
“Key iri sama mereka yang meskipun enggak punya temen tapi masih puny ALLAH Swt, Key iri sama mereka meskipun mereka ditinggalin orang tuanya tapi mereka masih punya Allah untuk menghantarkan suratnya pada ayah dan ibunya.. Key iri pi mom..” Ia menyeka air matanya karena ia sudah lama menahan kesepian ini. “ Sedangkan Key?" Ia menepuk dadanya sendiri.” Key ngak punya tempat ngaduh, Key nggak punya.. Key mau punya sandaran hidup pi. Key mau punya tujuan hidup...Kadang Key ngerasa nggak berguna hidup jika negini terus menerus. Key ngerasa hidup Key itu kayak mayat hidup. Cuma hidup lalu jadi mayat. Udah itu aja..” Ujarnya dengan dada yag menyempit.
Keluarganya diam menatap dokter Rey.” Papi yang sibuk. Mami yang kerja, kakak yang sekolah. Key capek..!! Key mau punya Tuhan untuk bisa bersujud dan menangis Pi. Key capek..!!! Key mau punya sandaran, Key mau punya tempat dimana Key bisa minta sesuatu supaya Key bisa berharap. Soalnya berharap pada manusia itu sakit pi. Apa lagi berharap kalo papi sama mom bisa selalu ada buat Key. Sakit..!!” Ia menekan kata akhir namun sedikit pelan.
Ibunya Dkter Rey menatap lain tempat. Setitik rasa sakit dihatinya karena mendengar kata anaknya, ia tau jika ia bukan ibu yang baik, ia merasa jika ia bukan ibu yang sukses. Ia bungkam karena memang dari suara dokter Rey, nampak sekali ia kecewa dan menyimpan sakit selama ini.
“Bukan itu alasan kamu mau masuk islam..” Ayah dokter Rey tersenyum sinis pada anaknya.
“ Ada asalan lain yang membuat kamu ingin mengambil pilihan ini..” Ujarnya lagi membuat yang lain menatap ayahnya. Pirasat seorang ayah, akal seorang ayah memang beda dengan ibu. ketika ibu meggunakan hati dan perasaan, maka ayah menggunakan pikiran. Itulah bedanya ibu dan ayah.
Dokter Rey menatap ayahnya heran.” Maksud papi?” Tanyanya serak karena memang ia tak paham.
“Maksud papi itu. Loe mau punya agama itu pasti ada unsur lain dek. Unsur apa gitu, unsur cewek atau unsur lain...” Ujar sang kakak yang sedari tadi diam. ia mengangkat bahu acuh. Ia sii oke oke saja jika dokter Rey mau punya agama, so menurutnya agama bukanlah suatu kesalahan. Hanya saja ia belum berfikir kearah sana.
__ADS_1
“Kamu ngga bisa bohongin ayah meskipun kamu mampu bohongin ibu kamu yang melahirkan kamu Key...!!” Ujar ayahnya sembari menghembuskan nafasnya.” Jika memang itu alasannya, kenapa kamu baru mau sekarang masuk islam? Kenapa enggak sedari dulu saat kamu kecil dan mulai mengenal agama? Kenapa? Dan papi yakin ada yang meyakini opini dan pendapat kamu itu membuat kamu yakin dan mau punya agama, terlebih lagi kamu mau masuk agama islam. Kenapa enggak Hindu? Budha? Atau Kristen, kan Kristen lebih enak tu agamanya? semua agamakan bertujuan untuk menyembah Tuhan?” Ayahnya memang cerdas.
Dokter Rey meremas jari-jarinya karena kata-kata ayahnya kena banget. kedalam dadanya. “Anu.. Key juga belajar dan memahami dari seorang temen pi..” Ia sedikit gugup karena takut orang tuanya akan marah besar padanya. Lebih parahnya lagi orang tuanya akan memarahi Rindu dan menjadikan Rindu sebagai samsaknya.
Ayahnya tersenyum sinis. “ mau pikir papi bodoh? temen kamu pasti cewekkan?” Alisnya terangkat satu membuat yang lainya memfokuskan pandanganya pada Key meminta jawaban yang pasti.
Dokter Rey tak bisa lagi menutupinya.” Iya.. dia seorang gadis yang dulu pernah menyelamatkan Key. Karena dia pikiran Key terbuka dan ngebuat apa yang Key mau menjadi semakin yakin. Dia diibaratkan lilin ditengah kegelapan dihidupnya Key. Key mau masuk islam karena dia..” Jawabnya tegas tanpa keraguan, namun air matanya mengering dipipinya membuat yang lain menghela nafas.
“Kamu sudah besar. Jadi bisa menilai mana yang baik dan mana yang benar Key, papi serahin semua keputusan kamu ketangan kamu. Hidup kamu kamu yang jalanin. Papi nggak bisa ngebatasi jalan kamu. Toh jika papi larang kamu juga bakal masuk islamkan?” Tanya papinya dengan alis yang terangkat. Bibir tipis dan diatasnya yang berhias kumis hitam itu sedikit tersungging menandakan ia tersenyum.
“Papi ngerestuin mereka? Papi kog gitu ih..!!!” Maminya dokter Rey memukul lengan ayahnya membuat merea menatap ibunya dokter Rey semua.
“Kenapa. Mom nggak setujuh?” Tanya dokter Rey pada ibunya karena ibunya yang merajuk bagaikan anak kecil seprti itu.
Ibunya dokter Rey menatap sekeliling gelisa. “Ya.. yaa ngebolehin sii.. tapi..!!”
mengantungkan ucapannya membuat yang lain mencondongkan wajah karena penasran. Lebih tepatnya merapatkan diri. “Tapi yaa kamu kenalin dlu perempuannya pada mom oke.. “ Ujarnya tersenyum manis.
“Ah.. kirain mom nggak ngerestuin..!”! Ketus sang kakak dokter Rey yang cantik itu ketus sembari memukul paha ayahnya membuat ayahnya membulatkan matanya.” Eh.. maaf Pi.. reflek..!!!” Ia cegenegsan sembari menutup mukanya karena takut papinya murkah.
“Ih papi juga ngirain mami ngga setuju loe... plak..” Ujar sang papi sembari memukul paha putrinya tersebut sebagaimana kakak dokter Rey memukulnya tadi.
“Ih papi balas dendam ini nggak asik..” Ujar sang kaka cemberut. Ia mengusap pahanya yang panas meskipun tak pedih. Papinya enggak mukul keras kog.
“Ih.. papikan tadi reflek..!!” ketus sang papi sembari menutup bibirnya sebagaimana putrinya perbuat tadi. Gaya biacaranya saja rada nggak bener.
“Ih papi..!!!” Suara ledakan tawa papinya menggema diikuti tawa dokter Rey dan maminya mengalir membuat suasana itu terasa hangat. Kakaknya mengerucutkan bibirnya karena terasa terbully saat ini. tapi ya ia bahagia, karena jarang sekali keluarganya ngumpul semacam ini. meksipun ia kurang perhatian pada keluarga, bukan kerarti ia tak berharap memiliki keluarga yang harmonis dan juga manis. Akhhh semoga keluarga ini manis selalu ya...
Setelah kejadian itu keluarga dokter Rey mendukung saja meskipun mereka kurang setuju. Menurut mereka punya agama itu merepotkan. Tak punya Tuhan mereka tetap makan, sedangkan yang diluar sana punya Tuhan tapi banyak yang tak makan, nggak punya Tuhan mereka tetap kaya namun diluar sana banyak orang punya Tuhan tapi miskin tujuh turunan dan tujuh tanjakan. Tak punya Tuhan ia mampu bernafas sedangkan dluar sana punya Tuhan tapi bernafasnya masih minta bantuan. Akhh.. menurut mereka sama saja jadi untuk apa punya Tuhan?
Pemikiran ini jangan dimasuki kedalam pikiran ya.. ini ajaran sesat dari orang yang tak percaya akan adanya Tuhan. Sebagaimana dokter Rey yang merasa tak punya Tuhan maka ta punya Tujuan hidup. dan sekarang ia punya Tujuan hidup. Yaitu Menyembah Tuhan dan akhirat. Dua hal yang berkaitan dan dua hal yang menjadikannya khalifah dimuka bumi ini.
Banyak hal yang harus ia pelajari membuat ia memilih untuk mengambil cuti selama dua buan. Ia.. dia cuti untuk masuk pesantren dan menjalankan proses memasuki islam, mulai dari syahadat secara agama, mengurus surat-suratnya. Membalikkan status agamanya, dan sunat. Jangan lupakan hal itu, ia harus sunat dan ia harus belajar agama secara dasar.
.
.
__ADS_1
Rajin update dong insyallah. Doain aja aku sehat selalu. Ini nanti aku bagi lagi proses dokter Rey masuk agama islam oke... Biar nanti proses masuk agamanya bisa jadi pelajaran bersama....