
Mata coklat Rindu terbuka menatap Key. Ia tersenyum manis. “Baiklah dok. Terimakasih karena sudah membantu saya.” Ucapnya.
Key tersenyum tipis menatap Rindu.” Kamu juga pernah membantu saya. Sudah sewajarnya kita saling bantu.” Jawabnya.
“Saya boleh pulangkan dok?” Tanya Rindu.
“Boleh. Sebentar saya lepas infus kamu...” Ucap Key. Dengan hati-hati ia melepaskan infus yang melekat ditangan mungil Rindu.
“Saya tidak punya uang untuk membayar rumah sakit dok. Bagaiman?” Tanya Rindu polos. Ia menggantungkan kakinya.
Key menatap Rinduu. “ Kamu tidak usah pusing. Semuanya sudah saya selesaikan. Dan ini obat kamu.” Ia mengambil obat diatas nakas disamping kasur tersebut kedepan Rindu.
Rindu menatap obat itu sendu lalu menatap Key. “ Saya tidak bisa menerima itu. Saya tidak punya uang.” Ucapnya.
Key meletakkan obat itu dilepak tangan Riindu lalu tersenyum lembut. “ Dulu kamu pernah menolong saya. Jika kamu tidak membantu saya, mungkin saya sudah tidak bisa berdiri disini. Jadi terimalah...”
Rindu menggelengkan kepalnya. “ Saya membantu kamu tulus tanpa meminta imbalan.”
“Maka saya juga menolong kamu juga tulus tanpa meminta imbalan. Saya berhutang nyawa kepadamuu. Ambillah sebagai ucapan terimakasih.” Ucapnya lembut.
Rindu menerima obat itu. Ia menatap Key “ Terimakasih do.k” Ucapnya lemah.
“Tidak masalah. Itu sudah tertera berapa kali kamu mengomsumsi obatnya. Sebelum memakannya diharapkan kamu harus mengisi perut kamu terdahulu. Dan obat yang ini kamu bisa minung ketika sakit kamu sudah tidak bisa ditorer lagi. Dan ini resep obat kamu jika sewaktu-waktu obat kamu habis.”Jelas Key panjang lebar.Rindu hanya menganggukan kepalanya.
“Ya sudah sekali lagi terimakasih ya dok. Saya permisi.” ucap Rindu. Key hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Rindu sudah tak tahan lagi menahan air matanya. Ia menggenggam obat itu kuat, air mata yang sedari tadi ia tahan kini bercucuran tak terkendali. Rindu memang bukan gadis yang ingin terlihat lemah, suka menangis. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah ada yang melihatnya menangis didepan orang-orang yang ia kenal.
Tatapan Rindu kosong. Ia berjalan gontoyongan melewati jalanan, rumah sakit itu tak jauh dari pantai. Bahkan Rindu tak menyadari jika ia sudah berjalan menuju tepi pantai. Air mataya bercucuran. “Ahhkk....” Teriknya rustasi. Ia memegang kepanya.
Kakinya lemas. Ia terduduk diatas pasir lemah.” Kenapa harus gue. sedangkan gue masih berlumbur dosa Tuhan?” teriak Rindu frustasi.
“Gue belum siap. Belum siap.” Gumanya lemah. Ia memukul-mukul pasir itu.
Senja sebagai saksi betapa rapuh Rindu saat ini. Rindu diberi banyak masalah hari ini, ditambah kabar bahwa ia sakit. Rindu sungguh belum siap untuk menatap Allah dengan tubuhnya yang berlumburan dosa. Ia selalu membantah perkataan orang tuanya. Ia sering berbuat onar. Bicara kasar, ia memanfaatkan pria-pria, ia bahkan pernah membunuh orang.
Sungguh hati Rindu hancur saat ini. ia ingat semua dosanya, ia ingat semuanya.
‘bolehkah aku meminta senja terlihat lebih lama Tuhan?. Atau bolehkah aku memberi kebahagian terdahulu untuk orang disekitarku. Aku selalu bermimpi untuk menunjukan kepada semua orang bahwa aku akan sukses meskipun aku pembuat onar, aku tidak baik. Tapi nyatanya apa sekaramg. Aku gagal Tuhan. Aku gagal membungkam mulut orang-orang...” Ucap Rindu serak. Suaranya tercekata. Ia terus menangis tanpa mempedulikan senja saksinya sudah tenggelam.
Suara Azan menggema diilangit magrib. Tapi Rindu seakan tuli akan semua itu. Ia masih terus menangis dan menangis.
Rindu berjalan dengan tatapan kosong menyusuri jalan yang sama sekali ia tak ketahui. Tapi kakinya terhenti didepan masjid karena mendengar suara seseorang mengaji begitu indah. Seketika ia ingat jika ia belum sholat magrib.
Ia melangkahkan kakinya menuju masjid tersebut, langkahnya menuju tempat berwudhu. Tempat wudhu itu berisi cermin dan air. Rindu mengusap wajahnya dengan air. Ia memandang wajahnya didepan cermin, matanya sembab dan bengkak. Wajahnya memerah. Matanya lagi-lagi dialiri air. “aAhhh.” Teriaknya. “Clangg....” Suara pecahan kaca itu menggemah.
Tangan Rindu tertancap banyak serpihan kaca tersebut. Darah Segar mencucur deras disana. Ia sama sekali tak merasakan sakit. Hatinya sudah cukup hancur akan kenyataan yang ia hadapi.
“Umii. Itu suara apa?” Salah satu anak yang belajar mengaji bertanya terkejut.
Seluruh anak murid lain juga tak kalah terkejut. Mereka menengok asal suara termasuk guru mengaji.
__ADS_1
“Umi tidak tahu. Kalian lanjutkan mengajinya. Biar Umi liat yam” Ucapnya lembut. Ia melangkahkan kakinya cepat kearah sumber suara.
Ia terkejut saat melihat kaca toilet yang sepanjang 1X1m itu pecah bereping keping dan seorang gadis yang tangannya bercucuran darah terduduk menangis dibawahnya. Ia berjalan cepat menuju gadis itu. Ya gadis itu adalah Rindu. “ Asstagfirullahhallazim nak. Kamu tidak apa-apa?” Ucapnya cemas. Ia mendekat kepada Rindu. Ia memegang tangan Rindu yang berdarah. “ Yallah tangan kamu berdarah. Sini kita obatin, nanti infeksi.” Ucapnya lembut.
Rindu sama sekali tak menjawab. Air matanya masih mencucur. Matanya kosong. Bahkan ia tak merasakan ada seseorang didepannya.
Ibi itu membawa Rindu memasuki masjid. Ia mendudukan Rindu tak jauh dari anak-anak mengaji. “Sini Umi obatin. Kamu tunggu disini dulu, Umi beli obat.” Ucapnya. Rindu sama sekali tak menjawab.
“Mii. Kakak itu kenapa?” Tanya salah satu murid dengan heran.
“Tangannya luka. Jangan ganggu dia. Lanjutkan mengajihnya.” Sahutmya lembut. Lalu ia pergi kewarung terdekat.
Tak membutuhkan waktu lama ia sudah membawa beberapa obat merah. Ia mendekati Rindu lagi. “ Nak. Sini ibu bersihin.” Ucapnya.Rindu sama sekali tak bergeming.
Dengan sedkit nyilu ibu itu menanggalkan bekas serpihan kaca yang masih tertancap disela_sela daging tangan Rindu. Ia mencucinya tangan Rindu bersi dan mulai mengobatinya. “Selesai. Masih sakit nggak?” Tanyanya lembut.
Rindu sama sekali tak bergeming. Wajahnya sendu, tatapannya kosong bagikan hidup tanpa jiwa. “Hey. Kamu nggak apa-apakan?” Ibu itu menepuk pelan pipi Rindu.
Rindu menggerakkan kepalanya menatap hal yang mengejutkannya. Ia diibaratkan disedot kembali kedunia nyata, bagikan Roh yang paksa kembali kepada jasatnya. Ia menatap Ibu didepannya. Wajah ibu itu sudah sedikit keriput tapi tidak mengurangi cahaya wajahnya, jilbab tertutup berwarna pink membalut setengah tubuhnya. “Tangan kamu masih sakit?” Tanya Ibu itu saat tak mendapat jawaban apapun dari Rindu. Ia tahu jika Rindu sedang sedikit Depresi.
Rindu mengangkat tangannya yang terluka. Ia merisis merasakan sakit. Dari tadi bahkan ia tak sadar jika tangannya terluka akibat ulah bodohnya. Tangannya sudah dibungkus rapi dengan perban.
“Kenalin, nama ibuk Khumaira kamu bisa panggil Umi Ira” Ucapnya lembut.” Nama kamu siapa?” Ia merapikan jilbab Rindu yag sedikit berantakan.
Tidak mendapat jawaban membuat Umi Ira mengerutkan keningnya. “ Kamu kenapa?. Cerita sama umi..” Bujuknya lembut.
__ADS_1
Rindu menatap Umi Ira sendu. Air matanya tanpa permisi meluncur bebas. Ia hanya diam tak bergeming. “ Cerita sama Umi. Siapa tau Umi bisa bantu. Jangan nangis dong...” Ucap Umi Ira sambil mmengelus pipi Rindu yang basah. Lagi-lagi Rindu hanya diam tanpa ekspresi.
“ Dengan kamu diam seperti ini, menangis. Sama sekali tak memberi kamu solusi dari masalah kamu. Jika kamu tidak mau bicara yasudah. Ibu nggak maksa ko. Tapi dengan kita bercerita, mungkin seseorang tersebut mempunyai solusinya...” Ucap Umi Ira lembut.