Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Luka fisik


__ADS_3

Rindu mengerakkan pukulannya tepat dibibir seseorang itu menyebabkan sang empu menjerit histeris. Bibir seseorang itu mengaliri darah segar. Sepertinya gigi depannya patah atau rontok. Ia meringis pedih dan memegang bibirnya. “Kurang ajar kamu Rindu..!” Bentaknya dengan gigi yang sudah tak lagi berwarnah putih. Ia menatap sekeliling dan mendapatkan pisau, ada senyum licik dibibirnya. Ia mengambil pisau itu dan menyerang Rindu.


Rindu mengelak serangan itu dengan cepat pula ia menendang perut chaf Alice. Chaf Alice pun mundur dan kembali memegang perutnya kesakitan. “Argh..” Pekiknya.


Rindu menatap chef Alice dingin. Ia tak suka diganggu. Ia akan melawan jika diserang. Tapi tak akan menyerang jika orang tak mengganggunya. Ia melangkah dan mengambil tasnya. Ia memilih pergi ke musholla saja meninggalkan chef Alice.


Tapi saat ia berbalik dan meninggalkan cheff Alice. Chaf Alice bangkit dan mengejar Rindu dengan amarah yang memburuh. Ia menarik jilbab Rindu kasar.


Slap..


Arhh..


Pisau itu ditancap tepat pada pelipis Rindu. untunglah pisau itu adalah pisau steak yang tak terlalu runcing dan tajam. Tapi masih saja membuat luka yang dalam. Tak cukup disana pisau itu digerak serong menuju kebawah hampir mengenai mata Rindu. Andai saja Rindu tidak mengarahkan sikunya pada tubuh Alice. Mungkin matanya sudah tertancap pisau.


Bugh..


Arhh..


Chaf Alice mundur beberapa langkah kebelakang. Rindu berbalik dan menendang chaf Alice tepat didadaya membuat chaf Alice menerjang dinding dengan keras, membuat teplon dan lainnya yang tergelantung disana menjadih jatuh dan menciptakan suara yang nyariung.


trang....


trang...


Rindu memegang pelipisnya sakit. Sakit, sangat sakit saat ini. darah segar sudah memenuhi wajahnya sebelah kiri Rindu. bahkan jilbab Rindu sudah dinodai darah.


“Ada apa ini? Rindu..!” Teriak pak Jeje menatap Rindu terkejut. Matanya beralih pada chaf Alice yang tergeletak dengan memegang pisau. Ia berlari menghampiri Rindu yang meirngis peri dibagian pelipisnya. “Kamu tidak apa-apa?” Tanyanya.


“Mata bapak bisa lihat nggak sii..!” Bentak Rindu kesal. Sudah tau keadaannya tidak baik, ditanya lagi. Kan ngak pakek otak..!


“Yaampun Rindu..!” Mbak Lena mendekati Rindu yang diikuti bang Ade dan Uci. Sedangkan chaf Alice tak ada yang mendekati.


“Bawah Rindu keUKS Cepat..” Teriak pak Jeje.


Mbak Lena pun membawa Rindu menuju UKS disana. Ahh, disini memang ada UKS, jika-jika ada yang luka atau apakan.


Rindu diletakkan diranjang sana. Ia masih saja memegang kepalanya sakit. Ia tak pingsan, hanya saja ia sangat lemas. “Kita kerumah sakit aja ya?” Ucap pak Jeje.


“Tidak usah. Lagian juga nggak dalem lukanya.” Ucap Rindu.

__ADS_1


“Tap—“


“Bapak keluar aja deh., biar saya bersihin luka Rindu. saya ini mantan mahasiswa keperawatan.” Sahut Mbak Lena tergesa-gesa,


“Kamu seriuus?” Tanya pak Jeje.


“Bapak pergi aja cepet..” Ucap mbak Lena.pak Jeje hanya mengangguk lalu pergi.


Mbak Lena mendekati Rindu yang sudah sangat lemas untungnya disini lengkap akan lat medis. Mengingat mereka berususan dngan pisau, air panas, minyak panas membuat pemilik caffe menyiapkan segala peralatan ini. ditambah pemiliknya adalah dokter membuat itu semakin komplit.


Mbak Lena mengambil air dikeras dekat sana yang sudah disedia dan meletakkannya dibaskom kecil. Tak lupa lap baru yang belum disentu. Ia membuka jilbab Rindu sedikit dan mulai membersikan lukanya.


“Arggh..”


“Tahan ya..” Ucap mbak Lena lembut saat Rindu meringis perih. Ia bahkan juga sangat nyilu saat ini, karena luka itu berada diarea sensitip seperti mata. Sesaat setelah sudah membersikan darahnya, ia memberikan dan mengelapnya Dengan alkohol supaya tak terinfeksi oleh virus. Dapat ia lihat, luka itu sangat dalam, “ Ini luka kamu sangat dalam Rindu. kamu mau dijahit atau tidak? Jika dijahit akan menimbulkan bekas luka. Tapi jika tidak dijahit, luka kamu akan lama sembuhnya, apalagi luka kamu dalam. Nanti kamu harus rutin memberi salepnya. Kemungkinan berbekas juga ada sii, tapi seengganya nanti nggak keliatan banget.” Jelasnya.


Rindu masih dengan posisi lemahnya. Harus bagaimana lagi? Wajah adalah aset berharga bagi seorang perempuan. Apa yang harus ia lakukan? Dijahit? Ah dia tak mau wajahnya rusak. “Kasih salep aja. Aku ngak mau lukanya membekas,” Ucap Rindu lemah. Rintihan kesakitannya tak terhenti-henti dari bibirnya. .


“Tapi ini bakal lama sembuhnya. Kamu juga harus memberi salepnya secara rutin.” Jelas mbak Lena.


“Biarin aja. Ngak pa-pa.” Jawab Rindu lemah.


Rindu hanya mengangguk pasrah. Matanya sudah sangat sakit dan tak bisa dibuka. Jika dibuka akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, bahkan bagian mata kirinya sekarang sudah membengkak. “Terimakasih mbak.” Jawabnya lemah.


Mbak Lena mau menanyakan apa yang terjadi. Tapi bukan saat yang tepat membuat ia memilih bungkam akan kejadian itu. “Kamu istirahat dulu ya. Biar mbak liat chaff Alice.” Jelasnya. Sedangkan Rindu hanya mengangguk.


Mbak Lena menghela nafas lalu mengemas alat-alat medis. Ia menuju dimana chaf Alice sekarang. Dirasa mbak Lena keluar, baru Rindu menangis dalam diam. ahh, hidupnya sangat tragis. Sangat menyedihkan.


“Jadi gini ya rasanya luka dikepala.” Gumamnya. Ia mengingat bagaimana perempuan yang ia tendang ditoilet. Kepalanya bocor menyebabkan banyaknya darah. Tak ada rasa kasian dihati Rindu, tak ada rasa iba saat mendengar jeritannya. Ahh, apakah ini hukuman untuk dirinya?


“Gini aja sakit. Gimana rasanya patah tulang?” Gumamnya lagi. Berapa orang yang ia patahkan tangannya? Berapa orang yang ia pukul dan sakiti. Ia menyakiti orang yang ingin menyakiti orang lain. Lalu apa bedanya dirinya dengan orang tersebut? Bukankah dia bercover baik dan berbaju pahlawan. Sedangkan hatinya juga hati iblis? Ahh, ia baru menyadari semua itu sekarang.


.


.


“Rindu... Apa kamu sudah baikan?” Tanya pak Jeje yang baru masuk. Baru dua jam Rindu menenangkan dirinya.


Rindu membuka sedikit matanya untuk menatap pak Jeje. “Alhamdullih sudah pak.” Jawabnya jujur. ingat hanya ‘Sedikit'

__ADS_1


Pak Jeje tersenyum canggung. “Syukurlah. Jadi apa kamu mau kedokter?”


“Tidak usah pak. Saya tidak apa-apa.” Dan saya tidak mau sakit saya menjadi beban orang lain.’ Lanjutnya dalam hati.


“Benar?” Tangannya terulur untuk menyentuh tangan Rindu. tapi dengan cepat Rindu mengangkat tangannya dan menyentu dahinya seakan-akan memijit pelipis untuk menjadi alibi saja.


“Beneran pak.”


Pak Jeje paham akan penolakan Rindu, membuat ia hanya menganguk.


“Permisi...” Ada beberapa pria berbaju polisi masuk tanpa disuruh. Mereka melenggang masuk saja dan menatap Rindu dan pak Jeje yang baru saja mengobrol.


“Apakah saudari yang bernama Rindu?” Tanya pak polisi yang paling muda disana.


“Iya.” Jawab Rindu singkat. Ahhh, apa ia akan masuk penjara saat ini.


“Kami mendapatkan laporan jika anda melakukan penganiayaan terhada saudari Alice Glowren . Dan ini surat panggilan membawa kekantor polisi sekarang juga.” Ia memberikan amplop yang berisikan surat.


Sontak saja Rindu langsung duduk dari tidurnya. Apa-apaan ini? bukankah dia yang menjadi korban disini? Lalu mengapa pula Alice yang melapor. “Saya tidak bersalah pak. Cha—“


“Anda bisa menjelaskannya dikantor polisi nanti.” Potong pak polisi yang paling kekar..


.


.


.


.


.


**Udah Update Alhamdulillah hehe.


.


.


Jangan lupa vote like dan komentar.

__ADS_1


ada yang nanya kapan Rindu bahagia? akan ada saatnya tapi *Nanti***


__ADS_2