
Pukul sudah menunjukan angka 23:00. Waktunya Rindu pulang. Karena tak mau hal seperti semalang Terulang. Rindu memesan ojol lain. Untunglah ojol yang ini amanah dan datang tepat waktu.
Rindu mendesa pelan saat ia sudah sampai dirumahnya. “Assalamu’alaikum.’ Ucapnya.
Tapi sama sekali tak ada sahutan dari dalam rumah. Rindu mulai mengangkat satu persatu pot bunga didepan rumahnya mencari kunci rumah. Untunglah disalah satunya ada. Rindu mendesah bersyukur lalu membuka pintu rumah.
Rumah itu sangat gelap. Rindu yakin jika Diva dan Meme pasti tidak ada dirumah. ia hanya meringis sedih akan hal ini. tak menghabis kan waktu, ia mencuci wajahnya dan pergi tidur.
Hari-hari Rindu berjalan secara rutin seperti itu, ia selalu mengunjungi umi Ira untuk belajar agama, sesempat mungkin ia melakukan sholat malam dan duha. Ia juga menyempatkan untuk menghafal Al-Qur’an dan menjalankan yang ia tinggalkan sejak dulu.
Sudah dua minggu Rondu berkerja. Hari Ini Rindu melangkah pergi menuju tempat kerjanya, hari ini ia mendapat ship pagi. Wajahnya full dengan senyum, besok adalah jadwal ia cek up.
Rindu mengelap meja dengan telaten tanpa memperhatikan sekitar. Sampai pada ia menabrak seseorang “Enn,, maaf bu.” Ucapnya sopan. Ia menabrak seorang ibu-ibu yang mungkin memiliki umur kepala lima puluan.
“Mami nggak apa mi?” Suara yang Rindu kenal datang dari arah lain.
“Nggak apa-apa kok. Saya tadi juga nggak liat jalan, seharusnya saya yang minta maaf.” Jawab wanita paru baya dengan ramah.
Tatapan suara lain tadi mentap Rindu. “Rindu...” Ucapnya semangat. Ia maju untuk merangkul tubuh Rindu, tapi dengan sigap Rindu memberi jelitan tajam.
“Eh, sorry, gue kangen sama loe.” Ucap seseorang itu takut. Ia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. “Loe kemana aja sii nggak ada kabar? Hp loe mati. loe kenapa ngilang ditelan bumi, gue kan jadinya takut.” Lanjutnya khawatir.
“Gue juga..” Ucap Rindu sambil tersenyum lembut. sedangkan Seseorang itu mengerjab kagum. baru kali ini ia menatap senyum Rindu yang begitu tulus, biasanya Rindu hanya tersenyum tipis, dan itu sangat tipis.
“Gevan, kalian saling kenal?” Tanya wanita paru baya lembut.
“Eh, iya mi. Dia temen Gevan yang sering Gevan cerita.” Jawab Gevan setelah sadar dari keterkagumannya.
“Oh.. dia yang namanya Rindu?” Tanya maminya Gevan yang bernama Heni.
“Iya mi.” Jawab Gevan singkat. Ia beralih menatap Rindu yang masih berdiri. didepannya. “Kenalin, ini mami gue.” Lanjutnya mengenalkan ibunya.
Mami Gevan tersenyum lembut. “Kenalin, saya maminya Geva, panggil aja mami Henny.” Ia memeluk Rindu dengan hangat.
Rindu mematung ditempat, bajunya sudah basah dengan peluh. Apa ia harus membalaskah? Tapi ia tak enak hati jika tak membalas. Ia pun membalas pelukan mami Henny, tapi sebelumnya, ia mengelap tangannya disudut lain bajunya supaya bersih.
“Makasih ya kamu udah jagain putra saya. “ Ucap mami Henny lembut.
__ADS_1
Rindu terkekeh. “Mana ada Rindu jagain Gevan. Kami temenan bu, eh mii.” Jawab Rindu.
“Iya mi, meskipun masih juga jagain Gev. Bdw loe kanapa nggak kulia lagi? Emang gosip loe berantem ditoilet itu memang bener ya?” Tanya Gevan serius.
Rindu tersenyum miris. Gevan adalah orang pertama yang bertanya tentang kebenaran hal itu. Ia mengangguk dan berucap. “Iyaa. Tapi itu nggak sengaja.” Jawabnya miris. Mami Henny menatap Gevan dan Rindu serius.
"Ayo kita duduk dulu disini." Ucap mami Henny lembut sambil mengiring Rindu duduk di kursi yang Rindu bersihkan tadi. Rindu pun.mengiyakan saja.
“Emang kenapa sii loe berantem ditoilet?” Tanya Gevan lagi.
“Dia yang dateng terus nyerang gue. ya gue nggak sengaja ngedorong salah satu dari mereka menyebabkan kepalanya kebentur tembok. Terius karena gue emosi ya gue endep-endep aja kepalanya diair.”
“Tapi kenapa loe nggak jelasin?”
“Nggak ada yang minta gue jelasin.” Jawab Rindu pilu.
Mama Hanny pun tersenyum masam. Ia menepuk punggung tangan Rindu ringan. “Kamu masih mau kulia lagi?” Tannyanya.
Rindu tertegun. Siapa yang tak mau kulia? Ia sangat ingin kembali kulia, kembali menuntut ilmu. Tapi apa semua itu berguna kepada dirinya yang akan mati ini? lalu siapa yang membiayakan ia makan dan jajan?. “Enggak tan eh mii. “ Jawab Rindu. Ia mendesah sebentar. “Rindu mau kerja aja.” Lanjutnya.
Gavin menatap Rindu sedih. “Rugi. Loe pinter, kulia aja lagi.” Sahutnya.
Sejujurnya Gevan saat itu mendengar semua yang abi Rindu ucapkan. Siapa yang tidak akan mendengar jika suara itu menggema? Bahkan tamparan dipipi Rindu masuk ketelinga Gevan pilu saat itu. Saat itu juga ia pulang dengan lesu dan mencerikan semua kepada maminya.
Rindu tersenyum menatap Mami Henny. ‘Sebernya saya sangat mau mi. Tapi kalo saya meninggal sebelum bisa bayar semua hutang saya nanti bagaimana? Bukankah itu semua akan menjadi beban bagi saya? Lalu jika saya selalu sakit dan tiba-toba kambuh dirumah mami, saya pasti akan lebih merepotkan anda.’ Batin Rindu
“Rindu ngucapin terimakasih banyak Mi. Tapi Rindu nggak bisa, nanti Rindu nggak bisa balas budi mami.”
“Kamu nggak usah balas budi. Saya membantu kamu sebagai wujud terimakasih saya, karena kamu sudah membangkitkan kepercayaan diri putra saya. “
“Ayo dong Rin. Kan enak kalo kita satu rumah, kita bisa belajar baremng terus Berantem.” Sahut Gavin antusias.
“Maaf ya Gevan, mami Henny. Tapi Rindu memang nggak bisa.” Jawab Rindu sopan namun tegas.
Mami Henny dan Gevan tersenyum masam. “Ya sudah. Tapi jika kamu berubah fikiran, kami masih membuka lebar rumah kami.” Ucapnya pasrah.
“Minta nomor hp loe aja kalo gitu.” Sahut Gavin. Ia sama sekali tak rela kehilangan teman sebaik Rindu.
__ADS_1
Rindu rasanya ingin menangis saat ini. jujur saja, ia hanya punya Gevan yang berteman sangat tulus sama dia. Teman yang sudah bertahun-tahun, yang ia jaga, ia dukung saja membencinya. Bahkan mungkin saat ini seluruh dunia sudah membencinya. ‘apa ini hukuman buat saya Tuhan?’ Batin Rindu.
Ia mengeluarkan Hpnya dan memberikannya pada Gevan. “Isi aja nomor loe, terus hubungin kenomor loe.” Ucap Rindu. Cepat-cepat Gevan mengambil hp Rindu dan memasukkan nomornya, tidak lupa ia menelpon no hpnya juga. Mami Hanny hanya menggelengkan kepala melihat putranya yang masih berkelakuan seprti bocah.
“Kamu nggak apa-apa? Kok muka kamu pucet ya?” Tannya Mami Henny
Rindu menatap mami Henny sayu. Sejujurnya sedari tadi ia menahan sakit di dadanya. Ia bahkan tak bisa bernafas lapang, saat ia menarik nafs, barang secuil saja., itu membuat rasa sakit yang begitu sesak didadanya. Ia tersenyum “ Nggak kok. Rindu Cuma capek aja.” Jawabnya bohong.
“Yakin?”
“Rindu nggak pernah sakit mi. Diakan robot.” Celetuk Gevan santai.
“Kamu ini. sama temen sendiri kok itu.” Dengus mami Henny sambil menjitak bahu Gevan.
“Mami nggak tau aja sikap Rindu kayak gimana. Kalo dikelas paling dia ngomongnya bisa dihitung sama jari.” Celetuknya lagi.
“Ya udah. Rindu masuk dulu buk. Soalnya Rindu masih jam kerja.” Ucap Rindu sopan. Ia sudah sangat tak tahan akan rasa sakit didadanya. Ia bahkan menggigit bibirnya kuat.
“Kita juga sudah mau pulang. Yaudah kita pulang juga ya Rin.” Jawab mami Henny. Ia bangkit dari duduknya yang disusul oleh Gevan.
“Yaudah, hati-hati ya mi, Van. Jagain mami loe.” Ucap Rindu ramah.
Mami Henny ahnya terkekeh. “Ya gue sama mami pulang ya. Bay Rindu, nanti chat gue oke.”
“Oke.”
Mami Henny memeluk Rindu sebelum pergi. Rindu hanya memejamkan matanya. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya, tapi ia memaksa tersenyum saat mami Henny belum pergi. Saat mami Henny sudah pergi, cepat-cepat ia pergi kedapur dan mencari obatnya..
.
.
.
.
**Perjuangan Rindu belum setengah ya. Baru Awalan doang. Masih ada titik yang keasngsaraan menguras emosi dan jiwa kaum sad and aktion.
__ADS_1
like. komen dan vote y....
Maklum. bentar lagi udah mau lebaran, jadi Up Nya rada-rada. tapi masih lanjut kok tenang hehe**...