Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Bunda


__ADS_3

Rindu meninggalkan Rani dan Rian dalam kamar terlebih dahulu. Ia mau membayar tagihan rumah sakit. “Permisi mbak. Saya mau bayar administrasi atas nama Rindu Azzahra beserta Rian dan Rani.” Jelasnya kepada penjaga bagian administrasi.


“Sebentar ya mbak. Saya Cek dulu.” Ucapnya ramah. Sedangkan Rindu mengangguk tanda mengiyakan.


“Tagihannya sudah Dilunasi mbak.” Jelas petugas itu menatap Rindu.


Rindu menaiki satu alisnya. “Saya belum membayarnya mbak. Siapa yang membayarnya?” Tanyanya.


“Dokter Rey mbak.” Jawabnya.


Rindu menatap penjaga itu dengan wajah cengok. “ Beneran mbak?”


“Iya mbak.”


“Ya udah. Makasih ya mbak.” Jawab Rindu cepat. Ia harus mencari dimana tempat dokter Rey saat ini. harus...


Kakinya berjalan cepat menuju ruangan dokter Rey, tapi dokter Rey tak ada disana. Ia memilih memasuki ruangan Rian dan Rani, siapa tau ia masih ada disana. Ternyata benar. Ia masih disana dan bermain dengan Rani dan Rian. “Saya bisa bicara sama dokter sebentar.” Ucap Rindu to the point.


Dokter Rey yang sedari tadi tertawa sekarang menatap Rindu.” Iya ada apa?” Tayanya heran.


“Bisa kita bicara didepan saja.” Ucap Rindu. ia tak mau membicarakan masalah ini didepan anak kecil. Pengaruhnya bisa menjadi sangat besar.


“Boleh. Hm, dokter pergi keluar dulu ya...” Ia mengelus rambut Rian dan Rani lembut secara bergantian. Setelahnya ia menatap Rindu dengan raut tanda tanya.


Rindu melangkahkan kakinya keluar, tepatnya mereka berbicara diruangan samping kamar Rian dan Rani. Dokter Rey mengikuti jalan Rindu dari belakang, ia sudah tau apa yang ingin dibicarakan Rindu nanti.


“Bapak kenapa bayar tagihan saya dan mereka?” Tanya Rindu to The Point saat sudah masuk ruangan itu.


“Saya Cuma mau bantu kamu.” Jawab Rey.


“Tapi sayang nggak bisa nerima bantuan dari dokter terus. Dari awal saya sakit sampai sekarang doter bantuin saya terus.” Ia mengeluarkan uang dari dompetnya, ada sekitaran sejuta lebih disana, ia memberikannya di telapak tangan dokter Rey. “Ini bayaran untuk Rian dan Rani pak, tagian perawatan mereka. Itu juga uang tagihan perawatan saya. Biar saya nggak usah ambil obat.” Lanjutnya tegas.


Dokter Rey tentu saja menolak. Ia mendorong tangan Rindu menjauh. “Tidak bisa. Saya membantu kamu tulus. Lagi pula saya ngebantu Rian dan Rani. Kamu bisa ambil obat kamu.” Jawabnya.


“ Nggak bisa gitu pak. Saya udah banyak hutang budi pak. Kalo saya mati besok, hutang bapak nambah beban dosa saya pak.” Tolak Rindu kekeh.

__ADS_1


Dokter Rey menghela nafas melihat keras kepalanya Rindu. “Denger ya Rindu. kamu nggak bisa nggak minum obat. Kamu mau ngerasain sakit? Nanti keadaan kamu semakin memburuk.” Jelasnya.


“Tapi pak, saya nggak bisa bayar banyak.”


“Saya nggak mau kamu bayar. Kamu cukup beri kesembuhan kamu sudah cukup.”


“Tapi pak, saya nggak bisa nerima kebaikan bapak terus.” Rindu kembali menyodorkan uang kepada dokter Rey.


Dokter Rey menerima uang dari Rindu berat hati. Kerasnya Rindu memang tak tergoyakan. Padahal dia sangat membutuhkan pertolongan saat ini. “Saya ambil uang kamu. Tapi kamu ambil obat kamu ya. Kamu bisa bayar dengan uang obat dengan gaji kamu minggu berikutnya.” Putusnya.


Rindu tersenyum “Beneran dok?”


Dokter Rey terkekeh. “Iya. Tapi kamu harus minum obatnya ya.” Ucapnya.


Rindu mengangguk sembari mengambil obat itu. “Makasih ya Dok.” Ucapnya.


Dokter Rey mengangguk. “Kamu mau pulang langsung?”


“Iya dok. Tapi mau kecaffe dulu ngambilin baju saya yang ketinggalan. Masa saya pakek baju kerja terus.” Ucap Rindu sembari mengangkat bahunya.


“Jika begitu. Kita sekalian aja ya perginya. Saya juga mau kecaffe.” Ucap dokter Rey,


“Kerja. Tapi sekarang jam makan siang Rindu.” ucapnya.


Rindu menepuk keningnya. “Iya ya hehe. Ayo kalo gitu.” Sahutnya terkekeh.


“Yaudah. Ayok.” Mereka pun meninggalkan ruangan itu.


Rindu dan dokter Key kembali kekamar Rian dan Rani. Rindu menggendong Rani, sedangkan dokter Rey menggendong Rian. Sunggu pemandangan keluarga bahagia saat ini.


Rindu dan dokter Rey memasuki mobil dokter Rey untuk memulai perjalanan memasuki mobil. tapi mereka tercekat saat mendengar ucapan Rani yang sangat lugu.


“Kak rindu. aku boleh nggak panggil kakak Bunda? Soalnya kakak adalah orang pertama peluk aku. Aku bahagia banget karena bisa dipeluk selain kak Rian.” Ucapnya polos. Tangannya melingkar sempurna dileher Rindu.


Rindu menghentikan langkahnya dan menatap mata jerni Rani penuh harap. Tapi matanya teralih menatap Rian yang juga ikutan menarik ujung bajunya.

__ADS_1


“Iya boleh ya kak. Kami mau kakak jadi Bunda kami. Kamu mau dipeluk dan disayang terus sama kakak. Kami mau banget ngerasaain gimana punya bunda. Dipeluk terus, dicium terus. Kayak gini, kami bisa ngerasaan kasih sayang.” Ucapnya.


Air mata Rindu lolos dari pelupuk mata. Sungguh ia kasihan kepada mereka. “Boleh kok. Kalian bisa panggil kakak bunda. Kakak bakal jadi bunda kalian.” Ia mengusap kepala Rani lembut.


“Beneran kak? Eh Bun?” Tanya Rani penuh harap.


Rindu menganggukkan kepalanya. “Bener dong. Kalian udah jadi anak bunda mulai detik ini.”


“Asyikkk. Kita punya bunda kak.” Ucap Rani penuh kebahagian.


Rian bahkan meminta turun dari gendongan dokter Rey. Ia memeluk kaki Rindu penuh rasa syukur. Air matanya lolos seketika. “ Bunda tau nggak?” Tanyanya sembari mendongak.


Rindu membungkukkan tubuhnya menatap Rian sambil menggeleng.


“Kami nggak pernah dipeluk sejak kecil, kami boleh nggak peluk kakak bareng-bareng.” Ucapnya serak.


“Kok kakak sii? Bunda dong.” Jawab Rindu serak.


“Bunda...” ucap Rian serak. Mata jerninya sudah ditutupi kaca yang sudah pecah. Rindu merangku tubuh Rian kedalam pelukannya. Air matanya berderai di pipi tirusnya. Sungguh Tuhan memberikannya bunga syurga yang begitu indah saat ini. Dunia membencinya? Salah..! Bahkan dunia memberikan Rindu ketulusan tiada tara...!


“Bunda nggak bakal ninggalin kita kan? Kayak ibu kita yang ninggain kita didunia yang nyakitin kami?” Tanya Rani sembari memeluk Rindu.


Air mata Rindu semakin lolos saat ini. ia mendengar menatap langit. Bolehkah ia minta umurnya dipanjangkan? Apakah ia sangat egois untuk meminta kebahagian lebih banyak lagi? “Bun. Hiks hiks... bunda bakal peluk kalian terus sampek bunda nggak lagi ada dimuka bumi ini.” Jawab Rindu. ia tak bisa bilang jika umurnya pendek. Sungguh ia tak bisa.


Dokter Rey menatap Rindu sendu. Ia mendoongak menatap langit supaya tidak menangis. Pemandangan itu sangat menyayat hati. Ketika insan suci meminta hal yang tak pasti. “Kalian nggak mau anggap dokter Rey ayah?” Tanyanya.


Rian dan Rani menggeleng. “Nggak. Paman sering mukulin bibik Elif. Padahal dia ayahnya Danil sama Tara. Kami nggak mau punya ayah. Ayah itu jahat. Kami nggak mau bunda kami dipukul.” Ucap Rani polos.


“Bener. Kami Cuma mau bunda. Kami mau bunda bahagia.” Sahut Rian sambil memeluk Rindu.


Rindu terkekeh saat melihat wajah dokter Rey terdiam. “Udah ah. Kita pergi ayok...” Ucap Rindu semangat.


Dokter Rey menghela nafas. Susah jika ia harus menjelaskan sesuatu pada anak kecil. Ia memilih mengendarai mobil, sesekali melihat Rindu yang dipeluk oleh Rani yang berda dipangkuannya. Sedangkan Rian menggandeng atangan Rindu sembari meletakkan kepalanya diengannya, wajah damai mereka tertidur pulas. Sedangkan Rindu menatap jalanan dengan tatapan kosong. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2