
Diam dengan tamparan yang bertubi tubi membuat kepala Habib berisi banyaknya yang ia katakan tadi dan ia lakukan selama ini.. ia sholat kah? Bagaimana timbanganya seseorang yang sholat?. Ia tak lagi bisa berata kata kecuali meremas jari jemarinya sendiri dengan jemari yang lain..
“Lalu ada yang mengatakan jika sholat itu tidak menjamin masuk syurga?”?” Tanya kyai membuat semua orang. Lalu bagaimana yang enggak solat. kalo yang solat sah tidak menjamin masuk surga? Banyak yang bilang, lebih baik gue yang enggak sholat yang penting baik dari pada mereka yang sholat tapi munafik..” Ujarnya Kyai Membuat semua orang menatapnya dengan tatapan serius.
“ Tapi syarat yang kedua dari rukan islam adalah sholat.. bukan yang lain bagaimana ini?” Tanya Kyai membuat Habib ditimpahkan batu dikepalanya, ia merasakan sakit berkali kali dengan kenyataan sekarang.. “ Bukan baik,, bukan pulah sedekah.. tapi rukun islam kita yang kedua adalah sholat... Sholat..!! mau dia munafik.. mau dia bukan orang baik.. mau dia bertato dan sebagainya.. tapi yang namanya sholat tetap kewajiban.. yang namanya sadaqa itu tergantung dengan hati.. semuanya enggak bisa disamakan.. jika seeorang yang melaksakan solat itu berbuat dosa jangan salahkan sholatnya.. jangan salahkan imannya. Tapi salahkan dirinya.. pribadinya..!!” Kyai berujar..
“Kalian tau panasnya api neraka?” tanyanya Kyai membuat semua orang menggeleng disana meksi ada sebagian yang tau.. “Neraka ada beberapa tingkatan.. tergantung kita saja yang mau pilih.. mau neraka yang sedang.. atau mau neraka yang jahanam..”Ujarnya dengan kekehan membuat semua orang meringis dibuatnya..
“Panasnya api neraka adalah tujuh puluh kali lebih panas dari pada apinya dunia. Bayangkan saja itu... Bahkan malaikat Mikail saja itu yang tidak memiliki nafsu kehilangan senyumnya hanya karena melihat api neraka.. bayangkan saja bagaimana jika manusia yang melihatnya.. Manusia yang penuh dengan nafsu, yang penuh dengan dosa.. saya rasa kita akan menangis dan meminta taubat dengan air mata darah buka.?” Tanyanya.
“Kalian pernah mendengar cerita dari nabi Adam yang meminta api dikalah itu? Dimana ia yang dilemparkan kebumi untuk mendapatkan hukuman karena sudah memakan buah Quldi.. jika makanan disyurga sudah disiapkan apapun sudah disiapkan semua dengan senikmat mungkin dari Allah beda halnya dibumi.. dibumi makanan mentah harus dimasak sedangkan dulu didunia belum ada apa.. dibumi ini belum ada api membuat ia meminta kepaa Tuhan supaya diberi api untuk memasak..”
“Lalu Allah tugaskan Jibril meminta Api kepada Malaikat Malik sang penjaga neraka untuk memberikan api sebesar buah kurma.. membuat Jibril memintanya kepada Malaikat Malik seagaimana yang Tuhan perintahkan.. dan malaikat Malik pun menjawab. ‘Ya Jibrill.. jika aku memberikanmu api neraka sebesar biji Kurma, maka bumi akan hancur dan mencair.. ;’ “
“Itu membuat Jibril bingung.. bagaimana bisa? Lalu ia datang kepada Allah lagi ntuk diberi petunjuk lalu Allah memerintahkan Jibril untuk meminta sebesar setengah biji Kurma saja.. namun malaikat Malik menjawab lagi ‘Ya Jibril.. jika aku memberikanmu api sebesar setengah buah kurrma.. maka bumi akan mencair dan hangus... membuat apapun yang dibumi tak bisa hidup karena kepanasan..” Itu membuat Jibril bingng lagi..”
“Sampai pada Malik mengatakan dan mengusulkan untuk memawa air dari neraka sebesar biji zahra saja.. itu membuat Jibril membawa sebutir biji Zahra... dan kalian tau apa yang terjadi?” Tanyanya membuat semua orang yang terus itu menggeleng termasuk Habib.
“Jibril memberikannya kepada Adam.. ia meletakkannya diatas gunung.. namun ternyata bumi belum bisa menerima pasnya api neraka yang hanya sebesar biji Zara... membuat gunung gunung disekitar memuntahkan lahar. Gunung itu menjadi api. sekitaran gunung itu menjadi panas.. pohon pohon menjadi kering dan tanah menjadi tandus membuat Jibril bingung..
“ Lalu Jibril membawa lagi api itu dan mencucikanya kesumber air bumi.. sebanyak tujuh sumber mata air.. karena di sumber air pertama itu menjadi lautan air yang menjadi mendidih semakin panasnya.. begitu juga dengan air air berikutnya.. sampai ketika Jibril merasa cukup panasnya api itu ia beri kepada malaikat Adam.. kalian bayangkan saja panasnya api neraka itu..”Ujarnya Kyai dengan air mata yang hampir jatuh...
Habib dan lainya diam mendengarkannya. Bagaikan angin topan menerjang mereka.. “ bayangkan jika kita terkena api didunia ini sedikit saja.. maka kulit kita akan melepuh.. bayangkan jika tubuh kita dibakar oleh api dunia.. maka kita akan hangus terbakaer.. tapi bayangkan bagaimana jika kita dimasukkan kedalam api neraka.. neraka jahannam panasnya tujuh puluh kali lipat dari ada api dibumi.. apa yang teradi pada kita? tak kita mendidih.. apa lagi? Mencair tuh kita..”Ujarnya.
“ Dunia dan neraka pun waktunya berbeda.. putaranya satu menit itu satujam.. dan bayangkan saja dua pulu empat jam kita dijalan yang salah.. tak pernah sholat.. apa jadinya kita didalam api neraka? Bayangkan saja berapa lama kita harus masuk neraka supaya bisa masuk syurga?” Tanyanya dengan nanarnya membuat semua orang menangis dan berstighfar..
“ Dan Allah sudah mengngatan dalam Al-Qur’an " Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?"
__ADS_1
"Mereka menjawab: "Benar ada", sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar".
"Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".
"Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala"..(Surah Al-Mulk ayat 8-11)”
Itu kembali membuat semua orang sadar akan hal yang mereka perbuat. Habib menangis dalam diam dibuatnya.. ia tak kuat lagi mendengar semuanya membuat ia bangkit dan pergi dari sana.. ia tak kuat mendengar kebenaran yang ia dapatkan.. ia menjadi seorang pengecut saat ini karena memang ia seorang pengecut.
Terlahir dari keluarga yang tak paham dalam agama membuat Habib buta akan agama. Keluarga yang memperioritaskan karir dan uang kebahagiaan. Semua orang tua jika keluarga Hollmast adalah keluarga yang harmonis dan juga sejahtera.. semua orang tau jika mereka keluarga yang setia dan keluarga yang diidam idamkan oleh semua orang...
Habib dnegan gontayangan keluar dari masjid itu dan menatap nanar kedepan.. “Permisi.”Gumamnya ketika melewati semua orang. Membuat semua orang minggir dibuatnya.. habib meningalkan pengajian sebelum acara..
“He bang.. nasi kotaknya belum dibagiin ini? Rugi loh..!”Sahut dari bapak bapak didepan pintu kepada Habib yang pergi dari sana dengan nanarnya. Ia melambaikan tangan namun Habib tak menyahutinya membuat ia manyun.”Padahal enak loh gratisan. Kapan lagi dapat yang gratisan tapi enak.”gumamnya dengan sinisnya.
“bener tu bang.. gue aja dateng kesini karena dikosan lagi habis makanannya. Mana emak gue belom ngirimin duit lagi;..”Ujar dari pemuda disampingnya sembari makan makanan membuat penjaganya menghela nafas melihatnya.
Habib memang hatinya.. ada perasaan nyeri dialah ingat akan neraka.. ia menatap nanar kedepan dimana ia merasa jika jiwanya dibawa kedunia nyata.. dimana sedari kecil tak mengetahui mengaji tak pernah sholat..
Bagaikan seorang anak kecil yang dari kecilnya hanya diberi susu saja dan tiba tiba diberi nasi,, ia menjadi seorang yang linglung dan lupa akan arah yang ia rakit. Ia bagaikan belalang yang lupa yang mana rumput hijau dan yang mana rumput beracun.. ia bagaikan pelangi.. pelangi yang lupa kapan ia datang, apakah sebelum atau setelah hujan yang datang..
“Hik hiks,, Rinduu.. maafkan saya..”Gumamnya dengan tangisan.. ia tak pernah serapuh ini.. ia tak pernah selema ini.. ia tak pernah menangis lagi selama ini.. tapi hari ini ia merasakan hatinya hancur,, hidupnya gagal..
Bukan.. bukan.. semuanya bukan hanya Rindu.. tapi juga kenyataan yang ada.. kenyataan jika sebenarnya disini bukan Rindu yang salah.. tapi dirinya. Dirinya salah menempatkan suatu kebenaran dalam hati dan dirinya.. ia salah karena lupa memberikan.
Jika dihitung dosanya maka ia tak akan mampu menghitungnya.. ia tak mau masuk neraka.. ia tak mau... ia baru mengerti hakikat neraka. Dulu ia hanya tau jika neraka hanya untuk orang orang jahat dan menyepelekan nekara.. ia mengatakan jika neraka ya enggak apa-apa.. yang penting sudah menikmati dunia seindahnya. Tapi pada hakikatnya bukan begitu.. hakikatnya biarkan bersusah paya didunia. Karena dunia hanya sementara. Bagaikan ujung kuku syurga saja.. tapi mau apa lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Yang sekarang harus ia lakukan hanyalah mengulang kembali apa yang sudah rusak.. mengulang lagi. Tapi Habib tak tau harus apa dan harus lakukan apa sekarang...
Setelah merenung apa yang ia dapatkan hari ini membuat ia memejam kan mata.. merasaan angin menerpa wajahnya.. ia menadakan kepalanya dan menatap langit.. langit yang gelap karena tak ada bintang dan tidak ada bulan... kepalanya memiring memikirkan Rindu dan apa yang sudah ia lakukan . kalimat demi kalimat. Rindu yang mau menikah.. kenyataan yang ada. semuanya membuat ia tak tau harus memikirkan apa lagi.. semuanya terlalu membingungkan dan terlalu menyakitkan..
__ADS_1
Sampai pada ada suara yang mengejutkan Habib dibelakangnya..
“ Saya pernah dikatakan oleh seseorang.. dan kata kata itu sangat mengena dihati saya.. kek ngejleb gitu,,”
Habib terkejut lalu menetapa kebelakang nya dan ternyata dia adalah seorang pria.. Habib diam dengan menatap kedepan lagi karena tak peduli dengan siapapun padahal ai sudah semakin larut.
“ Saya selalu menganggap semua orang disekitar saya itu.. Ya Sudah.... Saya bisa bahagia, bahagia dengan mereka. Tapi mereka bukanlah satu satunya kebahagiaan bagi saya..’ Dan siapapun yang mendatangiku.. aku akan menganggap Bahwasannya dia adalah bintang yang menghiasi langitku’... bintang yang menghiasi langit sangatlah indah bukan?. Begitu pula saat ia pergi. Bukankah langit masih sangat indah? Tanpa adanya bintang??” tanyanya membuat Habib tertegun.” Dan kata kata itu ia kutip dari sebuah buku...”Ujarnya lalu duduk disampingnya Habib yang dekarang menatapnya itu.
Ia bisa melihat Habib sangat lah kacau.. ia memang nampak masih duduk kokoh hanya saja matanya tak bisa berbohong jika ia sedang sakit, ia sedang gunda dan ia sedang tersakiti secara hati dan perasaanya itu.
Sosok itu adalah Reno. Tadi ketika ia mau kermah sakit ia tertegun dikalah melihat Hbaib berjalan dengan lunglainya .
Reno meghela nafas dikalah Habib tak mendengaranya.. “Itu adalah kata kata Rindu buat saya ketika dia meninggalkan saya.. dan kata kata itu juga membuat saya berhenti mengejar dan juga meminta ia tetap tinggal didunia saya..”Ujarnya..
Dan kata katanya itu membuat Hbaib menatapnya cepat.. Habib menatapnya dengan tatapan horornya”Kamu siapanya Rindu? dan bagaimana bisa kalian bisa kenal?” Tanyanya Habib dikalah itu kepada Reno.
Reno kaget ditanya seperti itu kepada Habib dengan cepat letika ia mengatakan tentang Rindu,, “ Saya dulu pernah dekat dengan dia...”Ujarnya membuat Habib tertegun.” Bisa dikatakan kami mantan kekasih hehe.. tapi bodohnya saya selingkuh dengan Mise... mangkanya Rindu dan saya putus.. padahal saya sudah tau jika Rindu benci pengkhiatan seorang laki-laki kepada seorang perempuan.. ia benci...”Ujarnya menghela nafas.
Habib diam dibuatnya... Reno mentaap Habib dengan tenangnya.” Saya tau kamu sangat menyayagi Rindu.. saya tau kamu mencintai Rindu sebagaimana dulu saya mencintai beliau... dan pulang dengan kekecewaan akibat dari perbuatan diri kita sendiri.. saya pernah diposisi kamu.”Ujarnya membuat Habib diam tak menjawab.
“Dulu Rindu berpesan tentang apa yang saya kutip tadi.. ia bilang jika dia hanyalah bintang dilangitnya saya. Lalu saya bilang dia adalah bulan dilangit saya...”Ujarnya terkekeh.” Namun nyatanya Rindu hanya terkekeh.”” Bulan bukan untuk posisi dirinya.. tapi bulan untuk posisinya Rosullullah dan pemilik langitnya adalah Allah.. dia tidak mau dibesar-besarkan tentang kata kata..”Ujarnya.
“Dia bilang beri pepuang buat bintang lain bersinar.. karena dirinya danyalah salah satu dari bintang yang lain yang bersinar.. ikapun ia pergi mungkin akan berkurang benaran bahagianya diri saya. Tapi itu semua akan terasa biasa dan kembali kesemula ketika sudah terbiasa tanpa dirinya.. Dia sosok yang kuat dan tegar Habib. Penuh tekat dan juga penuh prinsip.. jika kamu mengharapkanya kembali.. maka saya katakan pada kamu, jika kamu mengharapkan sesuatu yang semu kecuali takdir yang menentukan.”Ujarnya menatap langit.
“Apakah kalian sedekat itu smapai-sampai kau tau dia bagaimana dan bisa menentukan apa yang ia tentukan dikemudian hari? apakah kamu setau itu sampai kamu tau apa yang ia pilih untuk hari berikutnya?”Tanya Habib sinis.”Kamu bagaikan Tuhan saja yang tau dengan takdir didepan mata..” Lanjutnya dengan dingin dan datar.
Reno malah tertawa dibuatnya namun Habib tetap tak peduli.. didepannya itu hanya ada danau.. karena memang mereka sedang dekat danau dipinggir jalan.. “Saya memang bukan takdir dan juga Tuhan yang tau masa depan. tapi saya cukup paham akan sipatnya Rindu.. Rindu typekal orang yang memberikan kamu satu kesempatan... memberikan kamu kebebasan.. hanya saja ia akan mengatakan apa yang ia tak sukai dan apa yang ia sukai.. Ia membiarkan kita berbuat semau kita.. ia tak melarang kita untuk merokok.. tidak pernah melarang kita untuk tauwuran.. sampai pada main dengan perempuan lain.. ia sosok yang membebaskan pasangannya untuk mencari dunia lain diluar oleh dunianya.. saya pernah merasakanya..”Ujarnya mengangguk.
__ADS_1
“ Tapi satu hal yang tak ia bebaskan.. yaitu Keluar masuk kedalam dunianya.. ketika kita sudah masuk kedunianya. Maka jangan masuk kedunia perempuan lain lagi.. cukup didunianya saja. Ia tak juga memberikan kunci serap hanya untuk kita supaya bebas keluar masuk. Sekali masuk maka kamu yang menentukan, mau bertahan atau mau keluar.. jika keluar maka jangan harap bisa masuk kedua kali..” Reno mengangguk dengan menekan kata katanya karena apa yang ia katakan semuanya kebenaran yang ia ketahui.