Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Membangunkan Habib


__ADS_3

“Ini kamar kamu, kamar saya disebelah, jadi pagi-pagi besok kamu sudah harus menyiapkan baju, sarapan dan juga bekal, semuanya harus kamu yang melakukannya, termasuk memasak. Mengerti?” Tanya Habib.


Rindu mengangguk.” Jika tuan masih tidur bagaimana?” Tanyanya.


Habib memberi kunci kamarnya.” Ini kuncinya, kamu bebas masuk kapan saja.”


Rindu menerimanya. “Baik tuan.” Ucapnya sopan.


“Jika begitu, kamu bisa istirahat. Besok kamu sudah melakukan tugas kamu. “


Rindu kembali mengangguk.” Terimakasih tuan.”


“Hmm..” Ucap Habib.


“Jika begitu saya masuk ya tuan.” Pamit Rindu.


“Hmm. Selamat malam, semoga mimpi indah..” Ucap Habib dalam hati. Ia mau mengatakannya, tapi mulutnya terlalu kaku membuat Rindu sudah berlalu lalu menutup pintunya lembut..


...


Mata Rindu melebar melihat kamar, kamarnya sangat bagus jika untuk seorang pelayan, ada kamar mandi didalamnya, ada almari yang sangat besar, ada sofa dan juga perlengkapan perempuan seperti skincare dan lainnya membuat Rindu menganga.


Apa ini kamar pembantu? Bantinnya.


Tapi Rindu tak punya waktu terlalu lama untuk mengagumi kamar. Ia mengobrak abrik tas jinjitnya mencari obat, lalu pergi kewatefel untuk mencuci wajahnya, ia membuka niqobnya terlebih dahulu. Ia meminum obat didepan cerminnya mengunakan sisa minumnya tadi.


Setelahnya.


Ia berjalan lemah menuju kasur yang berukuran king size, bantal yang nyaman dan juga seprai yang lembut, jangan lupakan selimut yang hangat dan tebal. Rindu tak melaksanakan sholat karena datang bulan. Ia memilih beristirahat sebentar setelahnya mandi. Ia belum makan sedari siang, tapi rasa lelahnya menjadi jadi, membuat ia tertidur nyenyak. Ia bahkan lupa jika ingin mandi.


..


Paginya Rindu bangun seperti biasa. Yaitu jam 3subuh, alasannya kenapa? Karena ia harus mandi Haid, jadi ia juga melaksanakan sholat tahajut. Sholat tahajud tidak mesti dilakukan tepat tengah malm, karena dijam 3 dan jam 4 subuh juga masih boleh, karena itu masih dimasukkan ditengah malam, tapi lebih baik melaksanakan sholat sunnah tahajud itu dijam 1 atau jam 2 malam..


Rindu memilih sholad tahajud dijam 3 itu karena ia juga langsung menghafaslAl-Qur’an. Dijam seperti ini itu lebih baik untuk menghafal, dari otak yang masih frees, sunyi dan juga tenang membuat kita mudah menghafal, baik disegi akademik maupun non akademik itu sangat baik menghafal jika dijam seperti ini.


Awalnya Rindu bangun cukup terkejut, karena melihat sekitar yang asing, namun ia baru sadar jika ia dirumah Habib dan bekerja. Ia baru bernafas legah.

__ADS_1


...


Tepat setelah melaksanakan sholat subuh dan mendapatkan sedikit hafalan, ia melangkahkan kakinya kekamar Habib untuk menyiapkan semua peralatanya. Ia mengunakan kunci yang Habib beri kemarin, tapi ternyata pintu itu tidak dikunci.


Tapi sebelum itu ia sudah kedapur untuk merebus kacang hijau untuk sarapan Habib.


Tok.. Tok.. Tok.. “Assalamu’alaikum..” Ucap Rindu mengetuk pintu coklat yang terbiat dari kayu jati itu. Sekarang sudah jam 5:30.


Tak ada sahutan dari dalam membuat ia mengetok pintu berkali kali membuat ia kesal.” Tak sholatkah dia?” Gumam Rindu kesal. Ia memutuskan untuk masuk saja, karena memang tugasnya bukan?


Rindu menghela nafas saat masuk, ia melihat Habib yang tidur dengan terlentang tak elit tanpa baju, ia hanya menggeleng tak mengerti, Jadi begini tidur Horang kaya? Sang motivator terkenal?


Rindu masuk tanpa mengunci pintu, ia membiarkan saja untuk dibuka supaya tida menjadi fitnah, ia masuk ketumpukan baju Habib yang berseraakan.


Rasanya ia ingin menangis saja. Habib yang tampan itu jorok sekali, masa CD diletakkan didalam ranjang pakaian kotor membuat Rindu mual. Ia menahan diri untuk tidak mengumpat atau marah, selalu saja ia mengingat nama Alla dan istigfar.


Setelahnya ia masuk ke ruangan baju yang Rindu sama sekali tak tau namanya, tapi memang ruangan ini khusur untuk baju-baju Habib, ruangan ini sangat luas, jas berjejer rapi dan juga kemeja, kemeja disana warna warni, tak semua gelap, tapi didonimasi warna yang gelap. Maklum mungkin karena Habib laki-laki.


Rindu mengambil kemeja biru dongker dengan jas yang berwarna hitam, ia juga nengambil dasi dongker berwarna biru dongker yang bergaris hitam. Pakaian itu sudah rapi, jadi ia tak perlu repot menyetrikanya, ia meletakkan pakaian itu diatas meja dekat kasur Habib. Tepat saat itu Habib bangun..


Rindu mau tertawa tapi ditahan. “Cih... Dasar pikun.” Decapnya.


Habib mendadak berdiri lalu mengambil ancang-ancang untuk menghajar Rindu. padahal iatu masih diatas kasur. “Dasar rampok..! Pergi sana.. Jika tidak akan ku hajar.”


Rindu melongo. Masih mimpikah? “Aku Rindu, asistenmu. Aku sedang menyiapkan baju untukmu.” Ucap Rindu malas mencari masalah.


Habib diam dengan tangan yang masih mengepal. Ia menatap Rindu dengan mata yang masih memerah karena baru bangun tidur. ia menepuk jidadnya sendiri.” Astaga. Aku lupa..” Ucapnya.


Rindu mengeleng. “Tadi aku sudah mengetok kamarmu berkali-kali. Tapi tak ada sahutan, jadi aku langsung masuk saja.”


Habib menganguk. Ia menatap tubuhnya, ia baru sadar tak memakai baju mengexpos tubuh kekarnya, dengan celana boxer yang sedikit melorot membuat ia malu.” Kau lihat tubuhku?” Teriaknya seperti perawan saja.


Rindu menggeleng lagi dan lagi. Ia melangkah menjauh.” Punya kakakku lebih sexy darimu. Jadi aku tak minat menatap perut buncit mu itu.” Ia pergi tanpa permisi.


Memang benar. kakak Rindu Tasyid itu adalah warga silat setia terate. Rasyid bahkan sering mendapatkan juara terate. Rasyid di MTS belajar taikwondo dan SMA belajar silat terate setia hati. Jadi tubuhnya memang sangat bagus. Ditambah Rindu yang sedari dulu memang bergelut dengan dunia laki laki seperti silat sudah biasa jika melihat tubuh kekar pria, jadi tak ada yang menarik baginya.


Mulut Habib memajang, tanganya melambai tak terima,” Hey.. Pembantu kurang ajar... Dasar tak tahu diri...!” Ketusnya tak terima namun Rindu tak mengubrisnya membuat Ia mengumpat.

__ADS_1


“Sial..” Gumamnya. Ia menatap perutnya yang ada roti sobeknya.


Ia mengoyang-goyangkanya lalu melipatkan dahinya.” Benarkah aku buncit?” Gumamnya. Ia berdecap.” Kenapa harus buncit, memalukan saja, pasti Rindu tak tertarik pada tubuhku..” Gumamnya.


Ia mengigit kukunya untuk menghilangkan kegugupan, lalu matanya membulat.” Aku harus mengkekarkan lagi tubuhku, aku akan nge GYM sesudah dari kantor. Harus..” Ucapnya semangat lalu melompat dari kasur.


Setelahnya ia berlari-lari kecil lalu Pust Up beberapa kali.” Capek..” Gumamnya.” Tidak apa. Harus kekar.” Guamamnya lalu melanjutkan lagi kegiatanya.


...


Semua keluarga telah berkumpul diatas meja, sedangkan Rindu masih berkutat dengan dapur. ia sudah berkenalan dengan pembantu disini, perempuan paru baya yang berumur 40tahun ia bernama Bik Yani, cukup ramah dan baik membuat Rindu tak segan. Ada banyak pembantu lainnya tapi Rindu belum mengenal mereka.


Rindu hanya sedang menyiapkan wadah untuk menaruh bubur kacang hijau, disana sudah ada bik Yanti. Ia melihat tangan Rindu.” Tangan kamu kenapa Rin?” Tanyanya.


Rindu menatap tanganya. Ia baru saja menaruh satu cedok bubur. Ia tersenyum.” Ini karena cuci piring buk.” ucapnya. Karena kulit tanganya itu mengelupas seperti sisik ikan, lalu mengkerut bagaikan mengecut.


Kening bik Yanti mengerut. Ia tak paham.” Maksunya gara-gara cuci piring gimana? Bibik cuci piring terus engak tu.”


Rindu masih dalam kegiatannya.” Kulit saya itu alergi sama cabe bik, jika terkena cape, maka tangan saya itu melepuh, susah hilangin panasnya, kalo saya cuci piring, tangan saya itu bisa panas selama seharian penuh, jadi kalo cuci piring itukan ada sisa cabenya bik. Jadi yaa gini bik, saya kan sebelumnya kerja dicaffe sebagai pelayan, jadi setiap hati cuci piring.”.


Mata bik Yanti melebar. Ia menutup mulut tak percaya.” Berarti setiap hari panas dong.”


Rindu menganguk. Itulah kenyataanya, ia sangat menderita dengan keadaanya. “Iya bik.”.


“Kulit Rindu sensitip dong. Atau Cuma dibagian tangan doang? Kalo makan cabe gimana? Sakit juga nggak” Tanya Bik Yanti masih kepo akan penyakit Rindu.


Rindu sudah menyalin buburnya. Ia menatap bik Yanti.” Kalo makan cabenya enggak bik, biasa aja saya mah, Cuma kulit aja, kulit saya itu bukan sensitif tapi ya kayak kurang trombisit gitu bi, kurang pertahanan, jadi mudah melepuh kalo kena cabe. Saya juga mudah kedinginan. Disaat semua orang sering kepanasan saya bahkan kedinginan. Entah lah, temperatur suhu tubuh saya itu nggak setabil. Saya juga susah ngejelasinya. tapi yang jelas saya nggak bisa kena AC atau kipas angin, kalo engak besoknya langsung demam, ngak bisa kena saus atau cabe tapi beberapa bulan belakangan ini saya selalu berurusan dengan cabe dan AC. Jadi ya kayak gini...”


.


.


.


.


Like..komen and vote sebanyak banyaknya ya...!

__ADS_1


__ADS_2