
“Tapi kenapa loe engak nanya kenapa gue mutusin Loe?” Tanya Dimas tersekat. Ia tau Rindu sakit dan ia tak suka itu.
Rindu terkekeh. “Buat apa gue nanya? Loe cuma ngomong, 'Rindu kita putus’ menurut loe gue harus jawab apa? Bilang’ Kenapa kita harus putus?’ maaf kak. Kalo pun gue tau alasan loe mutusin gue ngak bakal buat gue nggak sakit. Gue enggk putusin loe terlebih dahulu padahal udah hampir satu bulan loe enggak hubungjn dan samperin gue. karena apa? Karena gue harap loe bisa tau kalo gue memang sayang sama loe dengan cara gue sendiri. Tapi saat loe bilang putus disitu jga rasa sayang gue putus. Loe lebih percaya ucapan Tamara sama kakak loe kan dibanding gue?” jar Rindu.
Dimas menatap Rindu sendu. Selama ini ia belum pernah bisa Move on, sungguh ia masih mencintai Rindu. “Berarti loe sayang sama cinta sam gue?” Tanya Dimas bergetar.
Rindu mengangguk.” Awalnya gue nerima loe karena gue terpaksa dan dipaksa oleh orang kelas kak, tapi lama kelamaan gue jadi sayang dan cinta sama loe. “ Dimas tersenyum mendengar itu. Ia mau memeluk Rindu peuh haru, tapi sayangnya tangan Rindu dudah menyetopnya. “Tapi itu dulu semenjak loe engak nanya sama gue dan loe lebih percaya sama cewek lain. Sorry kak, rasa suka dan cinta gue ilang semenjak sikap dan perbuatan loe selama tiga tahun itu untuk gue. Kebencian loe ngebuat hati gue udah ilang buat loe. Loe jahat.” Ujar Rindu lalu meninggalkan kerumunan orang.
Dihari it Dimas merasa hancur dihatinya. Ia mencintai Rindu dan ia baru tau jia cintanya terbalas, ia egois dan mendengar ucapan orang lain, ia bodoh dan ia mengutuk itu, ia sayang Rindu tapi bagaimana lagi? Semua ini hampir membuat ia gila.
Ia menyesal sudah memfitnah Rindu, mengatakan Rindu yang tidak-tidak. Sampai Rindu yang notabenenya adik kelas itu pelepasan kelas tiga ia sayang dan membawa Buket. Rindu memandangnya datar lalu membuang buket itu ketong sampah didepan matanya..! dihari itu ia mati rasa terhadap perempuan, ia menjadi dingin dan tak mempercayai siapapun, Tamara dan kakaknya saja sudah menjadi orang asing baginya, tak ada yang ia suka dan percaya.
Sungguh, karena semua ini membuat ia dingin dan tak tersenyum semakin dingin dan tak tersentu, ia menjadi Iblis karena Rindu Azzaahra. Gadis manis yang menjadi pacarnya sleama 3bulan namun dibenci dan dimaki selama 3tahun. Ia menyesal.
Of Flashback..
Rindu terkekeh, “Gue sii ingat saat kaka dateng kerumah pas gue Ulang Tahun, mau kasih kejutan didepan pintu, ehh engak taunya Abbi gue yang bukain pintu, dan lebih parahnya kue itu langsung terlempar kemuka Abbi gue karena loe kaget, ngebuat Surprisenya hancur dan loe dihapus dan daftar calon mantu. Oh ya.. boneka panda loe yang segede truk masih ada dikamar gue.” Ujar Rindu santai.
Dimas menatap Rindu dengan mata yang berair. Ia menarik tangan Rndu lalu memeluknya. Rindu mau melepaskannya namun Dimas menahannya dan mendekanya erat.” Kak. Apan sii. Lepas kita bukan makhrom.” Ujar Rindu memberontak.
Dimas menaruh kepalanya dileher Rindu sembari menangis.” Maafin Gue Rind. Gue jahat. Jangan jauhin gue, maafin gue gue jahat banget..” Ujarnya. Bahunya bergetar akibat tangisan itu. Ia sudah lama tak melihat Rindu. semjak Rindu yang pergi tak mau menemuinya sampai sekarang ia masih sangat menyesal.
Rindu menghirup udara tenang. Ia tak boleh emosi.” Iya lepasin dulu.” Ujar Rindu. apakah Rindu sudah memaafkannya? Sudah, namun jika boleh jujur, masih ada rasa sakit dihatinya, bukan karena cinta, tapi kelakuan Dimas yang menjatuhkan harga dirinya.
Dimas mengeratkan pelukanya, kedua tangan Rindu berada didepan dadanya menyembunyikan aset berharganya. Pelukan Dimas sangat erat membuat ia tak bisa bergera.” Eggak. Kalo gue lepasin loe pasti pergi dari gue. gue minta maaf Rindu. Plis maafin gue.. gue jahat sama loe. Gue masih cinta sama loe..” Ujarnya serak.
Semua orang terkejut saat Dimas memeluk Rindu, mereka tau jika Dimas anti perempuan dan sekarang ia memeluk Rindu? apa lagi Dima smenangis tanpa tau malunya, padahal ia dikenal iblis dan tak berhati. Jangan tanya gimana ekspresi mereka saat Dimas mengatakan ia mencintai Rindu
Rindu terjebak dalam situasi. “ Lepasin gue kalo nggak gue tambah marah.” Ujar Rindu dingin dan itu mampu ngebuat Dimas melepaskan pelukannya. Rindu dapat melihat wajah tampannya itu berair. Dialah mantan Rindu. mantan yang hampir mampu merebut hatinya dulu.
Ingat ya hampir..
“Kita ngomongnya ditempat lain aja. Gak enak diliatin orang. Masa cowok nangis..!” Ujar Rindu terkekeh. Ia melihat sekitar jika mereka menjadi tontonan geratis.
Dimas menatap sekitar dan benar saja. Bahkan ada beberapa rahang yang jatuh. Mukanya memerah malu. Ia menarik tangan Rindu.” kita ngomong dikatin aja yuk By.” Ujarnya tanpa meminta persetujuan Rndu.
Rindu yang terkejutpun mengikuti langkah Dimas. “Ify... Nayla.. ayo.” Teriaknya.
Mata temannya Dimas mengerjab terkejut lalu menggeleng tak mengerti. Rahang Susan dan Vera jauh melihatnya. Bagaimana bisa mereka saling kena dan Dimas berinteraksi dengan perempuan itu? “Kalian tau siapa Rindu dikehidupan Dimas?” Tanya Sehun pada Nayla dan Ify, tentu saja mereka kompak menggeleng dengan bodohnya.
“Kita ikutin aja yuk..” Ujarnya lalu berlari mengejar Rindu dan Dimas ikantin.
“Apa dia pacarnya, Dimas pacar kita?” Tanya Vera pada temannya. Biasa mereka adalah gadis-gadis halu.. apalagi Dimas tampannya luar biasa membuat siapapun tak dapat berpaling.
HAlu ya gini. Pacar orang dianggap...
Ada yang bertanya. Tampan Dimas atau Habib? Maka jawabannya tampan Dimas. Jika Habib tak terlalu putih Dimas sangat putih bagaikan artis korea. Tentu saja karena ia anak holang kaya membuat ia selalu perawatan kulit. Meskipun ia laki-laki tapi ia harus perewatan dan tak bisa dibantah... Dia anak bungsu dari keluarga Helangga, jadi wajar jika dimanjakan. Tapi kharismanya Habib lebih tinggih dari pada Dimas.
Disinilah mereka duduk sekarang. Dikantin Bulek Linu. Entahlah Rindu juga tak tau karena ia diajak oleh seorang presiden mhasiswa yang terkenal dingin dan tak tersentuh oleh perempuan sekarang berjalan berdua dengan gadis berrcadar. Bisik-bisisk yang tak terdengar oleh Rindu menjadi-jadi saat Dimas menarik bangku Rindu lalu mendudukkan Rindu disana, dan ia duduk didepan Rindu.
“Woy.. Kita kok ditinglin sii..” Ujar temnnya Dimas ngos-ngosan. Dibelakangnya ada Susan, Vera, Ify dan Nayla. Baru juga temannya mau duduk Dimas mengangkatkn satu tangan kedepan. Tentu saja mereka menatap Dimas dengan tatapan bingung.
“Kalian duduk ditempat lain aja. Gue mau ngomong maslh pribadi dengn Rindu..” Ujar Dims satay, tak ada raut apapun saat ini seperti menegaskan ia sedang tenang.
Temannya Dimas terngagah. Ia menggeleng tak mengangkah.” Dia siapa loe Dim? Pacar?” Tanyanya sembari menatap Rindu yang sudah anteng ayem malas berdebat namun ia menyimak semua yang orang ucap, bahkan bisik-bisik orng disekitar sangat keras membuat Rindu risih.
“Biarin aja mereka disini, gue males ada fitnah nantinya, lgi pula apa yang mu loe omongin Kak?” Tanya Rindu pelan. sebenarnya ia tau apa yang ingin diucapkan Dimas, tapi sayangnya ia tak mau berdua.
__ADS_1
“Gue mau berdua Rin.” Ujr Dimas lembut dan itu mampu membuat sesak nafas temannya. Baru kali ini Dimas berbicara lembut dengan seorang perempuan. Biasanya langsung ditendang atau langsung pasang gigi taring...
Rindu menghembuskan nafasnya pelan.” Kalo mau ngomong ya sama sama, kalo nggak mau ya udah, gue cabut.” Ujarnya sembari berdiri.
Dimas berdecap.” Oke... Kalian boleh duduk disini.” Ujarnya pelan karena kesal. Ia bahkan melirik temannya sinis.
Temanya Dimas itupun tersenyum tipis. Ia menadakan tanganya kedepanya Rindu.” Kenalin nama Gue Oh Sehun tapi biasanya orang panggil nama gue Sohun, sesuai nama gue Sehun jadinya muka gue hampir sama dengan personil Exo, Cuma bedah putih, tinggi, senyum dan bentuk wajah. Dan gue jombo klo didepan cewek cantik..!”
Kalo udah beda semua diman samanya tong....!
“anziingg...!” Ucap Vira berdesis melihat Sehun.
Rindu terkekeh. “Oke Sohun. Nama gue Rindu.. Gue temenya Dimas.” Ujar Rindu rama sembari menangkup tangan didada.
“Yey, nggak diterimakan loe... Najis banget ucapan loe...!” Ujar Nayla menjitak kepala Sehun.
Sehunpun mencebik lalu mengusap kepalanya. Ia malu jabatan tanganya tak diterimah, kurang ajar sekali ya kan? Tak apa, ia menghela nafas lalu tersenyum. “Jadi. Apa kalian beneran temen?” Tanya Sehun penasaran.” Bukannya Dimas enggak punya temen cewek? Lanjutnya.
Rindu mengangkat stu alisnya dengan raut wajah bingung. “Tamara?” Tanyanya. Bukankah Dimas punya teman bayi cewek?
Dimas tersenyum tipis lalu menggeleng. “ Siapa Tamara?” Tanya Sehun heboh. Fiks yaa Sehun ini cerewet, tukang kepo dan tukang malu-malu in.
“Pesen makanan dulu yuk..” Pecah sii Ify. “ Ibu kantin lirik kita terus dari tadi. kita enggak pesen makanan tapi duduk rame-rame.” Ia tercengir canggung smbil melirik ibu-ibu berjilbab santay disana. Ia melirik terus memang.
Sontak mereka mentap asal lirikkan membuat ibu itu tersenyum canggung. Ini mereka yang baperan atau memang nyata ya? Jadilah mereka memesan makanan. “Loe mau mesen apa Rin?” Tanya Ify pada Rindu.
Baru saja Rindu mau membuka mulut untuk menjawab, ada suara lain yang bicara terlebih dahulu. “ Mie ayam campur bakso, baksonya harus lima dan jangan banyak kecap, banyakin sausnya. Oh ya jangan lupa minumnya jus Alvukat..” Ujar disebrang tersenyum tipis.
Sehun tersedak air liurnya.” Itu pesenan siapa? Yang ditanya Rindu kok loe yang jawab?” Tanyanya. Setahunya Dimas tak boleh makan mie.
Kyaakk.. banyak sekali yang histeris. Namun Rindu hanya tersenyum manis llu menganguk. Sebenarnya ia tak mau makan bakso tapi mau makan nasi uduk, tapi mau bagaimana lagi? Apa ia harus mengatakannya? Tapi ia tak mau menyakiti hati orang yang sudah menyaiti hatinya ini. rindu menghela nafas lagi untuk menetralkan hatinya.
Pesanan yang diucap Dimas memang makanan kesukaannya.
Pesanan sudah semua,,, tinggal menungu beberapa menit, ada yang bicara, ada yang diam hingga makanan datang. Rindu dengan senang hati menerima makanannya karena lapar.
Makan dengan nikmat, tanpa memikirkan orang lain. rindu hanya bisa makan secara sembunyi sembunyi dibalik cadarnya. Dan itu mampu menyita perhatian orang lain. banyak yang bilang ‘Itu sangat menyusahkan diri sendiri, tapi entah kenapa Rindu merasa jika cadar adalah batasan dirinya, peringatan jika ia bukanlah gadis lain yang bebas dan ia punya penghadang dalam jalan kemudhorotan. Pengingat jika ia tak boleh berlaku jahat.
Setelah selesai makan Dimas masih menatap Rindu dengan lembut membuat Rindu risih. “Kenapa si Kak liatin mulu?” Tanyanya pelan.
Dimas tersenyum lagi. Hari ini ia bahagia, ia kira Rindu akan menamparnya atau tak akan mau bertemu dengannya, tapi salah, Rindu bahkan seperti biasa. “Loe enggak benci lagi sama gue?” Pertanyaan itu mampu membuat suasana ribut menjadi hening. Ada masalah apakah mereka? Itu dalam benak teman temanya.
Rindu menghela nafas. “Gue bukan orang yang pembenci kak. Tapi gue orang yang pengingat...” Ujar Rindu pelan.
Dimas menatap Rindu sendu. “Maafin gue.. Gue salah Rin...” Ujarnya pelan.
Rindu mengangguk.” Udah gue maafin kok, tapi maaf, kadang hati manusia susah buat nerima, namun sekeras mungkin gue lapang dada.” Ujarnya mengisyaratkan betapa sakitnya hatinya karena Dimas.
Dimas menghela nafas lagi. Suasana semakin menjadi tegang karena percakapan mereka berdua. “Gue sayang sama loe dan loe enggak pernah pergi dari hati gue Rin. Loe satu satunya cewek yang gue sayang dan cinta tapi gue udah buat kesalahan yang fatal. “Ia memberi jeda sesaat.” Gue engak minta loe balik sama gue, karena gue sadar, gue enggak pantes buat loe. “ Ujrnya. Hatinya sangat berharap Rindu bisa bersamanya, selama ia kulia tak ada yang bisa menggait hatinya kecuali Rindu. sudah semester 7saat ini tapi masih saja hatinya sakit dan dingin.
Rindu mengangguk, ia bangkit lalu bicara. “Gue nggak pernah nyalahin loe. Dan loe taukan jawaban dari pernyataan loe? Gue harap loe bahagia ya. Gue pamit.” Ujarnya lalu pergi.
Semua menatap Rindu tak percya. kenapa Rindu pergi? Karena Rindu tak mau melihat mata Dimas penuh luka, ia tak mau menjadi ibah dan membuat imannya goyah, lebih baik ia menghindarinya dari pada ia masuk dalam perangkapnya. Sungguh Rindu tak lagi mau dengan Pacaran.
“Loe nembak Rindu kak?” Tanya Nayla menatap Dimas. Wajahnya bagaikan orang bodoh.
Dima mengangguk.” Dia mantan gue..”
__ADS_1
Tiga kalimat itu mampu membuat mereka mengangah. “Jadi loe pernah pacaran kak? Loe mau jadian sama gue nggak?” Tanya Vera antusia.
Dimas mentap Vera tajam. “Loe tau jawabannya.” Singkat nmaun menyakitkan.
Sunguh Dimas sangat Sakit. Ia masih menatap punggung Rindu yang mengecil seiring semakin jauh. ‘Gue tau gue enggak pantes buat dismping loe lagi Rin. Semoga bahagia ya..’ Gumamnya.
....
“Apa?!!! Itu bukan Rindu kan?” Filos menutup matanya karena terasa sakit. Gendang telinganya bisa pecah jika tuannya harus bertanya diruangan yang kedap suara, ditambah sangat keras. Saat mau menjawab tuannya sudah menyelah.” Dasar cewek murahan, mau aja dipeluk sana sini, ditarik sana sini. Pegang saya tidak mau dengan alasan bukan momet..”
“Hahrom tan..” Sahut Filos memutar bola mata malas.
“Ha ya itu... Muhmin..” Ujar Habib ketus membuat Filos mengelus dada. orang bilang apa disahut apa, gila memang, tapi bosnya deng haha.
“Dia siapanya Rindu Filos?” Tanya Habib. Saat ini ia melihat foto Rindu dan Dimas yang sedang berpelukan, disamping mereka ada Nayla dengn kedua temannya, ada Ify juga. Bagaimana bisa mereka berpelukan ditempat umum dan lebih lagi apakah mereka tak tau malu?
“Mantannya nona Rindu tuan.” Ujar Filos.
“Apa? Mantan?!!” Teriak lagi.
Filod ingin menangis..
Gendang telinganya rusak...!
"Lah terus masalahnya apa jika ia punya mantan tuan? Emang situ suaminya?....” Andai Filos punya keberanian mengatakan hal itu, sudah pasti ia memaki dan mengatakan tuannya lebay dan Jablay. Mendengar seperti itu saja seperti mendengar istri selingkuh, Norak...
“Mantankan sudah putus tuan, jadi bukan masalah..” Ujar Filos menenangkan tuannya.
Habib menggeleng.” Menurut kamu kenapa Rindu mau jadi pacarnya dulu?” Tanyanya pelan.
“Mungkin karena dia tampan..!” Jawab Filos asal, sebagaimana gadis gadis yang selalu salting saat bersama dengan coker... iya nggak?
“Saya tampan tapi sudah lima kali ditolak.” Ujar Habib mencibir.
"Kasihan hahah..” Ingin sekali Filoe mengejek seperti itu tapi masih sayang kerjaan. Ia jadinya hanya menahan tawa supaya tak terkeluarkan.
“Jangan tertawa. Aku memang lebih tampan dari dia. Dia hanya menang putih dan juga manis.” Ujar Habib melirik poto Dimas namun kembali bercibir karena cemburu melihat adegan itu.
Ia sadar ya? Hitam hahah.. kembali Filos mau ketawa namun ditahan saat manik mata tuannya melotot. “Bagimana dengan cara----“
.
.
.
.
Like..
komen
and
Vote
yey
__ADS_1