Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Kampung halaman


__ADS_3

Kamu tak akan bisa membuat bunga yang mati kembali hidup lagi.. Tapi kamu bisa kembali memulai menanam bunga yang lain dan mulai memperbaiki dalam merawatnya... Nelly....


Dikamarnya Habib itu masih ada Nina dan Panji sekarang saling tatap dibuatnya lalu menghela nafas, satu sisi mereka kasihan dengan Habib tapi satu sisi lain ia juga tau jika Habib salah jadi harus bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur dan tak bisa lagi dibuat menjadi nasi lagi. Nayla hanya menghela nafas dan naik kekasur… ia melentangkan tubuhnya lelah diatas kasur.


Habib sekarang sudah diam dengan tangisan yang sudah surut itu hanya sesekali saja sesegukan itu masih melanjut didadanya itu.” Gimana kalo kakak sekarang temuin aja dulu Rindu kak..”Ujar Nayla dibelakangnya Habib membuat Nina dan lainya menatap tajam Nayla karena bisa bisanya membeti saran seprti itu.


"Balkas ih... kamu bisa diam tidak..! "Ketus ibunya Habib.


Nayla yang ditatap bagaikan penjahat itupun gugup dibuatnya.”Yakkk bukan gitu maksudnya Nayla mi.. pi.”Gumamnya gugup dan takut.” Nayla sebagai wanita suka sama cowok yang bertanggung jawab yang pastinya Rindu juga gitu.. Kalo kak Habib gini terus dikamarnya nangis darah aja nggak bakalan berarti beneran deh..”Ujarnya dnegan gugup dan yakin.


Nina mendengus dibuatnya namun bedanya dengan Panji yang mengelus dagunya yang berbulu itu.”Bener si kata Dara…”Ujarnya dengan mengangguk membuat Nayla mengangguk menatap papinya itu.” Coba kamu bicarain sama Rindu dan minta maaf, mumpung sekarang ada Rindu disini, nanti kalo udah berlama lama masalahnya mungkin akan berlarut Bib.. lagi pula seenggaknya kamu udah minta maaf dulu, masalah kamu sayang dan cinta sama dia itu urusan belakangan, entar kota tikung deh aman aja..”Ujarnya memberi saran kepada putranya itu.


Habib mengerjab menatap ayahnya.”Tikung gimana lagi si Pi?” Gumamnya lelah.”Apa iya Rindu mau maafin Habib pi? Habib malu buat ketemu sama dia sekarang…”Jujurnya mengusap baju bawahnya sendiri itu.


Panbji menghela nafas.”Pokoknya kamu tunjukin kalo kamu laki-laki gantelmen.. nanti masalah diterima apa enggaknya, kalo engak diterima ya usaha, kalo tetep enggak terima ya Move on dong.. masa kamu jadi gila Cuma gara-gara Rindunya mau nikah.. malu dong sama kenyataan haha.”Ujarmya tergelak mengejek Habib disana membuat Habib mendengus. Naylapun ikut tertawa sedangkan Nina memutar bola mata malas melihat mereka disana semua itu..


Disisi lain Rindu ditengah ruangan keluarga itu.… Rindu menghela nafas dibuatnya, hal ini sudah ia pikirkan sedari awal, pasti akan ada kesalah pahaman seperti ini membuat ia menatap semua orang disana.” Bukan itu alasannya. Tapi Karena saya mau pulang kerumah saya dan memperbaiki semua hal yang bisa saya perbaiki.. saya tidak mempermaslaahkan hal kemarin yang sebenarnya hal itu hanyalah kesalah pahaman..” Ujar Rindu membuat mereka mengeleng tak terima.” Dan juga Insyaallah saya akan menikah sebentar lagi..”Jujur Rindu membuat mata mereka melotot menatap Rindu meminta penjelasan.


“What?” Pekiknya Ify menatap Rindu dengan binary tak percayanya.”Kakak mau nikah sama siapa? Kakak enggak jadi nikah sama kak Habib? Bukannya kak Habib ngebet banget sama kakak?” Tanyanya mengerjab kepada Rindu dan ditatap tajam oleh keluarganya, ia tak peduli..


Keluarga Hollmast tak bisa memungkiri jika mereka ikutan kepo dengan Rindu sekarang, mereka menatap Rindu dengan tanda Tanya. Rindu tersenyum tulus disana.” Insyaallah dengan dokter Keyan.. doakan saja ya semoga lancar,,, dan Insyaallah diadakan sebulan lagi setelah Nayla menikah dengan Gevan..”Jawabnya jujur.


“Dan masalah Habib, saya tidak ada hubungan apapun sama dia, kami hanya sebatas asisten dan tuannya. Bos dan bawahan tidak lebih, jadi menikahnya saya tidak ada sangkut pautnya sama Habib..”Jawabnya lagi dengan jujur disana.


Yohan disana menghela nafas dibuatnya., hancur sudah harapanya menginginkan Rindu menjadi menantunya membuat ia menatap Rindu nanar. “Tapi kenapa harus berhenti bekerja Rindu? Kamu masih bisa disini kok, karena saya sudah menganggap kamu sebagai cucu perempuan saya..” Ujarnya kepada Rindu disana nanar.


Rindu tersenyum dibuatnya.” Terimakasih karena sudah menganggap saya cucu, dan saya juga sudah menganggap Tuan Yohan adalah kakek saya dan semua yang ada disini keluarga saya.. terimakasih karena sudah menerima saya disini dan memberlakukan saya dengan sangat baik selama ini.”Ujar Rindu dengan mengangguk disana.

__ADS_1


Sarah disana mengusap air matanya yang jatuh, ia sudah menganggap Rindu adalah anaknya yang meninggal itu, ia memeluk Rindu lagi membuat Rindu kaget.”Terimakasih karena sudah memberikan saya ilmu Rindu, terimakasih karena sudah menghantarkan kembali kejalan Allah.. kamu wanita yang baik dan sudah saya anggap anak saya.. meski kamu bukan lahir dari Rahim saya.”Ujarnya dengan nanarnya kepada Rindu itu.


Riindu membalas pelukannya, Rindu bukan tipekal yang mudah menangis membuat ia mengangguk dan membalas pelukan Sarah.” Tante adalah orang pertama yang menerima saya dengan baik dikeluarga ini, dan tante adalah orang yang sangat baik yang Rindu kenal. Rindu juga akan mengangap tante sebagai ibu Rindu.. terimakasih.”Jawab Rindu sayang.


Ingin sekali rasanya Hendrawan memeluk dan mencium Rindu karena ingin menghantarkan rasa sayangnya, namun ingat jika ia bukan siapa siapa rindu membuat ia mendongak saja supaya air matanya tidak jatuh. Dadanya sekarang mulai berisikan sesak dan juga kesedihanya.. “Putri disana apa kabar nak? Maafkan ayah yang sudah gagal menjaga kamu.”Gumamnya dalam hati mengenang anaknya yang sudah meninggal itu.


Setelah itu, acara pamitan Rindu diselesiakan namun mereka menahan Rindu. Rindu tetap kekeh membuat mereka mengizinkan Rindu untuk pergi asalkan Rindu masih tetap jadi bagian mereka disana, Rindu mengangguk mengiyakan membuat sekarang Rindu menyiapkan semua barang-barang miliknya dan memasukkannya kedalam koper.. dibantu dengan Ify dan Sarah disana dengan haru dan juga tangisan mereka. Hendrawan bahkan mengikuti istrinya terus sedari tadi, ia diam, hanya saja hatinya tak bisa berbohong jika ia sangat merindukan putrinya dan takut kehilangan Rindu yang ia angak reingkarnasi putrinya itu.


Sampai disuara pintu terbuka menampilkan Habib yang menatap Rindu membuat yang lain menatap Rindu juga. Rindu tetap menyiapkan pakaiannya tanpa memperhatikan Habib sedikitpun, sadar jika ia harus menghindari Habib untuk menjaga perasanya Rey.


Habib yang dikacangi itu mendekati Rindu dan bergumam.”Rindu.. saya mau bicara dengan kamu..”Ujarnya dengan bibir yang bergetar. Ia dibujuk oleh Nayla membuat keberaniannya sekaranmg memuncak. Diluar ada Panji, ada Nina da nada Nayla juga yang melihat perjuangan anak mereka untuk Rindu disana.


Rindu menghela nafas dan menutupi kopernya itu, bajunya hanya sedikit kok, hanya buku saja yang banyak.ia menatap Habib dengan tatapan santaynya dan menjawab.” Sepertinya pembicaraan kemarin sudah jelas ya Habib…!”Jawabnya penuh penekanan. Suasana panas namun Hendrawan dan lainnya tetap tidak juga pergi dari sana.


Rindu menghela nafas menetralisir nafasnya yang sekarang sudah kesal dan juga panas terbakar amarah. “ Jika kamu mau minta maaf atas semua kesalahan kamu, saya sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu minta maaf. Saya memang bukan wanita baik dan suci, saya wanita yang kotor dan berlumbur dosa bahkan dosa saya jika dibandingkan dengan bulih dilatuan mungkin banyaklah dosa saya Habib.”Ujarnya membuat Habib bungkam.


Habib tak bisa berkata kata lagi dibuatnya, matanya menatap lantai nanar, karena sudah menangis sekarang ia kembali menjatuhkan air mata, namun tata ada yang dapat melihatnya disana. Tanganya meremas sisi bajunya karena hatinya yangs esak itu.


Rindu menatap Sarah dan lainnya disana.”Saya pamit dulu ya… terimakasih atas semuanya.. Assalamu’alaikum.. semoga dihari berikutnya kita bisa kembali berjumpa..|"Ujarnya lalu menyalimi Sarah dan Ify… menyalami Nina dan juga Nayla… sampai diYohan dan larinya ia tak menyalaminya..


Hendrawan sudah menjulurkan tangannya dengan Rindu namun Rindu menangkupkan tangannya membuat air matanya jatuh juga dengan senyumnya, padahal ia sudah menunggu gilirannya dari tadi disana, ia ingin disalimi oleh Rindu membuar matanya menjatuhkan air matanya, ia memejamkan matanya dan meremas tanganya disana. Rindu yang melihatnya jadi tak tega, ia melihat tanganya yang mengenakan sarum tangan itu nanar..


Dann Hendrawan terkejut ketika tangannya merasakan tangannya disambut oleh seseorang dan diarahkan dikepala seseorang membuat tangisnya keluar dengan senyumnya. Tangannya terulur dan mengusap kepala yang dilapisi hijab Rindu itu pelan namun pasti..”Waalaikum salam.. Rindu..”Jawabnya dengan pelan dan penuh penekanan. Rindu tersenyum kepada Hendrawan dan mengangguk.,.ia bisa melihat kerinduan yang teramat dalam dimatanya Hendrawan membuat dia tak tega untuk tak menyambut tangan miliknya itu..


Bukan tanpa alasan.. ia mengenakan Sarung tangan dan itu membuat kulitnya tak bersentuhan secara langsung...


Rindu menyeret koper miiliknya itu itu melewati Habib yang masih mematung disana. Panji dan Nina menatap anaknya kasihan sekali saat ini. Padahal ia sudah menyiapkan semua keberanianya tapi sia-sia membuat mereka mendekati Habib dan mengusap punggungnya. Habib menatap orang tuanya dengan senyum tapi mata yang sudah banjir dengan air mata. Nina tak kuat membuat ia memeluk anaknya itu kuat dan Panji memeluk anak dan istrinya itu.

__ADS_1


Yohan dan lain tak paham apa-apa membuat mereka mengantarkan Rindu keluar rumah saja karena ingin menghantarkan Rindu keluar rumah itu.. Meraka sudah menawarkan Rindu untuk diantar saja tapi tidak Rindu indahkan. Ia tak mau merepotkan katanya dan ia sudah memesan Taksi online tadi yang sekarang sudah menunggu diluar sana membuat mereka pasrah dan menghela nafas saja.


“Hati hati Rindu…!!” Yohan lain melambaikan tangan dikalah Rindu memasuki mobil taksi onlne itu.. Rindupun mengangguk dan membalas lambaian tangan mereka dengan sedihnya.. sampai pada mobil itu melaju yohan dan lain masih melambaikan tangan mereka untuk Rindu.


Rindu didalam mobil itu menghela nafas dibuatnya melihat keluarga Hollmast dari kaca belakangnya nanar, ia tak menyangkah akan pulang kerumahnya didesa tanpa ada izin dari Abbinya. Seebnarnya rasa takut didadanya itu sangatlah besar. Hanya saja ia sekarang sedang melawan rasa takutnya. Ia tak mau hidup dalam penyesalan dan ini adalah pilihan yang ia pilih.


Ia tak meminta ibu dan ayahnya bisa menerimanya kembali, hanya saja ia mau meminta maaf atas segala dosa yang ia buat untuk mereka disana, ia hanya ingin menyampaikan maaf saja tidak lebih.. demi Tuhan Rindu takut mati dalam keadaan dibenci oleh orang tuanya, ia tak mau.. sebab ia sangat tau jika murkahnya ibu adalah murkahnya Allah…


Jarak rumah Rindu dari rumah Habib itu cukup jauh. Memakan waktu selama lima jam dalam perjalanan.. itu membuat Rindu menghela nafas capek dan juga lelah.. biasanya ia akan pulang pergi menbgenakan motor kesayanganya tapi sekarang ia harus bayar tiga kali lipat untuk pulang.. mana dikepalanya itu berisih banyak pertanyaan.


’Abbi marah tidak ya?’


’Apa respon Abi nanti ya?”


‘Apa umi masih marah?’


‘apa kak Rsyid mencarinya?’


akh jika ditanyakan banyak sekali pertanyaan yang melintas diotaknya saat ini sunggu membuat ia mengusap keningnya yang terasa panas dan juga pening itu.


Dijalanan Rindu menghabiskan waktu dengan cara menghafal Al-Qur’an, sesekali mengobrol dengan pengendara mobilnya, ia mau tidur tapi ia takut, sebab sopirnya itu laki-laki, bisa jadikan nanti ada niat jahat menghampirinya. Bukankah sesuatu kejahatan itu datang karena ada peluang? Rindu tidak mau memberikan peluang itu membuat ia beberapa kali menepuk pipinya itu dan menguap. Matanya bahkan sampai berair. Disuruh siopir tidur tapi ia bilang ia tidak mengantuk hanya itu. secara sopirnya masih muda dan juga Nampak beda..


Rindu menatap gapura disana yang menunuian jika itu adalah kacamatan desanya membuat ia tersenyum tipis. ‘Marobah Kite Maju’ Itulah kalimatnya disana membuat ia menghela nafas.. ini menandakan jika ia akan sampai setelah setengah jam lagi membuat kantuknya hilang dan diganti dengan rasa degdegan dan juga takut, ia takut orang tuanya tak menerimanya dan ia takut jika nanti malah membuat abbinya tambah marah.


Sampai pada Rindu berhenti dirumah bernuansa asri itu.desa yang sangat asri, ia berhenti didepan rumah beton yang sederhana berwarna hijau toska itu, didepan rumahnya ada banyak bunga sporbia dan juga bunga lainya. Ibu Rindu pecinta bunga soalnya.. Itu membuat rasa rindu tak tertahan kan itu membunca didadanya itu. Ia sangat merindukan desanya dan juga keluarganya.


Matanya melirik disana ada anak yang usianya baru 9tahun mungkin yangs edang main tanah masak-masakan yang tak lain adalah Caca adiknya sendiri itu. Ia menatap lain arah yang disana taka da siapa-siapa keluali adiknmya itu. ia menghela...

__ADS_1


__ADS_2