Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Masih ada tujuan yang harus aku capai sebelum dijemput Tuhan


__ADS_3

Saat sudah dicek up. Wajah dokter Reysangat sulit ditebak, sedangkan Rindu hanya pasrah saja pada takdir, jika memang ia dikehendaki mati dengan jalan ini maka ia ikhlas. Bukankah setiap makhluk hidup juga akan mati? baik besar maupun kecil. Kita itu diibaratkan mengantri untuk menghadap sang K**halik.


Disinilah Rindu sekarang, duduk didepan dokter Rey yang membacakan hasil ronsen sejam yang lalu, mereka hanya dibatasi oleh meja antara dokter dan pasien. “Bagaimana dok perkembangannya?” Tanya Rindu memecahkan kerutan didahi dokter Rey.


Dokter Rey meletakkan berkas Rindu diatas meja, lalu menangalkan kaca mata minus yang bertengger dihidungnya. Sebelumnya ia mengambil nafas lalu membuangnya terlebih dahulu.” Dengan kamu tidak cek up dan berobat selama dua bulan belakangan ini membawa dampak buruk bagi kanker kamu. Kan saya sudah jelaskan jika kanker kamu ini adalah kanker ganas yang sangat mudah menyerang dan menjalar keorgan tubuh kamu, dan sekarang kanker kamu...” Ia memberi jeda sebentar, ia menatap manik mata Rindu yang menyiratkan kepasrahan.” Kanker kamu semakin besar dan semakin kecil kemungkinan kamu sehat.” Ia menelan saliva yang terasa berat baginya.


Rindu mengangguk tanda memahami.” Tapi mengapa saya tak merasakan sakit didada saya ya dok. saya kira kanker saya sudah mengecil dan sembuh.” Cicitnya. Memang benar, ia tak pernah merasakan sakit luar biasa lagi, ia tak merasakan gejala gejala yang menyakiti dirinya lagi. Lalu bagaimana bisa ia masih mengidap penyakit mengerikan itu.


“Kadang pertumbuhannya itu memang tak selalu tersa Rindu. apakah kau merasakan jika beberapa bulan belakangan ini kamu sudah tidur karena tak nyaman dalam pernafasan?” Rindu menganguk sebagai jawaban.” Itu karena kanker ini menyebar diparu-paru kamu, dan ada banyak gejala, ada yang memberi kesan rasa sakit ada yang tidak, tapi biasanya lebih banyak sakit. “ Jelasnya jujur.


“Lalu jika seperti itu, apakah saya masih bisa bertahan dalam waktu satu tahun kedepan?” Rindu bukannya percaya pada dokter maslaah umur, *** ia masih memiliki target dalam waktu sisa hidupnya, ia harus mendapatkan target hidupnya. Ia masih memiliki tujuan hidup. Karena itu, ia harus memaksimalkan waktu yang masih diberi Tuhan padanya.


“Saya bukan Tuhan yang bisa memprediksi waktu. Tapi biasanya jika pasien yang seperti kamu, dengan kondisi seperti ini, mungkin sekitar enam atau lebih. Tergantung dengan ketahanan tubuh kamu dan seberapa sering kamu cek up dan berobat Rindu.” Dokter itu masih sangat berharap akan kesembuhan Rindu, sangat dan sangat. Ia sangat mau Rindu sehat.


Rindu mengigit bibir bawahnya didalam niqob itu.”Baik dok, saya usahakan agar bisa cek up secara rutin.” Ia harus mencapi tujuannya terlebih dahulu. Yaa, dia harus. Lalu ia pasrah pada Tuhan, kapan ia dipanggil untuk menghadapnya.


“Harus. Kamu harus sembuh, jangan menyerah ya, saya yakin kamu pasti sembuh.” Ucap dokter Rey tersenyum lembut untuk menyalurkan rasa semangat.


Mata Rindu menyipit pertanda bahwa ia membalas senyum itu.” Insyaalah dok, doa kan saja ya.” Rindupun bangkit dari duduknya “ Terimakasih ya dok atas hari ini, saya permisi.” Pamitnya dengan mata yang mengarah kebawah.


“Saya anter aja kerumah ya.” Tawar dokter Rey sedikit gugup.


“Nggk usa dok, saya juga masih ada urusan diluar.”


“Kalo begitu kita makan siang saja dulu yuk, kamu beum makan siang bukan?” Tanyanya. Ia mencari cara untuk mendekati Rindu, entah, rasa rindunya sangat kuat karena sudah dua bulan tak bertemu Rindu.

__ADS_1


Rindu mengeleng.” Saya puasa dok. dokter makan saja dengan teman lain. Jika begitu saya permisi. Assalamu’alaikum.” Tanpa mau mendengar apa kata dokter Rey, ia mau pergi dari sini. Ia tak mau terlalu dekat dan mengundang keirian orang lain pada dirinya lagi. Chaf Alice dulu melabraknya gara gara dokter Rey. Ia tak mau itu terjadi lagi.


Dokter Rey menatap pungung Rindu menjauh sendu. Ia memegang dadanya dengan tangan kanannya lalu berkedip beberapa kali.” Sepertinya saya harus cek up didokter spesialis jantung.” Ia tersenyum tipis, rasanya saat dari pertama hingga sampai saat ini rasa saat ia bertemu dengan Rindu itu sangat aneh, ada rasa gugup dan juga bahagia. ditambah detak jantungnya tak terkontrol lagi.


...


Rindu duduk dibangku depan rumah sakit. Ia memeriksa dompetnya saat sesudah menebus obat diapotik rumah sakit. Uangnya sudah habis, sisanya hanya 20ribu rupiah. Uangnya habis karena membayar pengobatan anak kecil itu lalu membayar uang cek up dan obatnya. Bagaimana ia hidup dalam satu bulan kedepan?


Rinu memejamkan matanya menggengam uang 20ribu itu. Ia harus memikirkan suatu ha untuk mendapatkan uang. Kerja apa? Apa ia harus cari kerja lain atau harus mencari kerja tambahan. Namun matanya terbuka saat mendengar ada seseorang yang menyapanya.


“Permisi mbak. Saya mau pasang poster dimading belakang mbak boleh?” Tanyanya ramah.


Rindupun bangkit dari duduknya.” silakan pak.” Ucap Rindu pelan. Ia menatap pria paru baya itu yang memasang poster, ternyata itu poster penerimaan kariawan baru disuatu perusahaan.


“Pak. Kenapa pasangnya disini? Inikan rumah sakit?” Tanya Rindu heran. Kenapa pula orang mencari pekerja lalu menempelkannya dipengumuman rumah sakit?


“Apakah gajinya besar pak?” Tanya Rindu polos.


Pria itu tersenyum,” Prusahaan ini menggaji dua kali lebih besar dari pada kantor lain mbak, hanya saja kita harus berkerja dengan baik.”


Mata Rindu penuh binar, benarkah? Jika begitu ia bisa melambar bukan? setidaknya ia bisa mendapatan gaji dua kali lipat dari sekarang. Jika masalah makan selama satu bulan kedepan ia akan berusaha nanti.” Terimakasih pak infonya. Bolehkah saya minta satu posternya.” Rindu mngulurkan tangannya untuk meminta..


“Oh boleh. Ini.” Ia memberikan satu poster yang berisi syrat dan kriteria yang diterima.


“Makasih pak.” Gumam Rindu lalu dibalas oleh pria itu. Saat pria itu sudah pergi Rindu pokus membaca poster itu dengan teliti.

__ADS_1


“Sepertinya persyaratannya aku punya semua, sisa persiapan lamaranku dulu.” Gumam Rindu. poto coppy KTP, FC Ijaza terakhir, FC Prestasi dan juga foto 3x4. Iya ia masih punya semua itu, ia hanya harus menulis surat lamaran sebagai clening service. Karena dengan ijaza itu ia hanya bisa melamar pekerjaan itu, tidak apa. Yang penting ia bisa berkerja disana dengan gaji dua kali lipat.


Rindu mengambil tas jinjitnya lalu bergegas pergi menuju rumahnya. Ia memaksakan diri untuk naik angkot, namun saat didalam angkot, semua orang menghindar duduk didekatnya. Ia diberi tatapan sinis ia hanya menunduk dan tak memberi respon apapun.


Saat sampai dirumah, ia mengambi semua persyaratan itu lalu menulis surat lamaran kerja lalu memasukinya didalam mab.. ia memandang jam yang masih menunjukan pukul 12 siangi. Untungnya prusahaan ini buka sampai jam 4 jadi ia masih diberi kesempatan untuk melamar. Ia memilih untuk melakukan sholat Dzuhur terlebih dahulu, ia harus berdoa untuk dipermudahkan semua jalan yang ia hadapi nantinya.


...


“Permisi mbak. Saya mau mengajukan surat lamaran kerja mbak.” Disinilah Rindu sat ini, berdiri didepan meja refresionir dengan mab coklatnya. Disuatu prusahaan Hollmas yang begitu besar, ini baru cabangnya saja, bagaimana pusatnya?


Kariawan itu melihat Rindu dari bawah sampai atas. “Maaf mbak, tapi kami tidak menerima kariyawan yang bercadar.” Ucapnya sopan.


“Tapi mbak, niqob saya tidak mengganggu pekerjaan saya, saya akan giat kok kerjanya.” Ucap Rindu tegas. Apa hubungannya pekerjaan dengan pakaiannya? Semua tak ada hubungannya bukan? Mengapa semua orang menyangkut pautkan maslah pakaian dengan pekerjaan.


“Kami tanya dengan atasan kami saja dulu ya mbak, soalnya belum ada keputusan ataupun aturan yang melarang sebenarnya. “


“Silakan mbak.” Ucap Rindu sopan.


.


.


.


.

__ADS_1


**Yaaa maaf Rindu telat mulu upnya ya hehhe. Tapi tenang. bakal tetap lanjut kok hehe.


jangan lupa Like komen and vote ya**.


__ADS_2