Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Kenal?


__ADS_3

Yang nanya kapan Rindu ketemu orang tuanya sabar ya haha.


soalnya itu bab akhir wkwk...


Rindu disana tertegun menatap sosok didepannya itu. Begitu juga dengan Geva. sara Rindu dan Rindu tak asing dengan Geva membuat Rindu tersenyum tulus.” kamu Rindu bukan?” Tanya Gevan membuat kedua keluarga itu menatap Gevan dengan tatapan bertanya dan bingungnya lalu menatap Rindu yang menggunakan baju serbah hitam itu.


“May Be.” Ujar Rindu mengangkatkan bahunya dan terkekeh membuat Gevan berdiri dan menghampiri Rindu.. ia menatap Rindu dengan tatapan rindu. karena memang beberapa lama ini ia selalu mencari Rindu. terakhir mereka bertemu dicafe namun saat ia kecafe lagi Rindu sudah tidak ada. Nomor Rindupun sering tidak aktif membuat ia putus asa.


Langkah kaki Geva dengan lambatnya dan langsung memeluk Rindu. “Yaampun Rin.. Gue rindu banget sama Loe, kek nama loe itu. Rindu. tapi ini bukan Rindu biasa, tapi Rindu luar biasa. Gue bahkan baru sadar kenapa ibu Loe bikin nama Loe itu Rindu. karena memang loe itu bisa buat orang Rindu bukan kepalangan. Astaga Yatuhan Rindu..” Ujarnya mengeratkan pelukannya.


Namun ketika ia mengeratkanya lagi ia mengendus bau tubuh Rindu.” Kok bauh loe sekarang meskulin ya Rin. Mentang-mentang jagoan kampus loe jadi meskulin gini?” Gumamnya dengan polos.” Astaga tangan loe keker banget... ini gimana ceritanya loe lebih keker dibanding gue. demi apa Rin..!!” Teriaknya meremas tangan Rindu.


“Ehem...” Dugh... Geva mendadak kelu medengar suara itu. Suara bariton yang ia peluk itu membuat ia mendongak. Gleg.. ternyata benar,, dia adalah orang lain bukan Rindu.” Astaga.. ngue halusinasi? Apa Rindu yang berubah jadi kek gini? Mana Rindu? mana?” Ujarnya dengan begoonya.


Rindu yang dibelakang Habib tergelak. Sedangkan Habib menatap Geva dengan tajam lalu menaruh telunjuknya dikening Geva membuat Geva mendongak dan menatap Habib. “ Bukan Mahkhrom...“ Ujarnya lalu mendorong kepala itu menjauh membuat Geva mundur beberapa langkah dan menatap Habib dengan tatapan permusuhan.


Tadi saat Rindu mengatakan mengajak mereka makan Habib ada dibelakang Rindu saat Geva mau memeluk Rindu ya dia menarik Rindu dan menggantikan posisinya Rindu. dan itu membuat gelak tertahan oleh orang sekitar.


Sedangkan Yohan dan lainya menatap Rindu dengan tatapan beranya. Apalagi Nayla. Jangan-jangan mantannya Rindu juga? Gawat dong.. batinnya, tapi bukankah baik? Tapi kenapa rasanya tak ikhlas jika semua laki laki tampan kenal dengan Rindu? “Rindu.. kamu kenal dengan Geva?” Tanya dari Yohan menengah.


Rindu terkekeh lalu berdiri disamping Habib yang menahan Geva yang menatap Rindu dengan tatapan binar layaknya anak kecil meminta pertolongan.” Kenal donggg...! namanya itu Gevan.. sii pangeran kampus, siapa yang nggak kenal coba? Ya ngak Van..” Rindu mengedipkan satu matanya kepada sahabatnya itu membuat yang lain mengangah.


“Iya Bebiii Rindu terindu-rindu..” Ujar Gevan dengan kekehannya. Ia menatap Habib yang menahan tangannya itu dengan sinis.


Sedangkan Habib hanya mengangkat bahu acuh. Tapi hati Habib saat ini sedang bertanya tanya. Ada berapa banyak Rindu mengenal seorang laki-laki? Smapai detik ini bahkan Habib menatap Rindu yang dipenuhi pemujaan dan dikejar lawan jenisnya. Padahal dari segi wajah Rindu bkan apa-apa dari perempuan yang mengejarnya sana sini. Apakah ini yang dinamakan, pesona orang manis itu lebih unggul dari pada orang cantik sekalipun?.. akh Habib bahkan lupa bagaimana wajah Rindu sekarang, ada lesung pipinya dan juga gingsulnya. Pipi cubby juga.


“Sudah.. kita ngobrolnya meja makan aja yukk.. nanti makananya dingin lagi..” Ujar Nina menengahi membuat yang lainya mengangguk dan juga menuruti kata tuan rumah.


Sedangkan tante Henny menatap Rindu dengan binar, saat semua orang berjalan menuju ruang makan dia malah mendekati Rindu dan memeluknya. “ Kamu apa kabar sayang? Masih ingat sama tante?” Ujarnya diselah pelukanya kepada Rindu.


Suaminya Henny menatap Henny dengan bingung. apakah Henny juga mengenal Rindu? tapi kalian ingatkan saat Henny dan Gevan bertemu dicafe dikalah itu? “Dan kenapa kamu tutup mukanya? Muka kamu kenapa hmm?” Tanyanya kepada Rindu yang menupi wajahnya dengan niqob itu.

__ADS_1


Rindu yang dipeluk secara mendadak itu awalnya terkejut. Tapi ia diam saja, saat tau itu Henny maka baru ia membalas pelukannya, satu-satunya orang selain Ummi Ira yang memeluknya dikalah jatuh. Salah satu ibu yang menanyakan kenapa dia dikeluarkan dari kampus dan menanyakan apa dia salah atau tidak. “ Alhamdulillah baik kok Moms... Mommy apa kabar? Sehat?” Tanya Rindu kan sudah diingatkan jika Rindu orang yang pengingat, ia bahkan masih ingat jika ibunya Gevan memintanya dipanggil; Moms.” Da ini.. Ini namanya Cadar Mos.. ini salah satu sunnahnya agama islam..” Ujar Rindu membuat Henny mengangguk.


“Moms apa kabar?” Tanya Rindu sembar berjalan menuju ruang makan, dan itu tak luput dari sorot mata keluarga Hollmast. Karena memang Henny itu orang yang lembut, tapi apa hubungan Rindu dengan mereka sampai Henny tak mau melepaskan Rindu?


“Kurang baik..” Ujar Henny dengan cemberut membuat Rindu mengerutkan keningnya dan menatap ibunya Gevan itu dengan alis terangkat. “Moms hamil lagi... dan anaknya laki-laki lagi.. kan moms maunya anak perempuan..” Ujarnya mengelus perutnya yang masih rata itu.


Rindu tergelak membuat yang lainya menatap Rindu dengan aneh.” Beneran Moms? Jadi Gevan mau punya adek lagi dong?” Tanyanya membuat Gevan menatap Rindu dengan mendelik tak suka.” Lagi pula enakan gitu dong tan. Supaya Gevannya ada saingan dirumah. enak tu ada temen ributnya.” Ujar Rindu semangat.


“Haiis Rind...” Ujar Gevan mendelik Rindu membuat Rindu terkekeh dan juga memainkan matanya kepada Gevan. Dan Doni yang menatap Rindu dan Gevan seperti itu tersenyum dong. “ Nanti juga gue bakal punya anak. Jadi dia sainganya juga bukan sama gue. tapi sama anak gue nanti. Awas aja loe mau nyium anak gue saoalnya mulut loe bauh tanah itu..” Ujr Gevan dnegan main-mainnya.


Dgh.. rindu sedikit merasakan sentilan dihatinya. Namun masih tetap menahan senyumnya.” Ellah semuanya bakal masuk tanah juga. Termasuk eloo. Nanti gue mati baru loe meraung raung minta gue balik. Gue keluar dari kampus aja loe meraung minta gue balik. Apalagi gue pergi kerahmatullah, baru tau lu nangis kejer kek sapi ngelahirin..” Ujarnya dengan Gevan yang sudah disampingnya.


Tak..” Mulut lu bauh jigong.. nggak cocok bawah maut..” Ujar Gevan menepuk mulut Rindu dan dapat pelototan dari Habib. sumpah Gevan ingin sekali memeluk Rindu diketiaknya seperti dulu ya.. dulu jika mereka bertengkar sering kali ia menelek kepala Rindu diketeknya dan membuat Rindu berteriak ampun.. akh ia rindu hal itu..


“Udah.. udah... sana duduk. Gue kedapur dulu ya...” Ujar Rindu dengan mereka yang sudah sampai diruang makan dengan sendu. Air matanya tak terbendung jika mengingat ia akan mati. tapi apa salah dengan hal itu? Bukankah setiap orang akan mati juga? Dan akan kembali pada Tuhanmya? Pembedanya hanya cara ia kembali. Kembali dalam keadaan kotor atau dalam keadaan suci. Tapi hal itu yang menerimanya adalah diri kita sendiri...!!


Mau mati Khusnul Khotima maka mulailah dari sekarang, mulai jangan ingatkan Sholat, jangan lupa Puasa, Zakat dan juga smea yang diwaibkan, jangan lupakan sunnah kita. karena kita tidak tau. Pahala mana yang membawa kita kekematan khusnul khotima dan juga kesyurganya Allah. tugas kita hanyalah Berusaha dan bertawakal.


“Tap—“


“No.. Saya tidak menerima penolakan kamu.. jadi duduk..!” Ujarnya dengan nada memrintah. Bukan lagi nada meminta membuat Rindu diam dan mengangguk saja. Ia memang tak bisa membantah jika berurusan dengan orang yang lebih tua.


Rindu duduk disampingnya Habib. Sedangkan Yohan ditempatnya biasa. Disana diatur dengan sedemikian rupanya, yang memang meja makan itu cukup untuk dua puluh orang sekaligus. Makanan disana snagat banyak karena itu adalah makanan dibeli dari restoran saja. Beberapa ada juga Rindu yang masak. Karena banyaknya pembantu yang cuty jadi ya gini.


“Mari makan semuanya.. silakan dinikmati...” Ujar dari Nina ramah dengan yang lain, ia tersneyum manis dengan semua orang termasuk Rindu. jujur saja meskipun ia masih sering ketus dengan Rindu, disitu ia merasa jika hatinya merasa jika sebenarnya ia iri akan Rindu. Rindu yang lebih mudah tapi ia lebih dewasa, Rindu yang lebih kecil tapi Rindu yang bisa menyeimbangkan orang tua sekitarnya. Bahkan Rndu juga bisa masak dan memberikan pencerahan dengan sebuah cerita.


Rindu tak memberikan hadist terlalu banyak, atau ayat yang bertaburan layaknya Khodbah. Cukup dengan pengalaman hidupnya dan juga cerita nyata yang bisa membuat seseorang diterang akan kenyataan. Bagaikan digulung dengan ombak kenyataan yang menamparnya kedaratan untuk mengetahui rasa diterjang kenyatan itu seperti apa. Ia sadar. Tapi ia tak bisa mengungkapkannya ia tak bisa.


Apalagi saat Rindu yang mempu membantu Nayla, padahal Nayla suka kasar dengannya, bahasa Nayla yang selalu menindas dan juga menghinanya tak Rindu hiraukan, belum lagi bagaimana Rindu menyadarkan keluarganya, hanya dengan sebuah ucapan mampu mengubah dunia keluarganya. Dan sekarang lihatlah keluarganya bahkan tak ada lagi meninggalkan sholat lima waktu.. dna itu cukup membuat Nina bugkam dan ikut dalam perubahan, meskipun ia belum berani mengenakan hijab sebagimana Sarah saat ini.


Disisi lain Rindu sanat canggung menatap makanan didepanya ini. ia mengunakan cadar membuat ruang makannya sangat terbatas, tapi masa iiya dia tak makan, nanti dia dibilang tidak sopan dan tidak menghormati... jadi dia menghela nafas dan mengambil sayur yang memang tak berkuah atau makanya yang repot. Ia hanya mengambil rendang dan juga beberapa olahan orak arik.. jangan lupa smeur jengkol.

__ADS_1


Aku udah jelasi belum sii jika keluarga Hollmast ini pecinta makanan Indonesia? Meskipun mereka orang kaya sekalipun? Ya.. dia orang kaya tapi suka makan makanan lokal, bukan luar. Katanya makanan didalam negeri itu lebih terasa dilidah mereka.


Setelah semuanya makan semuanya diam dengan santaynya. Piring sudah disiapkan dan diberesi oleh pembantu. Rindu tidak dibolehkan angkat pantat dari kursinya membuat ia manut saja. Karena ia juga lelah seharian ini. apa lagi tadi saat ia makan, semuanya memperhatikan dia, seakan hal yang sangat langkah. mulai dari Haib dan lainya. Membuat Rindu sangat canggung, mau menegur takut tak ditegur maka dia juga yang salah tingkah. akhirnya dia menyudahi saja makannya supaya terhindar dari keduanya.


“Oh Iya.. Rindu.. kenalin, Ini ayahnya Gavin.. namanya Koko dan ini Deddynya namanya Doni. Kamu pasti tanyakan dari tadi mereka siapa?” Ujar Henny kepada Rindu mengenalkan kedua sosok yang sedari tadi memang Rindu tidak kenal namun juga tidak kepo.


Karena menghormati Rindu hanya tersneyum canggung. “ Hallo.. Om,. Om.. kenalin saya Rindu. temennya Gevin saat dikulia dulu.. kami satu kelas kemarin soalnya.” Kenal Rindu dengan sopan.


“Jadi kamu Rindu yang diceritain sama putra saya itu?” Suara bariton nan dingin itu membuat Rindu tersenyum canggung dan menatap Gavin karena risih. Apakah dia pernah buat masalah? Soalnya wajah Koko saat ini sangat dingin, baggaikan harimau kehilangan anak saja.


“Ih ayah mah bikin Rindu risih aja sii.. Rindu nggak usah sok takut.. karena kamukan abang jago dikampus..” Ujar Gevan terkekeh. dia memang begini kalo dengan Rindu. nyinyiran.” Iya yah. Dia Rindu temannya Gevan dikulia kemarin.” Lanjutnya dengan santay pada ayahnya.


Sepertinya Gevan banyak cerita pada ayahnya tentang Rindu membuat Koko tersenyum.” Hay.. terimakasih ya..” Rindu mengerutkan keningnya karena tak paham. Terimakasih untuk apa coba? “ Terimakasih karena kamu sudah mau menjadi teman satu-satunya anak saya dikalah dia terpurut dan juga butuh lindungan. Terimakasih karena kamu anak saya ada yang melindungi dikampusnya.” Ujarnya dengan lembut dan tulus.


“Memangnya Gevan dulu kenapa?” Tanya Panji dan diangguki oleh Nina.” Dan kayaknya kalian dari tadi ampak akrab sekali Henny sama Rindu. kalian punya hubungan atau kek gimana?” Tanya Hendrawa dengan lembut dan ramah juga. Karena sedari tadi dia hanya menatap dan mengintai saja.


“Oh. Kami dulu pernah ketemu saat Rindu sedang bekerja dicafe..” Ujar Henny menjawab dnegan cepat.” Dan Rindu adalah temanya anak kami.. panjang ceritanya deh.. tapi kami sangat berhutang budi dengan Rindu.. ya kan Rin..” Ujarnya mantap Rindu dan mengedipkan matanya.


“Biasa aja sii Moms.. kita dikampuskan saling lindungin, saya lindungi Gevan Juga begitu Gevan. Bahkan Gevan menyelamatkan masa depan saya waktu itu.. iyakan Gev..” Ujar Rindu kepada Gevan. Ia ingat kepada Gevan yang membantunya saat hampir dilecehkan oleh Arga mantan nya itu. Ia sangat ingat, andai dikalah itu Allah tidak mengirimkan Gevan, ia yakin saat ini ia tak akan ada disini dan makan malam bersama.


“Iya sii.. tapi karena kamu Gevan sekarang sudah sabuk hitam loe taikwondonya... kemarin dia juga ikut ajang kejuaraan. Tapi Cuma dapet juara dan sekabupaten soalnya kalah sama yang udah senior.” Ujar Koko dengan semangat membuat yang lain melongo. Tadi dia dingin sekali tapi sekarang malah bicara banyak.


“Gevan mah memang pinter. Tingal diasah aja lagi om..” Ujar Rindu dengan jujur.” Tapi BTW ni Om.. berarti Gevan yang mau dinikahin ni dengan Nayla? Dia yang dijodohin?’ Tanya Rindu membuat yang lain mengangguk dan juga yakin menatap Rindu. “Tapi bulannya Gevan agamanya kristen ya?” Ia ingat pengakuan Geva bahkan sampai saat ini ada lambang Salip dilehernya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2