Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Pilihan


__ADS_3

“Silakan mbak.” Ucap Rindu sopan.


Refresionir itupun pergi menuju ruang kepala kariawan untuk bertanya, namun ditengah jalan ia bertemu dengan sekretaris Filos.”Permisi pak.” Ucapnya. Sebenarnya ia hanya modus, yaa, modus untuk bertanya, menggunakan permasalahan ini.


“Ada apa?” Tanya Filos sedikit datar.


“Ini pak. Ada seseorang yang mau melamar pekerjaan, tapi ia menggunakan cadar dan pakaian tertutup.” Ia memberi berkas Rindu yang berada ditanganya.


Filospun menerimanya lalu membuka berkas itu. Matanya melebar saat melihat jika itu filenya Rindu, ia bisa melihat foto Rindu yang ada disana. Tanpa mengucap apapun pada kariawannya, ia pergi untuk menemui Habib. Dan mengabaikan teriakan kariawannya..


“Siang Tuan..” Sapa Filos saat memasuki ruangan Habib. Ruangan Habib berada dilift teratas membuat ia harus menunggu cukup lama.


“Ada apa Filos?” Tanya Habib heran.


“Nona Rindu melamar pekerjaan disini tuan..” Ucapnya menyetabilkan nafasnya supaya tidak terlihat rakus akan nafas.


Brakk..


“Bawa dia kesini.” Tegas Habib cepat dengan langsung berdiri. Sebelumnya ia tak bisa mengendalikan ekspresi terlejutnya.


“Baik tuan..”


...


“Bagaimana mbak lamaran saya? Diterima?” Tanya Rindu penuh harap, ia menumpukan kedua tangan mungilnya dimeja yang tingginya sedadanya. Meja refresionir.


Refresionir itu mengangkat bahu.” Belum dijawan tapi dia keburu pergi. Sepertinya tidak mbak. Karena dengan penampilan mbak seperti ini akan mengganggu orang lain. Kami takut jika mbak salah satu dari kelompok...” Ia memajukan wajahnya seraya merasa tak enak untuk melanjutkan ucapannya.


(Author nggk tau tulisan refresionir. maklum kalo salah ya...)


Rindu sedikit berterimakasih pada refresionir ini, meskipun ia tak diterima, setidaknya ia sangat sopan dan memikirkan perasaan orang lain.” Yasudah mbak, tidak apa-apa. Jika begitu saya permisi .” Rindu tak mengcapkan slam karena ia melihat jika perempuan didepannya ini menggunakan baju yang begitu sexy dan ketat, ia takut jika didepannya ini beragama lain, bukan karena ia penilai orang lain dari penampilan, tapi Karena memang agama Islam melarang mengucap salam maupun menjawab salam orang-orang non muslim.


Refresionir yang bisa dibilang cantik itu tersenyum canggung. Dibalas senyum juga oleh Rindu. rindu mencengram tali tas jinjitnya erat. Harapannya pupus. Padahal ia begitu semangat tadinya. Ia berniat untuk bekerja disini lalu menjual handponenya untuk kehidupannya satu bukan kedepan, ia juga berniat untuk mencari kos-kosan yang dekat kantor ini supaya mudah untuk datang kesini.


Kakinya berjalan menuju pintu keluar dengan wajah yang tertunduk, banyak manik mata yang menatapnya dengan tatapan seram, takut dan juga waspada. Apakah penampilannya sangat mengerihkan? Tapi ia cukup nyaman, setidaknya ia tak perlu dibilang tebar pesona.


“Permisi nona Rindu...” Suara itu membuat Rindu menghentikan jalannya. Apakah ia salah dengar? Tapi ia membalikkan tubuhnya untuk mencari tau kebenarannya.


Pria itu adalah Filos. Ia mundur beberapa langkah saat melihat Rindu yang menggunakan niqob. Ia memegang dadanya dengan manik mata yang melotot horor.” Ter terroros..” Teeiaknya gugup.


Rindu melambaikan tangannya diatas dada.” Bukan. Saya Rindu. masih ingat saya kan?” Tanya Rindu. ia ingat pria didepannya ini, dia adalah sekeretaris pria yang pernah mengajaknya kawin kontrak.


Filos memajukan wajahnya seperti orang bodoh. sebagian karyawan mendekat.” Ada apa pak? Dimana dimana terrorisnya?” Mereka membantu Filos untuk berdiri.


“Kamu bukan terroris?” Tanyanya pada Rindu.

__ADS_1


Rindu menggeleng.” Bukan. Saya Rindu.” Jawabnya.


“Scuritty... scurity.. tangkap perempuan ini, dia terroris, dia terroriss...” Teriak kariawan perempaun yang ada disana. Mereka menunjukan wajah khawatir.


Datang dua scurity yang menggunakan baju putih ala scurity dengan keadaan berlari, “Dimana?” Tanya salah satunya.


“Itu..” Mereka menunjukan Rindu.


Rindu menghela nafas.” Saya bukan *******. Saya Rindu, saya mau melamar kerja.” Jawabnya tegas..


“ Bohong... mana ada terroris ngaku.” Teriak salah satu kariawan.


“ Jangan sentuh dia..!” Teriak salah satu pria yang baru saja berjalan mendekat. Ia melihat pertengkaran itu sedari tadi. Sebenarnya ia mau menunggu saja, tapi Filos terlalu lama membuat ia tak tahan untuk menunggu...


“Tap—“


“Kamu.. Ikut saya keruangan saya..” Potongnya menatap Rindu lalu pergi meningalkan kerumunan. Langkah lebar dan tegasnya membuat mereka berkedip tak mengerti.


Ridnupun tak mengerti.” Nona Rindu. mari ikuti saya.” Ucap Filos yang menetralkan wajahnya. Ia melirik yang lain untuk bubar. Seketika pula orang-orag bubar.


“Tapi di—“


“Tidak ada tapi-tapi. ini perintah tuan Habib.” Potongnya pada scurity. Ia pergi melirik Rindu supaya mengikuti jalannya.


Dikantor ini ada 20lantai. Mereka harus menaiki Lift untuk menuju ruangan Habib. Keheningan menyelimuti mereka yang berada didalam lift. Habib yang masih dalam keterkejutannya sedangkan Rindu tak tau harus mengatakan apa. Toh mereka juga tak akrab bukan?.


“Ehmm.” Filos mengepalkan tangannya lalu meletakkannya diatas bibirnya. Ia melirik Rindu sesaat membuat Rindu menoleh karena tau itu kode supaya ia melihat Filos.” Kam kamu tidak bawah bomkan?” Tanya Filos takut...


Rindu terkekeh dlaam hati.” Bawah..” Jawabnya.


Wajah Filos pias. ia menjauh dua langkah pada Rindu. “Jangan macam-macam. “ Ucapnya mengancam.


Rindu terkejeh. Ada niat jahit dibenaknya. “ Dorrr..”


“Uaaaahh... gubrakk..”


Suara tawa Rindu menggema dalam Lift karena Filos yang mundur lalu terjungkang karena terganjal kaki kirinya sendiri. Ia tak habis pikir, bagaimana pula pria ini takut padanya.


Wajah Filos merah padam. Ia bangkit dari lantai lalu menepuk tangan dan bajunya.” Tunggu balasan dariku..” Gumamnya karena merasa ditantang dan dipermalukan.


“Saya tunggu tuan sekretaris.” Jawab Rindu senang. Ahh, bahkan ia lupa untuk bersikap manis. Susah memang merubah sikapnya menjadi sikap yang manis dan baik hati.


Bisakah Rindu menjadi dirinya sendiri?


Tingg..

__ADS_1


Suara lift terbuka membuat Filos dengan cepat meningalkan Rindu. Rindu menggelengkan kepalanya melihat tingah Filos yang kekanak kanakan.


“Permisi tuan..” Ucap Filos saat memasuki ruangan manager utama. Tertulis sangat besar diatas pintu disana.


“Masuk..” Suara didalam membuat Filos membuka pintu itu. Sedangkan Rindu hanya mengikuti dari belakang saja.


“Ini nona Rindunya tuan.” Ucapnya didekat Habib...


Sedangkan Rindu masih berdiri diambang pintu. Ia tak mau kelihatan norak dengan interior yang luar biasa mewahnya diruangan ini. ia memilih diam dengan wajah yang ditunduk.”Mendekatlah.” Ucap Habib karena melihat Rindu yang diam saja.


Rindu mendongak lalu mendekati Habib. Sebenarnya Habib cukup kaget saat melihat Rindu menutup tubuhnya dengan sangat ketat seperti ini tadinya. Tapi tak masalah. “Kamu beneran Rindu?” Tanya Habib.


Rindu mengangguk. Ia menggenggam tali tas jinjitnya erat.” Benar pak.”


“Jika kamu memang Rindu. maka kamu ingat pertemuan terakhir kita kapan?” dengan seperti ini ia yakin jika didepannya ini memang Rindu. karena baju yang bertutup dan wajah ditutup kain hitam itu membuat Habib sulit melihat wajah Rindu. ia perlu keyakinan.


“Saat bapak babak belur karena tak mampu melawan Willi and the Gangs..” Jawab Rindu polos.


Aahh. Ini namanya jawaban penghinaan. Bisakah gadis didepannya ini menjawab tak mesti ada tak mampunya.” Ehhhmm,,,”Habib memaksimalkn suaranya dengan wajah yang malu sedangkan Filos sudah menahan mulutnya supaya tidak tertawa membuat Habib berdecap.” Mengapa kau mau melamar pekerjaan disini?” Putaran pembicaraannya.


“Karena saya butuh pekerjaan ini.” Jawab Rindu mantap.


“Tapi kami tak membuka lowongan untuk kamu.” Jawabb Habib. Ia masih sakit hati pada Rindu. Ia ingat Rindu punya kekasih.


“Jika begitu mengapa bapak membawa saya kesini.” Ketus Rindu seikit pelan.


“Saya memiliki penawaran kepada kamu bagaimana?” Tanya Habib dengan senyum misterius.


“Apa?” Jawab Rindu cepat. Ia menautkan keningnya karena bingung.


“Kamu bisa bekerja dengan saya dengan gaji 3kali lipat dari pada gaji kariawan yang lain, tapi hanya ada dua pilihan. Yaitu satu menjadi asisten pribadi saya dan yang kedua kita menikah kontak bagaimana?"Ia menaikkan satu alisnya...


Nikah kontak lagi....!


Rindu tak habis pikir. Ia harus jawab apa?


.


.


.


.


Vote. komen and like sebanyak banyaknya ya...!

__ADS_1


__ADS_2