Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Kabar buruk


__ADS_3

Rindu menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang dengan sejuta masalah. Ia menahan sakit dalam dadanya. Sakit karena penyakit fisik dan sakit karena batin. Ia memilih membuka jilbabnya karena hendak tidur, ia mengambul sisir lalu menyisir rambutnya, kulit putih kepalanya sudah nampak disela-sela rambut karena sudah dua bulan rambutnya rontok.


Sedari dimall ia belum makan sampai sekarang. Tapi itu bukan masalah besar, karena yang paling ia pikirkan saat ini adalah ucapan Habib, kenapa Habib sebegitu marahnya pada nya? Apa ia harus minta maaf lagi?


Hufff... Rindu menghembuskan nafasnya karena lelah sedari tadi terus berfikir.


“Tenanglah hati. Aku yakin, jika Tuhan maha pemberi kebaikan, ku yakin nanti kau akan tenang dan menemukan apa tujuan.” Gumam Rindu dan memilih tidur, meskipun ia sedikit susah tidur.


.....


Jantung Rindu terperanjat saat mendengar suara jeritan Nina diluar sana. Ada apa ini? kenapa ribut-Ribut? Ia melirik jam yang berada dimeja sampingnya.” Jam 02:00 Pagi..” Gumamnya. Tubuhnya gemetar karena terkejut. Ada apa ini? kenapa ada keributan. Apakah ada rampok?


Rindu meringsut lalu mengambil jilbab surumnya, jilbab simpel yang hanya tinggal pasang, tak lupa mengambil Niqobnya dan mengikatnya terit. Langkahnya tergopong gopong menuju asal suara jeritan dan tangisan itu. Langkahnya menuruni tangga karena asal suara itu idepan kamar Nina dan suaminya.


“Hiks hiks.. Mama.. Mama pergi pa...” Teriak histeris Nina. Ia menangis pilu sembari memukul dada suaminya, air matanya menyucur deras dengan hidung yang sekarang sudah memerah sangat kentara dengan wajahnya yang berkulit putih, belum lagi rambut yang sangat berantakan membuat Rindu teriam diatas tangga nomor sepuluh sembari melihat pemandangan pilu itu.


Panji mengelus rambut Nina lembut, ia pun menangis meskipun tak sehisteris Nina, memang benar perbedaan perempuan dan pria itu sangat besar jika menyangkut hal semacam ini.” Tenang Mi... Tenang, jangan kayak gini, kalo kayak gini gimana kita bisa buat mama bahagia..” Ucapnya serak.


“Hiks hiks. Ayo pi kita kesana sekarang..” Ucap Nina sera memeluk suaminya erat.


Disana juga ada Habib da juga Nayla yang saling berpelukan saling menghangatkan satu sama lain, mereka mengelus satu sama lain dengan rasa sakit dan untuk saling menguatkan. “Mami jangan gitu. Eyang udah tenang, “ Ucap Nayla sembari memeluk Habib yang berwajah sendu.


“Yaudah kita berangkat sekarang aja yukk...” Ucap Panji mengjaka istrinya.


“Nayla siapakan apapun yang kita butuin yaa.. “ Ucapnya pada Nayla yang diangguki oleh sang empu.


Mata Habib bertemu dengan mata Rindu. rindu yang sedang memegang erat sisi penyangga tangga, wajahnya sedikit memerah karena menahan tangis. “Rindu... Sini...” Ucap Panji, yaa. Itu bukan Habib, tapi Panji.


Rindu yang dipanggil pun mendekat dengan mata yang memerah dan juga dengan bibir yang bergetar dibalik niqobnya. Panji dan yang lainya yang melihat itu tak bisa menjadi bingung. Bukankah yang saat ini mereka yang berduka, kenapa Rindu nampaknya sangat putus asa dan juga melemah. Nina masih memeluk Panji erat meminta penopan kerapuhan pada dirinya.


Siapa yang tak akan sedih ketika ditingalkan oleh dunia kita? khilangan ibu itu bagaikan kelihangan setengah dunia kita, bukan kata lebay jika ada yang mengatakan ditingalkan ibu itu bagaikan merasakan dunia kita runtuh, mati kita terasa mati dan juga kehilangan tujuan dan haluan hidup. Tak bisa dipungkiri, manusia yang paling dihargai, malaikat tanpa sayap yang memeluk erat kita dikalah kita menangis ditengah malam.


Ibu? Manusia yang paling tegar didunia, rela menahan kantuk demi menidurkan anaknya, berbagi darah melalui asi, tadak tidur dan kenal lelah memberikan yang terbaik anaknya, belum lagi saat ibu yang mengandung dan melahirkan kita.


“Kamu kenapa menangis Rindu? apa kamu kenal maminya Mami gue?” Tanya Nayla sedikit tersengkat-sengkat karena terisak menangis.


Pecah juga tangisan Rindu. ia menangis dengan memegang dadanya. Entah lah, ia sangat rapuh saat ini, ia ingat pada ibunya dikampung halaman, membayangkan jika ada kabar ibunya meningal membuat ia gagal fokus, saat ini bukan Umminya yang meningal, tapi neneknya Nina.


Nina mendadak berhenti menangis, ia menatap Rindu dengan tanda tanya, begitu juga Habib dan lainnya. Habib mau menyentu tangan Rindu, tapi Rindu lebih dulu menepisnya. Ia mengusap wajahnya kasar karena malu menangis didepan orang lain tanpa sebab. “Jika begitu mari kita melihat Ibunya Nyonya. Saya mau kesana dan melihat pemakamannya.” Ucap Rindu bergetar.


“Untuk apa? Bukannya kamu belum bertemu dengan neneknya Habib? Lagi cari muka atau kayak gimana ini?” Tanya Nina menatap Rindu bingung sekaligud sinis.


Rindu tersenyum dengan air matanya yang mengalir.” Saya hanya mau tau bagaimana rasanya melihat orang lain, orang yang dipanggil seorang ‘Ibu' dikuburkan.” Ia menggigit bibir bawahnya erat supaya tidak pecah.” Saya mau merasakan dan ingin tau bagaimana sakitnya orang kehilangan ibu supaya saya tidak menyia-nyiakan ibu saya. supaya saya sadar jika ditinggalkan ia sangat sakit. ” Ucap Rindu getir.


Rindu menahan tangisnya sekuat tenaga. Kabar bahwa ibunya Nina meninggal memebuat ia membayangkan ibunya. Ibunya yang menyayanginya tapi beum sempat Rindu banggakan. Apakah Ibunya mau memaafkan dirinya? Aakah ibunya masih mengangap dirinya anak? Rindu menahan sakit dan sesak didadanya sakit? Tentu saja sangat sakit, apalagi saat ini ia memiliki masalah dengan kedua orang tuanya.


“Tuhan.. berikan satu kesempatan untuk meminta maaf kepada ibuku, meminta maaaf dan membanggakannya dengan mewujudkan apa yang mereka cita-citakan, beri akau satu titik putih dalam hidupku setelahnya kau bisa ambil nyawaku kapanpun dan dimanapun.” itulah doa Rindu yang selalu ia rapalkan dirinya. Ia tak minta apapun dalam dirinya didunia ini, ia tak meminta Tuhan memberikan ia sehat tak meminta ia disembuhkan, ia hanya mau memberikan satu titik putih untuk kedua malaikat yang sudah membuat ia hadir dimuka bumi ini.


Perjalanan menuju kediaman ibunya Nina dimulai sedari beberapa menit yang lalu. Rindu menumpang dimobil Habib dan Nayla, sedangkan Panji dan Nina berada didepan mobil mereka.


Neneknya Nayla dan Habib yang meninggal ini kabarnya sudah sakit dari beberapa minggu yang lalu. Katanya neneknya sudah sedikit baikan kemarin, tapi entahlah yang namanya ajal siapa yang tau, karena disubuh tadi mereka mendengarkan jika wanita paru baya itu meninggal.

__ADS_1


أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا


Arab-Latin: aina mā takụnụ yudrikkumul-mautu walau kuntum fī burụjim musyayyadah, wa in tuṣib-hum ḥasanatuy yaqụlụ hāżihī min 'indillāh, wa in tuṣib-hum sayyi atuy yaqụlụ hāżihī min 'indik, qul kullum min 'indillāh, fa māli hā ulā`il-qaumi lā yakādụna yafqahụna ḥadīṡā


Terjemah Arti: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? — Quran Surat An-Nisa Ayat 78


karenanya. Maamfaatlan waktu jika ibu dan ayah masih ada. Sebab penyesalan yang paling pahit ketika ibu dan ayah sudah tiada tapi kita belum disadarkan akan keberhagaan mereka disisin kita...


NVS---


Karena ibunya Nina yang bernama Wista itu mau dikebumikan dikampung halaman membuat mereka harus keluar kota, jadilah harus menghabiskan waktu sampai 4jam perjalanan.


Diperjalananpun Rindu hanya diam dengan pemikirannya, ia saat ini memikirkan orang tuanya, apakah mereka baik-baik saja? Apakah sekarang mereka makan enak? Apakah mereka sudah memaafkannya? Ahhh, sepertinya setelah satu bulan berkerja dengan Habib ia harus meminta Izin bertema dengan sang ibu, ia mau meminta maaf secepatnya selagi ia diberi umur, karena Rindu tak yakin dengan umurnya atau umur ibunya ia tak mau jika seuatu saat nanti ia tak bisa meminta maaf pada ibunya.


Matanya melirik hpnya. Ingin sekali rasanya ia menelpon ummi dan abbinya. Ia mau meminta maaf saat ini juga, ia mau meminta maaf dengan bersujud dikaki mereka, tak apakah lewat Hp? Asalkan abbi dan umminya mau memafkannya? Jika mereka mau memaafkannya. ia pasti akan pulang secepatnya.


Dengan tangan yang gemetar ia menekan tombol pangil disana. Dengan tangan yang semakin bergetar pula ia meletakkan hpnya ditelinga. Tuttt... suara panggilan tersambung membuat ia semakin gugup.


“Assalamu’aikum. “ Suara yang paling ia rindukan sekarang mengalun ditelinga Rindu. air matanya jatuh karena terharu, ia mengigit bibir bawahnya semakin rindukannya ia kepada sang Abi yang sering memukul tanganya dengan rotan. Karena Rindu yang nakal dan tak bisa diatur.


“Hallo. Ini siapa ya telepon pagi-pagi?” Tanyanya lagi pada Rindu yang masih bungkam, ia bahkan lupa menjawab dan tujuannya menelpon abinya.


Rindu memandang keluar jendela.” Waalaikum sama Abi... Abi apa kabar?” Suara Rindu bergerar dengan air mata yang membendung. Ia bahkan memukul dadanya karena sakit. Sakit menahan tangisan yang harusnya pecah,


Diam.. tak ada sahutan dari sana membuat Rindu ikut terdiam,”Bi...” Gumam Rindu karena abinya yang diam tak berkata-kata lagi. Rindu melirik jam ditanganya yang menujukan jika 30 menit lagi akan menjadi pukul 5subuh, ayahnya sekarang pasti sedang bersiap-siap untk pergi sholat kemasjod.


“Jangan hubungin Abbi sebelum Abi yang menghubungimu yaa..” Itulah kalimat Abinya katakan setelah pangggilan itu ia matikan.


Tak Rindu sadari jika sedari tadi Habib memperhatikannya lewat cermin, sedangkan Nayla pun hanya mematung mendengarkan apa yang Rindu ucap tanpa tau apa yang Rindu lakukan, ia bahkan tak tau apa itu Abi.


Rahang Habib mengeras. Siapa Abbi? Apakah itu pacarnya Rindu? saat seperti ini saja Rindu masih menghubungi Abinya? Sialan, pria mana yang membuat Rindu seperti ”Kau harus ingat Rndu...! Kau itu hanya pembantu, tidak lebih, jadi singkirkan Hpmu itu, jangan sampai kau menelpon pacarmu. Hidup harus pakek otak, kami sedang berduka dan kau enak-enaknya menelpon pria yang kau cintai...!” Ucap Habib mengibarkan amarahnya.


Rindu mentap Habib dicermin. Ia mengangguk sebagai jawaban.” Baik tuan. Saya paham.” Suaranya serak, tak ada alasan untuknya melawan, apa yang Habib ucap benar, ia harus punya etitut, jangan membuat ia semakin berdosa karena tak mau bekerja sebgimana pembantu lainnya. Ingat Rindu jika kamu hanya pembantu. Memang Abbinya orang yang ia cintai bukan? Hanya saja Habib salah paham.


Habib berdecih, bagaimana bisa Rindu memanggilnya Tuan. Ia tak suka pnggilan itu, ia mau Rindu memangilnya dengan sebutan ‘;sayang’ atau apapun yang penting jangan tuan. Tapi ia lebih mengutuk mulutnya yang jahat ini, bagaimana bisa ia slalu memarahi Rindu. bukankah itu masalah pribadi Rindu jika ia punya pacar? Ahhh sialnya Habib tak bisa berpikir jerni, Lalu apa tadi? Ia tak melawan saat Ia mengatakan Jika ia menghubingi orang yang ia cintai? sialan..


Suara azan berkumandang, pertanda bahwa sholat subuh akan dimuali, tepat setelahnya Mereka memasuki pekarangan rumah yang paling besar dari pada rumah lainnya, disana suda ada bendera kuning yang berkibar, pertanda bahwa ini rumahnya nenek Habib. Sudah ada beberapa orang diluar sana, sepertinya mereka yang sedang menyiapkan pemakaman sang nenek itu.


Disini Rindu membayangkan bagaimana jika disana yang meninggal itu adalah ibunya atau ayahnya, orang yang tak bisa ia bahagiakan, katakan saja ia anak kurang ajar yang membayangkan orang tuanya mati, tapi dengan seperti ini ia tau bagaimana rasanya ditingalkan orang tua nanti, sakit? Sangat sakit, dengan seperti ini ia bisa menghormati ibunya dan ayahnya selagi mereka ada.


Apakah ia salah jika membayangakan seperti ini ia harus sadar, jika ia masih beruntung memiliki ibu dan ayah yang masih berdiri dan sehat wal afiat. Dia masih diberi kesempatan untuk meminta maaf da berlajar untuk menjadi anak yang lebih baik lagi untuk dikedepan hari.


“Ayo masuk...” Ucap Habib membuka pintunya. Rindupun mengikuti dari belakang, yang Rindu lihat adalah tangis pilu Nina untuk Ibunya, dengan Panji memeluknya erat untuk memberi ketenangan dan ketabahan.


“Mami Pi...” Nina memeluk paru baya yang sedang bersimpu menangisi sang istri. Dia adalah ayah Nina yang bernama Yohan. Ia memeluk sang anak erat sembari menangis.


Ia memeluk punggung Nina untuk menenangkan membuat Nina memejamkan matanya merasakan kehangatan pelukan ayahnya. “Sabar ya sayang. Mami udah tenang.” Ucapnya menenangkan, meksipun ia sendiri juga menangis nampak jika diwajahnya memancarkan kesedihan yang mendadalm.


“Eyang.... Hiks.. Hiks.. Eyang bangun...” teriak Nayla mengguncang tubuh kaku sang nenek yang sudah ditutup kain putih.


Tapi nyatanya ia tetap diam dan kaku membuat Rindu mendongak menatap langit, akankah ia juga akan meminta ibunya bangun saat ia meninggal nanti? Apakah ia juga histeris sebegitunya? Air matanya mengalir jika membayangkan hal itu.

__ADS_1


“Hiks hiks.. Mamiii bangun mam...” Pekik Nina memeluk ibunya. Ia membuka kain putih yang menutup wajah keriput namun masih nampak cantik itu, putih merona sekarang sudah menjadi pucat. ia menangis sejadi-jadinya lalu memeluknya, ia mencium semua sisi dibagian wajah ibunya sembari menangis, ada tetesan air mata yang membasahi wajah ibunya itu, air mata Nina.


Sebutan ‘eyang’ ‘Mami sedari tadi bersahut-sahut karena ketidak relaan untuk nenek pergi. Rindu tersenyum manis dibalik niqobnya. Semoga apa yang ia rasakan dan bayangkan saat ini akan mengubah dirinya dikehidupan mendatang, ia ingin menyayangi ibu dan ayahnya sekuat tenaganya, selagi ibunya dan ayahnya maish hidup, ia akan melakukan yang terbaik, memang benar adanya, kita harus melihat orang lain dan menjadikan pengalaman itu menjadi guru kita, cotohnya seperti ini, setidaknya setelah ia melihat bagaimana rasa kehilangan Nina pada ibunya membuat ia sadar jika kematian itu mendadak dan kematian itu pasti, rasa sait ketika ditingalkan dan satu hal yang pasti. ”Iya lebih memantaplan diri dijalan Allah dan mencapai tujuan hidupnya”


....


Rindu memilih mencari masjid dan melaksanakan sholat subuh saja, ia tak memenangkan Nayla atau pun Habib, ia tak mau banyak bicara dan tak mau banyak tanya. Tapi setelah ia melaksanakan sholat, sebenarnya tadi ia saat mencari masjid ada tetangga mengajaknya untuk sholat dirumahnya saja membuat Rindu menerimanya dengan senang hati.


“Ndukkk... Kamu siapanya keluarga Mbak Wista?” Tanyanya saat Rindu membuka mukenanya. Ia baru selesai membaca surah Yasin yang ia hafal diluar kepalanya itu untuk dikitimkan kepada eyangnya Habib.


Ia tersenyum menatap bik Luyan tetangga neneknya Habib.” Saya hanya pembantunya saja Bik.” Jawab Rindu senyum.


Ia mengangguk paham.” Kamu manis banget kalo enggak ditutup mukanya pakek kain hehe.” Ia tercengir karena memang Rindu tidak menggunakan cadar saat ini. alasannya? Ia baru melaksanakn sholat karenanya ia tak menggunakan cadar, jika sholat menggunakan penutup mulut maka dikatakan tidak sah sholatnya, karean bertentangan dengan syarat sah dari rukun shoklat itu sendiri. Meski masih bnya yang tak paham hao ini dilur dana. Jangan salah kerena Rindu tau. Karena ia anak imam.


“Ibu juga masih sangat cantik meskipun sudah dimakan umur.” Jawab Rindu tersenyum rama menampilkan lesung pipinya yang dalam.


“Iyaudah. Kita kerumahnya mbak Wista yuk, kayaknya sebentar lagi akan dimakamkan .” Ajaknya membuat Rindu menganggguk lalu melangkah mengambil cadarnya. Ia memakianya secara rapi untuk menutup auratnya.


“Kamu kenapa pakek tutup muka? Enggak sayang sama kecantikaanmu? Kalo enggak pake ditutup gitu pasti banyak yang suka sama kamu loe.” Ucap bik Luyan lembut.


Rindu tersenyum mendekati bik Liyan.” Saya lebih menyukai dicintai Allah dari pada dicintai banyak manusia.” Jawabnya pelan sangat pelan membuat bik Liyan sedikit samar-samar mendengarkanya.


...


Saat ia memauski rumah amarhuma Wista. Ia melihat jika disana ada banyak waah kebingungan membuat Rindu mengernyit heran.” Ada apa ya bik?” Tanyanya pada bik Liyan yang juga sedikit celingak celinguk.


“Engak tau..” Ia mengawil legan pria paru baya yang tak lain suaminya, membuat Rindu mengerukan keningnya.” Ini ada apa to mas?” Tanyanya pada suaminya, Rindu tau itu suaminya karena tadi suaminya lah yang menawarkan tumpangan sholat.


Suaminya menoleh dan menjawab.” Oh itu. Jenazanya beum dimandiin, katanya pemandi jenaza cewek dikampung kita lagi pergi kekampung suaminya, terus pemandi mayit perempuan didesa sebelah juga sedang merawat anaknya yang lahiran dirumah sakit, jadi enggak ada yang bisa mandiin mbak Wista.” Jawabnya pelan pada sang Istri.,


Rindu yang mendenar itupun paham akar permasalahnya.” Emangnya enggak ada yang bisa selain mereka ya pak?” Tanyanya heran. Masa iya sebanyak ini warga desa engak ada satupun yang bisa memandikan jenaza? Apakah disini kampung non islam.


Bapak itu menatap Rindu tersenyum.” Gimana ya jelasinya nduk. Tapi pada kenyataanya gitu, sholat jum’at aja didesa sini engak pernah tembus dari 6orang, “ Ia melirik kanan dan kiri.” Disini masih banyak yang nyembah pohon besar.” Bisiknya.


“Iya... Disini itu banyak yang islam, tapi banyak yang menedatangai tempat-tempat yang dikatakan itu keramat lah, inilah, itulah. Bahkan mesjid saja disini rapu karena engak ada yang rawat, karena itu bapak ajak kamu sholat dirumah tadi, solanya pasti dimasjid ada ta*k cicaknya.” Ucapnya lagi.


Asstagfirullah..


Istighfar Rindu tak putus mendengar hal itu. Wajar saja keluarga Habib tak ada yang tau tentang agama, memang pada dasarnya disini, memang tanahnya tak ada aaran agama. Bagaimana bisa desa seperti ini?


“Jangan heran. Memang desa sini kayak gini, soalnya memang dari dulu kepercayaan itu enggak pudar.” Sahut bik Liyan pada Rindu membuat Rindu menoleh.


Rndu mengangguk paham.” Jika begitu biar saya saja yang menadikan mayatnya. Apakah boleh?” Tanya Rindu sopan.


.


.


.


.

__ADS_1


Like. komen and vote


__ADS_2