
Rindu menadakan tangannya merasakan hujan disore hari ini… memang benar kata orang orang jika hujan menghantarkan rasa Rindu kepada orang yang disayang.. apa kabar Rian dan Rani? Itu membuat ia menghela nafas… ia merindukan dua anak angkatnya.. ia disini tak diberikan handphone, Rizky dna lainnya bahkan tidak memberikannya handphone dikalah ia mau meminjam. Kata mereka mereka takut jika nanti rindu pergi dari rumah meninggalkan mereka yang ada disana.. hal itu membuat Rindu tak bisa berkata kata lagi. Bagaimana bisa ia menceritakan dokter Rey jika begitu?
“Permisi nona..!! nona dipanggil oleh tuan Gio diruang kerjanya..!” Itu suara dari pelayan membuat Rindu berbalik dan mengangguk sebagai jawaban.. rindu tak memiliki teman pelayan disini, jika dinovel lain sosok perempuan yang kuat sepertinya itu banyak teman perempuan karena dia baik maka disini tidak.
Kenapa? Karena kehidupan tidak seindah dinovel. semakin baik dirimu maka semakin banyak juga yang menyakiti kamu, contohnya saja ketika Rindu mau membantu masak, pasti mereka bilang Rindu sok caper, atau Rindu mau membeli muka kepada keluarga ini supaya disayang.
Ketika dirinya mau mendekati pelayan pelayan yang ada membuat orang lain mengatakan jika dirinya hanya ekting supaya dibilang baik. Semuanya begitu membencinya karena dirinya yang terlihat natural dan juga bijaksana.. semua mengatakan dirinya sok hidup berkuasa… entahlah, kadang Rindu juga bingung.. apakah memang orang baik tempat yang selalu disakiti?
Ia rasa begitu…
Sepanjang lorong rumah ia sering mendengar suara jeritan kesakutan oleh para perempuan, kadang desahan dan sebagainya.. entah suara Rinjani atau para perempuan lainnya.. kadang Rindu juga sering mempergoki Rinjani yang ditampar dan dijambak oleh ayahnya, ia hanya diam saja tak melakukan apapun karena tak tau harus apa.. bahkan parahnya Nio ataupun yang lain serring membawa para wanita bayaran kerumah ini,kata Rizky dan Reksi itu memang kebiasaan para lelaki.. mereka memang suka membeli para perempuan untuk melakukan zina.
Awalnya Rindu bisa diam, namun lama kelamaan Rindu muak dengan rumah ini, pelayan perempuan saja bahkan tak dihargai disini,, mangkanya pelayan disini itu bisa dikatakan orang yang memang sudah kenal keluarga ini lama, jika baru mereka akan shok melihat keadaan yang ada..
Rindu kembali menghela nafas melihat rumah besar ini, jujur saja ia lebih menyukai rumahnya yang kecil tapi penuh kehangatan dan bisingnya nasihat ayahnya dibandingkan rumahnya yang besar begini namun terasa seperti neraka jahannam.
“Terimakasih..!” Ujar Rindu ketika didepan pintu membuat pelayan itu mengangguk lalu pergi.. Rindu menatap pintu itu sebntar lalu mengetuknya..
”Psrmisi..!!”Ujarnya dnegan santun.. meski bagaimanapun sopan santun ia akan lakukan kok meski dirumah ini sekalipun.
“Masuk..!” Ujar dari orang dalam membuat Rindu langsung masuk dan menemui mereka disana.. disana ada ayahnya dan kakeknya. Pamannya Rion tidak ada.. akhh bahkan Rindu tidak memanggil ayahnya ayah, kakeknya kakek atau ibunya itu ibu.. ia terlalu terbisa mengenakan bahasa saya dan anda.. bertemu dengan orang tuanya tak membuat ia berubah sedikitpun atau bahagia… malah ia ditambah pikiran saja membuat ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.. Pasrah..
“Duduk…!” Suara Gio membuat Rindu diam lalu duduk disisi ujung sofa Nio membuat Nio tertegun, ada setitik rasa iri melihat Rindu yang tak perah memohon atau meminta keluar dari rumah ini meski bertentangan sekalipun pada akidahnya.. apakah Rindu begitu mencintai keluarganya sampai rela melepaskan kebebasannya.. Rindu terlalu menikmati apa yang ada padanya tampa tau rasa berprotes dimatanya..
Gio menatap Rindu dengan datar lalu menghela nafas.. “ Saya muak liat kain hitam diwajah kamu..!! atau baju jubbah yang kamu kenakan.. "
__ADS_1
"Brak..!! kan sudah saya katakana jika kamu harus melepaskan semua itu..!” Bentaknya melihat Rindu yang tidak mau mengikuti perintahnya itu. Bukan satu atau dua kali ia mempringati Rindu, tapi sudah berkali-kali.
Rindu disana tersneyum dibuatnya lalu menghela nafas.. ia tak tau apakah ia berdosa menentang ucapan kakeknya. Jika hanya cadar dibuka dirumah ini ia tak masalah, tapi ini hijabnya dan bajunya. Ia tak mau, lagipula disini banyak pelayan laki-laki ketimbang perempuan.. “ Maaf, saya tidak bisa..”Ujar Rindu masih menjaga kesopanananya disana.
Gio meggertakkan giginya dibuatnya lalu menatap Nio yang ada disisi Rindu namun berjarak satu meter itu..Nio disana diam tak berkata kata lagi..” Kamu begitu kayak setan tau nggak..!! bisa bisanya ada perempuan yang mau nutupin diri kayak kamu..!”Ujar Gio disana dengan geregetan/”Ketika diluar sana banyak wanita yang mau terlihat cantik dan seksi supaya dilirik dan dipuji, kamu malah begini? Nanti jika tidak ada yang suka dengan kamu bagaimana?!” Tanyanya disana dengan sinis.
Rindu menggeleng dibuatnya.” Tidak masalah,,”Jawabnya lagi lembut.”Lagipula jodoh itu sudah ada yang mengatur, diluar sana banyak kok yang kayak saya, dan mereka mendapatkan jodoh yang baik.. dan insyallah saya sudah mendapatkan calon suami saya…!!! Dan Insnyaallah kami akan segera menikah jadi jangan takut akan jodoh saya..” Jawan Rindu jujur lagi.
Nuo menatap anaknya terkejut dan Gio menatap Rindu dengan cemooh..” Siapa lelaki yang mau menerima kamu kayak gini? Seksi enggak, muka ditutup dan pemberontak? Saya rasa dia pasti lelaki miskin dan juga tidak bermartabat..”Jawabnya lagi d3ngan sinis.
Rindu disana menatap kakeknya dengan tajam..”Dan Allhamdulillah saya mendapatkan calon seorang dokter ternama dan memiliki rumah sakit didalam bahkan diluar kota.. dan yang pastinya dia orang yang berpendidikan tinggi dan baik..” Jawabnya.
“Mana mungkin?” Tanya Nio disana dengan mendukung ayahnya membuat Gio menatap Rindu dengan tatapan menginjaknya.” Mana ada lelaki yang begitu mau sama kamu Rindu.. kamu dididik orang susah, jika kamu hidup diorang kaya baru bisa dapat orang kaya..!! siapa memang calon kamu?!” Tanyanya Nio lagi.
Rindu disana menghela nafas, sebenarnya ia bukanya mau sombong, namun senagaimana kata Alibin abi talib..’ Sombong kepada orang yang sombong itu adalah sedekah’ namun diriwayatkan lai supaya orang yang sombong itu bisa sadar jika dia hanyalah manusia yang dibawah manusia yang jauh diatasnya.. ” Saya tidak butuh kepercayaan kalian, lagian itu bukan urusan kalian sama sekali. Kalian hanya orang asing dalam hidup saya..!” Tindak Rindu disana menutup pembicaraan masalah dirinya dan Rey, ia tak mau Rey terkena masalah juga nanti.
Rindu disana menatap Nio tajam nan nanar dibuatnya.”Saya penuh dengan sopan santun dengan anda..!”Ujar Rindu mengelak
” Saya memanggil Anda tidak mengenakan nama ‘Ayah atau papa’ iarea lidah saya terlalu terbiasa memanggil ayah saya dengan ‘Abi’ dan yang saya tau didunia ini ayah itu hanya satu yaitu orang yang membesarkan saya, bukan kamu yang sebagai manusia stau darah dengan saya..!” Ujar Rindu membantah. Air matanya terasa mau jatuh dibuatnya.”Dan saya balik Tanya, apakah kalian disini pernah memperkenalkan dengan saya.. dengan 'hallo Rindu. Kenalin nama saya Antonio kamu bisa panggil saya AYAH ATAU PAPA. Saya adalah ayah kandung kamu.. “Ujar Rindu disana menekan kata katanya.
Lalu mana Rindu menatap Gio tajam.” Atau anda juga mengatakan. Hallo Rindu kenalin saya adalah kakek kamu, kamu bisa oangil saya kakek atau oppa.. nama saya Gionio.. hahahha…”Rindu tertawa dangkal dibuatnya membuat Gioo dan Nio tau arti tawa itu, kenapa sangat menyakitkan rasanya? Lalu Rindu diam menatap mereka berdua disana.
Brak… rindu memukul meja disana dibuatnya membuat mereka menatap Rindu tajam.” yang mana sopan santun yang kalian hina dari saya ha?!! Sopan santun saya yang mana..!! mana yang lebih sopan, memanggil orang asing dengan sebutan ayah tanpa diberi izin atau orang yang menyantuni orang asing dengan bahasa formal supaya mengingatkan jika kita baru kenal dan tidak diberi izin untuk memanggil orang lain dengan sebutan sok akrab itu? Hahaha ayah? Kalian tau..!! kalimat itu skral, karena tidak semua orang bisa menyandang panggilan itu..!! jadi bagi saya seorang anak yang dididik dengan baik oleh orang tuanya mana bisa memanggil orang asing dengan sebutan sakral itu..!”Ujar Rindu disana dnegan sinis.
Nio menatap lain arah dibuatnya, rasanya jantungtgnya, hatinya diremas oleh kenyataan, kenapa rasanya sakit sekali? Bukannkah dulu ia yang tidak mau dengan kehadiran anak perempuan? Lalu ini apa? Kenapa rasanya sakit sekali ketika anak perempuan yang dibuang malah membencinya? Apakah ia terlalu kejam dulu? Sekarang ia diberi lagi rasa benci dan iru kepada Didi alis ABI nya Rindu yang mampu mendidik anak sebaik Riundu. Ia malu dan iri, kenapa anaknya Rindu bisa menjadi begini?
__ADS_1
“Langsung saja, sayaa tidak mau memperdebatkan kalian siapa diposisi saya. Karena bagi saya saya akan tetap menghormati kalian sebagai orang tua kandung saya kok.. saya ingat dan saya paham akan hal itu..!! jadi kalian bicarakan saja apa mau kalian dengan saya..!” tekan Rindu membuat Gio kembali tertegun. Ia menatap mata Rindu yang dinbgin, taka da air mata atau apapun namun mampu membuat hatinya terasa tenggegam dalam lautan yang tingginya ratusan meter, kenapa rasanya sesak sekali mendengar ucapan itu? Tak ada yang tau jika air mata Rindu itu sudah bisa dikendalikan tak seperti manusia lain yang tak diminta bisa keluar sendiri..!
Gio menatap berkas lagi lalu mengeluarkan kertas kertas menuju kedepan wajah Rindu.”Saya mendapatkan kabar jika kamu adalah asistennya Habib Hollmast dan pernah tinggal disana dalam beberapa bulan ini. Dan saya mau kamu bocorkan sedikit hal yang kamu tahu tetang perusahaan itu, baik dari segi apapun itu, jika perlu kamu beri rahasia terbesar mereka dalam bisnis..” Ujarnya.
Rindu menatap Gio lalu menatap kertas didepanya itu.. lalu ia ingat Habib, tak ada dipikiranya mengingat Hbaib membuat ia rinduz apa kabar Habib? Apakah ia masih menyesal?
“ untuk apa memangnya?”Tanyanya disana.
Ghio disana menatap Rindu dengan tajam.” kamu tulis saja sebisa kamu.. jika tidak kamu tau akibatnya…”Ujarnya disana dengan tajam kepada Rindu.
Rindu membalas tatapan Gio tajam disana membuat Nio tertegun..” Saya tidak akan kasih tau apa-apa jika kamu tidak mau memberi tahu alasannya. Dan saya siap menerima apapun kosequensinya..!” Ujarnya disana dengan datarnya.
Brak..
” Rindu..!! kamu mau menantang saya..!” Teriak Gio didepan Rindu kuat..” Jangan fikir saya diam selama ini saya suka sama kamu ya..! kamu kasih tau saja apa yang kamu ketahui tentang perusahaan itu..! rahasianya.. kami harus mmemenangkan tender terbesar kali ini supaya keluarga kita bisa menjadi keluarga nomor satu..!!!! saya muak melihat mereka yang selalu bisa mengalahkan keluaga kita..!!|" Ujarnya disana tajam lagi membuat Rindu menatapnya tajam.
“Jangan bilang jika neneknya Habib itu adalah kekasih kamu yang meningalkan kamu dikalah kamu miskin? Kakek Yohan?” Tnaya Rindu membuat Gio tertegun.. Rindu tergelak dibuatnya.. “Apakah tebakan ku benar tuan?” tanyanya disana dengan gelaknya yang tak menyangkah.
Gio diam disana dnegan menatap Rindu tajam. Bagaimana bisa Rindu tau hal itu hanya dnegan satu fakta? Lalu Nio menatap ayahnya dengan tajam.” Papa? Apakah itu benar pa?!” Tanyanya disana dengan tajamnya membuat Gio diam..” Pa?” Tanyanya lagi. Karena yang ia tau memang keluarganya dnegan keluarga Habib itu tidak akur dari dulu sampai sekarang. Karena ayahnya teropesi mengalahkan keluarga Holmast.
Rindu disana hanya menebak saja? Tentu tidak, karena kemarin diruangan foto ia melihat foto Nio membuat ia mengingat Hendrawan, dan jika difikir lagi tidak ada orang yang muak, dan yang sangat Rindu ketahui keluarga ini membenci keluarga Habib itu ketika Wiilly memperkosa Nayla dan bisa dilepaskan dengan mudah, jika semuanya dihubungkan maka hanya dua jawaban, satu memiliki dendam dua karena iri. Hanya itu, namun insting Rindu karena nenek Habib yang sudah meninggal.. kan sudah dikatakan jika Rindu anak yang cerdas..!!
“Kamu jangan sok tau Rindu…!” Ujarnya disana dengan tajamnya kepada Rindu…”Bagaimana bisa kamu menebak dan memfitnah saya? ya saya membenci keluarga itu, karena keluarga itu mengalahkan keluarga Williem..” Ujarnya dnegan dingin kepada Rindu.
Rinudu menyandarkan tubuhnya dishofa santay lalu menatap langit langit ruangan itu.”Kemarin saya disuruh oleh Istri kamu untuk membersihkan gudang yang sangat kotor, disana saya menemukan foto neneknya Habib dan kamu yang mengenakan kebaya, saya pernah melihat foto nenek Habib ketika meninggal.. “Ujarnya lalu menatap Gio kakeknya.”Biar saya tebak., kalian menikah mengenakan kebaya putih dan kamu mengenakan jas hitamkan?” Tanya Rindu menaik turunkan alisnya disana.
__ADS_1
Dan itu kembali membuat Gio tertegun..”LANCANG KAU…!!!” Teriaknya kuat membuat Rindu menarikkan satu aslinya menatap jari telunjuk panji menunjuk hidungnya.
”Saya hanya disuruh membersihkan gudang itu bukan lancang..! lantas jangan salahkan saya yang pintar.. !” Ujar Rindu santaynya.