
Rindu mencari Rian terlebih dahulu saat ia lewat, banyak sekali pemuda pemudi yang menyapanya dan menunduk homat belum lagi ia menggunakan baju serba hitam itu membuat orang disana kagum beda sekali jika diluar jika ia diluar ia disangkah teroriiiss tapi jika disini ia disangkah sangat mulia. Memang benar, beda tempat beda tanggapan.
“Kalian lama sekali sholatnya?” Gerutu dokter Rey saat Rindu dan lainnya sudah sampai. Bayangkan saja satu jam menunggu dibawah pohon?
Rindu terkekeh.” Iya maaf ya..”
Dokter Rey masih gencar untuk bertanya pada Rindu membuat Rindu menduduki Rian dan Rani disebalah dokter Rey. “Kamu enggak mau bilang saya kafir biasanya kalo mereka liat saya dan tau saya atheis saya dibilang khafir lo..” Tanyanya pada Rindu.
Rindu memakaikan sepatu Rian yang bertali itu, ia berjongkok karena Rian yang duduk anteng disana. Ia bagaikan ibunya Rian asli. “ Apakah saya pantas nyebutkan kamu kafir? Saya belum semulya itu untuk bisa mengklaim orang lain itu khafir atau tidak. “
“Bukannya memang begitu dimata islam?” Tanya dokter Rey. Sepertinya ia masih gencar.
Rindu terkekeh.” Kamu banyak tau ya tentang agama islam. Kamu tertarik ya?” Tanya Rindu pada dokter Rey.
‘iya saya tertarik semenjak ketemu kamu dan saya mencari tau hal itu..” Batin dokter Rey.
“Gini dok.. didalam agama islam itu banyak macamnya kalo kafir, kalo ninggalin sholat aja itu khafir(kafir dalam makna lalai dalam sholat) menyembah atau percaya yang lain juga kafir, dan lain sebagainya. Tapi saya selaku hanya umat islam yang masih berlumbur dosa ini tak pantas mengatakan atau menyebutkan orang lain itu kafir, karena saya yang seperti ini pernah bunuh orang, pembangkang pada orang tua saya, pernah berpacaran dan itu artinya zina kecil ataupun zina besar, pernah berkata kotor dan jika saya totalkan jumlah dosa saya, maka diibaratkan menghitung pasir dilautan. Banyak dan tak kan terhitung. Jadi karenanya, saya tak bisa mengatakan orang lain lebih buruk dari saya, karena yang mampu mengklaim seseorang kafir, seseorang jahat itu hanya sang pencipta, bukan kita.” Jelas Rindu lalu berpindah pada sepatu Rani. mereka masih bercelote satu sama lain tak mau mendengarkan percakapan Rindu dan dokter Rey yang mereka tak tau artinya.
“Bisa saya minta satu alasan kenapa kamu percaya Tuhan? Sedangkan kamu belum pernah liat Tuhan kamu?” Tanya dokter Rey yang masih mau mencari jati dirinya sendiri.
Rindu duduk disamping Rian dan Rani. “Saya nggak tau ya jelasinnya kayak gimana soalnya saya ini islam keturunan, andai aja saya dilahirkan oleh orang Kristen atau hindu, ataupun orang tua saya sama kayak kamu nggak punya agama, pasti saat ini saya kayak mereka. Atau kayak kamu.” Rindu tersenyum lembut tapi tak menatap dokter Rey yang menatapnya. “ Tapi saya mengibaratkan jika Tuhan itu memang tak memiliki wujud(Zat) tapi ada diudara, hati dan diseruru sudut dunia ini. Tuhan pencipta saya dan saya ada karenanya.”
“Kamu percaya dari mana? Bukannya ada 5tuhan disini?” Maksudnya itu kepercayaan itu loo. 5 agama yang diakui negara dan belum lagi agama lainnya yang belum diakui negara.
Rindu tertawa. Ia terlalu banyak tertawa hari ini. entah ia merasa lucu saat dokter Rey nengajaknya beragumen seperti ini. “Gini lo dokter Rey. Bagi saya Tuhan itu banyak, tapi Allah hanya satu. Kamu lihat pancasila. Disana mengatakan 1/. KETUHANAN YANG MASA ESA.’ Ia mengatakan Tuhan bukan Allah, Tuhan itu banyak. Ketika kamu mengejar uang maka kamu menuhankan uang, ketika kamu menghabiskan waktu dengan handphone kamu maka Handhphone kamu udah jadi Tuhan kamu dan, Bedalahi sama Tuhannya Agama lainya, tergantung kepercayaan kita. Dan yang paling pasti Allah hanya satu, yaitu Zat yang tak nampak
Kamu tau engak rumus mate-matika yang mengatakan jika adanya 2, 3,4 ataupun seterusnya harus ada 1. Jika tidak ada 1 maka tidak ada angka lainnya. Contohnya jika kamu mau 2 maka kamu bisa menambahkan 1 +1. Tapi jika kamu mau 3 maka kamu bisa menambahkan 1+1+1 dan seterusnya. Jadi, kita harus punya satu untuk menciptakan angka lainnya, baru ada perkalian, pembagian dan lainnya..”jelas Rindu pada analoginya yang diambil dari beberapa sumber.
“Jadi? Kenapa saya yang tak punya agama masih punya tempat dibumi?” Tanya dokter Rey.
“Kamu punya Tuhan tapi belum menemukan siapa yang kamu anggap benar, kamu mungkin tak diberi kepercayaan sedari kecilkan? Orang yang tak punya Tuhan itu bagaikan anak tanpa Ibu, dilahirkan tapi tak tau banyak hal, sebagai mana anak lainnya, ia merasakan kekurangan kasih sayang dan memiliki tujuan yang berbeda pula dengan anak yang mempunyai ibu.
Orang yang tak percaya akan adanya Tuhan itu bagaikan peliharaan tanpa Tuan. Tak ada tempat pulang dan tak ada tempat untuk meminta elusan dan kasih sayang, tak ada tempat ternyaman untuk tidur dan tak ada tempat untuk meminta makanan dan kebutuhan lainnya. Kamu nggak punya tempat buat minta tolongkan jika punya masalah selain manusiakan? ataupun kamu mengnadalkan diri kamu sendiri. Diibaratkan kamu menuhankan diri kamu sendiri untuk diri kamu sendiri ...."
Diam. Dokter Rey ta mampu berkata apapun lagi, ia tersihir sekaligus tersinidir. Memang benar adanya, ketika ia tertimpa musibah maka ia tak punya sandaran dan tak punya tempat untuk meminta. Tak ada tempat pengharapan kecuali dirinya sendiri. Benar adanya, bumi dibentuk pasti ada yang menciptakan, dibaratkan rokok sudah pasti ada yang menciptakanya bukan? Begitu juga dengan manusia, ya yaa. Belum lagi dengan adanya agama turunan.
__ADS_1
Bisa dikatakan jika agama itu adalah warisan yang pekat dan terikat untuk anak-anak, seperti dirinya, ia dilahirkan oleh Ayah dari Silangan atau campuran dan Jerman dan jawa tapi ayahnya tinggal diIndonesia, sedangkan sang Ibu dari Korea. mereka sama sama mengakuhui salah satu agama dimana hanya untuk memenuhi syarat dalam kertas, tapi nyatanya mereka tak punya agama, atau disebut atheis. Andai jika orang tuanya mempunyai agama islam, Hindu ataupun Kristen. Mungkin saat ini ia penganut dari salah satunya, tapi yang pasti ia akan mengikuti agama atau warisan dari orang tuanya. Lagi dan lagi Rindu berka benar..
Saat ini ia bukan tak memiliki Tuhan, tapi ia belum menemui Tuhan yang ia akui dan yang menjadi pertanyaanya saat ini adalah, mengapa ia memikirkan hal itu saat ini? lalu selama ini dimanakah ia? Bukankah selama ini ia selalu berada disekeliling orang yang beragama? Lalu mengapa ia memikirkan agama ketika ia bertemu dengan Rindu.
Rindu yang ia kasih tau sakit saat itu, tapi hanya diam tanpa menangis. Tapi nyatanya menangis pilu dipinggir pantai. Menyebut Nama Tuhannya untuk meminta kehidupan? Belum lagi ketika Rindu bertemu dengan Rian dan Rani, ia begitu baik dan memikirkan orang lain sedangkan dirinya juga membutuhkan hal itu.
Belum lagi saat Rindu membantu paru baya dirumah sakit sat itu, ia tau dan ia lihat, awalnya ia tak tau jika itu Rindu, tapi saat Rindu datang untuk Cek Up baru ia tau jika Rindu memiliki hati yang mulia, mulai dari sanalah ia mulai tertarik dengan Rindu, bagaimana caranya memiliki hati yang baik, hati yang mulia dan hati yng tetap tegar, tak pernah menangis dikalah mendengarkan keluhan penyakitnya tak pernah mengeluh ketika ia tak punya uang. Disinilah ia bertanya. Apakah semua itu ada peran Tuhan didalam Rindu?
.....
“Rian,, Rani.. Bunda pulang ya.. Kalian disini jangan bandel. Nanti Kyai sama Nyai nya kualan looe... nanti mereka encok kalo mau ngeladenin kalian yang nakal..” Ucap Rindu pada kedua anaknya itu sembari berjongkok.
Kyai itu bernama kyai Yusuf dan Nyai Halifah.. mereka tertawa melihat Rindu mengejeknya, entah mengejek atau supaya sii kembar tak menangis, tapi sepertinya kedua hal itu berperan.”Ihhh. Rindu maah ngajarin Rian sama Rani ngejek kita Bi...” Ucapnya nyai Halifa pada suaminya yang ikut terkekeh.
“Kita engak nakal kok Nyai.. Kita Cuma sedikit jail nanti..” Rani memamerken gigi putih susunya itu.
Rindu terkekeh.”Yaudah.. Bunda mau pulang ya. Dan ,” Ia membuka tasnya lalu mengambil dompetnya, disana ia mengambil uang enam ratus ribu lalu memberikan tiga ratus ribu pada Rian dan tiga ratus ribu pada Rani. “Ini buat jajan kalian, nanti kalo yang lain jajan kalian jangan nggak jajan yaa... Tapi engak boleh boros, karena boros itu temannya setan..”
Rian dan Rani memandang uang itu dengan mata yang penuh kaca.. “Enggak usah bun. Kitakan udah bawa susu bawa vitamin terus nanti disini ndikasih makan, tadi kita udah beli baju. Kami udah ngabisin uang bunda, kami enggak mau ngerepotin bunda lagi..” Jelas Rian menolak uang itu.
Rindu menghela nafas. Ia sebenarnya tak mau Rian dan Rani tak jajan saat anak lain jajan, ia tak mau Rian dan Rani gigit jari sedangkan orang gigit roti, ia tak mau Rian dan Rani menelan ludah kering sedangkan anak lain menelan es manis segar. Ia tak mau itu, meskipun uang yang ia beri saat ini hanya segini. “Bunda engak mau kalian nolak, masa nanti orang lain jajan anak bunda enggak, nanti kalo kalian kurus gimana? Nanti pipi kalian engak cubby lagi dong, enggak bisa bunda unye-unye, enggak bisa cubit-cubit...” Ia memainkan pipi Rani membuat sang empu mengerucut.”Ambil yaa. Kalo kalian enggak ambil, nanti bunda marah..” Ancm Rindu.
“Nyai.. Kyai.. Rindu titip sii kembar ya.. Nanti kalo mereka nakal, kalian pukul aja, kalo mereka males nasehatin aja, beri cerama sama mereka ya. Terus kalo mereka buat salah hukum aja .. Rindu engak marah, tapi jangan sampek lecet ya sii twinsnya...” Ucap Rindu pada Nyai.
Mereka terkekeh. “Yasudah, sekarang sudah habis magrib lo. Bentr lagi Isya. Kamu nanti kemaleman pulangnya. Rian dan Rani juga butuh istirahat, kalo enggak Rindu nginep aja gimana?” Tawar Nyai.
Rindu menggeleng.” Enggak Nyai. Rindu harus kerja. Yaudah Rindu berangkat sekarang yaa. Assalamu’alaikum..” Ucap Rindu.
Sebelumnya Rindu mencium pipi Rian dan Rani. Sedangkan dokter Rey tak mau masuk karena tak mau memasuki masjid, iyaa. Sekarang Rindu dimasjid se usai sholat magrib. Tadinya ia mau pulang jam 5 tapi Ia harus membereskan barang Rian dan Rani diasrama, belum lagi Rian dan Rani yang mau makan dan membuat Rindu harus bertahan seperti ini.
Setelah acara tanya jawab dengan Rian dan Rani yang selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama membuat Rindu keluar, disana sudah ada dokter Rey diparkiran. Rindu memilih mendekatnya dulu untuk mengucapkan terimakasih. Ternyata dokter Rey sedang melamun.
“Dok..” Panggil Rindu. ia tak mengucapkan salam, karena salam kepada non muslim itu Haram. ia mengetuk kaca itu berkali-kali membuat dokter Rey terikejut lalu menghena nafas. Ia keluar dengan senyum tipis.
“Udah mau pulang? Ayoo..” ucapnya lembut.
__ADS_1
Rindu mengeleng.” Saya bisa pulang sendiri, dokter pulang aja sendiri..” Tolak Rindu.” Saya kesini Cuma mau ngucapin terimakasih sama dokter karena udah nganterin kita...”
“Loe kok mau pulang sendiri? Saya kan bisa mengantarkan kamu pulang? Dan masalah terimakasih saya juga ngucapin terimakasih karena udah ngobrol banyak hari ini..”
“Saya tidak mau menambah fitnah, dengan saya datang kesini saja banyak yang berfikir negatif tentang kita, mereka mengirah kita suami istri dan membuat gosip baru yang mengatakan kita satu keluarga yang sakina mawada dan warohma, memiliki anak dua dengan suami yang paras sempurna, bahkan mungkin ada yang iri dengan saya karena berpikir jika dokter adalah suami saya, saya tidak mau semua orang bertambah dosanya karena saya, saya tak mau ada salah paham ataupun fitnah, jika nanti dijalan dokter ketemu jodohnya atau gebetannya gimana? Nanti dia ngira saya istri dokter dia pergi dee, ngak mau lagi sama dokter.. Jadi saya pulang sendiri saja oke..” Ucap Rindu panjang lebar.
Memang benar adanya, ada banyak santri wati yng dimasjid tdi memuji dokter Rey dan mengatakan jika Rindu adalah orang yang sangat beruntung, belum lagi Rindu memiliki anak kembar yang pandai mengaji dan ingin menjadi Tahfiz Al-Qur’an yang artinya mereka mau jadi anak sholeh dan sholeha. Siapa yng tak iri dan mau hal seperti itu? Bahkan nyai Harifa saja tadi memuji Rindu sebelum Rindu mengatakan jika dokter Rey bukan suaminya.
“Tapi kita hanya pulang saja kok,..” Jelas dokter Rey. Ia masih belum paham, kenapa Rindu menolak?
“Kita Cuma berdua, dan itu artinya ada yang ketiga yaitu setan. “ Ucap Rindu.” Saya juga sudah memesan taxsi dan ia sudah datang. Itu..” Ia menunjukan arah taxsi yng sedang menunggu dijalan dekat gerbang.” Jika begitu saya pergi dulu ya dok. “ Ia pergi tanpa mau mendengarkan ucapan dari dokter Rey.
Dokter Rey menghembuskan nafas kasar. “Ribet ya punya agama, tapi entah kenapa kalo liat Rindu kayak gitu jadi pengen punya agama, kayak punya batasan dalam hidup kita, sama kayak berharga banget hidupnya...” Ia bergumam memandang taxsi semakin melaju. Ia tersenyum tipis.
Iya. Setiap yang memiliki Agama itu memang memiliki batasan bukan? Batasan untuk tidak melakukan kejahatan, menutupi aurat dan menjaga diri dengan lawan jenis, tak disentu sembarangan orang dan banyak hal lainnya.. ketika kita hidup ada batasan disitulah kita tau jika dunia bukan milik kita, tapi milik bersama.
...
Habib sudah pulang sedari jam 7 tadi tapi sampai sekarang Rindu pulang membuat darahnya naik keubun-ubun. Ia bahkan tak makan dengan nikmat karena Rindu yang belum datang juga. tapi saat suara Rindu memasuki Rumah membuat ia reflek berdiri dari kursi makannya.
“Asslamu’alaikum. ” Ucap Rindu. sebenarnya Rindu sangat takut saat ini, ia takut Habib marah, lagi pula ia memang sangat keterlaluan pulang jam segini, padahal ia kan bekerja, dan yang lebih parahnya ia belum menghabiskan satu minggu tapi sudah membuat masalah. Ia memilih menunduk sembari meremas tali tasnya.
“Dari mana kamu ha...!” Bentak Habib keras.
Panji dan Nina baru kali ini melihat Habib semarah ini, apa ini kesal atau khawatir? Semua itu tercampur diwajah Habib membuat mereka memilih diam saja. mereka mendadak berhenti menikmati makan untuk menyaksikan kemarahan Habib pada Rindu.
Rindu memejamkan matanya, ia tak akan melawan jika dipukul atau dihina, toh ia memang salah.” Maaf Tuan,..” Hanya kalimat itu yang Rindu bisa lepaskan, ia tak mungkin mengatakan jika ia menghantarkan Rian dan Rani sekolah, jika nanti Habib bertanya anak siapa bagaimana? Atu Habib tak mempercayainya, ia tak mau itu terjadi, cukuplah ia pendam dan nikmati saja sendiri.
“Saya bilang kamu dari mana...?!” Tanya Habib membentak. Ia mendekati Rindu yang menunduk.
.
.
.
__ADS_1
.
Like vote and komen ya...!