
Mami Henny memeluk Rindu sebelum pergi. Rindu hanya memejamkan Matanya. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya, tapi ia memaksa tersenyum saat mami Henny belum pergi. Saat mami Henny sudah pergi, cepat-cepat ia pergi kedapur dan mencari obetnya.
Rindu mengobrak abrik tasnya, ia bahkan mengeluarkan seluruh isi tasnya dengan menjungkangkan kebawah. Semua benda jatuh berantakan. Rindu meraba obat yang hanya tersisa 2butir. Darah segar mulai bercucuran dari hidungnya, ia meneguk obat itu tanpa minum, ia menelannya mentah-mentah. Sakit yang Rindu derita mampu mengalahkan rasa pahit yang ia tekan. Tubuh Rindu melemas dilantai, reaksi obat ini belum berkerja, .
“Astagfirullahhal azimm... Rindu kamu kenapa?” Tannya mbak Lena menatap Rindu yang sudah berbaur dengan darah segar. Ditambah tubuh yang sudah lemas dillantai. Mata Rindu terpejam erat, ia menggigit bajunya kuat untuk menghilangkan sakit didadanya. Tangan kanannya tak henti-henti memukul dadanya.
Mbak Lena mendekat kerah Rindu. Saat ia mau berteriak minta tolong, tapi tangan Rindu lemah sedah membungkan mulutnya. Rindu memberi isyarat diam.
“Kamu kenapa Rindu?” Tanya mbak Lena panik.
Rindu sama sekali tak bisa bicara barang sepatapun saat ini. ia memegang dadanya yang sakit.
Mbak Lena semakin panik. Ia memopong tubuh Rindu untuk merubah posisi yang lebih nyaman.”Kamu kenapa. Kita kerumah sakit yuk.” Ucapnya panik.
“Nggak, apa-apa kok mbak. Tunggu bentar lagi, sakitnya bakal ilang.” Jawab Rindu memaksa. “ Mbak diem aja disini.” Lanjutnya saat mbak Lena bangkit, ia bisa mengira jika mbak Lena mau cari bantuan.
“Tapi kamu—“
“Saya akan kerumah sakit. Tapi sebentar lagi.” Potong Rindu. Dadanya mulai bisa memberi cela untuknya bernafas, ia bisa merasakan seluruh tubuhnya lemas, ia menyekah dahinya. Masih ada rasa sakit yang masih terselip didadanya. Ia menatap mbak Lena yang memijit pundaknya khawatir. Rindu tersenyum. “Makasih ya mbak.” Ucapnya.
“Kamu udah baikan?” Tanya mbak Lena. Rindupun mengangguk.
“Kamu mau kedokterkan?” Tanya mbak Lena memastikan.
Rindu terdiam sejenak. Besok memang jadwal ia cek up. Obatnya juga sudah habis. “Iya mbak. Boleh nggak ya izin?” Tanya Rindu ragu. Ia mengelap hidungnya yang basah dengan darah, bahkan separuh wajahnya dipenuhi darah.
Mbak Lena merasa nyilu sekaligus meringis dan dicampur jijik. “ Nanti mbak bantu kamu. Tapi kamu harus priksa sama dokter, saya yakin kamu nggak baik-baik saja.”
Rindu hanya mengangguk. Ia berdiri dan melangkah ketoilet, mbak Lena mau membantu, tapi sayangnya Rindu adalah manusia kepala batu...!
Rindu sudah membersikan wajahnya lembut, ia mengambil tasnya, seluruh isinya sudah dimasuki oleh mbak Lena tadi. Ia melangkah keruangan pak Jeje.
“Assalamu’alaikum pak.” Ucap Rindu.
__ADS_1
“Masuk.” Sahut pak Jeje dari dalam.
Rindu membuka pintu lalu mendekat, ia menatap pak Jeje sejenak. “Ada apa Rindu?” Tanya pak Jeje to the point.
Sakit Rindu sudah mereda, tapi ia harus kerumah sakit buat cek up dan mengambil obat, jika ia harus mengambil obat diapotik, rasanya kurang efisien jika belum dicek keadaannya. “ Saya mau minta izin pak. Soalnya saya mau pergi kedokter.” Jawab Rindu jujur.
Pak Jeje awalnya duduk santay, kini menatap wajah Rindu lekat, memang benar, wajah Rindu sangat pucat, bibir pinknya berwarnah putih kekuning-kuningan. “Kamu sakit?”
“Iya pak. Saya mau cek keadaan.” Jawab Rindu jujur lagi.
“Mau saya anter?”
“Nggak usa pak. Saya bisa sendiri.”
“Tapikan kamu sakit.”
Rindu diam sejenak. Ia tak ingin jika keadaannya yang sangat menyedihkan ini diketahui orang. Ia ingin hidup normal tanpa belas kasih atau rasa iba banyak orang.
“Tidak pak. Jika bapak nganterin saya, para kariawan bicara macam-macam tentang kita. Saya bisa pergi sendiri.” Jawab Rindu.
Rindu tersenyum samar, menerbitkan lubang mempersona dipipi wajahnya. “Terimakasih pak.”
Pak Jeje tak bisa mengelak jika senyum Rindu memang sangat manis. Ingin rasanya ia simpan dalam tempat yang rapat dan ia nikmati dikalah sepi dan sedih, pasti senyum itu bisa mengobati kepiluhan hati. “Sama-sama.”
“Jika begitu saya pergi pak. Assalamu’alaikum.” Ucap Rindu sopan. Tanpa mendengar jawaban pak Jeje. Rindu pergi meninggalkan ruangan.
Rindu berpamitan terlebih dahulu kepada mbak Lena dan lainnya, lalu melangkah pergi kerumah sakit. Sedari tadi ia menunggu ojek onlinenya, tapi sepertinya ojek online yang ia pesan selalu saja lamban. Ia menghela nafas, ia berjala keluar dari arena parkiran caffe. Ia memilih pergi menuju halte bus saja. Tapi sebelum ia sampai disana, ia melihat kerumunan orang yang berteriak.
“Bunuh saja pak. Masih kecil sudah berani mencuri...!”
“Kamu ini masih kecil tapi sudah suka mencuri. Nanti jika besar mau jadi apa kamu? Penjahat?”
“Jadi anak jangan nakal.”
__ADS_1
“Hiss hiks. Maaf pak, “ Suara anak kecil lemah yang menangis memasuki telingah Rindu.
Cepat-cepat Rindu menuju kerumunan, ia membelah para bapak-bapak dan ibu-ibu yang menghakimi anak kecil. Dapat Rindu lihat, disana ada dua anak kecil, mungkin berumur 5tahun. Satu orang perempuan, gadis kecil itu terbujur kaku dengan banyak luka ditubuhnya, bajunya robek sana sini, tubuh mungilnya dipeluk oleh seorang pria kecil, mungkin itu kakaknya, sepertinya mereka kembar. Keadaan pria kecil itu tak kalah mengenaskan, wajahnya penuh air mata dan lebam, bahkan tubuhnya banyak luka memar akibat pukulan warga sekitar.
“Sudah, bawah aja kekantor polisi..!”
“Iya bener tu. Kalo nggak kita bunuh aja, itung-itung basmi penjahat masa depan.” Sahut dari warga lain.
“hiks hiks. Maafin kami, tolongin adik saya.” Guman pria kecil itu piluh, ia memeluk gadis kecil didekapannya erat.
Rindu menatap itu jadi teringat akan dirinya dan abangnya Rasyit. Meskipun mereka sering cek cok, tapi mereka bakal saling melindungi dan saling menguatkan.
“Allahhhhhh. nggak usah kasih muka polos. Dasar anak baj*ng..!” Teriak warga.
Rindu maju dan memegang tangan bapak-bapak yang mengatakan anak itu anak bajang. Tangan itu menggenggam erat kayu balok yang ia ingin hantamkan keatas kepala pria kecil itu. Refleks pria kecil itu menutupi matanya erat dan membawa gadis kecil dipelukannya semakin erat, seakan-akan melindungi.
“ He... apa-apa’an kamu.?” Bentak pria paru baya yang Rindu tahan. Mata pria kecil itu kembali terbuka saat ia tak merasakan pukulan dikepanya, ia melihat Rindu yang mencekal erat tangan pria paru baya.
“Apa kalian tak punya perasaan. Lihat lah mereka masih kecil.” Ucap Rindu tegas.
“Dia pencuri..!” Teriak orang lain.
“Memangnya dia mencuri apa?” Tannya Rindu .
“Dia mencuri roti diwarung saya, masih kecil saja ia sudah berani mencuri, lalu bagaimana nanti...!” Bentak pria yang tak lain pemilik warung. Wajahnya merah marah. Usianya mungkin sekitar 30-40 tahun.
Rindu menggelengkan kepalanya. Inilah yang membuatnya ingin belajar hukum, mengappa hukum begitu kejam? Apakah sebanding roti dan luka?. “Berapa harga roti bapak? Dan coba bapak bandingkan dengan nyawa bapak.” Ucap Rindu.
“Maksud kamu apa ha? Kamu ini pasti kakaknya pencuri ini.” Bentak salah satu warga lain.
.
.
__ADS_1
.
.