
Rindu terkekeh. Rasanya energinya kembali terisi saat mendapatkan ciuman itu. “Makasih sayang.” Ia mengacak rambut Rian dan Rani. “Ini, es krimnya. Bagi-bagi sama temen-temennya ya.” Ucap Rindu sembari memberikan satu kantong plastik besar yang berisi pulan es krim.
“Makasih ya bunda.. Ayoo bun. Kita masuk dulu.” Ucap Rian dan Rani sembari menarik tangan Rindu.
Rindu hanya menganguk sembari menurut. “Kak Rindu...” Teriak anak-anak lainnya sembari memeluk kaki Rindu.
“Hallo... semua..” Ucap Rindu sembari membalas pelukan mereka.
“Jidad kakak kenapa?” Tanya Reyhan menatap Rindu heran.
Tak jauh dari sana ada ummi Ira menatap Rindu. ia mendekat sembari menatap pelipis Rindu. “Kenapa ini Rin?” Tanyanya.
Rindu terkekeh.” Biasa MI.” Ucapnya bagaikan tak memiliki beban hidup. Ahh, ia sudah biasa menutupi semua sakit bukan.
“Jangan biasain luka itu. Sini ngomong sama ummi.” Ucap ummi Ira. Ia tau jika Rindu ada masalah saat ini.
“Kalian makan es krim dulu ya sama Rian dan Rani.” Ucap Rindu menggusuk kepala Reyhan.
“Asyyik. Makasih kak Rindu cantik..” Teriak mereka histeris sembari mengambil es krim yang berada ditangan Rian dan Rani. Setiap mereka mendapakan 1 es krim perorang. Disana juga ada beberapa makanan ringan yang Rindu bawah. Ahh, Rindu bahkan menghabiskan setengah gajinya untuk mereka.
“Kamu ini Rindu. nggak usah banyak-banyak kasih nya. Kamu kerja kan capek.” Ucap Ummi Ira tak enak hati. Karena setiap Rindu gajian pasti membawah banyak makanan untuk anak panti. Ditambah Rindu sekarang menjadi guru bahasa inggris dan bela diri untuk anak panti membuat ummi Ira agak tak enak hati. Apalagi kadang Rindu juga sering mengajar ilmu lain seperti bahasa indonesia ipa dan ips. Ahh, Rindu sering membagikan seluru ilmu yang ia miliki. Ia juga sering mendengarkan membenarkan bacaan dan hafalan dari anak-anak.
“Nggak apa-apa kok mi. Biasa aja. Itu rezekinya anak-anak.” Jawab Rindu santai Sembari tersenyum saat melihat anak-anak yang tersenyum bahagia. Hanya dengan satu es Krim. Mereka bisa tersenyum dan menikmati hidup. Maka nikmat mana yang kamu dustakan? “Ngeliat mereka bahagia itu adalah nikmat tiada tara bagi Rindu mi.ah, bahkan saat ini Rindu sangat bersyukur berada ditengah-tengan mereka.” Gumamnya sembari menangis, entah, hatinya sangat rapu saat ini.
Ummi Ira menatap Rindu sendu. Ia menarik tangan Rindu sembari duduk dikursi. Mereka sekarang berada dihalaman panti diwaktu sore. Ia mengelus punggung Rindu. “Kamu ada masalah? Ayo cerita sama bunda.” Ucapnya lembut,
Rindu menungkup wajahnya dengan telapak tangannya sembari menangis. Ahh, menangis saja matanya sakit saat ini. lalu ia harus menumpakan rasa sedihnya pakai apa saat ini? apakah dunia begitu jahat kepadanya saat ini sehingga menangis saja ia tak bisa. Ia menggigit bibirnya pelan.
“Sayang. Kamu kenapa sii? Cerita sama ummi.” Ucap ummi Ira perihatin.
Rindu menatap ummi Ira sang malaikat yang Tuhan utus untuk dirinya. “ Tadi Rindu difitnah mii. Difitna jadi perempuan penggoda. Jadi gini de. Rindu berantem lagi, mata Rindu hampir dicongkel sama pisau.” Jawabnya. Ia menceritakan semua hal yang terjadi pada ummi Ira dari awal sampek akhir cerita membuat ummi Ira kaget beserta miris. Ia bahkan baru tau jika luka Rindu sangat dalam. Jika dijahit, mungkijn akan menghabiskan 4jahitan perlapis.
“Rindu yang sabar ya nak.” Ucap ummi Ira sembari mengelus pipi Rindu dengan jempolnya.
__ADS_1
Rindu memegang jempol ummi Ira sembari menatap mata ummi Ira sendu. “ Umii. apakah Rindu masih pantas diucapkan orang yang bertaubat mi? Hijra? Sedangkan Rindu masih nggak bisa mengontrolkan emosi mi. Rindu masih aja bikin orang lain sakit
mii Rindu capek mii.” Ia menangis lagi sembari menenggelamkan bibirnya.
“Kamu masih belajar sayang. Jadi wajar jika kamu masih amatir. Masih belum menjadi manusia baik. Kamu mau nggak ummi kasih satu cerita nabi muhammad untuk membuat kamu mengontrol emosi?” Tanya ummi Ira pada Rindu. sedangkan Rindu mengangguk sebagai jawaban.
“Dulu itu nabi muhammad Salallahu’alihi wassalam pernah dihinah oleh seorang nenek. Setiap ia pergi ke masjid. Ia melewati satu jalan yang sama untuk mencapai masjid. melewati jalan itu. Namun setiap ia melewati jalan itu, ia dipempar kotoran, nenek itu akan mencaci Rasullullah, ia membuang kotoran unta diwajahnya rasullulah. Kadang ia meludahi wajah rasullulah, kadang juga banyak hal yang ia buang dihadapan Rasul. Tapi semua itu adalah najis dan juga kotoran. Tapi Rasullulah tak marah, tak pernah membalas. Padahal jika rasullullah mau membalas pasti dengan mudahnya. Rasullulah kita kuat lo, tapi ia tak mau membalasnya. Ia hanya tersenyum dan tabah.”
“ Setelah beberapa waktu demikian, suatu hari si nenek tidak terlihat nampak di tempat biasanya ia bersiap untuk melempari kotoran. Rasulullah heran dan kemudian menanyakannya kepada tetannga sebelah rumah si nenek. Karena selalu menyaksikan bagaimana nenek tua mendzalimi sang Amirul Mukminin, tetangga itu pun bertanya kembali pada Rasulullah, “untuk apa engkau menanyakan kabar orang yang setiap hari menghinamu wahai Rasulullah.” Lagi-lagi, agungnya akhlak beliau dengan hanya membalas pertanyaan itu lewat senyuman pertanda kesabaran dan ketulusan.
“Si nenek tua itu hidup sebatang kara di rumahnya, dan sekarang ia sedang sakit”, jelas laki-laki itu. Tidak tunggu lama, Rasulullah pun terus bergegas menuju rumah yang biasa menjadi tempat ia dihinakan itu, mengetuk pintu dan karena tidak ada yang menjawab, masuklah Rasulullah menyaksikan nenek tua yang terbaring lemas. Karena perangainya yang buruk terhadap orang lain, hingga Rasulullah menjenguk belum ada orang lain yang datang dan melihat kondisinya. Baginda Nabi ialah orang pertama yang menjenguknya.
“Beliau pun membantu menyiapkan makanan, menimbakan air, dan membersihkan rumah. Penasaran siapa yang bersedia membantunya, si nenek pun bangkit dan berusaha mencari tahu. Terkagetlah ia, yang dengan tulus menjenguk dan membantunya pertama kali ialah justru orang yang selama ini paling dihinakannya. Rasulullah yang kemarin-kemarin sangat dibencinya. Bagaimana tidak tersentak hati si nenek melihat tidak ada sedikitpun rasa dendam, rasa amarah di hati Rasulullah. Justeru dengan ikhlasnya beliau membantu si nenek.
Karena itulah, si nenek kemudian memohonkan maaf dan ampun kepada Rasulullah, tersebab perilaku tidak baiknya di hari-hari kemarin, dan ia berjanji akan mulai menerima Islam sebagai ajaran yang akan dianutnya setelah ini.” Jelas ummi Ira. Ia mengelus jilbab Rindu.
Rindu kembali menangis. “Betapa jauhnya Rindu dengan akhlaknya Rasullulah mii. Bagaikan langit dan bumi. Rindu angkuh dan juga sombong. Hiks hiks Rindu jahat ya mi.” Gumamnya.
“Karena itu. Mari rubah sikap emosi dirimu. Jangan biarkan ego mu menjadi Tuhan didiri kamu. Orang yang kuat bukanlah orang yang membalas pukulan dengan pukulan, cacian dengan cacian. Tapi orang yang paling kuat adalah orang yang paling sabar.” Jawab ummi Ira lembut.
“Bisa. Rasullulah aja bisa. Kenapa kita enggak? Rasullulah kita itu suri tauladan kita. Jadi jangan pernah pesimis oke.” Ucap Ummi Ira lembut.
Rindu mengambil tangan ummi Ira dan menciumnya. “Makasih ya mi. Ummi udah kasih banyak banget ilmu buat Rindu. bahkan sampai saat ini Rindu bisa kuat karena Allah kirimin ummi untuk Rindu.” Ia mencium tangan Umi Ira berkali-kali.
Ummi Ira mengambil tangan Rindu. “Ini luka lama? Kenapa ini ?” Tanyanya heran. Ia tak tau Rindu punya luka ditelapak tangan. Karena Rindu tak menceritakan traegedi malam itu pada siapapun. Semenjak kejadian itu, Rindu tak pergi kepanti selama satu minggu. Ia sibuk mencari Diva dan Meme membuat luka itu mengering saat ia menjenguk Rian dan Rani.
“Ini luka karena waktu itu...” Rindu menceritakan trafgedi itu secara detail. Ahh, ia tak mau menyembunyikan apapun. Ia mau pencerahan supaya otaknya bisa berfikir jerni saat ini. rasanya hidupnya penuh dengan beban akan hilang ketika mendapatkan solusi dari Al-Qir’an dan Hadist. Sungguh dasyat memang efeknya.
“Jadi kamu nggak pernah cek up sama minum obat lagi?” Tanya Ummi Ira terkejut.. dari semua cerita hanya itu yang ummi kutip.
Rindu mendesah sembari mengangguk.
“Rindu Cuma mau ngerasaain nikmat sakit Rindu ummi. Ummikan bilang kalo sakit adalah penggugur dosa. Rindu uda berdosa mi, temen Rindu hancur karena Rindu. Seenggaknya Rindu bisa meminimalisir rasa bersalahnya Rindu pada mereka.”
__ADS_1
“Bukan begitu Rindu. kamu nggak bersalah akan mereka. Yang membuat mereka hancur itu adalah rasa iri, Tabaruj dan dengki mereka sendiri. Hancurnya mereka adalaha pilihan mereka sendiri. Kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri.” Ucap Ummi Ira tegas. "Agama kita sudah melarang kita memiliki penyakit hati. Dendam,ini dengki. Naa mereka hanya menuai apa yang mereka tanam." Lanjutnya
Dan dalam sebuah hadist, dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah shallallah’ alaihi wa sallam bersabda : “Jagalah dirimu dari hasad, karena sesungguhnya hasad merusak kebaikan, sebagaimana api yang memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)
“Tapi mii. Rasanya nggak sebanding sama yang mereka rasakan mi. Rindu bahkan Nggak tau mereka sekarang dimana. Masih hidup atau enggak, anaknya Diva gimana mi.” Rindu menatap ummi Ira sendu.
“Itu bukan kuasa kamu nak. Semua itu adalah pilihan mereka sendiri dan membuat mereka menerima takdirnya sendir. Jangan menyalahkan kamu sendiri. Kamu mau sembuhkan? Kamu lihat Rian dan Rani. Mereka bahagia kamu jadi bundanya. Jadi bagaimana nanti mereka tau jika kamu sakit.” Ucap ummi Ira.
.
.
.
.
.
.
**Aku harap bisa mengambil titik positif yabg author kasih ya...
**Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lallu dia belanjakan pada jalan yang benar (sedekah), dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksanaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
.
.
.
.
.
__ADS_1
Like. Komen dan vote ya hehe**