Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Rp2


__ADS_3

Baca Novel cinta bisa berjam jam dan lupa. makan dan lupa tidur. Masa membaca kisah yang berilmu dan tentang agama saja tidak bisa?


Jika tidak bisa maka kalian harus pertanyaan pada hati. Duhai hati, apakah kau baik baik saja?


Rindu sekarang bearada disalam sekal. Nyatanya Dell tak seburuk yang ia pikirkan... Disini ada kajiannya loh.... Namun Leo lagi Rindu hanya bisa diam. menatap. majikan. tempat mereka solat itu. Disana ada banyak tahanan lainnya namun hanya beberapa saja yang perempuan. Itu membuat Rindu terkejut dan juga gugup. Sebab ia masih tak memiliki teman disini.. Ia bukan typekal orang yang mudah beradaptasi...


"Para tahanan silakan duduk dengan tenang.... !"Himbawa polisi yang ada membuat Rindu mendekat lalu duduk dipojokn saat... lebih tepatnya barisan paking belakang... Jangan tanyakan bagaimana yang lain menaat0nya. Pastilah banyak yang menatap Rindu aneh dan juga sinis karena menampilkan Rindu yang seperti Ninja bagi mereka itu.


"Lihat tu.... Kalo cadar digunjing buat topeng ah.. Jadi ya masuk penjara.. Nggak malu apa sama jilbabnya... "Ujar bisik bisik dari yang lain membuat Rindu tertegun dab diam saja mendengar.


"Biasanya buat topeng aja bu.. Nutupin aib aja biar orang nggak ada yang tau kalo kita kuat.. Alias terorrrisss.... mungkin sesat juga... "Sahut itu lainnya.


"Iya.. biar dipuji... "Bisik bisik semakin keras dan semakin membuat telinga Rindu panas dan jugabdadabya naik turun akibat amarah...


"Yang masih ribut silakan diam.. sebab kita akan mulai ceramahnya ya... Silakan Pas ustadz..! "Arahan dari Mc membut mulut pada pengghibah itu diam dan mencibir tak suka.


Istana itu tersenyum lalu. membukanya dengan. muka dia dan beberapa ayat. Sebagaimana ceramah lainnya. "Kita akan bercerita tentang Kisah malaikat Mikail pemberi rezeki yang tidak pernah tersenyum." Ujarnya kepada semua orang Disana


"Kalian tau tidak jika malaikat Mulai tak pernah tersenyum.? dan kalian tau alasannya kenapa?"Tanyanya kepada semua orang.


"Malaikat Mikail... "Jawabnya sendiri pada pertanyaannya sendiri.


"Meksipun tugasnya menurunkan hujan dan menumbuhkan pepohonan, namun Mikail adalah malaikat yang sangat khusyu' dan takut kepada Allah. Hal ini dibuktikan dengan kisah yang cukup mahsyur saat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mengalami Isra' Miraj."Semua orang mulai diam. mendengarkan semuanya secara khidmat karena memang ceramahnya sangat menarik.


Ustadz yang melanlmbaikan tangannya dan. mulai bercerita sejarahnya "Dikisahkan kala itu, para malaikat menyambut kedatangan nabi ke atas langit. Sementara Jibril menemani di sisi Nabi shalallahu alaihi wassalam. Lantas, nampak oleh nabi salah satu malaikat yang bermuka datar dan tidak tersenyum sama sekali dengan kehadirannya.."


Karena Nabi Kepo kan.... lantas Beliau bertanya kepada Jibril : “Siapa malaikat itu dan kenapa aku tidak pernah melihat ia tersenyum?,” tanya Nabi muhammad dengan herannya.


Jibril pun menjawab dengan santun:  "Ialah Mikail, Ia tidak pernah lagi tersenyum sejak Neraka diciptakan dan diperlihatkan padanya," jawab Malakat Jibril kepada Nabi lembut.


Hadits di atas diriwayatkan Imam Ahmad dalam al-Musnad 13343 dan ulama berbeda pendapat dalam menilai validitasnya. Sebagian ulama menilai hadits ini hasan, seperti al-Hafidz al-Iraqi (Takhrij Ihya, 4/181). Hadits ini juga diriwayatkan al-Ajuri dalam as-Syariah (no. 932). Meskipun ada juga ulama yang menilainya dhaif, seperti Syuaib al-Arnauth.


"Bisa kalian dinaikkan dari kisah ini tidak.??? ""Yang dari ustadz...


"Coba yang dipijak mengenakan cadar kasih dong pendapat nya... "Ujarnya kepada Rindu yang mendengar suara baik sedari tadi itu.


Rindu yang disuruhpun mengangguk dan mulai kenjelaskan "Dari kisah itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa malaikat, yang sejatinya adalah makhluk tanpa hawa nafsu dan senantiasa patuh kepada Allah sampai kehilangan keceriaannya karena telah mengetahui apa yang ada didalam neraka. bagaimana kita... Sedangkan kita manusia, yang Allah ancam sebagai bahan bakarnya neraka saja masih bisa berleha-leha dan menganggap semuanya hanya perkara dunia. Banyak diantara kita yang masih menunda ibadah dan berbuat kezhaliman, seakan-akan tidak ada akhirat yang menantinya. Naudzubillah..Bagaimana bisa kita masih bisa bekerja lega dalam kemaksiatan sedangkan Malaikat saja melihat neraka kehilangan senyumnya. bisa kita bayangkan bagaimana jika manusia yang melihat neraka? Masih maukah kita tersenyum manis? dan berbuat yang mungkar? "Tanya Rindu. menjelaskan membuat semua orang terdiam termasuk ustadznya.


"Semoga Allah hadirkan bagi kita rasa takut yang mengarahkan kita kepada ketaatan dan keistiqomahan dalam beribadah pada-Nya. Aamiin.(mga)"Hujan dari Ustads itu lagi.


.


"Kamu da cerita nona? jika ada mari ceritakan kisah yang bisa. membuat iman kita naik gitu... "Ujar Utas pada Rindu. Ia pikir Rundu bukan orang sembarangan .


Rindu ditawarkanpun tersenyum dan mengangguk "Ada Yang Membuat Pemuda ini Menangis. Apa yang Membuat Pemuda ini Menangis?" Ujarnya membuat yang lain diam mendengarkan.

__ADS_1


" Ia bercerita. Saya melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka."Ujarnya Rundu menceritakan kisah ini.


"Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan." Semua orang menyimak ucapan Rindu dengan serius membuat yang lain menatapnya seriuzs.


"Lalu Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku: cukup..cukup…! Saya mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar." Katanya..


"Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: ‘Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!’ Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya..."Semua orang tegang mendengar berita membuat cerita semakin bagus dan mendalami.


"Saya tidak tahu, apa yg sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihat saya dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:'Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahiku untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah aku cicipi dalam perjalanan ini.'" Rindu memutihkan air. mata dikalah bercerita membuat semua orang ikut haru mengingat akan dosa dosa Mereka.. haru ketika ingat mereka seorang pendosa.


Rindu melanjutkan ceritanya. "Aku mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajahku. Sesak dadaku. Aku merasa sangat hina. Aku merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasadku, layaknya cambuk. Akupun bingung dan bertanya pada diriku: ‘Sampai kapan kelalaian ini akan kualami?’ ‘Kemana lagi aku harus melaju?’ ‘Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan?’ Lalu tadi aku ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.”


"Akupun menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubatku?” Kujawab dengan firman Allah, ‘Apakah anda pernah membaca firman Allah,


Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)


"Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.”Lanjutnya. membuat yang lain kembali. menangis dan berjanji akan kembali kepada Allah swt...


"Pelajaran yang bisa kita ambil adalah..."Ujar Rindu lagi. "Allah penerima tobat Hamba Hambanya kok...


"Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?"


"Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri." Rinu bicara dengan tegasnya membuat mereka merasa ditampar.


Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.” Jelas Rindu


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari). Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh ustadz Ammi Nur Baits)


....


"Satu lagi cerita yang membuat saya sangat tertampar. Mau dengar. ?"Tanya Rindu.


"Silakan... "Ujar dari ustadz terharu pada Rindu yang pandai dalam ilmu agama.


"Aku baru saja merampungkan membaca bab kedua dari buku “Dengarkan Suara hati” karya ‘Amru Khalid. Di sana saya temui sebuah kisah yang sangat menyentuh hati tentang keistiqomahan seorang sahabat Rasulullah dalam menjalankan agamanya.Namanya adalah Abdullah Dzul Bajadain (artinya: yang memiliki dua potong kain), itu merupakan nama pemberian Rasulullah. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Uza al Mazani. Ia berasal dari sebuah kabilah Mazaniah yang terletak di antara Mekah dan Madinah." Ujar Rindu mengangguk.


"Ia telah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya sejak masih kecil, karena itulah ia tinggal bersama pamannya. Sang paman adalah orang yang sangat kaya. Banyak harta yang telah dikeluarkannya untuk membiayai Abdul Uza. Ketika ia berumur 16 tahun, ia hidup bergelimang harta. Sampai-sampai ia hanya mau mengenakan pakaian buatan luar. Ia pun memiliki 2 ekor kuda yang selalu dipakainya bergantian. Tapi sayang sekali, ia dan kaum bangsanya masih menyembah berhala." Rindu. mulai bercerita membuat yang lain diam mendengar saja.


"Suatu saat ketika ia sedang melakukan perjalanan, ia bertemu dengan para Muhajirin. Ia pun melakukan perbincangan dengan mereka dan setelah perbincangan itulah, akhirnya ia pun sadar dan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Keadaannya pun berubah. Setiap kali melihat ada sahabat yang berhijrah dari Mekah dan Madinah, ia berlari dan mengikutinya seraya berkata, “Tunggulah aku sampai aku mendengar dari kalian Al Quran. Aku ingin menghapal satu ayat baru dari kalian.” Bayangkan bagaimana tekadnya untuk menuntut ilmu agama lebih dalam, di saat para sahabat merasa jiwanya terancam serta ketakutan akan adanya mata-mata kaum Quraisy. Dalam pikiran Abdul Uza saat itu hanyalah ingin mendekatkan diri kepada Allah saja".Yang lain Mulai kagum akan Rindu yang pandai ceramah itu.


"Akhirnya ada seorang sahabat yang berkata, “Mengapa engkau menunggu di negerimu (Mekah) untuk pergi hijrah ke Madiah?”. Ia pun menjawab bahwa ia tidak akan berhijrah kecuali setelah ia mengambil tangan pamannya untuk menjemput sebuah hidayah."Tanyanya.


Ia pun menetap dalam kabilahnya selama 3 tahun. Ia tetap berpegang teguh pada agama Islam walaupun seluruh kaumnya jauh dari ketaatan dan menyembah berhala. Selama 3 tahun lamanya ia memaksakan diri untuk tetap istiqomah. Apabila ia ingin beribadah kepada Allah maka ia akan pergi keluar dari kaumnya ke tengah-tengah padang pasir. Selama ini ia menyembunyikan keislamannya dari hadapan orang-orang.


"Setiap hari ia pergi menemui pamannya seraya berkata’ “Wahai Pamanku, aku mendengar b ahwa ada seorang lelaki bernama Muhammad yang berkata ini dan itu”. Kemudian ia pun membacakan ayat-ayat al Quran di hadapan sang Paman. Namun pamannya malah mencercanya habis-habisan. Selama 3 tahun itu, ia mengalami masa yang berat. Akhirnya kesabarannya pun sampai pada puncaknya."

__ADS_1


"Ia pun menemui pamannya dan berkata, “ Wahai Paman, aku lebih memilih Rasulullah daripada Engkau. Aku tidak dapat berpisah dengannya. Aku memberitahumu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya. Aku berhijrah kepadanya. Jika engkau mau pergi bersamaku, aku akan menjadi orang yang paling bahagia.” Ujar Rindu lembut.


"Pamannya pun menjawab, “Jika kau mengabaikan semuanya selain Islam, maka aku akan mengharamkan semua yang menjadi milikmu."Itu membuat semua orang tertegun dan tertampar saat itu.


"Kalian tau apa yang ia jawab? "Tanya Rindu membuat yang lain diam.


"Ia menjawab, “Wahai Paman, berbuatlah sesukamu, karena aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.” sukar Rindu haru dengan ceritanya.


"Pamannya pun melakukan hal yang tidak dapat dipercaya, “Kalau kau tetap memaksa, maka aku akan mengharamkanmu hingga baju yang melekat di badanmu itu.” Pamannya pun berdiri dan menggunting bajunya. Abdul Uza pun hampir seperti orang yang telanjang. Ia pun tetap keluar dengan kondisi seperti itu. Saat keluar ia menemukan selembar kain wol dan membaginya menjadi 2 bagian, lalu memakainya seperti kain ihram."Lanjut Rindu.


Ia pun kemudian berhijrah dan menemui "Rasulullah untuk pertama kalinya. Sungguh tidak bisa dibayangkan betapa besar keistiqomahannya kepada Rasulullah sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Rasulullah pun bertanya, “Siapakah Anda?’ Dengan bingung.


“Aku adalah Abdul Uza” jawab Andik.


"Rasulullah pun kembali bertanya, “Mengapa kamu berpakaian seperti ini?” Tanya Rosull


"Ia pun menjawab, “Pamanku telah berbuat ini kepadaku. Aku telah memilih engkau, wahai Rasulullah dan bersabar selama 3 tahun lamanya, hingga aku bisa datang kepadamu dalam keadaan istiqomah (tetap) taat kepada Allah.” Katanya senduh.


“Benarkah kau telah melakukan hal itu?”, kata Rasulullah. Kepadanya dengan selidik.


“Benar wahai Rasulullah.” jawab salah sattu dari mereka.


“Mulai hari ini engkau bukanlah Abdul Uza, engkau adalah Abdullah Dzul Bajadain. Allah telah mengganti 2 kain itu dengan tempat tinggal dan kain di dalam surga, yang dapat engkau pakai kapan pun engkau suka dan dapat kau gunakan kapan pun engkau suka.” Lanjut lagi membuat semua orang terhionotis dengan ceritanya Rindu.


"Semenjak saat itu ia ikut berjuang bersama Rasulullah, hingga syahid dalam perang Tabuk pada usia 23 tahun."Jelas Rindu lagi. "


Ibnu Mas’ud menceritakan hari dimana Abdul Uza wafat. Ia berkata, “ Aku tidur dalam cuaca yang sangat dingin dan dalam keadaan takut akan pekatnya malam. Aku mendengar suara orang yang menggali tanah dan menjadi heran dibuatnya. ‘Siapakah yang menggali tanah malam-malam begini dandalam cuaca yang sangat dingin?’ Akupun melihat pada tempat tidur Rasulullah dan tidak mendapatkan beliau di sana, Lalu aku melihat tempat tidur Umar, aku juga tidak menemukannya. Kualihkan pandanganku ke tempat tidur Abu Bakar dan aku tidak menemukannya juga." Tanya Rindu lagi namun tak ada yang menjawab membuat Rindu seperti fajar tunawisma.


A"ku pun keluar dan melihat Abu Bakar dan Umar sedang memegang lilin, sedangkan Rasulullah sedang menggali tanah. Aku datang kepada beliau dan berkata, “Apa yang engkau lakukan wahai Rasulullah?” Tanyanya bingung.


"Beliau mengangkat kepalanya ke arahku dengan kedua mata yang dipenuhi dengan air mata, “Saudaramu Dzul Bajadain telah meninggal.” Ujar Beliau dengan puluh saat ini karena sedih tak tertahankan.


"Aku berpaling kepada Umar dan Abu Bakar dan berkata, “Mengapa kalian biarkan Rasulullah menggali sendiri, sedang kalian hanya berdiri saja?.” Ujarnya gemetar karena takut.


"Abu Bakar menjawab, “Rasulullah sendiri yang ingin menggali kuburannya (Abdullah)” Lalu Nabi mengulurkan tangannya ke arah Abu Bakar dan Umar, “Berikanlah kepadaku (jenazah) saudaramu itu.” jawabnya dengan jujur lagi.


"Lalu Nabi berkata, “Hantarkanlah kepergian saudaramu dengan doa karena sesungguhnya ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya”"Jelasnya lalu menangis mengusap pipinya.


"Rasulullah pun meletakkan jasad itu ke dalam kubur dengan kedua tangannya sendiri. Air mata beliau pun jatuh membasahi kain kafan Abdullah Dzul Bajadain. Beliau lalu mengangkat tangannya ke arah langit sambil berdoa, “Ya Allah Aku bersaksi kepada Engkau, bahwa aku telah meridhai Dzul Bajadain, maka ridhailah ia.” Lanjutnya.


"Rasulullah pun menguburkannya dengan kedua tangannya yang mulia dan berkata, “Ya Allah, rahmatilah dia karena ia telah membaca Al Qur’an atas dasar cinta kepada Rasulullah SAW.’"


Cerita Rindu sukses membuat acara Disana sangat mengharukan.. Karena celananya menusuk hatinya yang lain. Tak menyangka Rindu seperti itu.. Ia pandai agama tersebut.


"Sungguh beliau adalah salah satu sahabat yang patut kita teladani. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah tersebut dan bisa bersama-sama memperbaiki keimanan kita yang masih lemah ini. Semoga kita bisa menjadi golongan orang-orang yang di ridhai oleh Allah dan RasulNya.. Aamiin.. "Lanjut Rindu. membuat mereka bergumam.

__ADS_1


__ADS_2