Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Gara gara kuda


__ADS_3

Dilan yang dilemparkan dompot itu terkejut. “Dompet gue.” Gumamnya, ia merabah pantatnya dan tak mendapatkan dompetnya lagi. Ia membuka dompet itu tergesa-gesa. “Loe copet ya?!!!” Bentaknya menatap pria itu. Ia menatap horor pria itu.


Sedangkan Rindu? ia sudah merasakan sesak didadanya menjadi-jadi membuat ia terhuyung. Ia sudah satu minggu tak minum obat. “Rindu kamu kenapa?” Tanya Habib terkejut saat melihat Rindu hampir terhuyumg dan tubuhnya ditahan oleh Fatih. Ia menepis tangan Fatih kasar membuat Rindu jatuh dipelukannya.


“Kenaa tipu hehe.” Ucap Rindu terkekeh geli. Ia melepaskan tangan Habib dipingangnya. Ia memasang senyum miris didadanya, tak mau membuat orang lain khawatir dan juga tak mau merepotkan orang lain membuat Rindu harus mencubit perutnya sendiri supaya tetap sadar. Sakit? Rasa sakit itulah yang dicari Rindu supaya ia tetap sadar. Sungguh, dadanya sangat sesak.


Habib dan Fatih tentu saja tak percaya.” Jangan bohong Rindu..” Ucap Habib mendekat. Ia meletakkan pungung tanganya dikening Rindu.


Tentu saja Rindu menepisnya.” Aku lelah Tuan. Aku tak kuat jika harus mendaki bukit ini. Aku bisanya mendaki cintamu....” Guraunya supaya Habib tak mengkahawatirnya.


Tapi ternyata pernyataan Rindu membuat Habib merona malu. Ia GR. Tolong maafkan Rindu yang hanya ingin membuat Habib melupakan sakitnya tapi sekarang menjadi melayang tinggi.


Tak membuang kesempatan. Para pencopet itu kabur. Ia melirim temannya yang lain lalu melangkah cepat tapi dengan sigap pula Rindu menjulurkan kakinya membuat dua orang sekaligus jatuh terguling lagi.


akhhh..


” Mamam tu kabur.” Gumamnya jahat. Maafkan Rindu yang sudah Hijrah tapi masih nackyal yaahh Reader. Maklum ya kalo kebiasaan susah kalo dikendalikan.


Tentu saja Dilan dan Nayla ngakak.


.


Sedangkan dua orang temannya yang lain menatap Rindu kesal, tapi tak membuang waktu, mereka memilih lari saja dari pada dihajar polisi membuat Habib menarik baju mereka dan mendorong mereka juga kelembah yang teman mereka lainnya terjatuh.” Mamam tu kabur..” Ucap Habib meniru ucapan Rindu...


Sontak saja yang lain ikutan tertawa ngakak.


Rindu bahkan ikutan tertawa karena lihat Habib ikuti-ikutan.”Yaudah kalo kamu capek, kita cari kuda saja ya biar kamu naik kuda...” Ucap Fatih pada Rindu yang masih tertawa masam menahan dadanya yang sesak.


“Boleh juga...” Ucap Rindu yang tak mau menolak. Ia tau jika berdua dengan yang bukan mahrom itu tidak boleh. Tapi lain lagi situasinya ya, faktanya Rindu takut jika nanti ia pingsan tapi tak ada yang mengenalnya membuat ia repot sendiri, setidaknya ia mau mempermuda hidupnya didepannya. Apakah salah? Semoga saja Allah memahaminya’ Bati n Rindu.


Adakah tau apa bedanya mahram dan makhrom? beda loo.


Mahram (Arab: محرم) adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam.  Muslim di Asia Tenggara sering salah dalam menggunakan istilah mahram ini dengan kata Muhrim,


sebenarnya kata muhrim memiliki arti yang lain. Dalam bahasa arab, kata muhrim (muhrimun) artinya orang yang berihram dalam ibadah haji sebelum bertahallul. Sedangkan kata mahram (mahramun) artinya orang-orang yang merupakan lawan jenis kita, tetapi haram (tidak boleh) kita nikahi sementara atau selamanya.


(Catatan kenapa author tulis dengan sebutan mahrom bukan mahram karena author nulis sesuai ejaannya ya..)


“Biar dengan saya saja. Kamu arahkan saja yang lain supaya tidak tersesat.” Ucap Habib ketus pada Fatih membuat Fatih diam.


Fatih taunya jika Habib memang calon suami Rindu membuat ia menganguk, sangat tidak ikhlas hatinya, tapi mau bagaimana lagi, Habib lebih berhak dari pada dirinya yang bukan siapa-siapa., tentu saja, siapa dirinya.” Baiklah. Jika begitu kami duluan ya..” Ucapnya.


“Kita duluan ya kak. Kakak taukan dimana jalanya keatas? Nanti malah nyasar loo. Nyasar kehatinya Rindu...” Goda Ify pada Habib. Ia melirik Rindu yang hanya diam sesekali mengerjab untuk mengembalikan kesadarannya, nampak sekali jika Rindu sakit meskipun ia tertutup Hijab dan Niqobnya.


Habib mendegus sebal lalu menganguk. Ia mengajak Rindu turun terlebih dahulu.” Kita turun dulu yaa...” Ucapnya pada Rindu. disekitar sini lumayan rame membuat Habib mau mengandeng tangan Rindu.


Rindu yang merasakan tanganya disentu membuat ia menepisnya.” Kenapa?” Tanya Habib sedikit kesal. Hanya pegangan tangan saja tidak boleh? Tadi Rindu hampir dipeluk loe dengan Fatihg?


Rindu mengeleng.” Kita bukan Makhrom Tuan..” Ucapnya pelan.


“Mahkrom itu apa?” Tanya Habib polos pada Rindu.


Rindu memijit pelipisnya. Susah sekali, bicara sedikit harus menjelaskannya pada Habib ini.” Makhrom itu adalah orang yang kita boleh sentuh dan tidak boleh kita sentu itu bukan makhrom kita. makhrom itu seperti Ayah, suami, Kakek, keluarga laki-laki dari pihal ayah dan juga anak-anak yang dimiliki sang perempuan Tuan. Initinya yang.memilikih darah satu ayah dan satu darah sama kita..... "


“Tidak bolehkah hanya bersentuhan tangan? Kita hanya berpegangan tangan supaya tidak terpisah saja kok.” Ucapnya pelan pada Rindu.


Rindu menggeleng.” Menyentu bara api lebih baik dari pada menyentu orang yang bukan makhrom kita Tuan...."

__ADS_1


Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ


“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Habib diam tak bisa berkata lagi, “Lalu bagaimana? Nanti kamu tersesat loo.” Ucapnya Habib melembut. Sebenarnya ia mau membahas masalah Rindu yang dengan kekasihnya. Jika tidak bersentuhan bagaimana mereka saling bercinta atau saling menyayangi? Apa yang Rindu lakukan pada pria yang ia lihat malam itu., tapi nyatanya nyalinya kecil untuk bertanya hal semacam itu. Baginya itu akan membuat Rindu semakin membencinya nanti. Apalagi nanti akan membuat hatinya sakit sendiri.


Rindu melirik sekitarnya. Habib menyernyit melihat Rindu. Rindu memfokuskan matanya melirik sekitar, ada senyum samar dibibirnya saat melihat ranting kayu yang tak besar atau kecil, tepat dibawah pohon yang tak terlalu tinggi, biasa merekakan diatas bukit, jadi wajar.”Kamu mau kemana?” Tanya Habib melihat Rindu pergi.


Rindu harus melewati banyak orang dulu lalu mengambil rantingnya. Ranting yang panjangnya hanya setengah meter lebih dan agak bengkok itu. Ia mendekati Habib lagi lalu memegangnya paling ujung. Ia mengarahkan ujungnya pada Habib.” Kau pegang ujungnya dan aku pegang ujungnya. Kita bisa bersama meskipun tak pegangankan?” Tanya Rindu polos.


Habib? Ia terkekeh geli. Mau marah? Tapi tak tega, ia terlalu banyak salah pada Rindu. “Oke..” Ucapnya pada Rindu lalu memegang ujung rantingnya.


Rindu menganguk lalu berjalan kebawah melewati banyak mata melihat merka. Mau merasa malu? Tenang, Rindu tetaplah Rindu. tak mau memikirkan orang lain, toh ini untuk kebaikanya sendirikan? Lebih baik begini dari pada ia harus pegangan tangan dan membuat ia banyak dosa lagi. Sedangkan Habib hanya senyum-senyum malu, anggap saja ini kencan romantis ala ala mereka belum menikah. Tolong ingatkan Habib, jika ia sudah menikah nanti, ia pastikan jika Rindu akan ia buat menempel terus padanya, bagaikan bayi monyet yang mengelantung manja didadanya.


“Tuan...!” Ucap Rindu menggoyangkan kayunya membuat Habih sadar.


“Ada apa?” Tanya Habib terkejut. Bayanganya yang membayangkan ia memeluk Rindu dikeramaian hilang ahh. Sialan...


“Kita sudah sampai..” Cicit Rindu padanya membuat Habib tersadar jika sudah didepan tempat kuda.


Habib mengangguk. Ia memasuki tempat penyewa kuda.” Ada yang kami bantu tuan? Nyonya?” Tanyanya pada Habib dan juga Rindu yang masih memegang kayu.


“Ada ada saja yaa pasangan zaman sekarang? Kayaknya mereka lagi berantem ni, jadinya ginini kalo bini ngambek, kagak boleh peluk-peluk. Apa lagi *****-*****. Kesihan sekali atuu akang maa..” Gumam penjaga kuda dalam hati. ia sedikit terkikik membuat Habib mengerutkan keningnya, begitu juga Rindu, kenapa bapaknya. Kesurupankah?


“Bapak kenapa? Kesurupankah?” Tanya Habib pada penjaga kuda,


Bukannya menjawab, tapi penjaga kuda lainnya ikutan tertawa membuat Rindu dan Habib terkejut.


Habib tentu saja merinding. Mereka lagi dihutan loo, ia mendekati Rindu. lupa bukan makhrom. “ Mereka kesurupankah?” Tanyanya pada Rindu.


Mendadak mereka berhenti tertawa mendengar sara Rindu yang tegas. “Ada atuh. Tunggu sebentar ya...” Ucap bapak-bapaknya. Ia memasuki perkarangan kuda, tapi sebelumnya Rundu berteriak.” Kuda putih ya kalo ada.”


“Kenapa?” Tanya pak kuda membuat Habib juga bingung. Ya kenapa harus kuda putih? Kuda coklat atau kuda lainkan juga sangat bagus.


“Biar kayak dinegri dongeng gitu. Nanti kayak disamperin penerang berkuda putih kayak novel korosal. Hehe..” Ucap Rindu pada Habob membuat Habib baru tau jika Rindu juga suka mengkhayal. Catat baik-baik ya..


...


Setelah membayar kudanya Habib dan Rindu membawah satu kuda yang seperti Rindu inginkan, yaitu kuda putih yang sangat tampan dan gagah. Ia bahkan tertawa girang membuat Habib baru tau jika Rindu juga punya sisi lain yang dalam.


“Kamu bisa naik kuda?” Tanya Habib pada Rindu yang baru saja membawa satu kuda.


Rindu tersenyum lalu menggeleng. “Tidak bisa hehe..” Gumamnya jujur.


Habib berdecap sebal.” Kenapa ngajak naik kuda kalo gitu. Saya kira selain bisa masak, buat kata-kata mutiara, berantem kamu juga bisa berkuda..” Ucapnya sebal. Bagaimana bisa Rindu menyewa kuda, jika tidak bisa kenapa tidak menyewa pawang kudanya juga?


Rindu mendesah.” Aku juga manusia yang banyak memiliki kekurangan, tak mengetahui semua yang ada dimuka bumi ini. Didesaku tak ada kuda, karenanya aku tak belajar berkuda, jikapun ada, aku pasti akan belajar. Bukankah Allah menurunkan kita dibumi ini untuk kita belajar? Sebagaimana pertama kali diturunkan ‘Iqro’ yang artinya bacalah. Karenanya saya banyak tau tentang ilmu, saya membaca apa yang bisa menjadi ilmu didiri saya. Tapi kalo belajar kudakan harus ada latarnya dan juga usaha, na saya kudanya engak ada, usahanya juga belum ada. Masa iya saya harus kesini setiap hari Cuma mau belajar buat menungang kuda?” Tanya Rindu panjang. Catatan ya.. Rindu tak merasakan dadanya sakit lagi karena ia sudah tak mendaki. Ia hanya merasakan paru-parunya tadi sedikit bermasalahya.


Habib menatap Rindu.” Yasudah. Jika begitu kamu naiklah., biar saya yang memegang kudanya supaya kamu tidak jatuh.” Ucapnya lembut.


Rindu mengangguk. “Tapi bagaimana? Kudanya terlalu tinggi, aku tidak bisa menaikinya..” Ucap Rindu melihat kudanya yang sangat tinggi itu.


Habib melihat sekelilingnya. Tapi tak menemukan apa-apa membuat ia harus mencari solusi, mau membantu Rindu tidak bisa membuat ia harus memutar otak. Ahh susah sekali jika tak bisa bersentuhan ini.


Aha... ada lampu yang menyalah diotak Habib. Ia melepaskan jaketnya lalu membaluti tanganya membuat Rindu mengernyit. “Kamu kenapa lepas jaket lalu digulung-gulung gitu?” Tanyanya heran..

__ADS_1


Habib tetap melanjutkan kegiatanya, saat sudah selelsai ia menjulirkan tanganya dan menatap Rindu.” Kamu pegang tangan saya saja, kan sudah saya tutup. Pastinya kita tidak bersentuhan. Tidak melanggar syari'atkan?” Tanyanya polos.


Yassalam..


Karena itu? Rindu terkekeh geli melihat Habib, sempit sekali pemahamannya, sepertinya Habib harus dimasuki kepesantren untuk belajar agama. Tapi apa yang dilakukan Habib tidak salahkan? Ya tidak salah baginya..!


Rindu segan menolak membuat ia menyambut tangan itu, lagipula ia juga mengguankaan sarum tangan hitam yang cukup tebal. Dengan kuat Habib menyangga berat badan Rindu dan Rindu juga dengan cepat menaik tapi tetap tidak bisa karena hanya tangan satu tang Habib sanga. “Kamu letakkan tanganmu dibawah..” Ucap Rindu ada Habib.


Habib mengernyit tak mengerti.” Buat apa?” Tanyanya pada Rindu..


“Taruh saja.” Jika aku mengatakannya pasti kamu marah batinnya Rindu bergemuruh.


Habib mengangguk lalu meletakkan tanganya dibawah sesuai arahan Rindu.” Yang kuat ya.. “ Ucap Rindu. tanpa Habib sadari Rindu menginjak kakinya sekal genjot lalu melompat menaiki kuda,


Dan sialnya kuda terkejut membuat Habib terkembab lalu wajahnya ditampar oleh ekor kuda. Rindu? ia sudah memegang erat tali kekang kudanya.


tar...


“Rindu...!” Teriak Habib merasakan pipinya panas. Mana mencium pantat kuda yang bau lagi.” Dasar pembantu lucknat ya kamu Rindu...! Teriak Habib.


“Hahahaha...”Bukanya meminta maaf, Rindu bahkan tertawa melihat Habib yang masih berjongkok dan mengelus pipinya yang memerah, bukan main tamparan ekor kuda. Seumur-umur, belum pernah Habib ditampar perempuan, dan sekali kena tampar. Kena tampar ekor kuda pula. Sadis... memang.


Sabar yaa Habib.


Tapi sepertinya Rindu sedang berdosa. Ia menarik tali kekang kuda membuat Kuda meringik dan mengangkat kedua kakinya kedepan membuat Rindu hampir jatuh., ia bahkan berteriak ‘Allahhu’akbar’ sangat kuat.


Bayangkan saja jika ia jatuh dengan tubuh yang terhempas. Kan masih enak Habib ditampar kuda.


Hahaha... Sekarang tawa Habib yang mengema melihat Rindu yang mengangkat kaki tiinggi dengan berucap sangat luar biasa kerasnya. “Mamam tu Dosa..” Ucap Habib pada Rindu ketus.


Rindu mendengus. Kata-katanya dikembalikan oleh Habib.” Ayo kita keatas. Nanti kita ketingalan jauh loo.” Ucap Rindu membuat Habib mendekat sambil memegang perutnya yang keram. Tentu saja keram karena kebanyakan tertawa.


“Tunggu sebentar ya. Saya mau beli minum.” Ucapnya sembari melihat anak kecil yang menjual onsongan., ada tisyu.. kuaci,, ada juga mineral. Habib pergi meningalkan Rindu sebentar,


Ia membeli dua botol minuman, dan minuman yang ia beli susu Beruang(Maaf bukan lagi iklan yey.) “Ini kamukan sakit. Biar sehat kamu.” Ucapnya pada Rindu. .


Dengan senang hari Rindu menerimanya, ini juga salah satu minuman yang disarankan oleh dokter soalnya. Karena susu yang terbuat dari susu asli, ini juga terasa hambar.


.


Rindu itu pecinta susu soalnya. Ia mengambul sedotannya lalu meminumnya sembari memegang tali kuda. Ia minum diatas kuda. Sedangkan Habib sembari berjalan. Mau Rindu mengingatkan, tapi sudahlah. Nanti jika Rindu selalu cerama, takut dibilang pamer. Rindu sadar saat memberikan ilmu itu tak bisa sekaligus. Kita harus melihat situasi dan iuga memberi secara bertahap.


“Bisahkan hari ini saya memangil kamu dengan nama saja? Bukan Tuan?” Tanya Rindu lancang saat Habib memegang tali kekang kudanya, sedangkan ia diatasnya.


Habib mendongak menatap Rindu dengan raut bertanya. Kenapa Rndu tiba-tiba mengatakan hal itu. “Kenapa seperti itu?” Tanyanya heran. Lagipula selama ini Rindu juga labil. Dulu ia memangil Habib paman, kadang Loe gue, kadang juga bapak, dan kadang saya anda. Dan sekarang mau memangil Habib dengan nama saja.


Rindu tersenyum. “Saya mau hari ini kita menjadi teman. Dengan menjadi lebih dekat dan tak ada kesalah pahaman antara kita. supaya dikemudian hari kita bisa saling mengingatkan. Disaat saya salah, saya mau kamu mendengar penjelasan saya, disaat kamu salah saya bisa menasehati kamu. Kamu maukan jadi teman saya?” Tanya Rindu tulus.


Ada yang mau bilang Rindu mau bilang Rindu murahan? Jujur kenapa Rindu mau menjadi teman Habib memng untuk mendekati Habib.


Ia mau menyaliurkan ilmu yang selama ini Habib tinggalkan. Ia tau jika Habib itu orang baik, sesak sekali rasanya orang baik tapi jauh dari agama, meningalkan semua ajaran agama, rasanya semua lebaikan Habib akan sia-sia jika begitu. Rindu hanya ingin merubah Habib menjadi lebih baik, sebelum ia pergi. Setidaknya nanti saat ia pergi, ia bisa memberi ilmunya pada Habib. Dan juha Meskipun namanya sudah mati, tapi ilmunya masih akan hidup sampai Habib menghentikan ilmu itu.


Adakah yang lebih bahagia selain bisa berguna untuk orang lain?


.


.

__ADS_1


.


Like komen and vote yey...


__ADS_2