Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Because I'm Muslim


__ADS_3

Sesudah dokter Rey memeriksa Rindu, ia memilih kembali duduk dan menatap wajah lesuhnya Rindu.” Kamu mau minum?” Tanyanya pelan, ia tak ingat untuk menawari Rindu minum,.


Manik mata Rindu kembali terbuka, ia sudah tak merasakan dadanya sesesak tadi. Ia menelan saliva ditenggorokannya yang kering lalu mengangguk sebagai tanda ia menerima minum. Dengan cepat pula dokter Rey mengambil minum untuk Rindu. ia mengambil sedotan lalu membantunya membuka selang oksigen dari hidung Rindu. Rindu dengan senyum menerima minum itu.


“Terimakasih dok..” Ujarnya lembut. sebenarnya ia sadar jika cadarnya sudah tak ia pakai, tapi ia merasa itu bukan masalah tapi ia sedih , sebab saat ini memang tak bisa dipakai bukan? Ia menahan dadanya lagi supaya lebih tenang.


Dokter Rey memandang Rindu sendu.” Mafkan saya. karena sudah membuka kain kamu..” Ia mengarahkan tanganya diwajah menunjukkan Cadar. Ia tak tau namanya, yang ia tau itu adalah kain hitam yang menutupi wajah. Ia cukup merasa bersalah saat ini.


Rindu mengangguk lagi.” Tidak apa-apa. Terimakasih ya dok sudah mau bantu saya.” Ujarnya lirih.


Dokter Rey mengangguk lemah.” Kamu tidak mau hubungi orang tua mu? Mungkin mereka bisa kesini untuk membantumu Rndu. Saat ini bukankah kamu butuh suport dari mereka? “ Ujarnya pelan.” Atau jangan-jangan kamu sampai sekarang belum memberi tau keadaan kamu dengan orang tua kamu?” Tanyanya lagi menyelidiki Rindu.


Rindu mengerjab polos. Mungkin ini saatnya kan memberi tau orang tuanya? Tapi ia tak mau membuat keluarganya khawatir, ia tak mau ayah dan ibunya tau apa yang ia rasakan saat ini. yang ia ingin hanya meminta maaf kepada mereka. Selama delapan belas tahun sudah membuat mereka sakit. Sakit hati memiliki anak seperti dirinya. “Bisa minta tolong ambil Hape saya ditas dok.” Ujarnya pada doter Rey.


Dokter Rey menganguk, sebenarnya ia masih belum mendapatkan jawaban saat ini, tapi ia berfgikir positig. Mungkin Rindu sedang mau menghubungi keluarganya kan? “Ini Rin..” Dokter Rey meletakkan lagi tas itu diatas nakas disamping Rindu setelah memberi hapenya.


Rindu membuka salang pembantu pernafasannya, ia mengetik nomor hape ayahnya, dan mulai menghubunginya. Ini pilihannya, ia hanya mau mendengar suara ayahnya saja, mungkin saat ini akan menjadi obat. Ia mengulum bibirnya saat ini supaya tak menangis.


Tuuuttt.. tuuut.. tut,,,


Tepat yang ketiga kali menyambungkan telepon itu tersambungkan membuat Rindu tak mampu menahan air matanya.


“Assalamu’alaikum... dengan siapa ini?” Tanya dari seberang sana... Ternyata nomor Rindu tak disimpan oleh ayahnya. Sebenci itukah?


Rindu menggeleng. Ia menghela nafas saat ini.” Waalaikum salam Bi.. Ini Rindu..” Ujar Rindu pelan.


Hening... Tak ada balasan dari ayahnya Rindu. entah apa yang mereka pikirkan tapi Rindu merasakan jika abinya sedang tak mau bicara padanya. “Kan sudah saya bilang. Jangan hubungi saya jika bukan saya yang menghubungi kamu... “ Ujarnya tegas, namun Rindu dapat merasaan itu terdengar sedikit lirih.


Ingat abbinya memnaggil dirinya 'saya' seperti orang asing saja... Apakah Rindu sudah menjadi orang asing dimata ayahnya?


Rindu memejamkan matanya erat.. ia menahan dadanya yang saat sakit pada kenyataan bercampur sakit dalam fisik. Apakah ada yang lebih sakit dari pada ini?


“Tapi Rindu kangen sama Abii dan Ummi.. Abi gimana kabarnya? Ummi sehat aja kan? Terus abang Rasyid udah mau wisudahkan? Gimana keadaan mereka bi? Adek Caca gimana?” Tanyanya lagi... tak menerima tolakan dari sang ayah. Rindu hanya mau tau apa kabar keluarganya.


Dulu Rindu tak pernah menelpon ayah dan ibunya untuk menanyakan kabar, sekarang barulah ia menyesal, ia sangat menyesal akan hal itu. Ia mau mendengar cerama abbinya dan umminya.


“ Kami baik-baik saja jika kamu jauh dari kami, setidaknya kami tidak mendengar ulahmu lagi. Kamu benci dengan kami yang selalu memberi kamu nasihat yang baikkan? Sekarang kamu bebas diluar sana. Bebas mau ngelakuin apa. Saya sudah tak mau memberi nasihat lagi. Biarkan ayah masuk neraka karena kamu Rin. Ayah capek. Jadi jangan hubungi Abbi lagi. Abbi mohon..” Ujar ayahnya Rindu...’Ia menekan kata Abbi 'mohon’


Rindu kembali memukul dadanya yang sesak. Ia tak tau harus bilang apa saat ini. “Rind—“


“Assalamuaiakum..” Ujar dari seberang sana memotong ucapan Rindu dengan cepat. Rindu mengenggam telepon itu erat... ia memukul dadanya. "Waalaikum salam abbi." Gumamnya pelan terdengar lirih


“Rindu jangan nangis.. kamu kenapa?” Tanya dokter Rey pada Rindu. ia sedari tadi hanya menyimak tak mau ikut campur tapi saat meihat air mata piluhnya Rindu membuat ia mendekat.

__ADS_1


Rindu memukul dadanya... ia tak bisa bernafas karena menangis. Sakit mana lagi yang lebih sakit ketika sakit tapi tak bisa menangis? Menangis adalah salah satu cara untuk mencurahkan betapa rapuhnya hati, betapa sakitnya perasaan? Sedangkan Rindu? ia sakit dalam dua sisi, hatinya sakit, batinnya sakit dan fisiknya juga sakit. Semuanya terlalu sakit untuk Rindu...


Sakitnya tak dapat diutarakan oleh apapun selain menangis. Tapi kamu dilarang memangis. Bagaimana bisa Tuhan sejahat itu padanya?’ Batin dokter Rey.


Dokter Rey memasang lagi oksigen Rindu... ia mulai memberi suntikan untuk meredakan sakit untuk Rindu. Rindu sudah tak lagi menangis, namun dadanya masih sesak.. ia tak tau bagaimana menetralisir sakit didadanya, nafasnya tersenggal-senggal saat ini... “Rindu kita harus oprasi saat ini. juga..” Ujar dokter Ery pada Rindu. ia dapat melihat dilayar monitor itu paru-paru Rindu meradang, beberapa bagian sudah ditutupi oleh kanker itu... Itu sudah sangat berbahaya, bisa-bisa Rindu tak bisa lagi bernafas.


Yang jadi pertanyaan dkter Rey sekarang bagaimana cara Rindu menahan nafasnya? dan bernafas bagaimana Rindu menjalankan hidupnya? Mungkin ini sudah diluar kendali manusia. Ini sudah sangat parah didalam tubuhnya,.


Rindu menatap monitor itu, ia memang bukan dokter tapi ia dapat melihat gumpalan besar yang bersarang diorgannya... warnanya bahkan sudah mempucat dan berdenyut tak setabil.


“Memangnya saya harus operasi apa dok? apa saya harus menukar semua organ tubuh saya atau mengangkat kangker ganas ini dari tubuh saya?” Tanyanya heran.


Jantungnya, paru-parunya, hatinya.. semua orang sudah rusak, tak ada satupun yang bisa dipertahankan bukan? Dan sekarang mau operasi apa? Belum lagi ginjalnya yang juga sudah rusak. Ia sudah tak tau harus apa selain kata menunggu Tuhan menjemputnya.


Doter Rey memandang Rindu sendu,” Rindu dengarkan saya..” Ia mendekat lagi memandang mata Rindu yang kosong, tak menangis, bukan tak mau menangis, tapi Rindu selalu menghela nafas kasar supaya dadanya tak terhimpit dan sakit. “Kita operasi satu persatu ya.. mulai dari paru-paru kamu... saya yakin kamu bisa sembu Rindu..” Ujarnya lagi membuat Rindu tenang, sejujurnya ia juga tak tau harus menjawab apa. Diibaratkan komputer yang sudah rusak, tapi didalamnya yang sudah rusak semuanya harus apa? Jika hanya satu saja yang rusak tak masalah, tapi ini keseluruhan ia harus apa? selain membeli baru?


Rindu menahan matanya tak menangis. Ia tersenyum kecut, bukan btak mempercayai mukzizat, tapi mukzizat datang juga melihat tempat bukan? “Saya tidak punya biaya dok..” jawabnya jujur. ia tak punya uang, orang tua membencinya dan ia tak punya siapa-siapa. Apa ia harus jelaskan itu juga saat ini?


Doyer Rey mengeleng. “Saya yang akan membiayai semuanya Rindu Supaya kamu sembuh, saya mau kamu sehat dan kembali menjadi normal..” Dokter Rey berbicara tegas pada Rindu. ia tau jika semangat hidup Rindu hanya dalam genggaman tapi tidak dari hati.


Rindu menatap dokter Rey sendu.” Kenapa doker mau membantu saya? Dokter sudah banyak membantu saya dok. saya sudah banyak sekali memiliki hutang sedangkan saya sudah ingin pergi kesisi sang pencipta. Saya tidak mau hutang saya menambah beban saya. Saya mohon dok, jangan biarkan saya mati dalam keadaan terlilit hutang..” Ujarnya lagi.


Rindu terlalu takut dalam keadaan banyak dosa, ia ta memikirkan bisa hidup lebih lama lagi yang ia pikirkan adalah bisa mati dalam keadaan khusnul Kahotima. Salahkah? Menurutnya tidak, sebab jika ia hidup lebih lama lahgipun belum tentu ia menjadi lebih baik kan? Ia hanya mau memamfaatkan waktu saja. Bukankah sakitnya ini adalah jalan dari Allah supaya Rindu mempersiapkan diri?


Rindu bis merasakan kalimat itu diucaan dari hati... mata dokter Rey sangat tulus memandanginya, bukan mata yang memandanginya karena kasihan, tapi karena ketulusan. Dan ia merasaan hatinya hangat... “Tapi kita tidak bersama dok.. saya dan kamu berbeda, Because I’m Muslem..” Ujar Rindu bergetar..


Dokter Rey menatap Rindu memelas. “Jika begitu saya akan masuk islam demi kamu... saya akan masuk kedalam lingkaran kamu..” Katakanlah ia sangat tulus saat ini, ia bahkan meningalkan kepercayaannya. Cinta mana yang lebih besar dari pada orang yang meningalkan kepercayaannya demi kepercayaan orang lain?


Rindu mengeleng saat mendengar kata Demi kamu’ Rindu tersenyum tipis, “ Saya bukan Tuhan yang kamu buat supaya kamu mau jadi Islam dok.. “ Ujarnya lembut.


“Jadi saya harus bagaimana Rindu? saya terlahir dari manusia tanpa kepercayaan. Dan saat ini saya hanya ingin kamu ada disamping saya maka dari itu saya yang bakan mausk kedalam lingkaran kamu..” Dokter Rey sudah tak habis pikir saat ini.


Rindu tersenyum. “Dokter bisa berjuang dengan saya.” Ujarnya lembut namun memberi jedah. Matanya menahan kaca yang hampir memecah.” Tapi dengan syarat.. dokter harus belajar hakikat Islam sebenarnya,, mengetahui islam yang sebenarnya memasuki islam karena Allah Azzawajallah semata. Setelah dokter tau maka dokter bisa datang kepada saya dan kita akan berjuang sama sama..” Rindu memberi keputusan itu bukan karena ia cinta. Hanya ingin dokter Rey bisa megenal islam dan sejatihnya. Tak ada harapan supaya mereka bisa bersama, setidanya dokter Rey bisa memahami islam dan ia bisa pergi meningalkan nama dihari orang disekitarnya. Ia hanya tak ingin mati dalam jasad dan mati dalam nama...


Dokter Rey termangu menatap Rindu ada gelenjar aneh didirinya “Baiklah saya akan belajar islam dengan hakikat sebenarnya jadi mari kita operasi dan menikah kita berjuang sama sama.” Ujarnya lagi tanpa ada kata ragu.


Rindu mengeleng” Saya mau dokter belajar terlebih dahulu, jika dokter sudah bisa, maka temuilah saya supaya kita sama-sama berjuang ya dok saya akan menunggu dokter disaat itu..” Ujar Rindu pada dokter Rey lembut.


Dokter Rey mengeleng.” Tidak bisa Rindu nanti kamu tambah parah loo. Belajar tak semudah yang kamu bayangkan, apa lagi saya seorang pemula.” Bantahnya bagaimana bisa ia menungu seperti itu orang yang mengerti islam saja belum tentu bisa, apa lagi dokter Rey yang belum mengerti apa-apa, diibaratkan kertas kosong tanpa ada tintanya, ia harus memulai dari hurup 0.


Rindu tersenyum” Karenanya. Dokter harus belajar secara sunguh-sunguh. Saya akan menungu dokter kok tenang saja..” Ujarnya tersenyum.


Dokter Rey terpaku akan lesung pipi itu, gingsul yang sudah lama tak ia lihat sekarang terpapar dimatanya “ Saya berjanji.” Ucapan itu mencelos tanpa ia sadari Ia terlalu terhipnotis akan senyum Rindu.

__ADS_1


Rindu mengangguk akan hal itu, bukannya ia mau PHP, Tapi ia berjanji jika Tuhan menghendaki, yang dimaksudya ‘Menunggu’ Itu jika ia masih hidup maka ia akan bersama Doketer Rey, tapi jika ia sudah tiada, maka ia akan menunggu dokter Rey diakhirat sana ia hanya mau dokter Rey belajar agama islam saat ini.


“Jadi... kamu harus kemoterapi dua kali dalam satu bulan Rin” Ujar dokter Rey.” Masalah ginjal kita harus mencaro donor dan saya akan usahakan itu untuk kamu setelah semuanya membaik kita akan melakukan operasi dibagian kanker kamu. Tapi saya mohon sama kamu, jangan sampai tidak datang kemoterapi ya,, jangan menyia-nyiakan kesempatan meskipun hanya dua persen” Ujarnya pada Rindu sendu. Ia menekan kata 'mohon’ tanpa malunya ia tak akan malu untuk Rindu, ia mau Rindu sembuh total.


Rindu tersenyum lalu mengangguk.” Insyaallah ya dok.”


“Jangan pangil saya dokter Rin pagil saya Rey saja yah. Rasanya canggung sekali saat kamu memanggil saya seperti itu jika bisa kita panggilnya ‘aku-kamu saja’ supaya kita lebih dekat.” Doker Rey mengatakannya tanpa disaring itu semua reflek, sebenarnya ia sudah sedari dulu ingin menyampaikannya, namun lagi lagi ia tak berani dan tak mau Rindu salah tangap tapi kini tidak apa-apakan? Toh Rindu juga tau jika ia memiliki perasaan terhadapnya.


Rindu mengangguk.” Baik Do Eh Rey,,” jar Rindu masih kaku. Ia terlalu terbiasa nemangilnya Dokter.


Dokter Rey menepuk jidadnya” Yaampun maafkan saya ya Rin seharusnya kamu istirahat dulu. Tapi nyatanya saya ngajak kamu ngobrol. Katakan apa kamu masih sakit? Kamu harus menginap ya supaya saya bisa ngotrol kesehatan kamu.” Ujarnya lagi pada Rindu panik, ia lupa jika Rindu sakit ada ada saja dokter maaah.


Rindu mengeleng lemah.” Sudah tidak ada yang sakit dok. saya tidak bisa disini terlalu lama, sebab saya mau bertemu dengan Rian dan Rani saya sudah satu bulan tidak bertemu dengan mereka, saya rindu serindu namaku...” Ujarnya terkekeh. Rindu bahkan masih memanggilnya 'dok' ia masih kaku dan kurang terbiasa...


Dokter Rey ikut terkekeh. “Tapi keadaan kamu masih sangat lemah Rin.” Ujarnya perhatian.


Rindu menggeleng,” Saya sudah berjanji menemui mereka hari ini dok. janji adalah hutang dan hutang harus saya bayar lagipula saya suda tidak apa-apa kok. Serius.” Ujarnya jujur ia hanya merasakan lemas dan sedikit pusing saat ini,


Doter Rey menggeleng.” Tap-“


“Ayolah dok.. saya mohon jangan halangi saya, saya janji nggak akan capek capek nanti.” Rindu mengerjab pelan saat ini membuat dokter Rey kembali menghela nafas kasar..


“Bailah. Tapi harus saya yang mengantarmu ya supaya saya bisa jagain kamu” Ia tersenyum lembut.


“Emang dokter tak ada kerjaan?”


“Tidak. Saya sudah menelpon rekan lain untuk mengantikan saya saat kamu pingsan tadi jadi jangan dipikiran ya..”


“Yadah kalo gitu dok.” Rindu tersenyum lalu mulai bangit, namun sebelumnya dokter Rey melepaskan alat-alat medis ditubuh Rindu ia sebenarnya ta ingin Rindu pergi, tapi keadaannya lain lagi saat ini.


.


.


.


.


**Nggak bisa ngomong apa apa.. gimana ya supaya enggak typo melulu. Padahal udah diperiksa dulu sebelum up.


Soal Gadis cupu pindah ketubuh gadis prmbetontak itu udah up dari kemarin tapi sampek hari ini blm juga direvew. Jadi yang sabar ya...


Jangan lupa like vote and komen**

__ADS_1


__ADS_2