Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Putriku


__ADS_3

Dengan nafas yang tertahan Rindu.


”Cuh…!!!”


Rindu memainkan perannya disana meski mengenakan cadar menatap semua orang yang menatapnya geram.” Dan kalian memang benar benar pengecut dari yang pengecut.. selamat, kalian adalah pemenang dari manusia pengecut didunia nyata.. puk pukppuk..!'' Ujar Rindu membuat abi Rindu menggeleng disana, ia menatap anaknya naar disana karena tau maksud dari ucapan dan tindakan yang akan dilakukan oleh Rindu anaknya ini.


Itu hanya cara bagi Rindu kok, dan itu membuat Raysid terkekeh dengan gigi yang sudah berwarna merah karena darah itu. Beda halnya dengan tiga lelaki dan lainnya disana yang Rindu tak tau siapa itu mengepalkan tanganya menatap Rindu tajam.” Jadi ini yang diajarkan oleh Mereka disini hmm?” Tanyanya salah satu pria yang lebih muda dari pada kakek tadi itu sinis, dipipinya ada lesung pipi jika ia berbicara.”Cuiihh.. wanita yang menjijikkan..!”Ujarnya tak kalah keras dari Rindu.


Rindu terasa bagaikan bertemu dirinya didiri pria itu membuat ia mengerjab polos, lelaki itu bagaikan dirinya yang dibeda dua membuat ia menyungingkan sudut bibirnya.”Kalian siapa?” Tanya Rindu dengan datarnya. Mau tau kenapa rindu tidak berkata. Lepaskan keluargaku..! karena ia tau jika hal itu tidak akan dilakukan oleh mereka disana.


Kakek disana menatap Rindu tajam itu sembari menatap anaknya yang tak lain bernama Antonio itu dengan tatapan liciknya.” Kenapa tiidak kau Tanya langsung dengan ayah dan ibumu siapa kami..?” Tanya Antonio kepada Rindu membuat Rindu tertegun disana.


Rindu menghela nafas nanar disana lalu menenangkan dirinya menatap abbinya dan abangnya disana. Ia menataps semumua orang yang bagaikan penjahat kelas kakap yangs edang merampok bank itu dengan datar, ia mendekati abbbinya namun abbinya langsunhg dihadangi oleh pistol menuju tepat diotak abbbinya disana membuat ia menerjab datar.

__ADS_1


Abbinya tak mau menatap Rindu membuat ia menunduk dengan air mata yang jatuh, apa ini saat yang tepat mengatakan kepada Rindu.. jika ia bisa memilih, ia lebih memilih tidak mengatakan hal ini kepada Rindu sampai kapanpun. “Mereka siapa abbi?” Suara Rindu membuat ia menutupi matanya dalam.


Rindu menatap abbinya itu dengan tanda Tanya, dikepalanya penuh dengan pemikiran pemikiran yang tak tau datang dari mana, hal yang ia tebak tebak tapi tak tau yang ditebaknya itu benar atau tidak, tapi yang pasti ia merasakan jantungnya berkerja dua kali lipat dari biasanya membuat fikirannya tak sejalan dengan arahan yang harus ia lakukan.


Abbinya diam saja disana tak bisa menjawab membuat ia menunduk dengan meremas jarinya yang lain yang diikat itu, hatinya hancur sekarang sampai berkeping keping. Itu membuat Rindu diam disana menatap abbinya itu heran.


“Hahaha…” Tawa dari kakek yang tak lain bernama Gionino itu tergelak disana dengan kencangnya membuat Rindu menatapnya disana, diikuti dengan senyum smirk milik Antonio disana membuat ia tertegun, disana juga ada pria lain yang Rindu tak tau namanya. Itu hanya diam menatap Rindu tajams ekali.


“Kenapa diam saja Didi? Kenapa tidak menjawab pertanyaan putriku?” Tanya dari Antonio membuat Rindu tertegun menatap lelaki yang menatap abbi Rindu yang semakin menunduk dengan menahan isak tangisanya out, ia menatap Rindu yang menatapnya datar itu dengan senyum menyeramkannya.


Rindu menatap lelaki itu dengan nanarnya lalu menatap abbinya dengan tatapan sendunya.”Bi?” Tanyanya dan juga sekaligus ia memanggilnya disana/m”Ada yang mau abbi jelasin sama Rindu?” Tanyanya dengan santaynya disana seperti itu bukan masalah baginya.


Tapi bedahalnya dengan Abi Rindu yang mendengar pertanyaann itu. Baginya out pertanyaan yang paling menyeramkan baginya, suaru mimpi buruk baginya untuk mengungkapkan kalimat ini, pernyataan yangs angat menyakitkan bagi dirinya membuyat ia tak mampu menjawab sedikitpun.

__ADS_1


Rindu terkekeh disana karena tau jika abbinya itu diam karena semuanya adalah sebuah kebenaran, taka da air mata yang jatuh disana, ia hanya merasakkan hidupnya melayang bagaikan tampah arah membuat ia menatap semua orang disana dengan tatapan tanyalnya.”lalu apa yang kalian mau kepada keluarga saya?” Tanyanya kepada Antonio disana.


Antonio dan lainya menatap Rindu dengan tanda tannya. “ karena saya ingin menjemput putri saya yaitu kamu..” Ujarnya Antonio disana kepada Rindu dingin karena berfikir jika Rindu tak tau jika ia adalah ayahnya.” Saya ayah kamu, dan kamu anak saya, dan dia..”Ia menunuuk ayahnya Rindu itud engan telunjunya itu dengan seyum jahatnya.”Bukan ayah kamu.., bukan ayah kandung kamu..”Ujarnya disana.


Rindu disana tersenyum dibuatnya, sekuat tenaga tak menangis ataupun menjatuhkan air matanya, ia bukan orang yang lemah, ia bukan orang yang rapuh membuat ia masih mengangkat kepalanya dengan tingginya jangan sampai mahkota miliknya yang selama ini ia jaga itu jatuh. Ia menatap sesoerang yang mengakuhi dirinya jika ia ayahnya Rindu itu datar.” Mana buktinya?” Tanya Rindu dengan datarnya disana.


Antonio menatap Rindu heran sekaligus kagum, kagum tak jatuh juga air mata dan suaranya. Bahkan suaranya masih tetap tegas tanpa ada getaran layaknya wanita lain membuat ia mengambil data data dan lainya disana. “Ini, ini adalah kamu diwaktu kecil dan ini adalah foto dimana ibu kamu memberikan kamu dengan mereka didepan rumah ini..!”Ujarnya memberikan foto foto disana.


“Dan kamu memiliki tanda lahir dibagian pantat, disana ada tahi lalat yang enbtah saya tidak tau, tapi dusana ada tanda seperti tahi lalat kembar.”Ujarnya dengan datar kepada Rindu.


Rindu menatap foto foto yang diberi didepannya itu datar tanpa menyambutnya sama sekali, iya.. Rindu tidak tau bentuknya bagaimana sedari ia kecil, ia tak pernah melihatnya sama sekali, babas sebelumnya juga dijelaskan bukan jika Rindu sendirilah yang tidak memiliki foto dimasa bayi ataupun balita dengan alasan disana tidak ada tukang foto. Tapi yang menjadi pertanyaan Rindu sedari kecil, kenapa abangnya ada dan bisa? Bukankah dia lebih ada jika difikir fikir? Rindu selalu menanyakan hal ini tapi ayahnya diam saja .


Lalu ia ingat jika dipantatnya memang ada tahi lalat gembar disana sebagai tanda dirinya membuat ia menatap lain arah tak mau melihat fotonya yang masih kecil itu, dadanya sesak sekarang kakinya menjadi jelly tapi ia harus tetap kuat dan tegar. Ia diam tak tau harus apa… Ia ini tidak terlalu mengejutkan baginya karena sedari kecil dia memang selalu dikatakan tidak mirip dengan siapapun dikeluarganya. Bahkan ia kecil sempat berfikir dia bukan anak kandung abbinya.

__ADS_1


Antonuo menatik lagi foto yang sama selain tak diambil oleh Rindu itu datar karena merasa tak dihargai, abi Rindu disana diam menatap Rindu nanar dengan mata yang memerah disana itu. Air matanya jatuh disana.


__ADS_2