Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Pertemuan


__ADS_3

Habib disana diam menatapnya. Apa Rindu mengenalnya? Gadis penguntit itu? Gadis yang bikin kepalanya sakit tujuh keliling? Ia bahkan sangat membenci wanita itu.


“ Rindu kamu kenapa?”Gumamnya Habib. Ia mendekati Rindu menatap nanar kaki Rindu.”Kamu sakit? Kenapa pakek kursi roda?”Tanyanya membuat Rey disana menahan pundaknya untuk menjauh. Rindu bingung harus apa dan menjawab apa?


Rindu diam menatap Habib dengan tatapan rindunya. Kenapa pula ia tak merindukan Habib. Bohong sekali jika ia tak bahagia bertemu Habib. Namun ia segar berpaling dan menatap Vivi lagi.” Ak-aku tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit.. kita bicara didalam saja yuk.”Ujarnya Rindu disana mengalihkan pembicaraan mereka yang ada.


Habib disana menahan kursi roda Rindu dan menatap nanar Rindu. Rindu diam disana, Rey pun diam menatap Habib.”Sakit apa? Bilang sama aku Rin..”Ujarnya nanar disana. Lalu menatap Rey.”Apa kamu memang benar benar sudah menikah dengan dia?”Tanyanya lagi disana nanar.


Rindu menatapnya sendu lalu menatap Rey lelaki pilihannya. “iya..” Jawab yang kaku namun tegas membuat Hati Habib disana bergemuru bagaikan hancur berkeping-keping. Rindu tersenyum. "Kenalkan. Lelaki pilihanku Rey..”Ujarnya disana membanggakan Rey supaya tidak ada kesalah pahaman akan dirinya dan Rey dihari kemudian nanti. Reypun tersenyum bangga akan Rindu. Bangga karena Rindu mau megakhuinya sisipan lelaki yang juga mencintainya.


Habib mengangguk disana menatap Rey. Ia kalah, ia kalah..nampak sekali Rindu sangat mencintai Rey.. ia mengusap kepalanya dan menatap Vivi.. ia terkekeh disana memberikan muka tak percaya namun tetap tersenyum..” Selamat..”Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca dan juga nanar.. Rindu bahkan tak tega rasanya mendengar suara yang bergetar bagaikan menahan tangis itu.


"Hahaha selamat.. selamat... " Habib tak mampu.. sungguh...


Benar kan? Jatuh air mata Habib disana menahan sesak didadanya. Ia memkul pundak Rey membuat Rey diam disana menatap habib.” Jagain dia yah.. nanti kalo kamu sakitin dia. Kamu hadapin saya, saya tidak akan seganebunuh kamu.. .”Ujarnya disana membuat Rey tertegun. Habib menatap nanar keduanya.. Rindu bahkan tak kuat menahan tangisnya. Memang benar, yang paling sulit adalah ketika diberikan pilihan yang sangat berat.


“Yah selamat untuk kalian..”Ujar Habib melangkah menjauh, Vivi menatap Habib dengan tatapan nanar. Kalian masih ingat Vivi kan? Si gadis cantik teman Rindu dikampus pertama kali kulia dulu iya dia.. Habib nampk sangat rapuh bahkan melupakan jika ia membawa ,mobil membuat Rindu bangkit menatapnya nanar. ia bahkan nampak bagaikan orang gila kehilangan arah sekarang...


Kenyataan yang sangat pahit untuk ia hadapi. Rindu cinta pertamanya tak dapat ia pungkiri jika hatinya sangat hancur sampai tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.


Habib kehilangan akal membuat Rindu yang melihatnya nanar.. Rey menahan tangan Rindu namun Rindu disana mengeleng

__ADS_1


"Maaf tapi aku harus bicara kepada Habib.. dia orang baik tidak boleh tersakiti, " Ujarnya.


"Dan bagaimana bisa padahal dia sudah menyakiti kamu berkali kali... "Gumam Rey Disana tak percaya akan hati Rindu.


Lalu berjalan dengan sakitnya mendekati Habib, menahan sakit di kaki dan diperutnya. Ia harus meminta maaf kepada Habib.


”Habib tolong dengar aku..”Ujarnya namun tak didengar Hbaib yang bahkan berjalan memukul dadanya yang sesak menuju jalan yang lebar.


Rey menatap nanar Rindu, ia tau jika Hbaib lebih dulu mengenal Rindu. Vivi bahkan diam menatapnya. Rindu memegang perut bagian kananya sakit sembari berjalan menahan sakitnya. Rey mengejar Rindu sampai..


”Habib aweas...”


Barghh..


Rindu memeluk Habib dengan mata yang terpejam berlari menahan sakit diperitnya.


Habib yang tak tau apa apa itu pingsan dengan Rindu yang memeluknya.. Gumamannya yang terakhir "Rindu maafkan saya... "


“Rindu...!! Habib..!”Teriakan Rey menggema dikalah melihat istrinya jatuh. Mendadak terasa menjeli kakinya menatap Rindu penuh darah.


Dengan nanar Rey mendekati Rindu yang terkapar penuh darah karena tertabrak mobil bermuatan besar disana.

__ADS_1


Kepalanya penuh darah..” Rindu.. “Teriaknya menggema disana lalu banyak yang datang menolongnya dan mengangkat Rindu disana.


Rindu yang masih setengah sadar itu mengeggam erat tangan Rey dan berbisik.”I love you Rey..” Gumamnya disana membuat Rey mengenggam erat tangan Rindu dan membawanya pergi berlari menujui rumah sakit.


"tolong istri saya tolong....! "Teriak Rey nanar membuat banyak yang membantunya.


Begitu juga Habib yang dibawa kerumah sakit oleh Vivi dimobil yang sama.. demi detik yang terlewati Rey membenci dirinya yang tak melihat rindu yang tertabrak. Ia hanya ingin memberi Rindu waktu bicara dengan Habib. Demi hati mereka berdua hanya itu. Ia tak mau menjadi suami yang egois dikalah ia sudah tau perjuangan Habib selama ini. Tapi ia menyesal sungguh..


“Sutser tolong istri saya..”!teriakan itu membuat para suster membawa brangkar menuju kepada Rindu dan Rey. Habib tidak berdarah seperti rindu, ia hanya shok karena hati nya hancur sekaligus karena terkejut.. ia tidak apa-apa beda dengan Rindu yang penuh dengan darah.


Langkah kaki Rey dengan gemetar membawa Rindu menuju UGD.. Tangisanya pecah dikalah itu menatap wajah Rindu.. tak beda dengan Vivi yang ikut menangis melihat Rindu.. “Bapak tunggu disini saja yah pak.”Ujarnya pada dokter yang ada.


“Apa-apaan. Saya ini dokter, saya harus masuk..”Teriak Rey kuat disana membuat semua dokter terdiam.. namun dikalah dinegosiasi lagi Rey pun akhirnya ikut serta merawat Rindu dnegan cepat mengantikan bajunya. Tertinggal hanya Vivi yang menunggu Habib dan Rindu yang satu ruangan beda tempat tindakan saja.


Dengan sholawat Rey menatap Rindu, ia tak melakukan apapun hanya menatap saja dengan air mata yang menetes.. ia dilarang karena keadaan hati yang kalut takut nanti akan melakukan tindakan yang salah.. ia hanya berserah diri kepada Author saja.


Ditempat lain sosok Vivi sudah masuk kedalam ruangan Habib. Habib sudah sadarkan diri sembari memegang pelipisnya. Ia hanya memiliki luka dibagian dengkulnya dan juga kaki, ada juga didagunya dan pipi. Gores karena gesekan aspal.. disana pula Vivi menatapnya nanar.” Tu tuan..”Gumamnya disana,


Habib memegang kepalanya sakit.. namun tangannya juga sakit akibat hentakan kejalanan.. ia menatap sekeliling.”Dimana ini?”Gumamnya disana menatap sekeliling.. Vivi tetap diam mengingat Rindu.. Habib disana menatap Vivi lalu menghela nafas.. mengambil minum gemetar..


Namun Tur.. ia ingat.. ia ingat dimana dirinya ditarik Rindu ketika tadi.. ia menatap nanar Vivi “Di dimana Rindu? Apa dia baik-baik saja?”Tanyanya bergumam disana. Namun tak disahut oleh Vivi yang bagaikan orang gila.rambut acak acakan mata merah dan bengkak..

__ADS_1


“Hey.. dimana Rindu..”!Teriak Habib membuat Vivi terkejut dan menatapnya nanar. Habib disana menuntut menatapnya. “Rindu baik baik saja kan? Dia dia mencintaiku kan? Kau lihat dia malah membantuku dijalanan tadi., dia menyelamatkanku.”Gumamnya disana bangga dan juga menguatkan dadanya disana.


Hiks hiks Hiks.. “Rindu..”Gumamnya Vivi menangis membuat Habib tertegun.. ada apa? Ia tak ingat apa-apa selain dirinya yang dipekuk Rindu dan ia pingsan,, tak sadarkan diri. Tepatnya ia tak sadarkan diri karena lemah akan kenyataan jika Rindu sudah dimiliki orang lain. Bukan karena ditabrak oleh truk.. ia hanya tau itu..


__ADS_2