Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Hari pertama kerja


__ADS_3

Rindu yang sadar akan kesalahannya menangis dipangkuan umi Ira. Ia tak tahu harus seberapa besar ia menyesal, ia tak tahu seberapa besar dosanya kepada Umi dan Abinya. “Maafin Rindu Umi, Abi” Gumamnya.


Semua anak mengerjab tak mengerti, tapi ada juga yang menangis karena tau inti permasalahan. Umi Ira menepuk punggung Rindu. “Permintaan maaf yang paling mulia ketika kamu berubah, kamu perbaiki semuanya.” Ucap Umi Ira berbisik.


Rindu masih menangis sambil mendengar Umi Ira. “Kamu harus merubah dan mewujudkan apa yang Orang tua kamu inginkan sebelum terlambat nak, kamu buat mereka bangga, kamu buat mereka tak merasa sia-sia melahirkan kamu.” Lanjut Umi Ira.


Rindu menghapus air matanya. Ia mengangkat kepalanya dari pangkuan Umi Ira, “Umi bener. Rindu akan berubah. Rindu bakan wujud tin mimpi Umi sama Abi Rindu.” ucapnya. Rindu beranjak dari duduknya. Ia menghadap kiblat didepan matanya. Ia menadakan tangannya menatap keatas. Air matanya mengalir deras. Ia merunduk sesaat dan mendongak kembali. “Yaallah Izinkan Rindu membuat Umi sama Abi bangga dan bahagia. Beri Rindu waktu untuk semua ini ya.” Ucapnya lemah lalu bersujud. Is mencium sajjaddah itu khitmat. Butiran air matanya mengalir deras menerpa sajjadah yang menjadi saksi permohonan Rindu.


Umi Ira menatap Rindu sendu. Ia menghapus sisa air matanya. “Umi. Kak Rindu nggak apa-apakan?” Tanya salah Reyhan.


“Nggak kok. Bentar ummi ambil buku dulu ya.” Ucap Umi Ira lalu bangkit. Ia pergi menuju kamarnya. Ia mengambil dua buku yang sangat tebal. Tebalnya mencapai 5centi. Ia membawah buku itu menuju Mushola. Ia mendekatkan Rindu yang sudah duduk dan masih menatap kiblat.


“Nak. Ini buku buat kamu. Semoga kamu baca dan belajar ya.” Ucap Umi Ira.


Rindu menatap buku yang Umi Ira kasih. Buku itu memiliki sampul yang sudah diisolasi hitam, warnahnya usang. Warna sampulnya Hijau tua dan satunya lagi merah marun bercampur kuning emas Ia membuka lembar pertamanya. Dapat ia lihat jika kertas itu sangat usang menandakan itu buku lama.. judul buku tersebut ‘TUJUH WANITA MULIA dan SEJARAH PERJALANAN RASULLULLAH DARI LAHIR SAMPAI WAFAT’


“untuk Rindu mii?” Tanya Rindu parau.


Umi Ira menganggukkan kepala. Ia memegang bahu Rindu. “Jika kamu ingin berubah. Kamu bisa mencontohkan akhlak Rasullullah kita, Nabi Muhammad SAW. Serta 7wanita mulia ini.”


Rindu menatap Umi Ira. “Terimakasih ya mii. Rindu udah dikasih buku dan diajarkan banyak tentang agama.” Jawab Rindu tulus.


“Nggak apa-apa. Kamu harus kuat ya.” ucap Umi Ira menyemangati. “ Udah. Kita makan dulu yuk. Udah siang ni, nanti kita ada agenda mengajar anak-anak membaca, kamu maukan bantu ummi?” Ucap Umi Ira.


Rindu menganggukkan kepala semangat.

__ADS_1


“Mau mii” Jawabnya.


“Yaudah. Ayok” Ucap Umi Ira. Ia menarik tangan Rindu unruk berdiri. Ia mengajak anak-anak untuk makan bersama.


Hari berjalan dengan indah menurut Rindu. Ia dikelilingi oleh bunga syurga, dan orang-orang yang tulus. Disana ia makan dengan bahagia, bercanda bersama anak-anak. Ia juga melaksanakan sholat dimasjid berjama’ah. Saat sudah sholat ia membantu mengajar anak-anak belajar bahasa inggris. Ia bahkan sudah kenal dengan seluruh anak panti. Anak panti menerima Rindu dengan sangat bahagia. sesekali dalam belajar Rindu mengajak mereka bermain game membuat mereka tambah betah bermain bersama Rindu. Berlari, melompat, lempar ini, itu. Semua dihiasai kebahagiaan yang tulus.


‘Bener kata Umi Ira. Dengan gue sakit. Gue banyak banget dapat arti kehidupan, gue dikasih malaikat beserta bunga syurga buat ngelilingi gue. bahkan gue dikasih kebahagiaan tiada tara. Terimakasih yaAllah atas nikmat yang kau berikan kepadaku.’ Ucap Rindu dalam Hati bersyukur.


Saat hari hampir sore membuat Rindu mau tak mau harus berpisah dengan. kebahagiaannya. Ia menatap anak-anak yang sedang belajar melukis. “Adik-adik. Kakak Rindu mau pergi kerja dulu ya.” Ucap Rindu.


“Ya. Kakak Rindu mau pulang, jadi nggak seru lagi dong.” Jawab salalh satu anak perempuan dengan murung.


“Seru dong. Besok kakak kesini lagi ya.” Bujuk Rindu sambil tersenyum.


“Beneran ya kak?” Jawab mereka serentak antusias.


“Yey.... kami mau belajar bahasa ingris lagi kak.” Sahut anak laki-laki semangat.


“Siap de. Kakak pergi dulu ya.” Tukas Rindu sambil tersenyum manis. “Sampai ketemu besok ya. Assalamu’alaikum.” Ucap Rindu.


“Waalaikumsalam kak. Hati-hati ya kak” Ucap Reyhan polos.


Rindu tersenyum menampakkan gigi gingsulnya, ia pergi menemui Umi Ira untuk berpamitan. Ia mencium punggung tangan Umi Ira lalu beranjak pergi.


Hari ini masih pukul 16:30 . Rindu harus sampai pukul 17:00. Untunglah ia sudah sholat besama dipanti, jadi ia bisa langsung masuk kerja.

__ADS_1


Rindu memesan ojek online, ia tiba tepat sebelum pertukaran shif. Ia menatap orang-orang yang baru ia temui. Jika dilihat dari wajah, Rindu paling muda diantara semua karyawan. Saat in i ada 3karyawan. 2perempuan dan 1laki-laki.


“Kamu karyawan baru ya?” Salah satu perempuan menyamperi Rindu yang hanya diam saja dari tadi. Rindu baru saja mengganti baju seragamnya.


Untunglah seragam Rindu ukuran XXL. Membuat tubuhnya tenggelam. Ia bagaikan anak kecil yang menggunakan baju orang dewasa. Tapi entah mengapa Rindu menyukai seragam kebesarannya. Ia menatap Perempuan didepannya. Perempuan itu lebih tinggi darinya. Wajahnya cantik, ada kumis tipis diwajahnya. “Iya mbak.” Jawab Rindu sopan.


Perempuan itu ber 'o' riaa. Ia mengulirkan tangannya untuk bersalaman. “Kenalin. Nama mbak Lena. Kamu panggil mbak Lena aja, soalnya kalo liat dari muka kamu, kamu masih muda banget.” Ucap Lena pelan.


Rindu tersenyum tipis. Ia menerima uluran tangan Lena. “Rindu kak.” Ujawab Rindu singkat.


“Nama kamu Rindu?” Tanya Lena. Rindu menganggukan kepalanya. Sampai suara cemprem membuyarkan semua obrolan.


“Hey.. kenapa masih disini?. Kalian saya gaji buat kerja, bukan ngerumpi...!” Bentanya.


Rindu terkejut akan hal itu. Ia menatap asal suara. Ternyata ia adalah Alice ketua Chaf di caffe ini. lena menunduk takut. “Ma maaf buk.” Jawab Lena gugup.


“Cepat kerja..!” Bentak Alice sambari berteriak. matanya seakan-akan ingin keluar menatap Rindu dan Lena.


Lena menarik tangan Rindu menjauh. Rindu hanya mengikuti langkah Lela. Ada tatapan sinis dari mata Alice menatap Rindu. Ia melihat baju Rindu.”Cihh. kenapa fia tambah imut memakai baju seperti itu.” Gumamnya marah. Iya, dia memang sengaja memberi Rindu baju ukuran XXL. Karena memang ingin mempermalukan Rindu yang dianggapnya ‘cantik’ ia takut jika ia kalah saing dengan Rindu..


Sedangkan Lena berhenti saat didepan meja. Ia melepaskan tangan mungil Rindu. “Dasar nenek lampir.” Umpatnya kesal.


Rindu terkekeh. Ia menepuk pundak Lena. “Sabar ya mbak.” Ucapnya lembut.


“Sabar mbak udah abis buat tu lampor.” Tukas Lena kesal.

__ADS_1


Rindu terkekeh. “Udah mbak. Rindu mau kedepan dulu ya mau kerja. Ntar kita kena marah lagi.” Rindu tersenyum dan beralu pergi.


klik 👍. masukkan komentar dan beri Vote. terimakasih yang mau mampir di cerita Rindu


__ADS_2