Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Cerita


__ADS_3

Disaat yang tak terduga, Disana juga Rindu mendapatkan hikmah yang luar biasa ketika sosok wanita cantik menghampirinya dan bertanya.”Dek.. dimana ya tempat jualan?” Tanyanya dengan nada lembut dan angunnya.


Rindu menatpnya dengan mengerjab polos.”Disini aja mbak kalo mau jualan..”Ujar Rindu dengan menunjukan arah sampingnya yang masih kosong disebela kanan sedangkan disebelah kiri sudah terisih dengan orang yang menjual cabe dan juga beberapa jenis sayuran lainya. “Soalnya nanti kalo jualnya disana nanti takut diusir sama petugas pasar..”Lanjutrnya Rindu sembari mengarahakan tempat yang arahnya ditempat didepanya. Disana memang sudah sering terjadi penggusuran karena mengganggu jalan, padahal banyak yang jualan disana karena katanya disana lebih laris. Mungkin karena akses orang yang baru masuk mungkin ya...


Perempuan cantik yang mngkin uurnya sektar 25tahun itu tersenyum menatap Rindu.”Oh yaudah.. makasih ya dikk... saya jualan disini saja kalo gitu.. saya numpang lapaknya sedikit ya,”Jawabnya dengan lembut dan sopan membuat Rindu tersenyum lalu menganguk saja.


Lalu Rindu kembali menatap kedepannya dan menatap orang yang lewat tapi belum membelikan daganganya. Mungkin karena masih pagi membuat pasar belum banyak orang. “Mas.. disini..!” Rindu mengalihkan pandanganya lagi kepada wanita cantik disampingnya tadi, wanita berambut panjang yang melambaikan tangan kearah hujung jalan itu dengan senyumnya. Rambut panjangnya bahkan bergoyang nampak dibelakang.


Rindu menajamkan penglihatannya karena masih gelap,, saat ia menajamkanya ia melihat sosok yang dipangilnya dengansl sebutan’Mas'ini yadi itu adalah sosok yang cukup berumur. Mungkin umurnya sudah 50 atau 60 tahun membuat ia tertegun. Siapa sosok itu? Jiwa kepo dalam diri manusia itu adalah hal yang wajar bukan?


Perempuan yang rambutnya sepinggang nan lurus itu tersenyum kepada sosok yang mendekat sembari membawa karung kehadapanya itu dan dibalas tak kalah manis dan tulus oleh sosok pria yang berumur dihadapanya itu. “Adek jualanya disini?” tanyanya lembut.


Perempuan itu nampak mengangguk sembari membantu pria itu menurunkan barangnya. “Iya mas. Kata si adeknya nanti disana itu digusur... jadi disini aja engak apa-apa..” Ujarnya lalu menatap Rindu yang menatapnya datar itu.” Maaf ya dek. Soalnya kami baru jualan disini. Baru kali ini nyoba karena katanya teman disini cukup laris jualanya.”Ujarnya dengan senyumnya.


Rindu yang mendengarnyapun mengangguk dan sedikit tersenyum.”Iya mbak nggak apa-apa. Lagipula disini memang rame dan cukup laris mbak. Soalnyakan disini pasarnya Cuma seminggu sekali.. jadi wajar lah ya.”Jawabnya Rindu membuat mereka tersenyum.


“Yaudah mas. Mari kita beresi dan susun barang kita.”Ujar wanita itu kepada pria berumur itu. Rindu hanya curi curi pandang saja. Sebab ia kepo tingkat akut kepada dua manusia lawa jenis itu. Apakah itu suaminya? Masa iya suaminya setua itu? Mana sudah berumur, putih sih, tapi kan akh sudahlah. Kalian tau lah ya.. rambutnya saja sudah memutih saat ini membuat Rindu tak yakin. Tapi apakah itu kakaknya? Atau ayahnya? Akh.. jika ayahnya masa iya dia memanggilya mas? Oh Rindu yakin.. Itu adalah kakaknya. Tapi kok tatapanya beda ya?


Rindu menggeleng kepalanya membuang pemikiran yang menghantui otaknya itu dengan cepat karena tak tau harus apa. Lalu ia kembali menatap keperempuan itu dan pria itu. Disana nampkak pria tu merapikan semua barangnya dan si perempuan hanya bantu menyusun dan juga duduk saja... sang pria sangat sibuk. Dan ternyata mereka menjual gula aren , ikan sungai yang diasap dan juga beberapa sayuran.. dan jenis anak ikan asin yang terbuat dari ikan sungai juga...


Setelah itu Rindu melihat pria yang berumur itu mencium kening perempan itu membuat rasa kekepoan akutnya menambah jadi. Ia tak bisa menahanya lagi.”Itu siapanya si mbak Rin?” Itu bukan Rindu. tapi orang yang jualan disampingnya Rindu. ibu-ibu yang jualan itu.


Rindu menatap ibu-bu itu. Memang ibunya tukang gosip sii disini. Rindu bukan orang yang suka ngegosip si membuat ia tak pernah ikut, jika ia ikut tandanya ia juga tak suka kepada orang itu. “Engak tau bu.”Jawab Rindu singkat dan jelas membuat ibu itu diam. karena Rindu memang dikenal orang yang cuek dan sombong. Mungkin karena ia yang jarang bicara jika tidak penting itu.

__ADS_1


Rindu melihat perempuan itu dengan sendu.”Mbak..”Pangilnya membuat perempuan itu menoleh kepada Rindu.”Mbak cantik banget. Mbak umurnya berapa?” Tanya Rindu jujur. Karena memang kulitnya sangat putih dan bersih meskipun sekarang masih pagi dan gelap. *** aura kecantikanya masih terpancar jelas.


Perempuan itu tersneyum kepada Rindu.”Umur saya masih 26tahun Dik..”Jawabnya lagi. Suaranya sangat sopan beda dengan suara Rindu yang bagaikan suara lelaki saja membuat Rindu cukup inseciur dengan suaranya.” Adik umurnya berapa? Kayaknya maish mudah ya.. masih kelas 1smp hehe."Ujarnya lagi jujur.


Rindu tersenyum dibuatnya. “Oh.. kiraan tadi umur mbak 24 atau 25 kak hehe. Kakak awet muda banget.”Jawab Rindu.”Dan umur Rindu masih 16 mbak. Udah kelas 2SMA. Bukan Smp hehe."Lanjut Rindu.


Perempuan itu membulatkan matanya beserta bibirnya membuat hurup o kecil.”Oh kirain kamu maish SMP. Soalnya muka kamu imut imut banget hehe..”Jawabnya dengan cengengesan. Karena memang Rindu masih imut. Ungkin faktor tinggi Rindu yang hanya 155 saja.


Rindu terkekeh.”Iya kak. Saya kalo beli sepatu juga gitu sama yang jual. Katanya saya masih kek anak SMP, “Jujur Rindu. “Btw mbak. tadi Kakaknya embak ya?” Tanya Rindu kepada mbaknya karena tak bisa membendung kekepoanya. Mau si nanya itu suaminya atau ayahnya. Tapi ia takut jika ucapanya dan pertanyanya salah dan itu akan menyingung sosok didepanya itu. mangkanya ia bertanya dengan alibih kakak saja.


Perempuan itu menatap Rindu dengan gelengan.”Pria tadi dek? Yang bantuin mbak?” Tanyanya lagi membuat Rindu mengangguk membenarkan. “Itu suami kakak dek hehe. Udah tua ya dek? “Tanyanya dengan kekehan manisnya.


Rindu mengerjab polos lalu menatap perempuan itu dengan diam.”Kenapa kaget ya hehe..”Ujar perempuan itu tanpa ada rasa malu atau pun rasa tak terima didirinya. Bahkan Rindu bisa melihat jika perempuan itu bangga akan apa yang ada didirinya.


Nampak si mbaknya itu menghela nafas. Tanpa Rindu sadari jika mereka belum berenalan nama. Mbaknya itu mengangguk.”Dulu mbak itu orang susah tau nggak dek.”Ujarnya membuat Rindu mengedip polos. sepertinya si mbak orang yang sangat terbuka sampek cerita.”Nanti kalo kamu nikah jangan kayak mbak ya dek. Cukup mbak aja yang rasain. Soalnya kamu nampak baik banget orangnya. udah mau bantuin mbak dapet lapak. Padahal kita belum kenal sama sekali. Disana aja tadi kakak nanya enggak ada yang mau jawab. Pada bilang itu lapak mereka dan mereka enggan berbagi.”Ujarnya sedih. Tadi ia memang sudah mencari lapak ditempat lain. namun hanya disini ia diterima.”Mungkin karena mbak orang baru kali ya.”Lanjutnya.


Rindu mengangguk. Memang kehidupan pasar tu keras. Jika kita enggak keras maka kita ditindas, mangkanya kalo orang pasar itu pada keras semua. Lalu kenapa rindu mau berbagi lapak? Itu karena pesan Umminya. Sebab katanya orang yang jualan dipasar itu bukan untuk memperkaya dirinya. Mereka hanya mencari makan untuk hari ini dan esok. Sama seperti mereka, jadi bantulah mereka maka Tuhan akan cukupi kebutuhan kita. sebab Allah maha melihat dan maha mengetahui. Jangan takut berbagi lapak dan takut dagangan tak habis dan disaingi. Sebab rezki Allah yang ngatur.


Entah dari mana dan bagaimana caranya jualan uminya Rindu selalu habis tanpa sisa, jikapun bersisa itu hanya sedikit saja. Biasanya jika bersisa maka Uminya akan berbagi dengan orang sekitar rumah yang tidak kepasar karena tak memiliki uang. Tak ada kerugian. Itu hanya keuntungan saja. Itulah rahmat Allah Swt.. karenanya.. kita harus serahkan semuanya kepada Allah ya...


Back.. Topic..


Mbaknya menatap Rindu dengan senduh. “Mbak dulu sudah menikah loh. Ini suami mbak yang kedua. Baru nikah lima tahun yang lalu.”Ujarnya membuat Rindu mendekat dan mendengar ceritanya. “Suami mbak yang pertama itu ganteng banget.. dan dia juga punya pekerjan yang tetap. Kebutuhan kami juga sangat bisa terpenuhi olehnya, bahkan kami punya mobil dan motor..”Lanjutnya membuat Rindu mengangguk.

__ADS_1


Mbaknya nampak menahan tangis, mata yang memerah. Rindu tak tau harus apa selain mendengar, sebab ia bukan penenang yang handal layaknya perempuan lain. “ Tapi ya itu. Mbak sama sekali enggak bahagia dik menikah dengan dia, dia suka mabuk-mabukan.. dia suka pukul mbak. setiap pulang mabuk dia pukul mbak dan maksa mbak buat berhubungan suami istri. Dan itu sakit banget dik. Dimana kamu dipukul dan dipaksa. Kamu bagaikan orang yang diperkosa saja.”Ujarnya dengan seraknya.


Rindu menatapnya nanar.” Dan lagi dia enggak bisa menerima kekurangan mbak yang dari orang yang bukan orang kaya. Jadi mbak selalu dihina dirumah, jika mau makek mobil disinggung’Kamu kalo engak nikah sama saya kamu engak bakal bisa punya mobil kek gini..’ Dan itu rasanya sakit banget dik. sakit banget. Sampek pada mbak enggak lagi tahan nikah sama dia. Dan kami cerai ketika pernikahan itu udah dua tahun. Dan embak udah lahirin anak mbak yang udah umur sembilan bulan waktu itu”Ujarnya lagi.


“Dan setelah itu mbak rasanya enggak mau nikah lagi tapi anak mbak butuh sosok ayah mbak enggak mau anak mbbak nggak punya ayah, dan mbak jga harus kerja. Mbak sebatang kara hidupnya buat mbak stres.. Tapi Allah bantu mbak. Seseorang yang udah dewasa datang. Memberi susu buat anak mbak. Memberi kami tempat buat bertedu.. sampek dia ngerlamar mbak dan mbak terima karena memang mbak butuh sandaran. Dan dia baik banget, bisa nerima mbak apa adanya.”Lanjutnya dengan senyum.


“Tadi. suami mbak orangnya. Dia udah tua tapi dia bisa ngehargain mbak. Mbak nikah sama dia udah 4tahun.. dan anak mbak sekarang udah umur lima tahun. Tapi dia sama sekali enggak pernah pukul mbak. Apapun yang mbak lakuin kalo salah dia engak pernah bentak mbak. Dia selalu bicara manis dan ngelus kepala mbak sayang. Dia sosok yang sangat lembut dan baik. meskipun kami enggak punya mobil dan juga barang mewah sekalipun tapi hidup kami bahagia banget. Anak mbak dia terima, bahkan anak mbak sangat sayang sama dia. Anak mbak lebih syaang dia dari pada mbak lucunya hehe.”Ujarnya terkekeh sembari menghapus air matanya.


Rindu mengerjab mendengarnya” Kemana papanya pergi dia mau ikut. Kami punya sepetak kebun juga. Dan dia enggak pernah nyuru saya terlalu kerja. Mbak kerjapun bukan karena dia yang nyuru tapi karena mbak bosen dirumah. soalnya anak mbak suka main kerumah neneknya rumah mertua mbak. Mertua mbak juga baik banget, mbak dan anak mbak diterima banget sama mereka. Mereka sayang banget sama anak mbak. Bahkan mereka nggak pernah ngungkit masa lalu mbak atau anak mbak itu bukan anak suami mbak. Mereka baik banget sampek mbak ngerasa hidup mbak sekarang bahagia banget. Allah baik banget ya sama mbak. Sampek suami mbak sekarang udah nyimpen uang dibank buat biaya anak mbak nanti sekolah kalo kalo dia udah meninggal..”Lanjutnya lagi.


Rindu yang mendengarnya ikut menitihkan air mata, sebab cerita ini sedih dimata Rindu. lalu ia dikejutkan dengan sosok ibu-ibu yang jualan disampingnya tadi.”Memang benar ya bund. Saya tu juga gitu. Suami saya pertama itu kayak bule gantengnya. Tapi akhlaknya Nauzubillah. sampek saya dipukul kek binatang. Sampek kami cere tau nggak.”Sahutnya. ternyata dia nguping sedari tadi membuat Rindu mengerjab menatapnya.


Ibu ibu itu menghapus ingusnya. “ Saya cerai sama dia dan nikah sama suami saya yang sekarang itu. Suami saya itu item banget, Cuma mata dan giginya aja yang putih. Tapi ya itu...dia beda benget sama suami saya yang pertama. Dia enggak pernah bolehin saya jualan, padahalkan lumayan uangnya. Saya disayang banget dan dihargain meskipun dia pendek, bulet dan hitam. Tapi sengaknya saya jauh lebih bahagia saya dia...”lanjutnya lagi dengan semangat menceritakannya.


“Iya.. bener Bund. Nikah itu kalo pertama memang mandang fisik ya. Tapi kalo udah nikah dan ngerasain semua kayak kita. pasti nyesel dan nikah keduanya pasti cari yang biasa yang penting baik dan pengertian...”Lanjutnya mbak yang cantik itu..


“Mangkanya ya... kalo saya ketemu sama manta suami saya tu rasanya mau saya timpuk pakek batu bata. Masa saya disuruh kerja kalo mau makan. Padahalkan dia suami, dia padahal kerja banyak uang, tapi dia malah ngasih saya setengah gaji aja. Dan setengah gajinya ternyata buat selingkuhanya. Saya disuruh cari uang lagi buat nambah uang dapur. Kan enggak ada ahlak suami saya.”


“Mangkanya saya ajak dia cerek pas dia ketahuan selingku dari saya. Saya enggak tahan makan batin dan juga nguras air mata. Jujur aja ya. Saya nikah mau bahagia bukan menderita kayak gitu. Untungnya pas tu kami belom punya anak jadi saya bisa bebas dan enggak ada hapngan buat cerek sama dia. Dan sekarang saya nikah udah punya dua anak... meskipun mereka item kayak bapaknya senggaknya mereka bisa bangain akhlak dan kasih sayang bapaknya kepada anak lain.”Lanjutnya lagi.


Dan disitu Rindu terdiam. Sangat sangat terdiam dan ditimpah balok beton. Seakan disadarkan dengan kenyataan. Bahwasanya menikah dengan memandang fisik saja itu akan membuat kita menyesal dikemudian, menikah juga sangat berpengaruh pada anak kita, dimana anak tak akan bisa hanya memangakan fisik papanya. Anak butuh kebahagiaan dan kehangatan, sama dengan hati. ketika fisik saja yang dilihat. Maka hidup tak akan bahagia. meksipun ia kaya raya sekalipun tapi ia tak bisa menghargai pasanganya. Maka hati kita yang jadi tarhannya. Ketika suami tak dapat menghargai dna menghormati kita. maka kita bukan menjadi istri. Tapi binatang saja.. binatang yang meminta kasih hani.


Dan disinilah Rindu belajar. Jika yang tampan dan kaya saja tak selalu bisa membuat kamu bahagia. dan yang jelek tak selalu membuat hidup kamu berduka. Sebab jika sudah menjalankanya, disitulah kita bisa menghargai siapa yang berharga dan siapa yang sampah.

__ADS_1


(catatan. Ini kisahnyya nyata ya.. ini kisah author pas.. Jadi semoga dapet pelajaran)


__ADS_2