Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Kiblad


__ADS_3

Tak butuh lama Rindu sudah menghabiskan makananya tanpa sisa. Ia hanya menyisahkan minuman mineralnya saja. “Kau rakus sekali menjadi perempuan. Jika makan didepan umum, kau harus menyisahkanya sedikit . kau tak tau etika perempuan ternyata.” Cibir Habib lagi.


Rindu tau itu. Katanya etika perempuan itu harus lembut dengan menyisahkan makanan jika ditempat umum.”Diluar sana banyak yang makan nasi basi dan sisa makanan orang lain. Lantas, saya yang diberi berkah dari Allah mau menyia-nyiakannya saja. Jika besok tuan tak berbaik hati dan tak memberi saya makan, maka saya akan menyesal tak menghabisi makanan saya.” Rindu meletakkan pelastik kotor itu lalu mengumpulkan piring kotor. “Menyisahkan makanan itu sama saja dengan memberi makanan setan, bisa jadi makanan yang saya tingalkan itu adalah makanan yang diberkahi Allah, jadi saya hanya mau berterimakasih dengan rahmat Allah dengan cara menghabiskannya.”


“Tapi makan terlalu kenyang itu adalah temanya setan.” Sahut Filos membuat Rindu mengangkatkan kepalanya menatap Filos.


Ternyata Filos tau ajaran agama membuat Rindu tersenyum.” Maka dari itu Rasullulah menyuruh kita makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Biasakan makan dengan porsi kita, jangan pakai nafsu. Karena nafsu itu hanya sebatas tenggorokan.”


“Tapi tapi kau pasti kekenyangan. Berati kau temanya setan.” Ucap Habib menyelonong.


“Kata siapa saya kekenyangan? Kau tau? Saya belum makan sedari kemarin, saat aku kerumahmu. Jadi aku sangat lapar. Ini saja aku belum kenyang.” Ucap Rindu lalu bangkit dengan elastik kotor dan tupperware yang sudah tak bersi..


Habib diam. ia baru sadar jika semalam ia tak menanyakan Rindu sudah makan atau belum makan apa blum. Ahh, ia merasa bersalah.


“Tugas saya sudah selesai. Saya akan kembali kerumah, terimakasih tuan atas makananya. Assalamu’alaikum.” Ia melangkah keluar dengan bawanya tanpa peduli Habib yang diam. hanya fIlos yang menjawab salam.


Habib meihat sisa mineral Rindu membuat ia mengambilnya lalu meneguknya. “Ahhh.... “ Ia tersenyum membayangkan jika ia ciuman tidak langsung dengan Rindu.


“Itu bekas nona Rindu tuan.” Ucap Flos sedikit mengerut.


“Tidak apa-apa memang aku yang mau. biar aku bisa merasakan bibirnya,” Ia terkikik geli sendiri bagaikan orang gila.


“Tapi tuan. Nona Rindu tadi minumnya dengan sedotan, dan ia sudah membuang sedotanya, berarti tidak ada ciuman.” Jelas Filos. Filos mau ngakak.


Datar wajah Habib. Ia malu ketahuan Flos dan malu jika tak jadi ciuman. Ahh, dasar Habib membuat Filos geleng geleng. Tapi semuanya berakhir tegang ketika Sara Rindu kembali.


"Ehmmmm... Saya mau bertanya." Ucapnya. Yaaa, dia sedari tadi ada didepan pintu mendengarkan ucapan Habib.


Habib memerah malu. "Ehmm. Ada apa?" Tanyanya sedikit galak.


"Annuu. Disini nggak ada mushola kah? Soalnya saya mau sholat..." Jelas Rindu tak mau Memperpanjang masalah Habib.


Habib melirik Filos dengan raut tanda tanya. sedangkan Filos menggaruk tengkuk tak gatal, tak tau harus jawab apa.


"Saya tidak tau...." Jawab Habib sedikit meringis.


"Haa?" Rindu rada bengong. "Bapak sholat biasanya dimana?"


"it it itu. Saya sering sholat disini... Yaa dikantor saya sendiri, Disinikan ada kamar pribadi saya, Jadi saya tidak pernah kemusholah..." Ellah Habib semangat.


"Kalo begitu saya bisa numpang sholat boleh pak? Soalnya sekarang udah mau lewat jam 1


..." Rindu sebenarnya tal mau pamer, tapi memang rindu tidak pernah lalai sejauh ini untuk melaksanakan sholat.


Habib mengangguk." Boleh, Kamu masuk aja pintu itu. Disana ada toilet juga...." melirik pintu coklat yang ada disana.


Rindu tersenyum sedikit. "Terimkasih...." Gumamnya. Sebenarnya dia mau nanya Habib tidak sholat kah? Tapi takut jika pertanyaanya menyinggung. Ini baru hari pertamanya kerja. Jadi ia memilih masuk ruangan itu saja.


Tapi saat mau membuka pintu itu, Rindu teringat sesuatu. Ia membalikkan tubuhnya lagi untuk bertanya. "Saya boleh bertanya lagi?"


Habib meradang tolong jangan tanya hal lain lagi.... "Mau tanya apa?" Tanyanya senyum kecut. Takut pertanyaan Rindu tak bisa dijawabkan malu.


"Kiblatnya dimna ya Tuan?"


Pertanyaan segampang itu membuat Habib mendadak diam. Ia tak pernah melaksanakan sholat, tak pernah sekalipun. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia melaksanakn sholat dan mengaji.


Ia ingat saat kecil, ia sangat semangat belajar mengaji bersama gurunya, Iqro' Adalah sahabatnya. Tapi semenjak kenal dengan Handphone dan dunia luar. Ia lupa dengan semua itu. Ia bahkan tak lagi menjamah Al-Qur'an ataupun Iqro'. Sebenarnya Habib tak bisa membaca Al-Qur'an karena dulu ia hanya belajar sampai Iqro' 4 namun terhenti ketika dikasih alat canggi berbentuk pipi dari orang tuanya.

__ADS_1


Habib memandang Filos yang juga diam. Filos juga sama dengan Habib. Ia juga tak pernah melaksanakan sholat. Habib melotot meminta jawaban tapi tak kunjung dijawab oleh Filos.


Mau jawab apa?


"Kiblatnya disana...!" itu jawaban dari Habib sekaligus Filos. Namun jawaban yang sangat kacau. Habib menunjuk arah selatan dan Filos keutara membuat mereka melirik satu sama lain.


Habib melototi Filos karena jawaban yang salah. "Disana..." Jawaban mereka kembali berlawanan. Yang Filos menunjukan arah dimana Habib tujuh tadi dan Habib menunjukan arah dituju oleh Filos tadi.


Rindu bingung dengan mereka. Apa lagi saat melihat Habib dan Filos mulai ribut memperebutkan yang benar.


"Kiblatnya disana...!" Ucap Habib melototi Filos supaya tidak bertindak lagi.


"Ya tuan..." Jawab Filos takut. Karena dua kali melakukan kesalahan.


"Jadi?" Tanya Rindu pada Habib.


"Yaa disana yang benar..." Ia melirik utara


Rindu mengangguk "Terimakasih. " Jawabnya ragu. Ragu jawaban Habib. Tapi ia memilih diam saja. lebih baik ia lihat kompas dihandphone saja nanti.... Ia mulai.masuk lalu meninggalkan Habib dan Filos yang perang dingin.


Habib menghempuskan nafas kesal. Lagi dan lagi dia melakukan kesalahan dihadapan Rindu. Bagaimana bisa mencuri hatinya jika begini? Ahhhh. Ia mengantukkan keplanya beberapa kali keatas meja...


Pagi tadi perut buncit, terus masalah masakan dan sekarang kiblat. "Filoss.... Gajimu ku potong bulan ini....!"


Apa yang Rindu pikir tentang dirinya nanti?


Salahkah Filos?


...


Skip...


Rindu memasuki ruang makan yang sudah ada semua orang termasuk Habib disana. Memang kebiasaan keluarga Holmas yang jika makan malam harus bersama. Karenanya mereka selalu berkumpul dijam makan malam.


“Wahhh. Ini harum sekali Rindu.” Ucap Panji melihat Rindu yang membawa mangok bening besar yang berisi sop ayam.


Rindu hanya tersenyum, “Pencitraan dia pi. Tadi mami suruh dia masak buat mami dia ngak mau, kalo ada Habib dan Papi baru aja mau masak.” Ketus Nina. Seprtinya ia masih marah...


“Baru tau mami? Nay udah tau lama memang.” Sahut Naya semangat.


Panji dan Habib menatap Rindu tak suka. Karena mereka tau jika Nina tak suka berbohong. Bisa dikatakan jika Nina itu polos meski sudah berumur.” Bener Rindu?” Tanya Panji tak suka.


Rindu menganguk. Ia meletakkan sop itu tanpa takut. “Saya bukan pencitraan atau mau mengambil hati kalian. Saya hanya menjalankan tugas saya dengan kesepakatan saya dan tuan Habib. Saya hanya ditugaskan menjadi pelayan pribadinya saja, bukan pembantu dirumah ini.” Jelasnya tegas.


“Lalu mengapa kau masak seperti ini jika hanya untuk Habib. Tadi kusuruh kau tak mau.?” Tanya Nina sewot.


Rindu tersenyum melihat Nina.” Karena tuan Habib memintaku memasak sop ayam tadi. Jadi saya masak untuk tuan Habib, tapi jika saya pikir-pikir, nanti pasti Tuan dan Nyonya juga mau dan akan mengatakan saya pilih kasih, jadi saya buat banyak saja sekaligus.”


“Jadi karena Habib yang minta kamu masak? Berarti jika Habib tak minta kamu masak, kamu tidak masak?” Tanya Panji.


“Iya. Saya tidak serajin yang tuan pikirkan.” Jelas Rindu tak segan.


“Jujur sekali.” Gumam Panji tak jelas.


Sedangkan Habib geleng-geleng. Rindu masuk kedapur setelahnya. Ia tak mau lagi berdebat. Tapi ia bisa mendengar Samar-samar jika Panji membujuk Habib untuk selalu memerintahkan Rindu masak setiap malam, katanya masakan Rindu sangat enak. Ia bahkan membujuk dengan memberi apapun yang Habib mau asalkan Habib selalu menyuruh Rindu masak membuat Rindu mengeleng.


....

__ADS_1


“Nayla.. kamu mau kemana?” Tanya Panji saat melihat Nayla mau pergi menggunakan baju yang sangat sexy, memperlihatkan bahu putihnya, sedangkan rok yang ia kenakan sekilan diatas lutut memperlihatkan kaki jenjangnya.


Nayla gelagapan.” In ini. Nayla mau pergi bikin tugas pi. Ya Nayla bikin tugas dirumah Vera.” Je;lasnya sedikit terbata bata.


Panji mendengus tak suka..” Papi ngak percaya. Bikin tugas dirumah saja.”


“Ya pi. Nayla nggak bohong pi. Nay udah beli bukunya untuk bikin tugas, tapi dibuku ini nggak lengkap pi. Ayolah pi, Nay mau kerumah Vera, Nay mau bikin tugas.”


“Kamu kira papi bodoh? Sudah bikin tugas kamu pasti keclubing bukan? Papi kan sudah ingatin kamu, jangan berteman lagi dengan Vera ataupun Susan itu. Mereka itu pengaruh buruk buat kamu Nay, mereka itu hanya manfaatin kamu.”


“Papi tu selalu gini. Mereka itu temen aku udah dari SD pi, nggak mungkin kayak gitu. Dasar papinya aja yang selau berfikiran jelek sama mereka. Udah lah pi. Aku mau pergi bikin tugas, kalo pun aku keclub. Aku Cuma mau main kok, Cuma mau refresing buat ngilangin sumpek karena tugas.”


“Pergi aja. Selangkah keluar rumah, maka satu persatu fasilitas kamu papi cabut. Hitung aja berapa langkah kamu berjalan.” Panji berjalan melewati Nayla yang memohon.


Peristiwa itu disaksikan oleh Rindu. ia jadi ingat abinya dulu yang selalu melarangnya main dengan Diva dan Meme, tapi ia masih saja ngotot dan mau main dan lindungi mereka. Ahh, bodoh sekali kau Rindu.


“Seneng lo liatin gue kena omel papi?” Nayla membuat Rindu terkejut dari lamunanya. karena Nayla tak jadi pergi.


Rindu mengeleng. “Gue tau lo seneng. Atau lo mau sok nasehatin gue kayak malem kemaren? Sok yes? Sok bijak dan sok bisa semuanya? Taikkk lo tu tau ngak...!” ketus Nayla.


Rindu menatap Nayla dengan mengerutkan keningnya.” Gue Cuma inget sama diri gue sendiri. Bukan sama diri loe.


“Maksud lo? Lo mau nyamain diri loe sama gue? ngimpi aja lo sono. Jangankan sama dengan lo, jadi temen lo aja gue oggah..!” Ketusnya lagi.


“Gue nggak nyamain diri lo sama gue. tapi gue Cuma inget kalo dulu gue juga pernah nggak denger nasehat orang tua gue yang ngelarang gue temenan sama temen gue. gue ama lo jelas beda lah.” Ketus Rindu.


“Lo anak manja yang nggak bisa terima kejahatan orang lain disekeliling lo, sedangkan gue pura pura ngak peduli dan pura-pura ngak peka akan kejahatan disekitar gue. sampek gue sadar kalo sebenarnya gue kejerumus sama kebusukan temen gue. untung Tuhan masih sayang sama gue.”


“Lo curhat sama gue?” Tanya Nayla memotong.


Rindu diam sesaat.” Gue Cuma mau ngasih tau. Dulu gue keluar dari tim inti paskibra demi temen gue. kata temen gue, mereka nggak suka gue masuk paskibra, karena waktu gue banyak kemakan karena latihan paskibra, mereka juga nggak mau main lagi sama gue karena setiap jum’at, sabtu dan senin waktu gue sia-sia dipaskibraka, katanya gue tu b*go, mau panas-panasan demi ngibar bendera, dan latihan yang ngak dikasih apa-apa sama sekolah. “


“Dan gue baru sadar kalo sebenernya kalo mereka ngak ngebolehin gue paskibra itu karena ngak mau gue populer dan dikagumin banyak orang. Dan bodohnya dulu gue percaya sampek gue mau-mau aja keluar dari paskibra ditim inti. Padahal ratusan orang mau jadi tim ini.”Rindu terkekeh sebntar mengingat masa-masa dia, Diva dan Meme.


“Sudah gue keluar tim inti kacau dan pada ahirnya gue dibilang nggak tangung jawab sama sekolah. Setelahnya gue ditawarin buat daftar jadi ketua osis. Ya gue nurut aja, so, gue suka sama hal yang menantang.”


“Tapi lagi-lagi gue dijahuin, katanya gue udah nggak asyik, selalu mikirin osis dan osis sampek nggak bisa lagi hang out dan juga sekedar makan dikantin. Gue selalu sibuk dipanitia dan juga gue selalu sibuk diruang guru, Mereka minta gue undur diri dari ketua osis. Tentunya gue noak, karena itu udah jadi tangung jawab gue. mereka marah dan bilang gue egois. Sampek-sampek gue kelimpuyengan buat bisa jadi ketua osis sekaligus jadi temen mereka sampek jabatan gue berhenti. Dan pada kenyatanya mereka bukan marah sama gue yang nggak punya waktu. Tapi karena gue sekalian dikenalin dan mereka terasa jadi remang-remang rengginang.” Rindu tertawa mengingatnya lagi .


Entah mengapa Nayla tertarik mendengar cerita Rindu.” Terus ?” Tanyanya tak sadar.


”Gue punya pacar, dan mereka nggak punya, gue disuruh putus karena solidaritas. Padahal gue sayang banget sama pacar gue. tapi karena temen, gue rela Bestrit, pacaran diem-diem biar mereka ngak sakit hati. Dan pada kenyatanya bukan karena mereka ngerasa solidaritas, tapi karena mereka suka sama pacar gue. dan bodohnya gue sadar semua hal itu saat semua hal udah terjadi. Gue diem Pura pura nggak tau apa yang terjadi. Gue baru sadar kejadian Paskibra, Osis dan sebagainya dan gue sadar mereka nggak baik, tapi semakin lama semakin menjadi ngebuat mereka iri dan mau ngehancurin hidup gue.” Jelas Rindu menatap Nayla yang masih diam.


“Initinya gue ngak ngajak lo dengerin curhat gue. Gue Cuma nggak mau loe ngerasain apa yang gue rasain. Soalnya nggak semua orang bisa dikasih kesempatan kayak gue. jadi coba loe fikir hidup lo dan temen-temen lo. Lo serapin apa kata orang tua Lo, orang tua Lo itu udah banyak makan garem, jadi udah banyak pengetahuanya dari pada Lo. Sebelum terlambat. So, kalo nasi udah jadi bubur, udah nggak bisa diperbaikin.”


“Dulu gue pernah bilang. Kalo nasi udah jadi bubur, bisa gue ubah jadi bubur enak aja sekalian. Gue tinggal kasih rempah santen garem dan juga bumbu lain. Emang enak dan bisa dimakan. Tapi pada kenyataanya bubur itu memang enak, tapi sayangnyakan tujuannya pertama adalah masak nasi bukan bubur, dan bubur itu udah ngak bisa jadi nasi.”


“Jadi, pikir baik-baik pengalaman gue.” Rindu pergi kedapur memenuhi perintah Habib yang menyuruhnya membuat teh.


Nayla diam. Bengong. Ia mengerjab tak mengerti. Ia ingat jika teman-temanya yang memperlakukanya. Ia menggeleng.” Kok gue dengerin udia ya?”


“Tapi tadi dia ngomong sama gue pakek ‘gue elo’ Cih dasar pembantu kurang ajar....” Gurirunya kesal.


“Tapi ada benernya ucaanya ya.” Ia mengusap kepalanya pusing.” Au ahh gelap. Mending gue bikin tugas, besok kumpulnya lagi. Minta bantuan abang aja kali ya.” Ia pun berkalan menuju kamarnya untuk mengambil Laptop dan buku.


Tentunya ucapan Rindu mrngelilingi otaknya..


...

__ADS_1


like. Komen And vote yaaa hehe


__ADS_2