
“ Kamu dulu deketkan sama Rindu? Rindu beneran bunuh selingkuhan pacarnya ya?”
Bukan hanya Rindu saja yang berhenti makan, namun Habib juga berhenti makan lalu menatap asal pembicara itu. Tanganya mengepal tanpa diminta. Sedangkan Rindu hanya Diam tak bersuara. Arma dan Filos? Mereka diam tak tau harus bereskpresi seperti apa. Lagipula apakah yang dibicarakan oleh dua orang itu adalah Rindu didepan mereka?
Disana nampak Vivi mengeleng lemah.” Rindu tidak pernah pacaran. Jikapun iya pacaran, aku yakin dia akan cerita padaku atau Gevan. Lagipula Rindu memang keras dan dingin. Tapi dia tak sejahat itu, dia adalah perempuan terbaik yang aku temui.” Ujar Vivi memelas.
“Kau mengatakan itu karena kau temannya saja bukan?” Tanya temanya sinis. Ia bahkan menjatuhkan sendoknya keras membuat dentingan piringnya menjadi keras. Gadis berpenampilan keren itu. Iya keren, dia staylis sekali meskipun ia tak.menggunakan baju ketat.
Vivi mengeleng tegas.” Dia memang temanku. Bahkan teman terbaikku. Jadi jangan bicara jelek tentangnya...!! Kau jangan sok tau apa yang kau tak tau. Jika berani kau bicara yang jelek tentang Rindu. maka aku ku potong lidahmu itu..!”! Bentak Vivi keras dengan memukul meja itu keras.
Gadis yang tak lain bernama Mona itupun mendesis.” Kau terlalu berlebihan. Jika dia baik, dia tidak mungkin dikeluarkan dari kampus, jadi jangan berlebihan Vivi. Sekarang itu aku temanmu, bukan Rindu. jadi berhenti membanggakan dia..!!” Ujar Mona sinis lalu mengabil tasnya. Ia pergi meninggalkan Vivi yang diam saja.
Vivi diam meremas jari-jarinya. Air matanya jatuh karena bersedih.” Kamu kemana sii Rin? Aku kangen banget sama kamu, kamu yang selalu lindung aku dan kamu yang selalu diem kalo aku ajak gibah.” Ia menghapuskan air matanya.” Baru kali ini aku dapet cewek nggak doyan gibah, tapi kamu malah pergi ninggalin aku sama manusia tukang gibah. Mana aku hobby kagi. Jadi ya gini hikshiks..!!” Ujarnya menangis lagi.
Rindu terkekeh mendnegar ucapan Vivi. Ada-ada saja. Memang benar, Rindu tak suka menghibahi orang. Bukan tak suka, hanya saja ia tak mau berghibah tentang aib orang lain. sebenarnya ia selalu mengambarkan dirinya,diposisi orang yang ingin digibahinya. Kita tidak ada disposisi orang yang menurut kita buruk. Tak pernah tau dan tak akan tau apa-apa, mata beda dengan fungsi telinga, dan seluruh fungsi tubuh berbeda dengan pungsi perasaan dan hati. Jadi begitulah manusia, semua tempat beda dan semuanya memiliki sisi lain-lain. jangan mendengar tanpa melihat dan jangan melihat tanpa mendengar, dan jangan menyebar meski mendengar dan melihat. Sebab kita tak akan mampu merasakan dan mendengarkan kata hati dan fikiran orang lain. kita manuisa biasa yang hanya mampu meilat sesuatu yang berbentuk. Hanya Tuhan yang mampu mengegenggam hati. jadi berhenti membicarakan kejelekan orang lain. sebab kita tidak ada diposoisinya,jika kita masih saja suka menjelekkan orang lain, cobalah bayangkan diri kita ada diposisinya. Mungkin kita bakal melakukan suatu hal sama.
__ADS_1
Rindu bangkit dari duduknya lalu nemeluk Vivi dari belakang. “Gue juga rindu banget sama loe Vi..!!” Ujarnya menangis dalam diam. ia juga merindukan Vivi sii gadis manja ini. ia bersyukur. Ternyata ia maish punya teman dan seorang sahabat.
Vvi menegang. “ Rin Rindu. ini kamu? Ini ngak Cuma halusinasikan?” Gumamknya menepuk pelan pipinya.
Rindu terkekeh pelan.” Ini gue Rindu..!”! Ujar Rindu tersenyum lembut.
“Tapi kenapa loe tutup muka loe Rim? Loe enggak berubah jadi monyongkan ? atau muka loe jerawatan? Atau muka loe jadi buruk rupa makanya loe malu buka muka loe?” Tanyanya berurutan.” Tapi gue neggk peduli. Yang penting kita ketemu kyakk..!”! Lanjutnya lagi lalu memeluk Rindu lebih erat. Rindu bahkan merasakan pasokan udaranya menipis akibat pelukan itu terlalu erat.
“Loe kangen, kangen aja kali. Nggak usah bunuh gue lewat pelukan gini..!”! Ujar Rindu sesak.
“Ih Rindu. aku tu kangen tauk !” Ujar Vivi melepaskan pelukannya. “Kamu kemana aja si? Nggak pernah ketemuin aku, kamu mau ketemu Gevan tapi sama aku enggak. Kamu jahat tau..!” ujarnya manja. Ya.. kalian tak lupakan sikapnya Vivi?
Rindu mengawil bibir Vivi.” Ih bawelnya ngak ngurang ya.. malah nambah..!” Ujarnya gemes lalu duduk dikursinya Vivi, tepatnya disamping Vivi makan tadi.
Vivi mencibir.” Kamu kesini sama siapa?” Tanya Vivi kepada Rindu. ia sebenarnya risih melihat Rindu menggunakan Niqob. Sebenarnya ia tau tentang cadar. Dan dia memiliki agama Kristen. Dengan agamanya yang berbeda tak membuat Rindu menjauhinya atau membeda bedakan mereka.
__ADS_1
Jika dulu saat mereka bersama. Saat Rindu ingin sholat. Maka Vivi menemaninya diluar masjid dengan sabarnya, mendengarkan ucapan Rindu dan juga cerama Rindu. begitu juga Rindu. Rindu pernah menemaninya pergi kegreja dan juga tak mengungkit perbedaan yang ada. Sebab diagamanya dan diagamanya tak ada perselisihan tentang suatu kebaikan bukan? Semua agama sama, sama sama amengajarkan suatu aturan suatu larangan dan suatu kebaikan. Hanya itu yang diyakini oleh Rindu dan Vivi.
Tapi dulu..
“Oh iya lupa. Aku sama bos aku. Dia ada disana.. disana juga ada Filos sama mbak Arma..!” Ujar Rindu mengarahkan ibu jarinya kearah Habib dan lainnya. Yang ditunjuk dan dibicarakan menatap memeka juga. Mereka tersenyum lembut.
“Astaga.. Oppa..!!” Pekik Vivi kencang lalu memukul bibirnya pelan karena keceplosan. Lalu terseyum canggung pada Rindu. “Ehg ngomong ngomong, kamu kemana aj sii selama ini? pergi kemana aja, kenapa hp kamu egak aktif lagi?” Tanyanya berunyun menghalau pertanayaan dan kekaguman tentang Habib.
“Ceritanya panjang Vi. Tapi yang pentinga ku sehatkan...” Ujar Rindu tersenyum manis an tulus membuat Vivi mencebik.
“Iya in...!! Tapi aku rindu banget sama Rindu. rindu serindu rindunya, nggak ada yang bakal jadi pelindung aku kalo ada yang minta nomor telepon aku..!” Ujarnya kesal. Karena dulu memang jika bersama Rindu. mereka harus pikir dua kali jika ingin mengganggu Vivi.
Rindu terkekeh saja tak tau harus jawab apa. Bohong sekali jika ia tak merindukan mereka. Apalagi Gevan. Ia merindukan Gevan yang jahil dan humoris, Vivi yang manja dan kelasnya yang apatis. Ada rasa rindu tersendiri dihatinya.
Sedangkan Hbaib tersenyum lembut disana. “Nyatanya kamu orang baik Rin..” Gumamnya pelan. Ia mendengar ucapan Vivi tadi, dan ia yakin jika memang Rindu itu sosok yang sempurna, jadi tak sia-sia jika ia berjuang dan berusaha supaya mereka bersatu. Akhhh memikir hal itu membuat Habib mau cepat cepat hafal Al-Qur’an. Semoga jodoh ya Habib..
__ADS_1
Sedangkan Vivi dan Rindu mengobrol tanpa jeda. Kebanyakan berisih tentang Gevan yang selalu belajar karate karena Rundu yang menyuruh. Dan ternyata oh ternyata Vivi sekarang jatuh cnta pada Gevan membuat pembahasan smeakin lama semakin seru dan membuat Rindu lupa, jika tiga nyawa sedang me nunggunya,
Vivi juga senang. Karena Rindu sangat hangat dan baik sekarang, tak sedingin dulu dan sekaku dulu. Rindu sekarang sangat haik dan ramah. Mendengar semua masalahnya dan umpatan untuk orang ia benci. Rindu tak suka menyela pembicaraan. Meskipun ia melakukan kesalahan sekakipun. Rindu terlalu sempurna untuk hidup dimuka bumi..!!