
“Assalau’alaikum...” semua mengalihkan pandangan pada gadis cantik yang baru turun dari tangga. Gamis panjang menutupi seluruh tubuhnya berwarna ping bunga bunga. Jilbab abu-abu senada dengan corak bunga disana. Ia tersenyum manis menatap keluarganya.
Dia Ify.
Salam yang sangat jarang diucapan oleh keluarga Hollmast itu membuat semua orang menatap sang empu.
Rindu melihat itu tersenym manis. Ia bahagia, ternyata ia berguna dimuka bumi ini. ify yang melihat Rindu tertawa sembari menangis sekarang menghampiri Rindu lalu memeluknya.
Ify memeluk Rindu dengan sayang, sedangkan Rindu masih dengan rasa harunya melihat Ify. “Makasih ya Rindu.. karena kamu aku bisa kenal hijab sesungguhnya. Bantu aku ya buat selalu istiqoma..” Ujarnya sembari menangis dipunggung Rindu. ia menengelamkan wajahnya dijilbab hitam Rindu.
Rindu membalas peukan Ify lebih lembut.” Aku selalu dukung kamu kok.. Aku akan selalu doa’in kamu kok, semoga semakin menjadi sholeha dikedepan hari ya..” Ujar Rindu tak tau harus menjawab apa.
“Ihh. Ade gue cantik banget pakek jilbab ya..” Dilan menggeleng dengan rasa kagum. wajah Ify itu bulat membuat jilbabnya sangat pas ia gunakan, belum lagi dagunya yang terbela membuat pesonanya semakin mencuar. Ahhh, bahkan Rindu kalah dengannya. Rindu tau itu..
“Iya... Anak Daddy makin cantik. Sini peluk Daddy juga..” Ujar Hendrawan melentangkan tanganya. Ia berdiri dari duduknya dan menatap anaknya lembut. ify yang melihat itu langsung menghampiri ayahnya dan membenamkan wajahnya didada bidang Hendrawan. Dada yang nyaman dan juga hangat, tempat ia bersandar selama “Maafin Daddy ya sayang. Daddy gagal jadi ayah kamu, Deddy enggak pernah ajar kamu agama..” Ujar Hendrawan menangis. Ia malu, ia malu pada dunia, malu pada Rindu dan keluarganya.
Hal yang paling gagal adalah ayah yang tak mengajarkan agama untuk keluarganya, ia adalah pemimpin yang seharusnya menghantarkan dan menujukan jalan yang benar untuk keluarganya. Tapi ini? ia hanya mengajarkan tentang uang.. uang.. uang dan dunia.. tak ada yang lain, ia bahkan tak peduli agama itu seperti apa, yang penting ia punya agama. Hanya yang penting saja..
Ia memang memenuhi nafkah fisik untuk keluarganya. Tapi ia tak memenuhi nafkah batin yang sedungguhnya. Ia terlalu kaya dalam uang namun miskin dalam pengetahuan...
“Dad nggak gagal kok. Kita sama-sama gagal. Kita bakal mulai hidup yang baru dan mulai belajar sama-sama Dad..” Ujar Ify melepaskan pelukannya. Ia mengelus pipi ayahnya lembut.
Sarah melihat bitu tak dapat tak membendung air matanya. Ia memeluk Ify juga dan memeluk suaminya. “Mom juga mau pakek jilbab kayak Ify. Masa ify putri bunda pakek jilbab sedangkan bunda enggak. Bunda malu..” Ujarnya membuat Ify terkekeh.
“Ahhh melow pagi-pagi..” Ujar Nayla memeluk lengan kakaknya Habib. Habib menatap semua itu tersenyum bangga. Ia melirik Rindu yang tersenyum tulus, nampak dimatanya yang menjadi bulan sabit. Ahhh,,, Ia tak bisa melihat senyum itu secara langsung.
“Kita juga bakal hijrah kan Mi?” Tanya Panji pada Nina.
Nina mengangguk.” Iya pi...” Ia ikut memeluk Panji. Kembali lagi aara peluk memeluk. Satu sama lain, Yohan? Ia tersenyum lebar sembari menghampiri Rindu.
Awalnya Rindu itu larut akan kebahagiaan mereka, tapi ia terkejut saat suada deheman disampinya. “Ehmm.” Rindu menatap Yohan sang kepala keluarga dengan wajah bingung dan bertanya. “Terimakasih ya karena sudah merubah keluarga saya..” Air matnya meluncur dengan tak elitnya. “ Saya sangat gagal menjadi ayah keluarga saya. Saya saya nggak tau ngomong gimana lagi. Saya malu sebagai ayah... saya ngak bantes dipangil ayah..” Ia menutup matanya degan kedua telpak tanganya, ia menangis sembari jatuh didepan Rindu.
“Ayah engak gagal kok. Ayah selalu jadi ayah yang terbaik dikehidupan kami. ayah paling hebat..” Nina menarik pundak Yohan lembut lalu memeluknya. keluarganya pun ikut memeluk Yohan sayang. Jadiah mereka mengelap air mata satu sama lain.
“Terimakasih Rindu..” Ujar Habib disamping Rindu. ia tersenyum tulus pada Rindu, ia bangga menyukai gadis pemberontak ini.
Rindu menganguk.” Sudah tugas kita sebagai sesama umat muslim dan cucunya nabi Adam untuk saling mengingatkan Tuan. Dan semua yang kalian rasakan juga tak luput dari Hidaya dan Hinayanya dari Allah. maka dari itu, terimakasihlah kepada Allah kapanpun dan dimanapun. Saya hanya perantaranya saja.” Ujar Rindu menunduk....
....
Usai acara terimakasih-terimakasih.. acara salam salaman, sekarang Rindu berada dimobil Ify dan Habib, Nayla juga. Sebab Ify merengek meminta Rindu untuk menemaninya keUniversitas. Padahal ada Nayla, tapi ia kekeh ingin bersama Rindu.
Awalnya Habib menola dan mau Rindu bersamanya kekantor, tapi lagi lagi Habib kalah cerewet dengan Ify. Ify bahkan menangis jika Rindu tak mau ikut. Katanya ia takut dan tak punya teman. Nayla sudah sangat membujuk jika nanti ia akan mengenalkannya dengan teman-temanya, dan Ify menjawab jika ia ta mau berteman dengan teman Nayla, tukang kuras uang...
“Menurut kamu gimana jilbab aku?” Tanya Ify membenarkan jilbabnya yang sedikit kusut. Sudah dua puluh kali ia bertanya, dan ini yang kedua puluh satu kali dan Rindu masih sabar.
Satu kali tarik nafas Rindu buang lagi. Ia tersenyum paksa karena sakit kepala mendengarkan pertanyaan yang sama dari Ify. Wajar mungkin ya, namanya juga anak baru yang menggunakan jilbab. “ Saya boleh kasih saran?” Tanya Rindu memberanikan diri untuk memberi keritikan.
Ify menatap Rindu lalu mengangguk. Rindu mendekati Ify lalu melepaskan ikatannya, pasalnya Ify mengikat jilbabnya dileher dan membuat dadanya terbuka “Loo lo.. kok dibongkar sii Rin? Eggak cantik looh nanti,, “ Ujarnya menahan tangan Rindu.
Rindu menatap Ify dalam.” Kan saya sudah bilang. Hakikat hijab sebenarnya bukan mau cantik, tapi mau menutup aurat.” Ify diam dan menatap Rindu dalam. “Hijab sebenarnya itu harus menutup seluruh tubuh, dada kamu dan juga lekuk tubuh kamu. Kalo kamu jilbabnya Cuma tutup kepala bukan hijab namanya. Jilbab sekarang memang sudah menjadi trandi tapi jangan sampai kita masuk kedalam sana.. Kalo jilbab nggak masuk dalam syari’at jatuhnya sia-sia. Lebih baik enggak jilbab sealian.” Lanjutnya.
__ADS_1
Ify menatap Rindu sendu. “ Jadi harus ditutup ya bajunya...” Gumamnya sedih. Rindu menganguk. "Tapi kera baju aku engak keliaharan, jadi engak cantik de baju aku, baju aku engak kelihatan lagi dong..” Lanjutnya sedih.
Rindu menggeleng.” Resiko kita mau berjilbab dong. Jangan setengah-setengah kalo mau ngikutin syari’at. Saya engak maksa buat kamu berjilbab dengan baik, tapi saya mau beri kamu saran supaya kamu tau. Berjilbab tapi dadanya nampak itu sama saja dengan menampung air didalam keranjang bolong. Sia-sia dan merepoti diri. Kita basah tapi eggak dapet air. Mau berusaha tapi sia-sia?” Tanyanya.
Ify menggeleng lalu melepaskan tangan Rindu. “Tapi buatin dan aturin ya supaya cantik.” Ia tersenym tulus pada Rindu. Rindupun ikut tersenyum lalu menata ujung jilbabnya, ia meletakkan ujung jilbab kanan kekiri dan ujung jilbab kiri kekanan membuat bagian depanya tertutup rapi dan manis.
“Kamu kalem banget kayak gitu Ify... serem.... Kayak anak kyai kamu..” Gumam Nayla didepan bersama Habib. Ia menatap Ify kagum.
Ify mencebik “Makasih Rindu ilmunya..” Ujarnya lembut sembari menepuk pundak Rindu. Rindu hanya mengangguk dan mengucap ‘Sama-sama’
“Rindu aku mau nanya de. Kamu memang bandel dan pernah bunuh orang ya dulu?” Tanya Nayla pada Rindu yang duduk dibelakang Habib, sedangkan Habib melirik dari spion menatap Rindu. ify yang mendengar itu ikut tertarik, sebab dari kemarin ia mau bertanya, tapi ia takut Rindu tersingung.
Semua mata menatap Rindu. Rindu yang ditatap menjadi salah tingkah, tapi tanpa ragu ia mengangguk. “Iya... “Ujarnya.
“Ceritain masa-masa bandel loe dong. Gue mau denger, kayaknya perjalanan hidup loe menarik. Yang ada motivasinya ya...” Ujar Nayla. Sedikit demi sedikit ia tertarik dengan Rindu dan kehidupan Rindu. ia hanya tak menyadarinya saja.
Rindu menghela nafas ia tak tau harus menjelaskan bagian mana. “Semuanya enggak ada yang menarik untuk saya ceritakan.” Gumamnya pelan.” Keluarga, teman, cinta.. semuanya suram dan buram, saya bahkan tak mau mengingat semua itu.” Ujarnya pelan lagi.
Habib mendengar itu menyahut.” Emang keluarga kamu kenapa?” Tanya Habib sedikit ragu. Ia takut jika Rindu tersingung. Apakah Rindu anak haram? atau anak pungut seperti itukan?
Dia juga sedikit penasaran dengan perjalanan cintanya siii.... Tapi masa ia tanya itu sekarang?
Rindu menatap punggung Habib lalu tersenyum. Ia menghela nafas sebelum cerita.
“Saya diajarin dan dibiasakan sholat sedari kecil, Saat SD kelas satu saya sudah hafal surah-surah dan bacaan sholat. Tapi, Saat saya kelas 4 Saya harus Full Day dan membuat saya harus pulang jam 5, saat itu saya disuruh bawah sajjadah, bawah mukena dan bawah baju ganti, katanya nati harus mandi saat jam istirahat lalu ambil air mudhu dan sholat.” Rindu merasakan matanya berkaca-kaca.
“ Saya kecil yang baru menginjak kelas 4pun ikut aja, hari pertama saya sholat dan mandi sebagaimana ibu saya dan ayah saya ajarkan. Tas yang saya bawah jauh lebih besar dari yang lain, tubuh saya yang kecil sering mengeluh karena banyaknya bawaan. Mulai dari baju ganti, mukena, sajjadah dan juga bekal, belum lagi air minum satu liter.
“Emang apa hukumannya?” Tanya Nayla penasaran.
“Hukumannya berapa raka’at sholat yang saya tingalkan, misalkan 4raka’at, maka empat kali juga saya dipukul pakek kayu, sakit banget, bahkan punggung saya sampek merah kebiru-bruan.” Ujar Rindu menahan air matanya. Ia masih ingat bagaimana sakitnya punggungnya dipukul hanya karena sholat.
Entah ayahnya salah dalam mendidiknya atau bagaimana, tapi ia sadar, ayahnya kasar karena memang ia harus dikasarkan. “ Terus lanjutin.” Ujar Ify makin penasaran.
Rindu mendongak dan tersenyum. “ Karena saya lelah, saya bohong sama ayah dan ibu, jika saya selalu sholat saat dzuhur dan Ashar.. Saya habiskan waktu untuk main dan main, sebab saya satu satunya murid yang mengerjakan sholat, jadinya tak ada yang kembali mengajak sholat...
Hanya tiga hari saya lolos dari kebohongan saya. Tapi pada hari keempat saya ketahuan membuat ayah saya marah besar Mereka mendapatkan info dari guru saya.
Saya dihukum dengan keras. Saya harus memukul bibir saja seharian penuh karena berbohong. bibir saya harus berdarah dan bengkak, katanya itu hukuman buat saya yang sudah pandai berbohong. jika saya bilang ‘Sakit’ maka ayah saya biang. ‘Ayah bahkan lebih sakit kalo liat anak ayah masuk neraka’ dan disitu membuat saya bungkam. Dia bilang sehrusnya lidah saya itu dipotong supaya tidak berbohong. Sebab jika berbohong satu kali maka pasti akan ada kebohongan kebohongan berikutnya...
Tidak sampai disitu, karena saya meningalkan sholat, maka hukuman saya yang tidak sholat juga berjalan. Selama tiga hari itu saya meninggalkan sholat ashar dan Dzuhur yang artinya 8 raa’at. Dihitung lagi selama 3hari jadinya 24 pukul, jadinya saya dipukul sebanyak 24 kali. meskipun saya kecil ayah saya tak pernah mentorer saya, hinga saya pingsan ia masih memukul saya setelah itu saya tidak sekolah selama tiga hari karena kaki saya sakit dan demam. Disitu saya benci ayah saya, benci ibu dan saya, saya bilang mereka nggak sayang sama saya tapi ayah saya selalu bilang dalam sholatnya. Maafkan ayah ya nak, karena ayah menyakiti fisikmu didunia ini,tapi ayah berharap nanti kamu bisa masuk syurganya Allah, Demi Tuhan nak, ayah rela masuk neraka karena memukul dirimu dari pada kamu masuk neraka karena tak mendirikan kewajiban.. Maafkan ayah nak, ayah ikhlas menjadi jelek dan jahat dimatamu dari pada kulit putihmu dibakar api neraka. Ayah lebih ikhlas didunia ini kulit kamu melepuh. sebab hukuman diakhirat ribuan kali lebih berat dari pada hukuman yang ayah beri."
Rindu tak bisa lagi membendung air matanya. Ia menahan dadanya saat mengingat itu, ia membenci ayahnya yang keras, ia membenci ibunya yang tak peduli. Padahal ia tau semua itu untuk dirinya, sungguh ia menyesal setiap saat. Sedari ia kecil ia selalu membuat onar, selalu membuat ibu dan ayahnya marah, sebab ia benci mereka yang sok alim dan sok beragama tapi kasar pada anaknya. Kini ia sadar, ia sudah terlalu jauh dalam menyakiti orang tuanya.
Ify dan lainnya diam menatap Rindu ibah. Mau jawab apa? Dua sisi sama sama salah.” Emang ayah kamu engak pernah ajarin kamu dengan cara baik-baik gitu? Itu berbahaya buat kamu, salah juga caranya.” Ujarnya takut.
Rindu menatap Habib dicermin. “Pernah. Dulu saya selalu dinasehati, tapi saya membangkang dan mengangap itu adalah angin lalu, atau kaset rusak. Saat saya kecil dulu saya diberi tes dari ayah saya, katanya jika saya hafal surah Ad-Duha maka dia bakal beli saya es krim, tapi saya tidak mau, saya malas. Terus saya diberi ilmu tentang betapa pentingnya sholat tapi saya tetap bungkam karena mengangap itu semua hanyalah lagu-lagu pembuat sakit kepala, jadilah ayah saya berlaku kasar setiap saya berbuat kesalahan.” Rindu sadar akan hal itu, ia tau jika ayahnya membuat smeua itu karena ia yang sufdah keterlaluan, karenanya, ia baru sadar saat ini, jika kekerasan yang ayahnya lalukan itu adalah kehendak dirinya sendiri.
Ayahnya sangat marah jika Rindu keluar dari ajarannya, berbohong, Lalai dalam sholat, puasa, dan lainnya. Ia sangat murka, ia selalu bilang jika ‘Apa yang Abi beri tak akan sebanding dengan apa yang Allah balas nanti untuk kamu Rindu. jadi biarlah abi beri kamu kesakitan didunia saja supaya kamu sadar, neraka itu pedih dan sakit, penuh siksaan dan kehancuran. Sungguh, Abi tak akan sangup melihatmu kelak. ‘ tapi jika sholat abinya selalu bilang ‘Maafkan hamba yang menyakiti anak hamba yaallah, maafkan hamba yang tak becus mendidik anak hamba. Maafkan hamba yang selalu menyiksa anak hamba, hamba iklas masuk neraka karena menghukum anak hamba, tapi hati hamba tak akan ikhlas jika anak hamba tergelincir dineraka mu. Sunguh hamba tak akan sanggup’
Apa menurut kalian tak becus?
__ADS_1
Jadi apakah ayahnya jahat? Atau salah dalam cara mengajar? Bisa didefinisikan sendiri aja ya..
...
Sesudah cerita itu mereka sudah sampai kekampus, ternyata Ify juga mengambil jurusan hukum, lebih tepatnya ia mengambil jurusan Hukum Perdata, hanya berbeda ruangan saja dengan Nayla, Nayla dilantai tiga sedangkan Ify ruangan lantai dua. Kampus mereka sangat besar, hampir sama dengan kampus Rindu dulu. Semua suasana membuat Rindu menjadi rindu akan belajar.
“Sudah sampai..” Ujar Nayla girang. Ia membuka pintu mobilnya. diikuti Rindu dan Ifyl sedangkan Habib, ia tak menyusul ataupun turun, ia hanya melihat saja.
Rindu menatap seeliling kagum, interior yang bagus, difasilitasi Lift dan Ekskalator, lalu lalang mahasiswa dan mahasiswi membawa buku, ada yang saling sapa, ada yang berdua dan ada yang sendiri. Sunguh Rindu rindu.
“Yang rajin ya belajarnya.” Ujar Habib pada kedua adiknya.” Iya kak.. bang..” Jawab Ify dan Nayla.
“Rindu jagain mereka ya. Kalo bandel tabok aja pantatnya..” Ia melirik Rindu yang masih melihat gedung itu.
Rindu yang dipangilpun mentap Habib. Ia tersenyum manis “ Baik tuan.” Ujarnya.
Sedangkan Nayla dan Ify mengerutu.” Emangnya kami anak kecil apa.”
Habib terkekeh. “Yasudah saya prgi. Jaga diri baik-baik ya.. Semlekom..” Ujarnya pada mereka.
“Assalamu’alaikum Tuan.” Sahut Rindu.
Habib membulakan mulutnya. “Oh ya. Maksud saya Assakum..” jarnya mengangguk.
Ify dan Nayla terkekeh.” Ngucapin salan aja salah. Yang bener itu Assamlikum..” Ujar Nayla.
Ify menjitak kepala Nayla.” Kakak adek sama aja. Salah semua kalian ahkk.. yang benar itu ASSALAMU’ALAIKUM...”
Rindu terkekeh.” Ya ya.. maksudnya itu... “ Sahut Habib.” Saya pergi ya... Sammlekomm..” Ujarnya lalu menancap gas.
“Assalamu’alai kum kak..!” Teriak Ify kesal.
Bhuaahhaha.. Rindu dan Nayla tertawa lepas mendengarnya. Rindu baru tau jika Habib tak bisa mengucapkan salam dengan benar. Lalu perasaan dulu Habib bisa, ia pernah dengar Habib mengucapkan salam satu kali. Ahhh sudahlah Rin, jangan memikirkan hal yang bukan urusanmu..
Rindu menggeleng menghilangkan pikirannya tentang Habib..
.
.
.
.
.
**Come back... Aku tu nangis pas tulis kisahnya Rindu... Jadi ini salah satunya yang ngebuat Rindu benci abi dan umminya ya...
Jangan lupa like komen and vote...
2539 kata loo**...
__ADS_1