Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Huaa


__ADS_3

Menaiki tangga dengan nanarnya karena mata yang berkaca kaca akibat tak tahan melihat Rindu yang mengenakan cincin dari Rey membuat ia harus menahan sesak didada.


Setelah itu Habib yang sekarang didepan kamarnya dengan keras menutupi pintu kamarnya, dengan air mata yang jatuh tanpa ia minta, menatap nanar sembarang arah dan meremas rambutnya erat… “Arrhghhhh..!” Teriaknya dengan kuat.. urat lehernya dan tanganya bahkan keluar saat ini, ruangan yang memang kedap suara itu memang sangat cocok untuk dia sekarang.


Matanya menatap nanar semua ruangan lalu


“Arghhh.. Krinng.. Krangkk..”


Ia mendekati meja yang berisihkan banyak barang disana. Mulai dari farpum, minyak rambut dan semua peralatan miliknya ia hancurkan dengan melemparkan semuanya kelantai.


Bahunya bergetar karena tak kuat menahan dadanya yang sesak akibat menahan tangisan saat ini. Sungguh ia tak kuat sekarang…


”Argghh….” Teriaknya lagi melempar semua benda yang ada dikamarnya., baru kali ini ia semarah ini dengan dirinya dan juga kenyataan. Membanting barang yang ada hanyalah sebagai pelampiasan yang bisa ia buat untuk mengurangi rasa sakit didadanya saat ini.


Selimut, pot bunga, bantal, semuanya ia hancurkan dan ia banting membuat suara nyaring itu melengking dalam ruangan, dilantai sudah berserakan dengan pot bunga dan tanah yang berserakan..


Plaskkkkk..


Tak cukup sampai disana Habib bahkan memukul kacanya yang besar disana sangat kuat dengan miniature Disana membuat suara semakin bising akibat yang ia lakukan.


Ia meremas kepalanya lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya karena tak kuat, dengan nanar duduk disamping ranjangnya menyandarkan punggungnya dan melipatkan tanganya.. kakinya ia tekukkan dan memukul dadanya sendiri. Mungkin bagi orang lain ini adalah hal yang lebay.. hanya saja ia tak merasa begitu.


Wajar saja banyak yang bunuh diri diluar sana fikirnya, ternyata sesakit ini ketika mengharapkan seseorang yang ternyata tidak lagi mengharapkan dirinya. Ternyata begini sakitnya kehilangan harapan akan cinta yang selama ini ia harapkan.


“Rindu maafkan saya..”Gumamnya. bahkan mendekati Rindu saja ia sudah tak memilki nyali lagi akibat ulahnya yang ia ingat selama ini. Bukan hanya memfitnah, tapi kata-kata kasar yang selalu ia lontarkan akan Rindu membuat ia buruk dan sefrustasi ini.


‘Aku akan menerima kamu meskipun kamu sudah tidak suci lagi, sudah dipakai pria sana sini’ Ujarnya dulu dengan Rindu membuat kalimat itu terngiang dikepalanya itu membuat ia memukul kepalanya dibagian kanan.


’ Kamu itu wanita sok Suci’


Ujaran demi ujaran yang ia lontarkan membuat ia memukul kepalanya kasar dan nanar untuk mengusir kalimat-kalimat kotor itu.


‘Jangan sok jual mahal kamu, padahal murah.. disentu cowok sana sini.. ‘


‘menikahlah denganku, aku akan menerima kamu meski kamu wnaita murahan sekalipun’


‘Jangan sok suci kamu Rindu’


‘Plar'

__ADS_1


Tamparan dipipi Rindu masih melejat diotaknya bagaimana kuatnya tangan ia menampar pipi mulus milik Rindu... Kata kata kasar sangatkah jekas diingarannya bagikab memori buruk yang telah dirancang untuk mengingat semua kejahatannya kepada Rindu saja...


“Argghh.. Rindu maafkan saya..!” Teriaknya meremas kepalanya dengan kuat karena kalimat demi kalimat yang ia lontarkan dengan Rindu dulu sekarang menganggu kepalanya membuat ia mengeleng erat dan memukul kepalanya sendiri. Tangan satunya lagi membuat ia memukuli lantai dengan nanar.. dadanya naik turun karena menangis, sesak sekali rasanya saat ini ketika mengingat hal itu. Yang menjadi pertanyaanya sekarang, apakah Rindu akan memaafkan dirinya? Apakah Rindu masih mau dengannya? Jujur hatinya tak bisa berbohong jika ia sangat mencintai Rindu. Melihat Rindu yang mengenakan cincin dari orang lain membuat separuh harapanya hilang.


Kalian tau rasanya harapan hilang? Rasanya saat ini pasti akan sakit yang mendalam, besoknya masih akan terasa nyilu jika diingat. Dan diakhiri dengan mati rasa, hati bagaikan tak lagi berfungsi. Tak percaya? Coba saja, atau Tanya dengan orang yang sudah merasakannya.


Sedangkan diluar sana ada Nina dan juga Nayla yang terkejut dikalah mendengar suara kaca yang keluar dari pintunya Habib, meski samar samar tapi mereka yakin jika itu suaranya pecahan kaca dan teriakan Habib. “ Kak Habib kenapa mi?” Tanyanya Nayla kepada Nina sekarang.


Nina dengan muka khawatirnya mendekati pintu kamar miliknya Habib dan menggeleng.” Mami tidak tau Nay.. kakak kamu kenapa ini?” Tanyanya cemas, hatinya berdetak dua kali lipat saat ini. Ibu mana yang tidak khawatir melihat anaknya begitu?


Nayla menatap pintu kamar kakaknya nanar.” Kak Habib?!!! Halllo kak? Kak buka pintunya kak.. Dor.. Dor..” Bukan lagi diketuk, tapi sudah digedor oleh Nayla dan Nina karena khawatir dengan Habib saat ini.


Nina sekarang sudah menggigit kukunya khawatir, rasa kahawatir yang berlebihan sekarang berkembang dirongga dada milliknya. “Habib buka pintunya.. mami cemas ini Habib..! Kamu baik-baik saja kan? Jawab mami..!!”Teriaknya kepada Habib namun tak juga ada tanggapan membuat Nina menangis karena khawatir kepada anaknya itu.


“Ada apa ini mi? kok kalian teriak teriak gitu didepan kamarnya Habib?” Tanya ayahnya Habib dengan keluarganya itu dengan bingung. Nina yang menangis dan Nayla yang sibuk mengedor pintu Habib dengan nanarnya.


Nina mendekati suaminya dengan nanar, matanya basah dengan tangisanya.”Pi Habib didalam kenapa? Dia engak mau buka pintu pi. Pi mami takut Habib kenapa napa hiks hiks..”Ujarnya menangis kepada suaminya itu, mengenderkan kepalanya didada bidang suaminya.


Panji yang mendengarnyapun mengerjab dan melihat Nayla yang diam menatapnya itu.”Tungggu sebentar papi ambilin kunci serapnya dikamar papi ya..”Ujarnya membuat Nayla dan Nina mengangguk. Panji tidak tau apa yang terjadi dengan anaknya satu itu, tapi ia tetap khawatir membuat ia gasak gerusuk mencari kunci kamarnya Habib. Kekhawatiran membuat ia melupakan tempatnya dan segala hal membuat ia mengacak ngacak kamarnya itu.


Setelah beberapa menit mencari akhirnya dapat juga di laci kamarnya, ia segera mungkin keluar dari kamarnya dan kekamar Habib yang jaraknya hanya berapa meter saja itu. “Minggir biar papi buka dulu ya..”Ujarnya Panji kepada Nayla membuat Nayla mengangguk dan memingirkan tubuhnya memberikan akses pada ayahnya.


Ckel.. cklekk..


tak susah hanya dua kali putaran pintu itu terbuka menampilkan Penampakan luar bisa Disana... Kamar Habib yang hancur lebur membuat Panji dan Nayla menahan nafas..


Habib yang sekarang menangis dengan memukulkan kepalanya dan lantai.. matanya dan Nayla menatap lantai dan seluruh kamarnya habib yang sudah hancur berantakan terkejut.


“Habib kamu kenapa?!!” Tanya Nina terkejut disana lalu menerobos masuk, mulutnya terbuka lebar dikalah ,melihat kamar yang bagaikan pesawat pecah itu.. diikuti oleh Panji dan Nayla yang melihat jalannya supaya tidak menginjakkan pecahan kaca.


“Habib.. Nak kamu kenapa sayang?” Tanya Nina mendekati Habib dan memeluknya Erat. Habib yang menyadari pelukan ibunya itu langsung membalaskan pelukannnya itu. Nina bahkan ikut menangis dibuatnya disana melihat anaknya yang bagaikan orang gila saja.


Panji mendekati istrinya dan Habib disana dengan berjongkok.”Duduk diatas.. jangan disini.”Ujkarnya membuat Habib dan ibunya duduk diatas kasur itu. Panji disana melihat Habib dengan helaan nafasnya yang berat. “kamu kenapa lagi Habib? Apa ini karena Rindu?” Tanyanya spontan saja.


Habib belum menjawab, malah tangisnya semakin luat membuat Nina gelagapan dan Nayla menatap kakaknya kasihan.. “Habib banyak salah dengan Rindu mi.. Rindu.. Hiks hiks.. “Ujarnya tak kuat menjelaskan keadaan yang ada. Ia melepaskan pelukanya dan mengusap wajahnya nanar.


Nayla mencibir dibuatnya melihat kakaknya yang begitu.” Katanya Cool, dingin… eh gara gara cinta nangis kejer.. dasar..”Ujarnya mencibir namun langsung mendapatkan cubitan dibagian perutnya dari Nina membuat ia meringis kesakitan.. Panji mengerjabkan matanya seakan mengatakan ia harus menjaga perkataannya.,


“Kenapa? Cerita sama mami ada apa hmm? Jangan gini, mami takut tau nggak.”Ujarnya Nina mengusap pipi anaknya itu lembut ayaknya ibu lainnya yang sedang menyemangati dan mengasihi anak-anaknya.

__ADS_1


Habib menyentu tangan maminya dengan tanganya yang sudah penuh dengan memar itu, bahkan sudah ada yang berdarah.” Habib takut mi. Habib takut Rindu engak mau maafin Habib, Habib banyak salah sama dia….”Ujarnya dengan tangisan yang masih mengalir.”Dan bodohnya juga Habib sangat mencintai dia mi.. Hati Habib mencintai dia..”Ujarnya kepada Maminya itu bercerita.


Maminya Habib menatap Panji karena tak tau harus jawab apa. Panji memeberi kode kepada istrinya itu supaya menjauh, ini urusan sesama lelaki baginya. Ia menggantikan posisi istrinya duduk disampingnya Habib, ia menepuk pundak anaknya itu lembut dan berkata.”Mana ini anak laki-laki papi yang Cool dan dingin? Masa karena itu ada udah kayak gini? Gimana nanti kalo ditolak? Bunuh diri kamu?” Tanyanya kepada Habib dengan mengejek.


Habib semakin menangis dibuatnya membuat Nina melotot dengan Panji dan...


Nyuutt..


Panji meringis ketika merasakan perutnya dicubit semut oleh istrinya itu, sangat sakit Wey… pernah kan dicubit kecil oleh seorang itu?


Habib mengusap air mukanya.”Rindu mau nikah Pi.. Hiks hiks, dan Habib udah ditolak sama dia, hiks hiks.”Ukjar Habib menangis lebih kuat.


Nayla menahan senyumnya dibuatnya melihat kakaknya bagaikan anak kecil itu, menutupi bibirnya dan “Fruuff..”Tak kuat menahanya membuat ia menutupi mulutnya dan menahan mukanya.


Nyitt “Arrhauu..”


Ujarmya Nayla ketika merasakan perutnya dicubit lagi dan ternyata ulah kanjeng ratu Nina lagi.. membuat ia meringis dan menekuk wajahnya, namun tetap saja menahan tawa melihat kakaknya bagaikan anak kecil itu.


Panji yang mendengar jika anaknya ditolak itu cukup meringis.”Maaf papi enggak tau kalo kamu udah ditolak dan Rindu mau nikah.”Ujarnya dengan Habib dengan menggaruk pipinya. Lalu ia tersenyum dengan manisnya dan berkata.”Memangnya Rindu mau nikah sama siapa si Bib? Tikung aja, papi yakin kalo kamu lebih tampan dan lebih kaya Bib.. trobos aja dulu..Anak papi kan yang terbaik dan tertampar.. ”Ujarnya menyemangati Habib.


Tapi tangisan Hbaib makin menjadi dan mengusap pipinya membuat Nina semakin melotot pada suaminya yang bicara sembarangan itu dan Nyiittt “Ehhenn..” Panji berdehem menahan rasa sakit dipinggangnya itu akibat istrinya itu dan menahanya.


Menggusuk pingangnya itu dan memalingkan wajahnya. Nayla tak kuat melihat keluarganya yang begini membuat ia memalingkan wajahnya.. Nayla memilih menjauh saja dan menutup pintu kamar Habib.. Ia tertawa dengan legahnya dikalah didepan pintu lalu mengusap perutnya yang sakit itu… lalu memasang wajah datarnya lagi menatap keluarganya didalam meski bibirnya masih dikulum.


Habib menghela nafas dan menjawab.”Justru sekarang yang mau nikah sama Rindu itu lebih putih dari Habib pi.. lebih ganteng kayak oppa korea yang disukai sama Nayla.. dan dia juga kaya hiks hiks.. Habib kalah jauh.”Ujarnya jujur.”Tapi Habib menang keker kok. Dia kurus dan Habib berisi.”Lanjutnya tak mau kalah dengan Rey.


“Kakak mah bukannya berisih tapi gemuk kali. Lemak tu kebanyakan diperut bikin perut buncit. .!”Celetuk Nayla membuat Nina mengerang dan menatap Nayla tajam membuat Nayla menunjukkan dua jarinya.”Viss.. “Ujar Nayla meringis,


“Udah papi sama Nayla sama aja. Enggak ada yang becus..”Ujar Nina tak tahan melihat anak dan suaminya lalu menatap Habib.”Kamu buktiin aja sama Rindu kalo kamu suka sama dia, kamu sayang saja dia . perjuangin dong jangan omong doang.. kamu hancurin kamar gini juga enggak guna dan dia juga nggak bakalan tau kalo kamu defresi kayak gini Habib..”Ujarnya kepada Habib.”Mami yakin kalo Rindu bakal maafin kamu dan beri kamu kesempatan kan Rindu anak baik.. Coba aja dulu..! mami yakin dengan kalian bersama selama ini ngebuat Rindu punya rasa sama kamu.”Ujarnya menyemangati Habib.


Habib menggeleng dibuatnya.”Berjuang gimana mi? kemarin aja Habib yang buat Rindu masuk penjara dan enggak percaya sama dia, dan Habib tampar dia dan fitnah dia kalo kasus itu Rindu yang nyebar Hoaxs,… Perjuangan yang mana lagi Mi?”Tanyanya Habib lelah sekarang menatap nanar maminya itu.” Mau bilang apa sama Rindu? Cowok itu bahkan berjuangnya lebih keras dari pada Habib. Habib hanya secuil upilnya aja tau nggak. Belum lagi Rindu memang udah dekat sama dia selama ini.”Lanjutnya dengan nanar disana. Ia tau itu dan ia mengakui semua hal itu... Dia akui jika Rey jauh lebih unggul dari dirinya ini, tapi baginya masih dirinya yang cocok untuk Rindu bukan orang lain... Egois? tidak da cinta yang tidak egois didunia ini, pasgi rasa ingin memilik itu tetap hadir..


Nina mengusap keningnya mendengarnya. Panji pun menghela nafas dan masih mengusap perit dan pinggangnya yang ia yakini sekarang sudah membiru itu. Mereka tak tau harus apa sekarang.”Kamu juga si bib banyak salah.. Jadi sekarang nggak tau harus gimana lagi kan.”Gumamnya Panji disana kepada anaknya itu.


Nina menaikan satu alisnya dnegan tampang polosnya menatap Habib yang fruistasi itu dan menghela nafas.”Tinggalin ajalah Rindu.. cari cewek lain aja kalo memang udah enggak ada kesempatan…”Ujarnya membuat habib menangis lagi dan menatap maminya itu dengan nanar.


”Mami Ih.. Hbaib tu sukanya sama Rindu.. kenapa suruh cari yang lain, niat mengasih solusi enggak si?!!” Tanya Habib dengan nada anak kecilnye membuat Nayla dan lain meringis kasihan. Kakaknya memang begini tingkahnya jika sedang.....


.

__ADS_1


Jaga lisanmu supaya kalak enggak kayak Habib ya... :)


__ADS_2