Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Marahmu menentukan akhlakmu


__ADS_3

Rindu memejamkan matanya, ia tak akan melawan jika dipukul atau dihina, toh ia memang salah.” Maaf Tuan,..” Hanya kalimat itu yang Rindu bisa lepaskan, ia tak mungkin mengatakan jika ia menghantarkan Rian dan Rani sekolah, jika nanti Habib bertanya anak siapa bagaimana? Atau Habib tak mempercayainya, ia tak mau itu terjadi, cukuplah ia pendam dan nikmati saja sendiri.


“Saya bilang kamu dri mana...?!” Tanya Habib membentak. Ia mendekati Rindu yang menunduk.


Rindu tak menjawab. Ia memilih menunduk karena bersalah. Iya dia merasa jika dirinya bersalah pada tuannya.


“Kenapa diam? apa kamu habis pacaran sama kekasih kamu itu? Habis apa? Habis ciuman? Habib main ranjang? Sampek enggak ingat waktu ha?!” Tanya Habib. Fiks bukan pertanyaan tapi tuduhan.” Kamu itu udah pakek pakaian kayak gini, sok alim kamu tu, sok suci tau enggaak..”


Rindu merasakan hatinya memanas. Ia memang tak baik, ia memang sok suci, tak usah diperjelas lagi. Apakah ia segitu buruknya dihadapan Habib? Ia tak masalah dituduh ciuman dan lainnya, tapi jika menyangkut akhlaknya ia tak suka, menyangkutkan pakaiannya ia tak suka. Tolong jangan salahkan jilbabnya yang lebar sedangkan hatinya kotor.


“Kenapa nggak jawab ha? Benar apa yang saya tuduh?” Habib tertawa sinis melihat Rindu, amarahnya sangat menggebu-gebu saat ini, “ Kamu harus inget satu hal. Kamu itu hanya pebantu dirumah ini, bukan nyonya yang seenak perut kamu keluar dan pergi dari rumah ini..! Saya bayar kamu 5x lipat dari kariawan yang lain, sedangkan sifat kamu kaya gini. Kamu itu baru bekerja dua hari dirumah ini dan dengan enaknya kamu puang jam segini. Kamu pikir kamu siapa ha??!!” Teriak Habib.


“Habib... Kamu tanya dulu sama Rindunya. Dia baru pulang dari mana, jangan marah-marah dulu, malu nanti didenger tetangga...!” Ucap Nina kasihan melihat Rindu dihina.


Andai dihina gadis lain, sudah pasti ia sekarang menangis, tapi Rindu? ia orang yang paling kuat dalam fisik, tapi paling lemah dalam hati, ia tak menangis, tapi hatinya meringis., Rindu bukan tifekal gadis yang suka menangis didepan umum, ia akan menyimpan rapat rapat tangisannya, dan akan membuangnya nanti saat waktu yang tepat.


“Mami diem aja... Engak usah belain pembantu yang kurang ajar ini..! Lama-lama dia ngelunjak nanti..!” Desis Habib pada Nina yang sekarang mengatupkan bibirnya.


“Kenapa tetep diem ha? Mana pacar kamu? Mana? Takut kesini ha? JAWAB...!” Bentak Habib. Habib sekarang bagaikan suami yang menuduh istri selingkuh membuat semua orang diam. tak ada yang berani yang ada hanya helaan nafas Rindu.


Rindu berkali-kali menghela nafas supaya tak menangis, mengerjab supaya tak ada bendungan air mata. “Kenapa mash diam? jawab...!” Teriak Habib lagi


“Marahnya orang yang mulia bisa terlihat dari sikapnya dan marahnya orang bodoh terlihat dari ucapan lisannya... __ Imam Syafii__” Dan inilah yang Rindu terapkan saat ini.


Rindu mengangkatkan kepalanya memandang Habib dengan sayu. “Maafkan saya tuan. Maafkan saya.. maafkan pembantu tuan ini yang tak tau diri..” Mata Rindu berkaca-kaca saat ini. entahlah, rasanya ia sedikit sakit saat mendengar Habib mengatakan ia tidak-tidak, ini keterlaluan. Dengan menarik nafas dalam supaya tak pecah tangisannya.


Habib tak tau jika Rindu hampir menangis. “Sebagai hukuman kamu. Mulai besok engak ada yang namanya keluar rumah. kamu harus ingat setatus kamu. Dasar gadis murahan..” Desisi Habib lalu pergi meningalkan Rindu. ingin sekali rasanya ia mkembali marah, tapi ia tahan karena tak bisa terlalu lama marah.


Jujur saja, Habib sangat takut Rindu kabur bersama kekasihnya mengingat Rindu kabur saat diikuti oleh orang suruhannya, apa lagi Rindu mengunci kamarnya, kan kunci serapnya ada diRindu semua membuat Habib tak bisa mengecek barang-barang Rindu. belum lagai Rindu pulang hampir jam 9malam, ia menggila apa lagi ia habis pulang dari luar kota, ia capek dan juga lupa jika ia bukan siapa-siapa bagi Rindu. otaknya yang cerdas seakan mengarah pada malam dimana ia melihat Rindu keluar dari kontrakan malam itu. Penampilan yang acak-acakan dan laki-lakinya juga acak-acakan. Jika dilihat sisi negatif ya memang Rindu melakukan apa-apa dengan pria itu.


“Rindu kamu enggak apa apa?” Tanya Nayla polos mendekati Rindu. ia mengusap punggung Rindu.


Rindu tersenyum lalu mengangguk.” Enggak apa-apa kok..” Jawabnya pelan. Sedangkan Nina dan Panji hanya menatap Rindu sendu. mereka tau jika Habib memiliki perasaan yang lebih untuk Rindu, karenanya Habib melewati batas.


Nayla menepuk pundak itu tulus.” Kamu jangan sedih, meskipun kamu pembantu.tak tau diri, aku masih jadi temen kamu kok...” Ucap Nayla tersenyum polos.


Rindu merasakan hatinya legah tapi ta setelah Nayla kembali berujar.” Ayoo Buatkan Tugas Nayla. Kamukan Nayla jadikan teman supaya bisa dimamfaatin...”


Yassalam...


Ia menarik tangan Rindu riang. Sedangkan Rindu? harus mengelus dada beberapa kali melihat tingkah Nayla ini. teman hanya untuk dimamfaatkan? Teman pembantu tak tau diri? Aiiss... Rindu lama-lama makan hati jika lama-lama disini.


..


Arghhh... Habib mengerang marah di kamarnya. Ia membanting apapun yang ada disana, semuanya pecah. Kamar itu bukan lagi bisa disebut kamar, tapi itu bisa dikatakan kapal pecah. Ia menyugarkan rambutnya dengan jari-jarinya. Matanya merah.” Begook begook. Kenapa juga gue marahin dia.. “ Ia mengigit kuku jempolnya..” Sialan.. kenapa juga gue kasarin dia ahkkkhh..”


Ia membanting punggungnya disisi kasur galau. Ia marah pada dirinya yang menghina Rindu. ia merasa jika ucapanya kelewatan, tak seharusnya ia marah seperti tadi pada Rindu, andai ia bisa mengontrol emosinya dan bertanya terlebih dahulu pada Rindu tadi, pastilah ia tak akan menyesal seperti ini.


Makanya ada pepatah, jangan bicara saat marah, diam, dinginkan kepala baru bicara, sebab bicara saat marah kadang bukan menyelesaikan masalah, tapi menambah masalah.

__ADS_1


“Habib...!” Kepala Panji menyembul dibalik pintu, ia terikejut saat melihat kamar putranya yang hancur. “Ada apa ini Habib? Perasaan tadi engak ada gempa...” Ucap ayahnya kepo pada anaknya.


Habib mengusap waahnya kasar.” Gimana ya pa... Habib pusing...” Habib tak bisa menjabarkan apa yang ia rasakan saat ini, jujur rasanya sangat berat saat ini.


Panji menghela nafas, ia berjalan mendekat sedikit berjinjit untuk menghindar pecahan kaca. Ia duduk disamping anaknya. “Kamu kenapa?” tanyanya pelan. Tapi Habib tak menjawab, ia memilih diam saja membuat ayah Habib menghela nafas lagi.


“Kamu cemburu pada Rindu? kamu takut Rindu punya pacar hmm?” Tanya Panji pada Habib lembut.


Yap.. panji adalah sosok ayah yang perhatian pada anak-anaknya, karenanya Habib betah dirumah, seperti ini, ia menatap papinya sendu, sedangkan tanganya sudah beberapa ada yang luka. Tapi ia tak peduli.


“Iya papi. Aku menyukainya, tapi dia tak menyukaiku. Bagaimana ini? ia masih berkeliaran diluar dengan laki-laki lain, sedangkan aku mati-matian menbuat dia jatuh cinta padaku. Apakah aku salah papi?” Tanya Habib frustasi.


Panji tersenyum miris pada anaknya.” Jika kau menykainya bukan begini caranya. Kau menyakiti hatinya, kau tau? Perempuan itu memiliki hati yang sangat sensitif, jika kau sudah melukainya, maka susah untuknya memaafkanmu. Mengapa kau tak melakukan dengan cara lebih lembut hm?” Tanya Panji tak habis pikir.


Habib meggusap kepalanya lalu mengeleng.” Alu tak tau bagaimana caranya papi.” Ujarnya lemah.


Panji melihat itu meringis. Ia tau jika Habib tak pernah jatuh cinta pada lawab jenis. Ia bahkan sempat berfikir jika Habib Gey. Bagaimana bisa pria tampan seperti Habib tak tertaruk pada perempuan? Tapi semuanya tertepos ketika Habib membawa Rindu sebagai asistennya. Sedari awal ia curiga pada Habib, ia curiga ini hanya kedoknya saja dan ternyata naluri ia sebagai ayahnya Habib benar. Habib melakukan hal itu hanya kedok untuk bisa bersama Rindu.


“Ayo papi ajarkan kamu supaya bisa mendekayi Rindu.” Ujar papinya tulus.


Habib mencibir dengan bibir yang mencebik.” Emang bisa?” Tanyanya dengan hidung yang dikembang kempiskan.


Panji terasa terhina. “Kau meragukan ayahmu? Hey.. mamimu itu bertekuk lutut looe sama pai saat muda dulu. Masa iya nggak bisa ngajarin anak papi ini supaya bisa mengambil hati pujaannya.”


“Mami denger looo pi...” Sahut didepan pintu. Disana ada Nina yang membawah susu hangat untuk Habib.


Tentu saja Panji gelagapan. “Papi kamu tu yang ngejar mami sedari SMA. Mami sii ogah awalnya, tapi papi kamu sampek sakit tau engak saat tau mami pacaran sama Redo haha. Mami masih ingat loo pi,” Cibir Nina mendekat. Ia menggeleng melihat putranya menghancurkan kamarnya sendiri seperti ini. ia sudah menebaknya, karenanya ia membuatkan susu untuk habib supaya ia bisa menenangkan diri. Tapi ia tak berfikir jika Habib membumi hanguskan seluruh perabotan kamarnya. Rugi loe...


Nina mundur “Eh eh. Bener kok kata mami,


kenapa harus malu? Mami tu Cuma mau bilang sama Habib, kalo usaha tiada menghianati hasil. Liat papimu, sudah hampir gila karena usahanya gagal mulu, tapi karena Allah kasihan sama dia, yaa dijodohin mami sama sii papi. Jadi kamu jangan patah semangat gini dong. Fighthing..” Ia mengangkat satu tanganya yang mengpal keudarah tinggi.


“Jadi papi sama Mami dukung Habib ni?” Tanya Habib melihat papi dan maminya.


Tentu saja merka mengangguk membuat Habib tersenyum. Ia kira keluarganya tak bisa menerima Rindu karena Rindu hanya sebagai pembantu atau anak petani. “Papi bangga sama Rindu. dia hanya anak petani tapi engak mau ngakuinnya. Banyak diluar sana enggak mau ngakuin orang tua karena malu dan enggak mau orang lain tau kalo dia miskin. Tapi Rindu? dia bahkan bangga pada kedua orang tuanya. Orang tua Rindu sangat sukses mendidik putrinya. Karenanya. Papi yakin, kalo kalian nanti punya anak, pasti Rindu juga sukses didik anaknya. Apa lagi masakanya enak, emm tiap hari de papi makan enak.” Ucapnya.


“Inget Pi. Gula darah kumat...” Deisi Nina melirik suaminya.


“Heheh.. Mami ma cemburu aja.” Panji menyuil dahu istrinya genit. Habib tertawa melihat bkeluarganya ini.


“Mami juga kagum sama Rindu. dia berani dan juga tegas. enggak kayak perempuan lainya, kalo ngomong engak neko-neko sama enggak suka caper(cari perhatian) atau pun carmuk( cari muka) jadi mami ya seneng-seneng aja. Apa lagi Rindu pinter semua hal. Ahhh.. mami bahkan iri sama Rindu yang ta banyak hal. Meskipun dia tak kaya dalam materi. Tapi ia kaya dalam akhlak dan ilmu. Apa lagi yang mami cari selain itu? Mau cari mantu kaya? Huu kita udah kaya.” Ia menepuk punggung Habib keras.” Buat apa kaya tapi enggak ada akhlak. Kan Tuman.”


Merka serentak mendengarkan ucapan Nina yang sok gaul. Nina itu polos meskipun umurnya udah tua, karenanya Panji tergila-gila. Sedangkan Habib? Inilah yang ia suka, maminya enggak pandang orang dari luar, awalnya ia sempat berpikir jika maminya tak menykai Rindu karena dulu Rindu pernah menolak permintaannya. Tapi nyatanya enggak. Ia menyukai Rindu membuat ia bernafas legah.


“Jadi semangat yaa.. Mami udah enggak sabar gendong cucu. Kalo kamu enggak mau kasih cucu, biar papi bikin anak lagi aja sama mami, biar rame lagi rumah..” Panji bertepuk tangan antusia.


Plak..” Papi pikir ngelahirin dan ngurusin anak seenak buatin anak ha? Kira-kira dong pi. Enggak sadar umur memang."


Panji menggusuk kepalanya yang panas karena jitakan istri tercinta.tapi tersenyum menggoda setelahnya.” Hayoo mami ngaku kalo bikin anak enak itu looo.. hayo hayoo..” Godanya mesum.

__ADS_1


“Ih papi mesum....”Teriak Nina menghentak-hentakkan kakinya layaknya anak kecil membuat merka tertawa.


“Ayo Mi kita bikin anak, tapi bikin aja ko. Kan enak.” Ucap Panji.


“Papi....”


Kembali tertawa menggelegar dibuat oleh Habib dan Panji. Siapa yang tak tertawa melihat Nina begitu meggemaskan dimata mereka. Ahhh. Sunggu mereka sangat suka menggoda wanita yang sangat spesial ini, wanita yang dicintai dan dihormati sepanjang masa.


Nina memberikan susu yang sudah tumpe-tumpe itu pada Habib. Ia tumpe-tumpe karena godaan Habib dan Panji. Habib mau tak mau menerimanya dan meminumnya.


Sebenarnya hati Habib masih sedikit resah, takut Rindu marah dan membencinya karena ucapanya. Tapi bagaimana lagi? Ia terlanjur sakit hati dan berfikir negatif tadi. Ahhh, memang nyata ya kalo penyesalan itu datang diakhir, kalo diawalnya pendaftaran. Tolong ingatkan pada reader kalo saat marah itu harus pikir-pikir dulu sebelum mengatakan suatu hal,


Sebab yang paling tajam itu adalah lidah. lidah yang tak bertulang ini sangat lah tajam, lidah ini mampu membawa kedua tempat sekaligus. Yakitu keneraka dan juga kesyurga. Memang menghibah itu sangat enak lo, sangking enaknya sampek lupa waktu dan lupa akan keburukan diri kita, begitu juga marah, saat marah kita ngerasa senang saat mengeluarkan uneg-uneg dan juga paradigma dan pemikiran kita, tuduhan kita meskipun tanpa bukti membuat orang sakit hati tanpa mau mendengarkan penjelasan orang lain terhadap kita. ujung ujungnya menyeret kita kedalam api neraka.


Belum lagi lisan juga bisa membawa kita kedua tempat, yaitu kedamaian dan juga kemaslahatan. Kedamaian ketika lisan kita selalu berkata baik, dan lebih memilih diam dari pada bicara yang tidak penting. Lebih memilih tersenyum dikalah tersakiti, lebih baik diam dikalah dihina. Tak pernah mengelu saat ditimpa musibah. Tapi juga bisa menjadi ajang untuk pembuat masalah, seperti menghina orang lain, mengatakan kita lebih baik dari pada orang lain. membuat orang lain sakit hati. Kita melupakan cermin hanya untuk menjadi lebih unggul dan juga lebih baik dimata orang lain.


Lagipula orang bisa melihat kamu baik atau buruk dari caramu berbicara, dari kata-kata yang kita lontarkan. Kadang kita lupa, sebelum kita meminta penghormatan dan penghargaan dari orang lain tapi hormatilah diri kita terlebih dahulu, hargailah diri kita dulu. Pantaskah kita dihormati? Pantaskah kita dihargai? Sedangkan orang bisa menilai semua itu dengan cara kita, bahasa tubuh dan bahasa latin kita. ayo kita bercermin dan mengingat, apakah bahasa tubuh dan bahasa lisan kita sudah baik dan benar? Jika belum, mari sama-sama mengintroippeksi diri sebelum menjadi-jadi dan semakin merusak diri.


سلامة الإنسان في حفظ اللسان


"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan " (H.R. al-Bukhari).


Diantara nikmat Allah untuk umatNya adalah dengan cara menyempurnakan segala yang ada pada diri manusia, seperti nikmat dengan diberikannya sepasang telinga untuk mendengar, sepasang mata untuk melihat, hidung untuk mencium berbgai macam aroma dan mulut untuk berbicara.


Allah Ta'ala mengingatkan kedua nikmat tersebut dalam firmanNya:


"Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan". (QS. Al-Balad: 8-10).


Dari firman Allah bahwasanya manusia mempunyai dua buah mata, lidah dan dua buah bibir untuk hal kebaikan, tetapi nyatanya kebanyakan diantara kita tidak untuk hal itu.


Sangat disayangkan sekali karna perbuatan lisan yang tidak baik ada hati yang tersakiti, mungkin ada sebagian diantara kita tidak bermaksud untuk berbuat demikian, tetapi dengan tidak sadar ucapan yang kurang enak didengar itu menjadi hal yang tersimpan dalam hati. Seperti perkataan menghina seseorang dengan mengatakan bahwa seseorang itu jahat, jelek, tidak pintar, cacat, memfitnah, su'udzon dan sebagainya.


Di antara ancaman kepada orang yang tidak bisa menjaga lisannya adalah sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya jika seorang hamba berbicara dengan kalimat yang tidak jelas baginya (apakah kalimatnya itu benar atau salah), maka ia akan tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat " (HR. Bukhari dan Muslim).


Hati-hati dengan Lisan


Lisan jauh lebih tajam dari pedang. Luka karena pedang dapat disembuhkan. Luka karena lisan akan terus terkenang.  Doa orang yang terzalimi cepat diijabah Allah.  "Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, yaitu mulut dan farji" (HR Tirmidzi).


Tips Menjaga Lisan


Tidak menghina. "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah segolongan kalian menghina golongan yang lain, boleh jadi (mereka yang dihina) lebih baik (dari yang menghina)" (QS. Al Hujurat 49:11).


Tidak su'udzon.  Selalu husnudzan (berbaik sangka). "...jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa" (QS Al Hujurat: )


.


.


.

__ADS_1


.


Like komen and vote yeyy.....


__ADS_2