
“Maafin mereka ya mii. Mereka masih kecil nggak tau apa-apa.” Ucap Rindu pada Ummi Ira sayu.
“Nggak apa-apa..”
“Bun kita mau pergi sekarang aja boleh ya... kita mau pergi sekarang,..” Rengek Rani pada Rindu yang membuat Rindu tak tau harus jawab apa. Bagaimana bisa mereka pergi sekarang.
“Besok aja ya.. besok bunda jemput oke.”
“Nggak mau. kita maunya sekarang, kami nggak mau pisah bunda...!” Remgek Rian pada Rindu.
“Yasudah kalian siapin barang-barang kalian ya. Bunda disini mau ngomong dulu sama ummi Ira....” Ucap Rindu pada Rian dan Rani.
“Tapi bunda nggak mau ningalin kitakan? Nggak bohongin kitakan? Nanti kita kedalem bundanya pergi..” Cetus Rani pada Rindu yang masih takut.
Rindu mengelus kepala mereka.” Emang bunda pernah bohong sama kalian?” tentu saja mereka menggeleng lemah karena memang Rindu tidak pernah berbohong.
“Karena itu, bunda nggak akan tinggalin kalian, ayoo siap-siap. Nanti kita kemaleman loo..” Ucap Rindu membuat mereka mengangguk lalu mengambil barang yang harus mereka bawa.
Ummi Ira menatap Rindu sedih. Ia sedih karena Rian dan Rani akan pergi. Sebab Rian dan Rani adalah dua anak yang aktif dan cerdas dari pada anak lainnya. Ia sangat menyayangi dua bocah itu tapi nyatanya mereka sekarang membencinya. Dan ia juga sangat takut jika Rindu yang sudah ia anggap anak sekarang marah padanya. “Rindu. bunda mau ngomong sama kamu..” Ummi Ira membawa Rindu duduk dikursi teras depan panti itu. Rindu hanya mengangguk dan duduk disamping ummi Ira.
“Soal ado----“
Rindu menyentu tangan ummi Ira lembut. “Ummi nggak usah jelasin, Rindu percaya sama bunda kalo ummi nggak salah, Rindu tau mereka memang mau adobsi Rian dan Rani. Itu salah Rindu yang nitipin Rian dan Rani disini, Rindu nyusahin ummi. Maafin Rindu ya mi..” Ucap Rindu pada umi Ira tulus.
Ummi Ira mengelus tangan Rindu.” Kamu anak baik nak..” Gumamnya membuat Rindu terkekeh.
“Soal Rian dan Rani Rindu udah daftarin disekolah tahfis ummi. mereka mau sekolah disana, mau mondok, dan kayaknya mereka akan berangkat sekarang bareng Rindu.” Jelas Rindu tentang anak angkatnya itu.
“Yaa... Padahal Ummi sayang banget sama mereka. Tapi gimana mereka pasti bencinj ya sama ummi...” Ucap Ummi Ira merasa bersalah.
“Nanti Rindu jelasin sama mereka kok mi. Lagi pula mereka anak baik.”
“Semoga ya...”
Terjadilah percakapan merka membahas Rian dan Rani sembari menunggu. Sedangkan Rian dan Rani sekarang sudah menggeret tas dan koper membuat Rindu mendekat.
“Kalian sudah siap?” Tanya Rindu.
“Ayay kapten...” Rindu terkekeh melihat mereka.
“Kalo gitu salim dulu sama ummi ya. Kan selama ini ummi yang masakin makanan buat kalian, cuci pakaian kalian, kasih kalian jajan dan ngurusin kalian.”
Mereka saling tatap. Masih takut membuat ummi Ira sedih. Tapi sesaat setelahnya ia merasakan kakinya berat karena dipeluk erat oleh dua kurcaci itu. “Ummi maafin kita ya udah nyusahin ummi. Kita sayang ummi kok.” Ucapnya Rian. “Tapi kita nggak suka tadi ummi mau pisahin kita..” Sambung Rani membuat mereka menggemaskan.
“Umi juga sayang banget sama kalian. maafin ummi ya kalo ummi sering marahin kalian sama buat kalian nangis...” Umi Ira membalas pelukan itu erat dan lembut.
“Iya umii..
Terjadilah acara peluk-pelukan antara anak panti lainya dengan Rian dan Rani. Ada sesi foto bersama untuk perpisahan barulah mereka bisa pergi. banyak anak panti yang lain ikut menangis karena kepergian Rian dan Rani. Berjanji jika mereka akan datang kembali dan tak melupakan sesama mereka.
“Jadi tadi pengadopsi ngambil anak yang mana mi?” Tanya Rindu kepo karena tidak mungkinkan merka pergi tanpa membawa anak asuh.
“Dia milih Reyhan Rin... Tadi mereka pergi bawahnya...” Ucap ummi Ira serak seakan menahan tangis.
Dug.. jantung Rindu sakit, sangat sakit karena Reyhan salah satu anak panti yang ia anggap adiknya, bahkan sebelum adanya Rian dan Rani, Rindu lebih dulu akrab dengan Reyhan, tanpa minta persetujuan dari sang empu air matanya lolos, lolos karena harus berpisah dengan salah satu adiknya tersayang. ‘Dengar Rindu. kamu nggak boleh egosi, Reyhan berhak mendapatkan kebahagiaan dari orang lain,’ Batin Rindu.
Saat Rindu mau berucap kembali, Ada suara dari balik pintu membuat ucapan itu harus tertelan kembali.
__ADS_1
“Permisi...” Suara itu membuat suasana haru acara pamit-pamitan itu terhenti. Ia bisa melihat jika disana ada pria yang Rindu kenali. Kenapa dia disini?
“Ehh nak Keyano... Mari masuk..” Umi Ira seakan sudah sangat dekat pada pria itu membuat Rindu mengernyit hern, ia mengusp air matanya yang membasahi bulu mata lentiknya.
Key? Bukannya Rey?
Yaa dia adalah dokter Rey yang Rindu kenal.
“Hallo dokter... “ Sapa Rian dan Rani.
“Halo Twinsnya Om...” Rey tersenyum manis meihat Rani dan Rian. Ia melambaikan tangan ramah..
“Dokter ngapain disini?” Tanya Rindu pada dokter Rey. “Bukanya kamu namanya Rey?” Tanya Rindu.
Dokter Rey terkekeh.” Sebenarnya nama saya itu Keyano tapi kamo pangil Rey. Tapi nggak apa-apa. Saya suka..”
Rindu mengaga. Berarti selama ini ia salah nama. Jujur ia malu sebenarnya karena sudah seenak dengkulnya saja. Padahal orang tuanya itu susah bikin nama....” Lalu kenapa disini rame sekali?” Untunglah Rey mengalihkan pembicaraan.
“Rian dan Rani mau pinda dok.. sini duduk dulu..” Ucap Umii Ira pada dokter Rey sopan lalu mengarahkan jempolnya kearah lursi kayu tak jauh dari mereka.
“Pindah kemana mi?” Tanya dokter Rey pada ummi Ira. Ia bertanya sembari mengikuti Ummi yang mengajaknya duduk dikursi yang sudah tua itu, iyaa, warnanya saja sudah dilapis berlapis-plapis.
Ummi Ira menatap Rindu.” Mau mondok..”
“Tunggu. Kalian saling kenal?” Tanya Rindu heran.
“Semenjak dokter Key ini mengantarkan Rian dan Rani. Dia jadi donatur tetap Rin...” Jelas Ummi Ira pada Rindu membuat Rundu cengo. Kok dia baru tau? Kenapa ummi Ira tak menceritakan hal ini padanya?
Tapi Rindu tak punya waktu untuk bertanya lebih banyak tentang dokter Rey. Ia barus sesegera mungkin, karena sekarang sudah mau Ashar dan ia harus pulang sebelum Habib pulang, ia tak cukup lancang untuk pulang larut malam sedangkan profesinya sebagai pembantu. Ia sadar diri, sebagai pembantu yang baik, ia harus taat akan aturan tuannya.
“Yasuddah kalo gitu Mii. Rindu mau berangkat sekarang aja, takut nanti saya kemaleman mii, sekarang udah mau Ashar soalnya...” Ucap Rindu sembali menyuruh Rian dan Rani mendekat dengan cara melambaikan tangannya. Tentu saja dengan cepat mereka mendekat dengan koper dan tas yang jauh lebih besar dari tubuh merka.
Rian dan Rani menganguk polos.” Kami nggak bakal lupa kok mi. Kamikan mau kayak bunda. Yakan bang...” Rian dan Rani menatap kakaknya polos yang ditatappun menganguk antusia.
"Jangan lupain ummi juga...." Peringat ummi.
"Ay ay kapten." Mereka memberi hormat pda ummi Ira.
Rindu terkekeh akan hal itu.” Kalau begitu saya aja yang anter ya... soalnya jika saya mau jenguk nanti mudah bagi saya...” Suara itu membuat Rindu menatap Rey. Rey tersenyum dengan lembutnya.
“Nggak usah dok. nanti ngerepotin loo..” Tolak Rindu halus.
Dengan cepat dokter Rey tanpa mau mengatakan apapun lagi, ia mendekat lalu mengambil alih koper Rian dan Rani lalu mengalungkan tas Rani kelehernya dengan wajah tercengir lebar.” Kata mama saja kalo cewek bilang engak usah tandanya lagi malu malu kucing, jadi saya harus peka dan juga ambil alih dalam bertindak..”
Tentu saja Rindu tak dapat membendung tawanya lagi. Polos sekali doker Rey ini dalam menjawab, tak bisakan ia menjadi sok gentelmens?. “Ayoo Rindu.... Umi kita berangkat yaa. Permisi...” Belum lagi Rindu menjawab. Ia sudah pergi duluan mendahuli Rindu dan lainnya.
Indu menatap ummi Ira dan lainya.” Yasudah ummi. Kita berangkat yaa. Ssalamu’alaikum..” Ucap Rindu yang diikuti Rian dan Rani. Mereka menyalami umi ira dengan khidmat lalu melambaikan tangan. mereka melangkah diikuti Ummi Ira dari belakang untuk menemani mereka pergi dari sini. Tak terasa air mata umi Ira tak dibendung lagi, ia harus mendongak supaya tak menangis.
“Dada Ummi dan reman-teman...” Teriak Rian dan Rani dari dalam mobil, mereka menyembulkan kepalanya keluar dari jendela mobil, mereka tersenyum lebar saat Rey mengkakson mobilnya lalu melaju kan mobil.
“Rani Rian ayo masuk, nanti kalian jatoh loo...” Ucap Rindu pada mereka yang masih mengeluarkan kepala dijendela.
Rian dan Rani tercengir kepada bundnya itu.” Kami pasti kangen mereka nanti bun.” Gumam Rian manja.
“Nanti kita bakal pergi main kesini kok, tenang aja...” Rindu menyeka keringat yang berada didahi Rian dan Rani. Yaa, mereka berkeringat karena berdesak-desakan sedaro tadi, belum lagi mereka beres-beres.
“Benerankan bun?” Tanya Rani dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
“Iya bener dong..” Ucap Rindu yang dijawab mereka dengan kegirangan.” asyik.... jadi nanti bia main sama Reyhan..”
Dug... Rehan? Reyhankan sudah pergi. Ahhh, Rindu tak mampu mengatakan hal lain pada Rani, ia tak mau Rani terluka.
“Ehh Rin. Rian dan Rani tadi mau sekolah dimana?” Tanya dokter Rey menatap cermin supaya bisa melihat wajah Rindu.
Rindu melirik cermin itu.” Dipondok dok. pondok Drausalam..”
Dokter Rey mengeritkan keningnya. “Sekolah apa itu?” Tanyanya bingung.
Dokter tak tau pondok pesantren? Apa ia bukan beragama islam? Tapi Rindu tak boleh husuuzon meskipun ia penasaran dan sudah menduga-duga dalam hatinya. mau bertanya takut dokter Rey tersinggung. “ Disana sekolah untuk menuntut ilmu agama dok. Rani dan Rian mau sekolah disana katanya, mereka mau memfokuskan untuk belajar agama biar bisa jadi anak sholeh sama sholeha.” Jelasnya sehalus mungkin, ia tak mau mengatakan jika Rian dan Rani mau menghafal takut dibilang Riya’ lagi pula menghafal atau tidak itu bukan urusan orang lain.
“Rian dan Rani kenapa mau belajar agama?” Tanya dokter Rey kepada dua bocah kembar yang dari tadi diam dan menyimak pembicaraan mereka.
Rindu melirik Rian dan Rani untuk menjawab. Iyaa, itu tugas mereka menjawabkan? Karena bukan Rindu yang punya alasan. Rindu hanya pengantar dan pemberi jalan, sedangkan jalannya sudah diciptakan oleh Tuhan.
“Karena...”Rian diam sebenar seakan menyimpan sejuta kesakitan dan kegundaan untuk mengatakannya.
“Katakan saja Rian. Siapa tau nanti dokter bisa kayak kalian..” Ucap dokter Rey saat sadar jika Rian dan Rani tak mau bicara.
“Karena Rian sama Rani tak punya bunda dan ayah, bunda dan ayah kami udah nggak ada dibumi, padahal kami harus berbakti pada orang tua. Kami nggak tau gimana caranya buat berbakti pada mereka, kami nggak tau ibu sama ayah orang baik atau orang jahat, tapi kami mau mereka masuk syurganya Allah. kami mau bunda sama ayah disana tenang dan bahagia punya anak kayak kita. Kami mau bunda sama ayah bangga punya kita anak yang sholeh dan sholehan... “ Rian menitihkan air mata saat mengatakan hal itu.
Dkter Rey terdiam sesaat lmerasakan degup jantungnya menghangat. “Memangnya siapa yang bilang kayak gitu? Punya motivasi dari mana?” Tanyanya.
“Dulu Bunda Rindu pernah cerita sama kita kok tentang itu. Bunda ngajarin kita buat berbakti pada orang tua dan bunda cerita tentang.....Uwais Al Qarni, Pemuda Berbakti Kepada Orang Tuanya
Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.
“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.
Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.
Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya..
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya..
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”
Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.
Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dukk.. dokter Rey tak dapat berkata lagi. Ia melirik Rian dan Rani yang memeluk Rindu. ada getaran aneh didadanya saat mendengarkan kisah itu yang diceritakan dari bibir mungilnya Rian. Air matanya lolos, ia tak tau mengapa tapi kenapa harinya terasa diiris berkali-kali dengan silet. Ia tak tau, sunguh, tapi direlung hatinya bagaikan dihujam dengan pisau tajam. Ia mendongak untuk tak menangis, sudah lama sekali rasanya ia tak menangis.
.
.
.
.
**Itu cerita Uwaisnya aku jelasin biar diserap hehe.
__ADS_1
sebenarnya mau up tdi. tapi lag sibuk. Thankz yg masih seti bacanya.
Like komenand vore yeyy**...