Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Masuk rumah sakit


__ADS_3

...


Sedagkan Rindu? tulang keringnya sangat perih karena ditendang oleh lawan. Namun masih tetap bertahan. Ia masih perempuan, jangankan perempuan, laki-laki saja belum tentu bisa melawan lima orang sekaligus, namun ini sepuluh..!! dan masih ada sepuluh lagi yang harus ia lawan, terkecuali Willy. Sebenarnya karena Nayla membuat Rindu tak kensentrasi. Belum lagi tenaganya semenjak sakit ini suka melemah, ginjalnya yang tak kuat. Ahh Rindu itu sudah lemah kawan. Memang benar, jika tubuh yang kuat bisa melemah karena sait. Jadi syukuri nikmat Tuhan yang ada.


Namun saat Rindu melihat Willy yang sudah mau memasuki bendanya kepada inti tubuh Nayla membuat ia kalut. Ia tak memikirkan lawannya namun ia memikirkan Nayla. Ia memukul kepala Willy dengan tongkatnya.


Bugh..


Bertepatan dengan pipinya diterhang keras membuat Willy dan Rindu terpental. Willy yang mendapatkan serangan itu mendapatkan pelipisnya bocor. Akh Rindu tak tau jika kayunya itu terdapat paku membuat kepala Willy terkena paku itu. Wajar saja banyak yang berdarah.


Tidak masalah, setidaknya Nayla tak jadi diperkosa...


Tak cukup disana. Rindu yang terkapar membuat lawannya leluasa memukulnya. Kakinya ditahan dengan lutut dan lawannya memukul Rindu secara berutal. Rindu tak pasra. Tanganya menahan dengan sekuat tenaga lalu memukul ketiak pria itu membuat ia sedikit oleng. Disaat itu Rindu juga yang menguasai perkelahian. Ia naik diatas tubuh pria itu lalu memukul dengan sekuat tenaganya. Pria itu juga tak mampu melawan sebab kuncian Rindu sangat kuat.


Kalian bertanya yang lain mana? Mereka sudah banyak tak sadarkan diri akibat alkohol itu. Ada gunanya juga alkohol itu. Namun masih ada sekitar 12orang yang masih sadar da mendekati Rindu.


Bugh..


Kepala Rindu ditebas dengan tongkat yang Rindu gunaan tadi membuat Rindu terpelanting dengan bagian pungggung terasa patah. Lalu ia kembali merasakan tendangan dibagian pingangnya karena tendangan dari Willy. ..


Rindu pasrah? Tidak..!! Ia mendekati Guci disana lalu melemparkan guci kecil itu kekepala salah satu lawan membuat kepalanya berdarah. Rindu tak memikir apapun saat ini selain melawan sebisanya.

__ADS_1


Setelahnya Rindu merasakan guci besar menghantam kepaanya dari Willy membuat banyaknya pecahan memenuhi tubuhnya. Ia mulai kehilangan keseimbangan. Pandanganya memudar, ia dapat mendengar suara Isaknya Nayla yang terrdengar jelas dan Wily dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak.


“Kuat banget ni cewek. Sumpah..!!” Kekeh salah satu dari mereka memuji Rindu yang ta sadarkan diri itu.


“Asli...!! Baru kali ini gue ngeliatnya. Mana enggak ada teriak-teriaknya lagi..!!” Ujar Yang lain.


Willy menatap Rindu datar.” Gue pernah ngeliat cewek sekuat dia. Mungkin dia lebih kuat dari cewek ini..!!” Ujarnya membuat yang lain menatap Willy.


“Siapa?” Tanya salah satu dari mereka.


“Rindu..!!” Jawab Willy mengenang pertemuannya dengan Rindu pertama kalinya, lalu bertemu beberap kali dan berkelahi lagi.


“Owh. Cewek yang katanya loe suka itu?” Tanya yang lain.


Brak..“Kabur ada polisi Woy..!!!” Teriak salah satu yang menjaga diluar.


Semuanya membelalak mendengar itu. Tanpa memikirkan Rindu dan Nayla mereka kabur tak tentu arah. Untungnya mereka menyimpan motor dibagasi belakang, kecuali Willy, tapi satu hal yang tak orang ketahui, jika mobil yang Willy bawah tadi adalah mobil curian jadi tak akan ada yang tau. Mereka memasuki lobi parkir dan menancap gas. tak ada yang tersisa selain Rindu dan lainnya. Nayla yang malu dan terisak karena kakinya yang diikat mengangkang, matanya terus menangis dan menangis. Ia tak sanggup menatap Rindu disana.


Rindu? kepalanya ta terluka mungkin karena jilbabnya yang tebal, akh bukan tak luka, hanya saja tak parah, tubuhnya remuk dan untungnya ia pingsan.


Brak..“Diam ditempat..!!!” Terai polisi datang membuat Nayla bersykur.

__ADS_1


Beberapa polisis memeasuki dan mencari pelaku, beberapa membantu Nayla, namun polisi itu sedikit memalingkan wajah karenna pakaian Nayla dan asetnya.


“Bantuin Rindu Hiks hiks.. Bantuin dia. Dia bantu saya..!!” Nayla menangis histeris dengan menangkup kepalanya. Ia mengarahkan telunjuk kanannya ditubuh Rindu yang tergeletak.


Setelahnya polisisi itu menganguk dan membantu Rindu.. Nayla memungut kain yang Rindu lempar tadi lalu membalut tubuhnya. Ia menangis histeris karena kasus pemerkosaan ini dan Rindu hampir mati.


Mereka dibawah kerumah sakit terdekat. Rindu? ia dimaskkan kedalam ruang UGD. Bukan rumah sakit, tapi puskesmas. Sebab Tak ada rumah sakit terdekat disini. Nayla terus saja menangis histeris membuat polisi yang membantunya tadi tak tega. “Kamu tenang ya.. dia akan baik-baik saja ko..!!!” Ujarnya membuat Nayla tak segan memeluknya karena takut. Semuanya terekam jelas bagaimana sakitnya Rindu.


Sedangkan Habib dan keluarga sudah mendengar kabar jika Nayla dan Rindu masuk rumah sakit. Nina dan Sarah sedari tadi menangis. Mereka ikut, sedangkan Habib mengendarai mobil dengan wajah emosinya. Ia takut dan kalut mendenhgar jika mereka masuk rumah sakit.


Hari menunjukan pukul 2dini hari namun mereka memasuki puskesmas yang seharusnya tutup itu harus buka karena kasus ini. Dokter yang harusnya tidur sekarang harus bangun, namun karena peralatan disini tak ada membuat Rindu dan Nayla dibawah kekota untuk ditangani membuat para keluarga Hollmas harus kembali kekota. Mereka bolak-balik dibuatnya.


Sampai diwaktu jam 4dini mereka smpai lagi dan memasuki lobo rumah sakit. ia bisa memasuki ruang UGD Saat ini.” Dimana pasien yang baru saja dibaeah dok?” Tanya Habib khawatir entah kenapa ia lebih khawatir Rindu dari pada Nayla adiknya sendiri saat ini.


“Oh... Sebentar ya sedang ditidak lanjuti, tapi yang satunya ada diruang samping, dia sudah ditangai tadi.” Ujar sang dokter yang baru keluar.


Sebenarnya ada berapa dokter yang nenangani Rindu? “Bagaimana keadaan adik saya dok?” Tanya Habib khawatir agi.


“Kita bicara diruangan saya saja karena disini tidak enak didengar orang ain..!!” Dokter itu membawa habib keluangannya diikuti Nina, Panji? Ia itu karena Dilan yang ditinggalkan.


Diagnosa itu membuat Habib mengepalkan tangannya. Nayla hampir diperosa, dicabuli dan itu mengganggu pisiskisnya, belum lagi dengan luka memar sana sini memuat ia harus dirawat dirumah sait terleih dahulu. Habib gagal menjadi seorang kakak. Habib merasa gagal.

__ADS_1


Sedangkan Rindu baru sadar dijam 7pagi. Para keluarga Holmas senantiasa menunggu. Nayla sudah menceritakan kejadianya membuat keluarga itu prihatin pada Rindu. tak ada yang boleh menjenguk Rindu selain dokter Rey. Ya.. dokter Rey yang menanganinya. Sebab Dokter Rey pernah berpesan kepada pihak rumah sakit, jika ada pasien yang bernama Rindu Azzahra masuk rumah sakit, harus menghubunginya.


Of Flasback..


__ADS_2