Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Syarat


__ADS_3

Rindu menghela nafas menatap dokter Rey. “Maaf dok. Dia memang begitu, sedikit sensitif seperti kulit bayi..” Ujarnya bercanda, padahal hatinya sedang tak baik-baik saja, entahlah, mungkin karena Habib yang bicara tanpa disaring.


Dokter Rey menggeleng.” Tapi kamu tidak akan diapa-apaka dengan dia nantikan?” Tanyanya khawatir, sebab tadi ia dapat melihat kemarahan Habib sangat jelas.


Rindu menggeleng.” Dia baik kok, tenang saja.” Ujarnya meyakinkan. Memang Habib baik kok, tapi suka bicara pedas tanpa perasaan membuat batinnya sedikit tergores.


“Jika begitu saya pamit dulu ya..” Ujar dokter Rey memasuki mobilnya.


“Hati-hati..!!”! Ujar Rindu tersenyum.


“AS As as asalamu’alaikoom..” Ujarnya cadel lalu menancapkan gas.


Rindu menatap mobil itu mengerjab. Tadi dokter Rey mengucap salamkan? Ia tak menjawab, sebab beda keyakinan, sebab diharamkan bagi kita menjawab salam dari saudara yang tak seagama, ia hanya tersenyum lalu memasuki rumah. saat ia masuk, ternyata Habib berada dibalik jendela, habib bergegas lalu duduk disofa membuat Rindu menatapnya sekilas.


Habib mendengus lalu memasuki kamarnya, tanganya terkepal menatap Rindu yang bisa akrab dengan orang lain, sedangkan dengan dirinya tidak. “Kenapa kamu tidak mau memanfaatkan saya Rin? Saya kaya, saya tampan dan saya banyak uang, kamu bisa memanfaatkan itu semua, tapi tolong, lepaskan semua pria yang kamu kuras hartanya, laki-laki yang kamu ambil barang-barangnya, saya mampu untuk membelikan apapun yang kamu mau, memberi pulau untuk kamu saja saya bisa..!!!”


Suara Habib menghentikan langkah Rindu. Rindu merasakan jantungnya berhenti berdetak. Apa Habib sedang menghujatnya? Atau sedang mencurahkan isi hatinya? apa Rindu harus bahagia? atau sakit karena dibilang penguras harta orang? Ia bagaikan gadis murahan saja. “Lalu apa yang kamu harapkan dari saya? Gadis murahan? Tukang kuras harta orang dan gadis yang gonta ganti pria?” Tanyanya memancing.


“Saya tidak peduli itu semua, sebab yang saya peduli itu kamu Rindu. kenapa kamu bisa memberi kesempatan pada setiap pria kaya, sedangkan kepada saya tidak. Padahal saya bisa memberi apapun yang kamu, apapun itu..!!!” Ujar Habib menatap Rindu.

__ADS_1


Rindu mendongak menatap Habib. “Saya marah Rindu, saya menyiapkan coklat untuk kamu, sedangkan kamu pulang dengan pria lain, saya menyiapkan bunga untuk kamu, sedangkan kamu? Kamu dengan pria lain.” Uar Habib meringis menatap Rindu.


Rindu mengerjab. Ia menatap coklat ditangan Habib, dan bunga yang tergeletak dilantai, bunga yang kelopaknya bahkan sudah berhamburan.” Tapi saya tidak pernah seperti itu tuan. Sa—“


“Saya tidak peduki. Meskipun kamu matre saya tidak peduli., yang saya mau, kamu bisa menjadi istri saya.” Dan jika sudah terjadi, maka aku akan mengurungmu didunia saya, sampai kamu tak bisa keluar lagi.” Lanjutnya dalam hati.


Ucapan Rindu terpotong mebuat Rindu mendongak. Ketulusan memang terpancar dimata Habib, ia hanya tersenyum karena ia sudah berjanji pada dokter Rey, ia mengerjab lalu mengambil coklat ditangan Habib membuat Habib terkejut. “Saya sudah lama tidak makan coklat..” Alibinya karena tak mau membahas masalah memuat mereka canggung.


Rindu keluar dari rumah itu membuat Habib mengikuti Rindu. Rindu memilih duduk dikursi depan rumah sembari menatap langit, lagit malam ini tak ada bintang dan tak ada bulan, membuat malam ini cukup mencekam.


Habib memilh duduk disamping Rindu. ia masih marah, tapi ia sadar, ia ta memiliki hak, apa lagi Rindu memang sudah izin hari ini. izin untuk keluar membuat ia menghala nafas berkali-kali. “Dulu saat saya kecil saya suka sekali makan coklat, sampai-sampai ayah saya selalu bawahkan satu topes coklat setiap tiga hari, dalam tiga hari itu mampu saya habiskan satu toples coklat..” Ujar Rindu mengingat masa lalunya.” Tapi setahun setelahnya gigi saya berlubang semua, dari yang atas sampek yang bawah membuat ayah saya tak lagi menyuruh saya makan coklat. Bahan sampai detik ini saya bahkan bisa menghitung dengan jari, berapa kali saya makan coklat.” Ujarnya lagi.


“Kenapa? Kamu takut dengan ayah kamu?” Tanya Habib penasaran.


“Jadi kamu pakum dalam memakan coklat?” Tanya Habib membuat Rindu menganguk sembari menatap coklat ditangannya, “ Bukan pakum, tapi membataskan diri.” Ujar Rindu.


“Begitulah dengan hati saya. Cinta terlalu manis Tuan..” Ujar Rindu menghela nafas.” Cinta itu manis, terlalu banyak memakannya akan membuat kita sakit hati. terlalu berharap maka kita patah dalam semangat. cinta itu anugera namun akan menjadi malapetakan jika kita tak mampu mengendalikannya.” Ujarnya menatap Habib.


Habib mulai paham akan arah cerita Rindu.” Batasi cintamu untuk saya Tuan, sebab saya tidak bisa berjanji bisa membalasnya, maka Tuan yang akan sakit, jika Tuan mencintai saya melebihi hati tuan, maka hati tuan akan sakit sendiri, cintai saya dengan kalima Allah, maka Allah yang akan menuntun, apakah saya pantas untuk cinta tuan, atau tidak. “

__ADS_1


“Tapi saya menginginkan kamu memberi saya satu kesempatan. Jika kamu tidak mau menikah, maka jadilah kekasih saya..”


“Itu zina, pacaran itu diibaratkan jalan tol, jalan yang akan menjerumuskan kita masuk neraka, jalan yang meluruskan kita mendekatkan zina. Diibaratkan kita memberikan tubuh kita sendiri ketengah jalan lalu ditabrak oleh rell kereta api dan kita mati dalam keadaan hancur, jadi, Mencintai tak harus memiliki..” Rindu sudah berjanji pada dokter Rey, maka dari itu, ia tak bisa memberikan janji atau harapan, dia bukan orang jahat yang memberi janji manis.


“Tapi beri saya kesempatan layaknya pria lain Rindu..!!” Habib menatap Rindu sendu. Ia sudah sangat mengagumi sosok Rindu yang kuat dan tegar, yang baik dan juga yang jahat, ia mengagumi dan juga berhasrat memiliki.


Rindu mengangguk.” Saya punya syaaratnya tapi..”


“Apa itu? “ Tanya Habib antusias. Ia membalikkan tubuhnya untuk menatap Rindu lebih jelas.


Rindu meghela nafas sebentar. “satu kamu harus mengerti, apa itu cinta karena Allah.. Cintai saya karena Allah, jika kamu sudah bisa mencintaiku karena Allah, maka kamu harus menjalankan yang kedua, kamu harus mencintai Allah melebihi saya. Melebihi cintamu pada dunia, jika kamu sudah menjalakan syarat yang kedua, maka kamu harus hafal tiga puluh jus Al-ur’an. Jika kamu sudah bisa. Maka kamu datanglah pada saya, saya akan menerima pinanganmu dengan Nama Allah..” Ujar Rindu Tegas.


“Tiga puluh just? Tidak kebayakan?” Habib mengerjab pelan menatap Rindu. masalah cinta kepada Allah? kenapa ia tak menanyakannya?.Sebab yang paling berat baginya adalah menghafal 30jus. Padahal ia tak tau saja.


Rindu menggeleng.” Jika tidak sanggup, maka berhentilah mencintai saya. Sebab saya hanya mau pria yang bersunguh-sunguh..”


“Saya mau dan saya akan berusaha untuk kamu..!!!” Ujar Habib tanpa pikir panjang,


Rindu tersenyum, sebenarnya ia tau Habib tulus, tapi ia harus melakukan ini untukk membuat Habib mundur, atau membuat Habib maju dalam agama, yyaaa keduanya keuntungan untuk Habib dan juga Rindu, tanpa Habib sadari...

__ADS_1


Hayoo.. pejuang Habib dan Rindu. siapa ni?


Pejuang Rindu dan dokter Rey mana ni?


__ADS_2