
“Permisi.. mamang liatin motornya dong.”Ujar Rindu dengan nafas yang tersendat sendat menuju bengkel disana membuat mereka mengangguk kaku, karena terkejut tadi melihat Rindu. Mereka pikit kuntianak yang menguji jantung.” Dari mana neng? Kok malem malem kek gini keluar?” tanya dari salah satu dari mereka disana kepada Rindu.
Rindu menghela nafas dalam karena lelah lalu mengusap keningnya yang penu dengan keringat itu.” Dari desa sebelah mang,, itu disuruh umi beli buah ehh motornya mogok dijalan.”Jawab Rindu jujur disana dengan nafas yang masih naik turun akibat setelah mendorong motor cukup jauh sedari tadi.
Montir disana mengangguk lalu mulai melihat motornya Rindu, namun ia menatap Rindu dengan tatapan helaan nafasnya.”Ini habis bensin neng..”Ujarnya menatap Rindu sembari berdiri disana. Ia bahkan menatap Rindu dengan tatapan bingung.
Rindu mengangga dibuatnya.”Gimana gimana?” Tanya Rindu dengan nanarnya.”Tadi saya lihat ditanknya masih penuh kok bang. Masa sekarang udah habis aja…” ujarnya tak percaya kepeda mamang yang melihat motornya itu.
Snang montir malah tertawa mendengar ujaran dari Rindu.”Itu tanknya error neng.. mangkanya dia enggak bisa berfungsi lagi hahaha.”Ujarnya tergelak menatap Rindu yang sekarang menatapnya dengan tatapan menganga.”Dan lagi itu keknya businya motor eneng longgar deh., mangkanya itu juga buat motor neng enggak bisa ngebut dan jalanya kek ada yang rusak.” Ujarnya.
Rndu menghela nafas dibuatnya. Sabar Rindu sabar..!! ia harus sabar menerima cobaan yang ia hadapi ini, ia menatap kedepan yang ternyata ada Pertamini disana membuat ia tersenyum.” kalo gitu tolong beresin ya mang, itu juga tolong disiin bensinnya dua liter mang…” Ujar Rindu menggaruk kepalanya yang terasa sangat gatal itu. Entah kutu atau apapun itu membuat ia seperti ingin mencekik orang disana.
“Iya the neng.”Ujarnya membuat Rindu duduk dikursri sana, ia menghela nafas kasar dibuatnya, namun montir itu masih saja menatap Rindu dengan tanda Tanya.”Ngomong ngomong neng orang mana?” Tanyanya dengan kepo kepada Rindu.
Rindu diam menatap kesekeliling bengkel itu, ada banyak laki-laki, baik muda maupun tua dan ia baru menyadarinya, “Saya orang sini kok mang.. saya anaknya pak Imam..”Ujarnya Rindu jujur lallu melihat kesembarngan arah karena ketahuan melihat orang disana. Ia tak mau kelihatan apapun disana.
“Imam?” Gumam sang montir sembari membuka motor Rindu dan memperbaiki apa yang harus ia perbaiki.”Anaknya pak Imam berarti anak pak Azwardi sama buk Fitri Neng?” Tanyanya dengan bingung disana,” perasaan mereka neggak punya anak selain Rasyid, rindu sama Caca deh.. neng siapa? Neng penipu ya?” tanyanya dengan datar disana kepada Rindu.
Rindu menghela nafas dibuatnya. Lelah hati, lelah pikiran, semuanya Ia lelah, untung saja itu sakitnya ga kambu,”Yaampun mang. Itu baikin aja motornya, saya ini anaknya pak Azwardi sama buk Fitrri bener, saya Rindu..”Jawab Rindu selembut mungkin.”Dan tolong mang cepetan dikit, ini udah jam 9 atuh, nanti saya kena marah ummi sama abbi saya kalo lama-lama..” Ujarnya rindu tersenyum ramah disana, ingins ekali rasanya berteriaks epprti dirinya dulu, tapi itu sudah berubah, ia sudah tak suka hal yang begituan lagi. itu membuat sang mamamgnya menganggguk saja meski tak tau dan belum percaya. Baginya Rindu disini pasti memberi uangkan? Dan itu sudah cukup.
Dua puluh menit dibengkel membuat Rindu hamper ketiduran, sungguh ia menyesal tak membawa handpnhonennya, maumurojaah disini rebut sekali bunyi solder atau apapun itu, kepalanya bahkan terasa pusing disini. Setelah semuanya selesai cepat cepat ia bayar dan pergi dari sana supaya umi dan abbinya disana.
"makasih ya mang...! " Ujar Rindu membuat mamangnya mengangguk.
"Iya neng.... "
Sampai didepan Rindu Rindu dikagetkan dengan dua mobil didekat jalan yang berwarna hitam mewahh disana. Ia menatap mobil itud engan tatapan bingungnya lalu menatap semua rumah tetangganya, taka da siapa siapa. Siapa ini? Tamu siapa? Kok memarkirkan mobilnya didepan rumahnya.”Ini siapa si adduh.. “Ujar Rindu menggaruk keningnya lelah.”Yallah kenapa sin orang narok mobil disini, gue ka mau masukin motor kedalam rumah Yalllah…”Gumam Rindu mendesah disana.
__ADS_1
Rindu mengusap dadahnya terasa ingin menangis dibuatnya,“Astaghfirullahhal’azzim.. Sabarkan lah hati hambamu ini yaRob..”Gumam Rindu dengan nanarnya. Katena memang mobil itu tepat didepan gerbang rumah Rindu. Posisi Rumah Rindu itu memang ddiekat jalan, hanya saja jalan dengan depan Rumah Rindu itu berbeda skat, nah Rumah Rindu itu rendah membuatnya harus ada jalur khusus. Kalo tidak mengenakan jalan itu ya ia tak bisa masuk.
“Ini bener bener ya..”Gumam Rindu lalu turun dari motornya,. Ia mengambil buahnya dipengait motornya lalu berjalan disana kerumahnya smebari melihat rumah tetanganya, tidak ada siapapun nampaknya, lalu menatap rumahnya yang Nampak sanggat gelap gulita itu. Ia mendengus dibuatnya.”Assalamu’alaikum Ummi.. Abbi…!!” Ujar Rindu sedikit kencang disana takut umi dan abbinya tak dengar.
Disini tidak ada bell sebagaimana rumah kota ya.. mengenkan manual rindu mengetok pintu Rilumahnya nanar.”Yallah Mi., Bii. Motornya tadi mogok mangkanya Rindu lama, jangan dikunciin dong pintunya, Rindu tidur dimana dong..”Ujar Rondi nanar disana.
Ya.. inilah yang Rindu tadi takutkan, ia takut umi dan abbinya menutupi pintu rumahnya dan menguncinya karena ia pulang larut, dan ia tak berfikir apapun selain itu membuat ia nanar. Ia menatap kesembarangan arah dan menatap kesamping rumahnya yang gelap itu.”Ummi.. Abii.. Maafin Rindu, Rindu beneran kok tadi disana motor abbi mogok.. Demi Allah Rindu enggak boong..”Ujarnya Rindu nanar disana,. Ia sudah mengenakan nama Allah karena memang takut umi dan abbinya tak percaya kepadanya dan menyangkah dirinya bohong.
Klek.. kle..
Rindu terkejut dikalah mendengar suara pintu rumahnya dibuka membuat ia cepat cepat kepintu rumahnya dan tersenyum meski memakai cadar.. namun senyumnya memudar dikalah melihat yang ada didepan matanya itu bukan umi dan abbinya. Itu adalah pria paru baya yang mengenakan jas abu-abu dengan rambut yang sudah memutih separuh, jabang jenggot dan kumisnya bahkan sudah beruban, hanya saja ia masih tetap tampak gagah dan tampan meski begitu. jangan lupakan matanya sangat tajam dan juga tatapannnya sangat pas untuk menindas orang lain.” Kakek siapa? Umi sama abbi mana? “Tanya Rindu mengintip disela pintu yang terbuka namun segera ditutup oleh kakek itu membuat Rindu mendengus disana.,
Kakek itu menatap Rindu dari atas sampai bawah dengan tatapan intimidasinya yang kuat itu lalu menutup pintunya disana menatap Rindu tajam membuat Rindu mundur dua langkah dan mengeratkan peganganya pada pelastik buah ditanganya itu.,” Kamu yang siapa? Dan ngapain gedor rumah orang malam malam.”Ujarnya kepada Rindu.
Rindu mengerutkan keningnya lalu membalas tatapan tajam kakek itu, ia menatap kakek itu dari atas sampai bawah juga dengan tatapan intimidasi membuat kakek itu menatap Rindu dengan tatapan terkejut. Berani beraninya dia menatapnya begitu. “ Ini rumah saya..! situ yang siapa..! ” Jawab Rindu dengan tegas disana.” Dan saya baru pulang karena disuruh umi saya membeli ini….”Ujar Rindu menunjukan buah ditanganya itu.”Hmm jadi kakek yang siapa disini? Lalu kemana umi dan abi? Kenapa rumah saya gelap gulita kayak gini?!” Tanya Rindu dengan curiga disana.
Rindu mengerutkan keningnya terlebih dahulu. “ Jangan bilang itu mobil anda?!!” tanya Rindu menunjukan mobilnya disana menatap kakek itu karena kesal pertanyaanya tak dijawab malah bertanya terus ,menerus membuat ia tak suka.” kalo iya tolong minggirin dong, saya mau masukin motor abbi saya kedalam, nanti abbi saya marah sama saya. ,lain kali liatin jalannya, itu jalan masuk loh..”Ujar Rindu disana.
Kakek itu semakin datar menatap Rindu.” jawab saja pertanyaan saya. Kamu Rindu atau bukan?” Tanyanya dan tekanya disana.”Lagian kamu tidak sopan bicara begitu dengan saya, saya bertanya bukannya dijawab malah ditanya balik.”Dengusnya disana lalu bersedekap dada disana.
Rindu terkekeh disana.”Lah kakek yang ngajarin saya tidak sopan duluan, kan sedari tadi saya bertanya tapi kakek malah menanyakan hal lain lagi kepada saya.”Ujar Rindu disana jujur kepada sang kakek.” Dan lagi kakek yang mengajarkan saya bertanya dibalik pertanyaan. Jangan mau dihormati dan disopani terus dong jika tak bisa menyopani dan menghormati orang lain..!” Kerus Rindu.
Maaf ya.. Rindu bukannya tak sopan, hanya saja ia tak suka dengan cara kakek ini, salam tak dijawab, pertanyaan tak juga direpon,. Pintu ditutup, mobil diparkur sembarangan, menatap dirinya pun bagaikan menatap sesoerang dengan tatapan kebencian disana.”Dan tolong ya kek, kakek mingir deh, saya mau masuk..”Ujar Riindu menggeser tubuh kakeknya dengan lembut.
Tanganya dicekal dengan kakek itu dan menatap Rindu tambah tajam.,”Kamu tidak boleh masuk jika bukan bernama Rindu.. dan kamu tidak sopan ya jadi perempuan..! ”Ujarnya dengan menekan semua kata katanya karena tak suka dengan Rindu yang sedari tadi tak bisa bicara baik denganya.
Rindu menepis tangan kakek itu karena terasa sakit dicekal itu membuat kakeknya menatap Rindu tajam.”Jangan pegang pegang, kita bukan makhrom.”Ujar Rindu sopan.”Duh kek ini tu rumah saya, mau saya Rindu dan mau saya bukan Rindu itu bukan urusan kakek. Jadi jangan halangin jalan saya ...” Ujar Rindu khawatir dengan ayah dan ibunya didalam sana. Ada apa ini batinya. Ia merasa tak enak dihatinya sekarang.
__ADS_1
Sedangkan didalam sana sudah ada Rasyid yang babak belur diikat diatas kursi dan abbinya Rindu yang diikat dengan tali juga, jangan lupakan umi Rindu yang sudah pingsan disana karena tak kuat melihat suami dan anaknya yang berkelahi tadi.. ya abbi Rindu terpaksa keluar ketika melihat rasyid dikeroyok dan hampir dibunuh tadi. Dan keadaan tetangga sangat sepih karena semua orang sedang pergi kepesta membuat abbi dan ami Rindu harus bertahan sendiri.
“Kakek minggir deh ih.,. saya mau masuk..!!biii Umi.. abbi..!! AAbbbang..!! Caca..! kalian dimana?!” Tanya Rindu dengan berteriak disana menerobos masuk membuat sang kakek itu mencekal Rindu dengan kuatnya.
“Rindu keluar.. jangan masuk..!! lari..!!|" Teriak abbi Rindu dengan seraknya karena mendengar pertengkaran Rindu.”Lari nak cepat..!!! “Teriaknya nanar disana disela bibirnya yang terasa perih karena berdarah dan juga luka yang menganga, sakit yang ia rasakan tak setara dengan rasa takut yang ada didadanya.
Rindu yang mendengar teriakan abbinya yang ’Tidak baik baik saja itu’ tertegun, ia menatap kakek itu datar lalu menatap sembarangan arah.” Abbi..!!” Teriaknya kuat disana., ia tak akan pergi sebelum melihtat apakah abbinya dna keluarganya baik-baik saja. Matipun ia rela membuat ia menerobos masuk meski ditahan.
Snag kakek menahan dan menarik tangan Rindu itu pun..
Bugh.. Aargghh..... dengan santaynya Rindu membanting tubuh sang kakek disana kuat membuat sang kakek kaget dan merasakan punggungnya yang terasa mau patah.,”Rindu pergi..!!” Teriak abbinya tak kuat disana mendengar Rindu yang malah mau masuk bukannya pergi. Kesalahan buatnya yang berteriak.
Rindu masuk ketika tak ada halangan disana, tepat saat ia masuk rumah yang gelap itu pintunya ditutup cepat oleh si kakek yang terasa pinggangnya mau parah itu, ia memegang dadanya sakit disana. Rindu cukup kuat dimatanya.
“Abbi..!! abbbi dimana? Umi..!” Teriak Rindu disana nanar.
Klik.. tiba tiba saja rumahnya terang membuat Rindu menatap kedepan nanar, matanya berkedip disana dengan kedipan nanarnya menatap Abi dan abangnya yang ditodong pistol disana, belum lagi uminya Rindu yang dikat diatas shofa karena pingsan., belum lagi keadaan abbi dan abangnya yang Nampak sangatlah tragis disana. Ia terkekeh dibuatnya.
Puk.. puk..puk...
Tekupan tangan disana membuat Rindu menatap datar sang empu, disana ia menatap sosok yang Nampak seprti ia kenal, tapi siapa ia lupa, ia ingat jika pernah berurusan dengan pria ini.
“Waw.. kamu hebat sekali ya Rindu kecil..!!”Ujarnya disana kepada Rindu dengan mengejeknya,”Bisa bisanya kamu mengalahklan ayah saya..”ujarnya membuat sang kakek tadi mendengus, ia masih sangat merasakan pusing dibagian kepalanya dan sakit diibagian pantatnya membuat tanganya gemetar. Bisa bayangkan saja bagaimana rasanya dibanting.
Rindu menahan nafas tenang lalu menatap abbinya yang malah menangis dan Raysid yang diam menatapnya itu, nampak sekali Rasyid disana sedang shok dan juga khawatir, namun disana sangat tertanam rasa sedih membuat Rindu menataps emua orang, ia menghitung semua jumlah orang, disana ada Sembilan orang., enam bersenjata api dan dua bersenjata tajam., satunya tidak, tapi Rindu bisa melihat senjata tajam dosaku belakangnya membuat otak Rindu berjalan cepat.” Pengecut…!”Gumam Rindu dengan penuh penekanan disana, “Bisa bisanya kalian mengkerotok keluarga saya.. apakah ini yang namanya bajjingan yang sungguhnya…!!! “ujar Rindu dengan kekehannya.
”Cuh…!!!” Rindu memainkan perannya disana meski mengenakan cadar memnatap semua orang yang menatapnya geram.” Dan kalian memang benar benar pengecut dari yang pengecut.. selamat, kalian adalah pemenang dari manusia pengecut didunia nyata.. puk oukppuk..!!| Ujar Rindu membuat abi Rindu mengeleng disana, ia menatap anaknya nanar disana karena tau maksud dari ucapan dan tindakan yang akan dilakukan oleh Rindu anaknya ini,
__ADS_1
.