Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Pengakuan Diva


__ADS_3

Sejak saat itulah Rindu tak percaya akan pria. Satya adalah sosok yang Diidam-idamkan kaum hawa karena kemahiran akan hurub arab dan suara yang merdu. Ilmu agama yang tinggi dan wajah yang tampan membuat semua orang jatuh hati saat bertemu. Ahh, rasanya tak ada kurang seikitpun bagi Ukhty-ukhty duniawi.


Bukannya Rindu menyamai semua pria itu sama. Hanya saja kepercayan Rindu sudah runuh. Sangat runtuh. Karena itu ia tak suka dipeluk, disentu ataupun berjabat tangan sekalipun pada seorang pria. Bisa dikatakan ia trauma ringan pada pria.


Seusai Rindu bercerita. Ia hanya diam dengan tatapan kosong.


“Gue harus gimana ?” Tanya Diva meneyesal. “Gue mau mati aja. Matii..!” Teriak nya.


“Jangan ambil keputusan gegabah Div, nanti kita minta tanggung jawab sama kak Reza.” Bujuk Rindu. Mata nya sendu.


Diva sama sekali tak mau mendengarkan ucapan Rindu. sudah hampir satu jam mereka disini. Diva mengambil lagi currternya. Ia mendorong dan mengeluarkan pisau yang sangat tajam membuat Rindu takut sekaligus tak nekat saat pisau itu menyentu lengan kiri Diva,


“Lepasin Div.. jangan main main..” Rindu memukul tangan kanan Diva supaya pisau itu lepas. Tapi cengkraman Diva sangat erat pada Cutter. Sama sekali tak punya efek. Sedangkan Meme hanya mematung tak bergeming, Meme sosok yang baik dan penakut. Karena itu ia tak bisa berbuat banyak.


“Gue mau mati Rindu..!” Teriak Diva memberontak.


Saat pisau itu hampir menyentu kulit itu. Rindu merebut paksa pisau itu. Telapak tangan Rindu mengeluarkan banyak darah. Tepatnya Rindu merebut pisau itu dan mengenai telapak tangannya. Tak peduli akan tangannya. Ia merebut paksa menyebabkan luka itu semakin dalam dan mengeluarkan banyak darah. Untungnya ia bisa merebutnya da membuangnya jauh.” Jangan bohoh jadi manusia..! Hidup lo bukan sampai sini aja..! Kalo dia ngak mau tanggung jawab, bukan berarti lo mati..! lo jangan bodoh Diva...! Masa iya dia enak-enakkan hidup sedangkan lo mati trus masuk neraka dengan penderitaan yang berlimpa..!” Teriak Rindu.


“Loe nggak tau Rindu... lo nggak ada diposisi gue. Gua mau mati aja...!” Teriak Diva sembari merangkak menekati cutter itu lagi.


Plak..


Tangan kanan yang bercucuran darah itu menampar wajah Diva keras. Mata Rindu memerah marah. Sedangkan Diva tertawa sinis sembari memegang pipinya yang panas.


Rambutnya menutupi tawa sinis dan jahat diwajahnya. Pipi kanannya tertutup darah Rindu yang melekat.


Plak..

__ADS_1


Diva menampar wajah Rindu juga saat itu. “Ini semua gara-gara lo...! gara-gara lo hidup gue hacur..!” Teriaknya.


Rindu tak menyentu panas dipipinya. Ia masih menatap Diva tak percaya.


“Semua itu gara-gara lo..! Perawan gue hilang gara-gara selalu jadi bayangan lo.. selalu.” Teriaknya. Rindu masih tak bergeming. Matanya masih lekat menatap mata penuh amarah itu. Diva menepuk pipi Rindu pelan.


“Loe inget sama kak Andra yang lo tolak 3kali saat SMP?” Tanya Diva menatap Rindu. rindu tak bergeming.


Ia ingat pria itu. Pria yang sudah mengungkapkan perasaannya 3kali disekolah. Tak tanggung-tanggung. Andra mengungkapkannya dikelas saat ada guru yang mengajar, saat mata pelajaran olarahraga dilapangan dan yang terakhir dilapangan dengan buket dan boneka. Tapi sayangnya Rindu tak kunjung membalasnya.


Diva terkekeh pelan bagaikan orang gila. “ Gue suka sama kak Andra tapi dia sukanya sama lo..!” Bentak Diva lagi. Seketika pula ia menangis sambil tertawa gila. “Dia kasih penawaran buat gue. dan loe tau apa penawarannya?” Tanya Diva lagi.


“Kalo gue mau tidur sama dia. Gue bakal jadi pacar dia. Dan gue lakuin itu..” Lanjutnya. Ia memainkan anting-anting Rindu yang terbuat dari emas sembari tertawa gila. “Dan lo tau nggak apa yang ia ceritain saat kita lagi bersama. Bahkan Sampai gue udah kasih keperawanan gue?” Tanyanya lagi dengan suara yang memilukan.


“Dia bilang. Gue pelampiasannya. INI BALASAN KARENA LO NOLAK DIA..! INI BALESAN KARENA LO NGGAK PERNAH HARGAIN DIA... DIA BUANG GUE GITU AJA RINDU..!” Teriaknya histeris. "Gue cuma pelampisan karena lo udah nolak dan mempermalukan dia...." Raungnya


“Gue dijadiian pelampiasan karena lo Rin..! Gue hancur gara-gara lo Rin. Hiks hiks.. benci gue berlipat ganda sama lo. Ujung kuku lo aja gue bakar saat tau kalo itu milik lo... “ Ia mengacak lagi rabutnya frustasi. “ Gue selalu dapet kayak gini. Gue kembali buat kesalahan Rindu. gue iri sma lo yang bisa dapetin apapun dari Arga tanpa lo minta.” Ucapnya.


“Gue mau dapet cowok kayak gitu. Tapi ngak ada yang mau,.. tapi gue punya kesempatan dapet cowok yang bisa kasih gue apa pun yang gue mau, tapi dengan satu syarat.” Gumamnya. Ia kembali menatap Rindu. “Syaratnya tidur dengan dia. Ngelayanin permintaan bejatnya. Dan lo tau saat udah gue lakuin itu apa yang dia ucap?” Tanyanya rapuh.


“Dia bilang kalo dia suka sama lo. Bahkan desahannya nyebutin nama lo berkali-kali, dan gue kembali jadi pelampiasan lo.” Ucapnya frusasi. Tangisnya tak surut mengungkapkan bahwa hatinya sakit bercampur kebencian.


Mata Rindu sudah kabut akan air mata. Berkedip, air sucinya jatuh. Suaranya tercekat ditenggorokan. Apa yang harus ia lakukan? Apakah semua kehancuran ini memang karena dirinya.


“Geu juga nggak perawan Div.” Sahut Meme pelan membuat Rindu dan Diva menatapnya.


“Gue sama nasibnya sama lo. Lo inget Arif?” Tanyanya menatap Rindu.

__ADS_1


Arif Salah satu agen dari mereka saat dulu Rindu ikut gabung. Tapi Rindu tak terlalu mengenalnya. “Dia minta buat gue bisa buat lo tidur sama dia. Tapi sayangnya gue terlalu na’if. Gue ngak bisa ngasih loe kedia Rin. Karena itu gue datang sendiri dihotel tempat ia merencanakan buat nemuin lo. Gue mau jelasin gue ngak bisa. Tapi sayangnya gue yang jadi bahan amukan dan mangsanya. Gue yang jadi korban.” Ucapnya dengan tatapan kosong. air katanya kembali banjir. Tatapan matanya kosong tak bisa diartikan.


Diva tertawa sinis. “Lo dengerkan? Kalo kita itu hancur gara-gara lo.” Ucapnya menatap Rindu tajam.


Diva berjalan mendekati Meme yang sedari tadi menangis. “Yok kita pergi dari hidup manusia kayak dia.” Ucapnya dingin.


“Div. Me. Gue nggak tau itu semua. Gue ngak ta---“


“Stopin mulut busuk lo itu..! Gue muak liat lo sok baik padahal lo itu iblis Rindu...!” Ucapnya berteriak.


“Di-..”


“Diam Rindu...”


Blagh...


Meme membanting kursi rias disampingnya. Ia memegang tangan Diva dan pergi meningalkan Rindu. tapi sesaat Diva dan Meme berhenti. “Dan kalo gue mati dan Meme mati. itu artinya lo sebagai peneyebabnya...! kalopun gue ngugurin atau aborsi ini bayi dari rahim gue, itu adalah dosa lo.. karena lo dia mati. semua itu gara-gara lo.” Ucanya dingin dan pergi.


.


.


.


.


**Alasannya Diva benci Rindu udah diungkapin ya....

__ADS_1


Bdw ini belum puncak konflik. Kasih Like. Vote sama komentar ya biar rada mangat**....


__ADS_2