Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
diterima


__ADS_3

Dua perkara tentang solat... Tentang kamu yang solat karena tau jika solat itu wajib atau kamu yang disholatkan suatu hari kelak.. tinggal pilih saja yang mana.... NVS31...


....


Sekarang Rindu sudah duduk dimeja makan. Kalian bertanya apakah mereka sholat berjamaah? Jawabanya tidak, sebab Abinya Rindu dan Rasyid sholat dimasjid sedangkan Rindu sholat dikamarnya dan uminya sholat dikamarnya sendiri tadi..


Disinilah Rindu sekarang, mereka sudah kumpul semua disana, karena Abinya Rindu dan Rasyid sudah pulang dari masyid sesudah solat isya berjamaah tadi. Jantung Rindu berdegub kencang, jujur saja sekarang perutnya itu perih bukan lapar, hanya perih karena belum mnenyentu nasi selama seharian ini dan tak lapar karena rasa takutnya menguasai dirinya.


Disana Abbinya Rindu menatap Rasyid disampingnya itu.” Yaudah.. yuk Rasyid baca doa makannya.”Ujarnya kepada rasyid disana dengan tegasnya namun tidak membentak., karena memang suara abbinya Rindu itu tegas dan bas.


Raysid disana mengangguk dan melihat Rindu disampingnya itu tersneyum., ia mengangkat tanganya diikuti dengan semua orang termasuk umi Rindu disana.” Bissmillahirrahmanirrahim.. Allahumma bariklana fimmarazaktana wakinna azzabannar.. aamiinn.”Ujarnya berdoa lalu mengusap wjahnya khidmat.


Disana Rindu masih tetap menunduk karena takut, ia takut jika keluarganya marah jika ia menyentu makanan, ia tadi bahkan tak mau kesini jika bukan Umminya yang memanggilnya, sampai sini bahkan ia hanya menunduk dari tadi tanpa mau melihat apa saja makanan yang ada,. Meski bauh masakan ibunya mampu membuat siapapun meliriknya. Ia merindukan masakannya Umminya.


“Rindu ayoo dimakan nak..”Ujarnya Umi Rindu disana lembut kepada Rindu didepanya itu, ia menaruh nasih kepada Caca dan sayur disana..” Ni Caca makan ya sayang..”Ujarnya kepada adiknya Rindu yang sedari awal sampai sekarang menatap Rindu dengan tanda Tanya.


“Dia kak Rindu Mi? kok mukanya ditutup sekarang?” tanyanya heran kepada Uminya yang ada disampingnya umurnya mungkin baru 9 tahun tapi ia sudah kelas 4sd loh, ia menatap Rindu dengan tatapan tak sukanya.


Uminya Rindu mengangguk.” Iya…”Jawabnya membuat Caca mencebik menatap Rindu.”Ngapain si kak pulang? Kapan pergi lagi? Kayaknya rumah lebih adem kalo enggak ada kakak..”Ujarnya menyuapi makanya kemulutnya.” Enggak ada yang marahin Caca, enggak ada yang ngatur-ngatur dan enggak ada yang dimarah marah lagi… “Ujarnya lagi membuat Rindu menatap adiknya itu datar.


Adiknya memang begini, terlalu kasar dan melawan kepada dirinya , “Husttt anak abbi enggak boleh ngomong kasar. Sekarang makan..!”Ujar Abinya Rindu lembut kepada adiknya Rindu lalu menatap Rindu juga.” Kalo enggak mau makan lebih baik kamu kekamar aja gih.. kalo disini itu tempatnya orang makan..”Ujarnya namun matanya menatap pirih menahan air mata jatuh.


Rasyid mengambil nasi lalu menyentongnya kepiring Rindu. Itu membuat Risndu menatap semua makanan yang ada diatas meja. "Jangan malu malu.. Ini makanan kesukaan kau semua loh... "Ujarnya.

__ADS_1


Terpancar senyum tipis dibibirnya menatap umminya yang diam diam meliriknya itu.., Kalian tau apa yang membuat ia tersenyum? Ternyata semua sayur disini adalah maknan kesukaanya. Apa itu? Itu adalah Urap , kalian tau nggak urap? (bunga papaya/ daun papaya, kacang dan toge dicampur rempah rempah dan kelapa parut. Rasanya enak sekali bagi Rindu, tapi bagi yang tidak bisa mengelolahnya maka akan memberi kan rasa pahit yang tak ketulung lagi…)


Lalu disana juga ada ayam bakar kecap pedas membuat Rindu mengigit bibir bawahnya itu, uminya memasak orek kacang dan ikan teri juga mmebuat ia mengusap ujung matanya yang berair itu.. apakah semua ini uminya masak untuk dirinya? Rindu yakin iya.. dan terakhir ada nasi santan. Nasi putih namun mengenakan santan itu membuat rasanya gemuk dan juga enak membuat Rindu tak menyangkah, ternyata Uminya menyambutnya juga datang meski tanpa pelukan, tapi sekarang sebatas makanan.


Ia mengambil makanan disana lalu mulai memakanya.” Terimakasih.. Ummi.. Abii. abang.. ”Ujarnya dengan senyum tulus membuat Uminya memalingkan wajahnya, ia menghusap ujung air matanya lalu kembali mengunya..


Uminya Rindu menatap Rindu sendu dikalah Rindu yang menapikan cadarnya lalu makan, “ Kenapa kamu sekarang pakek Niqob Rindu? Tanyanya Uminya Rindu dengan sendunya , ia bahkan guru ngaji yang masih suka buka aurat, ia masih jarang mengenakan hijab jika dirumah tapi mengenakan hijhab diliuar sana. Sebenarnya ia tau hijab itu wajib tapi baginya panas..


Rindu mengunya makananya.” Alhamdullillah Rindu dikasih hidaya Ummi.. sebagaimana kata Abi, wanita itu pada akhirnya akan mengenakan hijab yang tertutup bukan?!, dengan pilihanya sendiri atau dia mengenakanya karena dikenakan oleh orang lain ketika ia menjadi jenaza suatu hari kjelak..”Ujarnya menjawab.


Uhukk uhukk.. Umi Rindu terbatuk mendengarnya membuat Abinya Rindu memberikanya minum cepat.” Tuh kan makanya pelan-pelan… “Ujarnya lembut lalu mengusap bahu istrinya itu. Umi Rindu diam menatap Rindu dengan mengerjab meski dadanya masih perih tapi kata kata Rindu membuat ia sedikit terjungklal, tertampar dan tertendang.


“Lagian ngapain si dek ngomongin kematian?” Tanyanya Rasyid kepada adiknya itu.”Umi jadi kagetkan tadi haha, secarakan umi belum pakek hijab… padahal guru ngaji.. Kamu masih muda jadi jangan banyak bicara tentang kematian, karena kata kata adalah doa.” ;Lanjutnya terkekeh menatap Rindu sembari memakan makanya senang.


U,minya Rindu menatap Abinya yang ternyata Abinya Rindu makan diselah senyumnya, Uminya tau jika itu senyum bahagia dikalah mendengar Rindu yang sekarang sudah jauh berubah.. itu membuat ia ikut tersneyum bahagia. Bahagia suaminya adalah bahagia dirinya pula. Lalu ia kembali makan dan menatap Rindu dan semuanya,”Ini habisin semua ya, soalnya ini memamng buat kita malam ini, kalo ditinggain besok basi dan enggak enak lagi dimakan.. Rindu kalo mau nambah makan ya..”Ujarnya tanpa melihat sang empu lalu memakan makananya sendiri. Rindu hanya mengangguk saja sebagai jawaban dari ucapan dan pertanyaan dari Umminya itu.


Semuanya selesai makan dalam waktu beberapa menit berikutnya, dan sekarang uminya Rindu sedang membuka pudding dan juga susu coklat dan susu putih cap badak wkwkwk dan juga kopi untuk diantarkan keruang keluarga. Ya.. mereka bisanya akan begini jika malam malam, akan kumpul bersama dan juga mengobrol banyak tentang kebiasaan dan apa yang terkadi akan berikutnya.


Rindu bangkit dari duduknya lalu membereskan tempat makan disana membuat semua keluarganya menatapnya, “Ciee sekarang udah jadi rajin dan sholeha ya semenjak pergi dari rumah selama empat bulanan hehe…”Ujarmnya Rasyid menggoda Rindu yang membersihkan mejanya itu.


Ummi Rindu menahan Rindu lalu berkata.”Kamu biasanya enggak mau kan bersih bersih, biar ummi aja ,enmggak apa-apa. Ummi udah terbiasa enggak ada kamu kok.. kamu duduk aja diluar sana abbi dan lainnya..”Ujarnya kepada Rindu yang dulu jika disuruh itu malasa malasan dan berkata mager.. kadang Rindu menjawab itukan memang tugasnya seorang ibu, ngapain ngelempar keanaknya.


Tapi sekarang Rindu malah tersenyum dan melihat uminya itu tulus.” Itukan dulu Mi. sekarang Rindu suka kok cuci piring dan beres beres. Umi dan yang lain aja didepan TV. Biar Rindu yang beresin semuanya yang ada disini.”Ujarnya kepada uminya dan menatap abangnya itu.”Jelas dong bang, kan hidup btuh perjuangan. Kemageran dan kemalasan adalamh musuh bagi kita kaum milenial sekarang.. maju bergerak supaya bisa membangkitkan negeri kita ya nggak?” tanyanya lalu menaruh semua piring kototr kebelakamng.

__ADS_1


“ Tapi tangan kamu…” Gumamnya Umi Rindu tertegun, ia tau Rindu alergi cabe dan bisa membuat kulitnya nanti mengelupas jika terkena air cabe saja, dan akan panas setiap hari, bahkan berhari hari membuat Rindu tak dapat tidur secara nyenyak dan baik. Tapi tangannya ditarik suaminya membuat ia menatap suaminya itu.


Abbi Rindu mengerjabkan matanya melihat istrinya itu lalu menariknya keruang keluarga. Sedangkan Rindu mencuci piring dan membersihkan semuanya yang ada didapur., ia yang dulunya gadis pemalas hanya karena alergi cabe, ia yang dulunya tak mau menyentuh dapur tapi dipaksa tapi sekarang? Hahah.. kadang takdir memang begitu lucu sampai membuat Rindu berbelok arah..


Sudah beberapa menit Rindu membersihkan semuanya membuat ia keluar membawa baskom berisi air menuju uminya dan abbinya.. lalu kembali pergi kedapur lagi mengambil baskom lagi membuat semua orang bingung.. lalu setelahnya Rindu kembali kedapur lagi hanya untuk mengambil lap. Barulah ia berhenti menatap uumminya dan abbinya yang menatapnya heran itu. Untuk apa air didalam baskom yang dibawa Rindu itu.


Rindu menunduk lalu meremas lapnya lalu menatap abbi nya dan uminya dengan tulus.” Umi. Abbi..!! “ia menutup erat matanya sampai keluar air matanya.” Izinin Rindu buat bersihin kaki umi sama abbi ya.. “ Gumamnya dengan sesak dan juga sesaknya,” Rindu banyak salah sama Umi, sama Abbi.. Rindu mau bersihin kaki kalian supaya Rindu bisa liat syurga Rindu, katanya syurga itu ada dikaki ibu.. Rindu banyak dosa umi, jadi senggaknya jika nanti Rindu mati, Rindu sudah bisa mencium syirga Rindu dikakinya Ummi..” Ujarnya dengan gugup dan pipi yang basah lagi.


Umminya Rindu menatap abbinya Rindu dengan tanda Tanya. Namun abbi Rindu memalingkan wajhnya menatap Rindu, ingin pergi tapi tertahan dengan kata-kata Rindu. “ Tolong sekali ini aja Bi..”Ujar Rindu memohon dengan menjatuhkan kakinya piluh.” Udah itu insyallah Rindu bakal pergi dari rumah ini jika memang kedatanganya Rindu dirumah ini enggak diharapkan..”Ujarnya disana piluh.


“Rindu bisa pergi sejauh mungkin bi.. enggak bakal ganggu abbi dan Ummi. Cuma tolong beri Rindu maaf kalian supaya Rindu bisa tenang. Beri Rindu kesempatan buat bersihin kaki kalian supaya Rindu bisa ngerasa sekali aja bisa berbakti dengan orang tua. Rindu sadar jika selama ini Rindu enggak bisa jadi anak yang baik, tapi Rindu mohon..!! tolong engrain permohonan putri kalian yang pembuat masalah ini. Tolong..” Ujarnya beberapa kali menyebutkan kalimat tolongnya.


Abbi Rindu yang sudah bangkit itu sekarang kembali duduk menatap Rindu sendu. Ummi Rindu menahan laju air matanya melihat anaknya, putri yang ia suka marah, putrinya yang ia sayangi itu. Ia menatap suaminya lelu tanpa persetujuan suaminya lagi ia berkata. “ Bodoh..”Gumamnya membuat Rindu tersenyum piluh disana menatap Uminya itu.


Rasyid? Disana ia sudah memeluk kotak tyymsu karena sudah sedari tadi ia menangis melihat Rindu, sedangkan Caca hanya sibuk menonton saja.. Rindu menatap abbinya berharap membuat abbinya Rindu mengangguk dan melambaikan tanganya.”Sinilah nak..”Ujarnya dengan air mata yang jatuh..” kamu putri abbi yang nakal. Sini..!” Ujarnya membuat Rindu tersenyum tapi dengan derai air mata yang jatuh disana.


Rindu mendekati abbinya dan Uminya menghapus air matanya yang banjir itu tau memeluk uminya dan abbinya erat dibalas oleh uminya dan abbinya, meski begitu masih ada rasa takut yang lkuar biasa didadanya, tapi ia tak kuat melihat anak kesayanganya ini menangis dan memohon begitu. keras kerasnya Rindu. Rindu adalah anak kesayanganya, bukan Rasyid atau pun Caca.. tapi Rindu asal kalian tau…


Uumi Rindu memeluk Rindu dengan erat..” Abbi kamu bangga sama kamu Rindu..”Gumamnya dalam hatii menatap suaminya yang tak menangis itu Nampak menangis disampingnya. Ia bahkan bisa melihat mata abbinya itu Nampak sangat bahagia...


Cuipp.. satu kecupan hangat dipipinya Rindu dari Umminya rindu membuat Rindu memejamkan matanya, merasakan kehangatan umi dan abbinya..“ Nnati jangan tinggalin abbi sama Umi bagaimanapun caranya ya.”Ujar Abbinya mengusap pipi Rindu.” Semuanya sudah terjadi, kamu sudah pulang dan abbi enggak bisa dan enggak tega biarin kamu nangis lagi kayak gini.”Ujar abbinya Rindu disana.” Kami putri abbi yang sangat abbi sayangin… kamu perempuan kuat dan perempuan kebanggaan abbi.. selalu jadi anak sholeha ya nak bagaimanapun caranya kelak, apapun yang terjadi kelak..”ujarnya mengusapn pipi Rindu.


Tadinya abbi Rindu masih tetap menyuruh Rindu pergi, tapi ketika Rindu sudah memohon dengan mata yang berlinang air mata ia tak kuat, ia tak sanggup membuat ia mau memaafkan Rindu, lebih tepatnya membolehkan Rindu tetap dirumah ini, bagaimanapun caranya dan apapun resikonya kelak, ia akan tetap menerima Rindu dan menerima apa yang akan terjadi..

__ADS_1


Rindu mutiara hatinya, tempat ia marah karena Rindu satu perempuan yang bagaikan seorang lelali, namun sisi lain ia juga lembut bagaikan coklat yang manis. Ia juga tegas jika menolak, bagaimanapun itu semua adalah didikannya dulu, “Maafin abbi yang marahin kamu ya Rindu.. maafin abbi yang klasar,, kadang memang ada soerang anak yang harus dididik sedikit kasar supaya nada bicaranya lebih renda dari pada nada bicara seorang abbinya.”Gumamnya dalam hati. Ya. Itu kata istilahnya


__ADS_2