
Filos menganguk saja.” Ta tapi kita tidak bisa berbelok tuan. Sebab dibelakang kita juga ada mobil, dan jalan ini sangat kecil.” Ujarnya dengan menggaruk tengkuknya tak gatal. Kan sudah dikatakan jika jalan ini masih jalan raya dekat dengan kota. Wajar saja banyak mobil bukan?
Habib dan Rindu menatap kebelakang, dan benar saja. Dibelakang sekarang ada banyak mobil membuat mereka menghela nafas, ini namanya mundur tak bisa maju apalagi... Habib memijit pelipisnya. Ia menatap kelangit yang masih menjatuhkan Rahmat Allah yang maha kuasa. Nikmt yangs sering kita lupakan. “Jadi bagaimana ini?” Tanya dari Filos kepada Habib.
Rindu menatap kedua nya dengan tatapan bungung.” Kita nyewa itu hotel saja. Kita sewa yang besarnya biasanya yang besar bisa disewa dengan harga yang cukup besar. Tidak apa-apa, tapi disana lebih nyaman dan juga luas. Disana juga ada dua kamar biasanya..” Ujarnya menatap kedepan sana. Dimana ada banyak pondok kecil-kecil itu, tak kecil banget sii, tapi hanya sebatas tenpat tidur, hanya itu..
Filos dna Habib menatap arah pandangnya Rindu membuat mereka mengerutkan keningnya “Itu penginapan?” Tanyanya heran. Sebab itu terbuat dari bambu jalin untuk dindingnya dan juga diatapi dengan daun pandan.
Rindu mengngguk. “Ya iyalah. Ini tu hotel kalo dikampung, nggak ada hotel kek dikota... jangan heran, duluar aja jelek kok, tapi didalem kalian bakal yaman, soalnya biasanya yang kek gini tu dingin dan juga nyaman. Disana juga kalian bakal bisa lihat pemandangan, biasanya tu dibawah atau diujung sana ada taman, ya entah taman buatan atau taman alami. coba aja kalo enggak percaya.” Ujar Rindu semangat. sebab dia kan dari desa jadi wajarlah dia bisa tau.. lagipula didesa da dikota hotelnya memang beda kok..
Habib menatap Rindu tak percaya. Lalu menatap Filos. Filospun tak percaya membuat Rindu menghela nafas, ia juga tak mau didalam mobil. Sedangkan dibelakang semakin lama mobil semakin banyak membuat Habib dan Filos bimbang, mau ikut sarannya Rindu atau tetap disini. Tapi bagaimana lagi? Masa sepanjang hari dan malam mereka seperti ini? lalu ia menatap kedepan, disana ada tebing membat mereka takut jika mereka akan terkena longsor juga nantinya.
Filos menaap Habib dengan tatapan takutnya.” Kenapa kita tidak coba saja tuan. sepertinya saran Rindu bagus... lihat.. orang lain banyak yang menginap disana.” Ujar Filos menunjukan arah belakang yang sudah banyak orang lain berlari menuju hotel itu.
Habib tak bisa berkata kata lagi lalu mengangguk membuat Filos tersenyum. Lalu memutar stir.. karena memang disini ia bisa langsung masukkan moblnya kedalam hotel itu.. saat masukpun disini mereka tak melihat ada yang menarik dari hotel ini. semuanya nampak kuno dan jelek membuat Habib seikat takut. Bukan hanya Habib saja, tapi juga Filos. Sebab hari sudah maggrib membuat mereka tak bisa melihat dengan jelas, namun langit masih berwarna biru dan beberapa kali berkerdip karena petir.
“Ayoo...” Habib memberikan jasnya pada Rindu supaya Rindu bisa turun tak basah membuat Rindu mau mengembalikanya, tapi sayangnya Habib sudah keluar tanpa sepatah katapun membuat Rindu menghela nafas dan menerima jas itu.
Saat ia keluar luntur sudah rasa bapernya dia.. tadi dia sudah baper karena Habib lebih mementingkan dirinya dari pada dirinya sendiri. Namun nyatanya Habib keluar dan mengambil payung dibagasi membuat ia memakai payung dengan Filos. dan ternyata dirinya yag malah seperti pertunjukan korena ini.. hadew...!!
Sudah Rindu jangan baper. Disini memnag tidka disediakan baper-baperan..!! fokus pada hijramu.. “Kmau tidak basah kan?” Dengan bodohnya Hbaib bertanya pada Rindu yang baru sampai mengunakan jas yang nasah kup itu. Hujan sangta lebat namun parkiran terpisah dnegan tempat pendaftaran peginapan.
Rindu melirik Habib dengan menahan amarah dan lirikan sinisnya. Ia memaksa senyumnya dan menghela nafas. “ Tuhan nyipatain mata buay lihat. Bapak bisa lihat sendiri oke..!” Ujarnya menjaga intonais bicara sebab bicara sama Habib sama saja memancing imannya Rindu.
“Loh kog nyolot. Kan saya nanya..!” Ujar Habib tak terima. Karena baginya ucapan Rindu terdengar nyolot dan marah.” Kan saya khawatir kamu basah,, lagipula baju kamukan warna hitam jadi mana saya tau Rindu,jadi saya tidak tau ini basah atau tidak. Mau saya pegang juga nanti bakal kena gamparkan sama kamu..!” Dengusnya kesal.
Lah.. Rindu menatap bajunya. Lah benar pulak.. kan-kan..! inilah alasan kenapa kita dilarang huszon.!! malukan, dan menambah dosa,, kenapa bisa ia menjadi bar-bar semacam itu. Ia menghela nafas.” Sudah-sudah.. ayoo kita tanya saja sama petugas disini masih ada penginapan atau tidak dari pada ribut disini..!” Ujar Filos yang menengahi mereka berdua. Pusing juga dia jika harus mendengar keributan mereka disini itu.
__ADS_1
Rindu mengangguk saja dan diikuti oleh Habib. Meskipun sedikit sinis Habib namun masih mengikuti langakah kakinya Filos menuju ruang administrasi. Disini sangat ramai membuat Rindu risih, sebab banyak yang menatapnya dengan sinis. dan menatap Habib dengan tatapan takut, memang ada salah kah dengan dirinya? Namun ia menghiraukan tatapanya itu.
Lalu matanya menatap keujung lobi.. disana ada sosok yang ia nampak seperti mengenalinya. Tapi apakah benar? Ia mengucek matanya karena ingin menerangkan penglihatannya dan benar adanya. disana itu nampak temannya membuat ia berdiri.
Habib yang menatap Rindu dengan tanya. Sebab Rindu yang nampak mau pergi..” Hey,,,!! Kau mau kemana hmm?” Tanya Habib menahan laju kaki Rindu yang ingin mau pergi dari sana.
Rindu menghela nafas menatap Habib. Namun matanya kembali menatap kearah tadi.” Diva..! Meme..!!” Teriaknya.. itu membuat Habib menutup telinganya. Rindu tak membuang waktu lalu mencari sosok itulagi.. ia mencari sana sini dimana sosok tadi.. namun ia usaha tak melihatnya lagi membuat ia menghela nafas. Ia takut dan juga terkejut.
Ia menutup matanya erat karena takut. Jantungnya berdegub kencang sekarang. Ia menatap kiri dan kanan namun tak menemukan siapa-siapa..” Semoga aku hanya mimpi Yaallah...!” Gumamnya takut. Ia menahan dadanya yang menyempit.
Habib yang meihat Rindu berlari bagai orang linglung itupun mengikuti Rindu. Ia mendengar kata Diva dan Meme berkali-kali. Apakah Rindu bertemu dengan temannya atau bagaimana ini? gumamnya dalam hati.” Rindu..! kamu enggak apa-apa?” tanya Habib dengan terkejut dan takut.
Rindu menggeleng.. sebab ia tak tau harus bilang apa. sebenarnya tadi ia melihat Meme dan Diva yang mengnakan baju yang super sexy dan juga menampilkan aurat yang sangat-sangat terpapar.. dan lagi ia bersama pria yang berbahaya. sungguh Rindu tak akan mau mereka dipermainkan dengan pria itu..! ia tau seberapa buruknya pria itu..!!
Habib mendiami Rindu lalu maju.” kamu tidak apa-apa Rindu? Kamu cari siapa? Teman kamu?” tanyanya dengan berturut-turut karena tak dapat menahan laju kekepoannya itu. Ia menetap sekeliling dan tak ada siapa-siapa kecuali ada bapak bapak dan ibu-ibu, ada juga beberapa pembersih ruangan mungkin, tapi sungguh disini sangat beda dan seram..!!
Rindu megangguk.” Tadi saya seperti lihat teman saya tapi ketika kesini ternyata saya mungkin hanya halusinasi... jangan khawatir” Ujar Rindu dengan sok tegarnya. Sebenarnya kenapa ia masih saja peduli dengan sosok sahabat yang sudah mengkhanatinya itu sii? Ia mau jahat, mau dendam dan mau tidak peduli. Tapi kenapa hatinya tidak bisa melakukan semua hal itu. Kenapa hatinya terlalu lembut?
“Tuan.. Rindu..! kalian dsini rupanya..” Filos datang membawa kuni membuat Habib dan Rindu menatapnya.” Kita dapat penginapan yang paling bagus dan juga luas disini.. dan ini kuncinya. Jadi jangan khawatir. semua sudah disiapkan termasuk makan..!” Ujarnya membuat Habib dan Rindu mengangguk.
“Sesuai dengan kata Rindu tadi. saya menyewa tempat tang terbaik. dan katanya itu ada dilantai paling atas. Disana sangat cantik dan luas. dan juga disana ada dua kamar.. satu nanti untuk Rindu san satu untuk tuan. Saya bisa tidur dshofa saja kok..” Ujarnya merendah.
Habib menganguk.” Yausudah ayo..!” Ujarnya membuat Filos dan Rindu menganguk. Mereka mulai berjalam menuju anak tangga keatas sana. "Kamu tidur dengan saya saja Filos..! “Ujarnya membuat Filos angkat bicara.” Saya bos dan saya tidak menerima bantahan..!” Filos bungkam lagi dibuatnya membuat Rindu mendengus. Habib ya tetap Habib. Arogan dan juga egois. Mau menang sendiri..
Saat sampai diatas Habib dan lainnya cukup kagum teryata diatas masih saja interiornya sesederhana namun indah. Sungguh ini sangatlah sadarhana namun nyaman mebuat siapapun betah ada disini.. belum lagi banyaknya jendela keluar membat mereka yain disana ada banyak pekandangan diluar yang mamu membuat mata mereka dimanjakan. karena kata dari masnya tadi dibawah tu ada sawah dan juga perkebunan. Jadilah tempat ini seperti perdesaan. Tapi jika dijalan kesana lagi maka akan masuk keperkotaan lagi.. disini bagus bana wey..!!
“Itu kamar kamu Rindu.. jika mau sholat silahkan.. nanti jika makan saya panggilkan saya mau sholat dulu juga disini..” Rindu mengangguk menatap pintu putih iu. Ia sebenarnya sedang tak sholat namun ia malas mengatakanya pada Habib juga. Masa Habib tak sadar sedari tadi Rindu tidak rewel masalah sholat? Saat ia masuk kamarnya tu sungguh bergaya tradisional. Atas kasur yang hanya dibuat rendah. ada beberapa buku kuno disini dan banyak lainnya membuat Rindu mengangguk. Ia jadi teringat abinya yang sangat menyukai Barang antik dan kuno seperti. ini.
__ADS_1
Ayahnya suka dengan barang anik.. mulai dari Kris, kepala rusah yangbsudah ratusan tahun pun ada, kepala harimaupun ada.. piring.. mangkok dan gelas, batu akik dan sebagainya. Hanya saja ia tak mempercayai hal syirik. Ia hanya suka mengoleksi dan mengagumi semua keakhlian orang dulu.
Habib menghembuskan nafasnya dan membuka jendela kamarnya. . kamarnya itu lebih besar dari kamarnya Rindu disini ia bisa melihat air hujan turun dengan jelasnya sekali. Sesekali petir menyambar membat langit menampakkan terang.. dan disitulah ia bisa melihat sawah yang dipenuhi padi yang sudah menguning yang artinya sebentar lagi akan panen. Ia tersenyum tipis karenanya.
Sedangan Filos sedari tadi diam menatap Habib saja. Jujur saja ia sekarang sedang memperhatikan Habib, dimanapun Habib maka ia akan menurut. Sampai pada saat sholat sekalipun Ia ikut dengan Habib, disini sangat seram membuat ia takut.
Habib yang diikuti oleh Filospun risih membuat ia menatap Filos tajam. “Ngapain kamu deket-deket.. kamu enggak curi-curi kesempatan kan Fil..! kamu enggak suka sama sayakan?” Tanyanya takut sebab selama ini memang Filos tidak pernah dekat dengan perempuan, siapa taukan..!!
Filos mendengus mendengarnya. Ia menghela nafas” Saya hanya takut gelap saja tuan.. dan saya juga takut han hantu.. soalnya disini serem banget sii.” Ia menggusuk tengkuknya. Sebab ia tak terbiasa dengan suasana semacam ini. suasana kuno yang dipenuhi dengan lampu penerang warna kuning meksipun nyaman sekalipun Filos tidak suka. Ternyata Filos yang seram dan tegas takut gelap dan Hantu ya..
Turh..
“Kyak...!”! Filos memeluk Habib dengan eratnya dikalah petir menyambar dengan kerasnya. Ia bergelatut manja dilehernya Habib dengan kaki yang memeluk erat pingangnya Habib. Ia menatap sekeliling dengan takutnya. “Hey..! Lepaskan saya..!!” Teriak Habib karena dipeluk seperti itu.
“Iya tapi bapak jangan jauh-jauh.. soalnya saya takut ini loh..!” Ketusnya sii Filos karena tak terima.. ia masih memeluk Habib dengan kaki yang ia turunkan. Jantungnya sedang berdenyut sekarang.. ia tapi denyutnya tiga kali lebih kencang dari biasanya.” Sata kecil dulu pernah diculik kolong wewew loh pak. Jadi wajar saya takut. Saya trauma ini..” Akunya lagi dengan gugup.
Habib menatap Filos dengan kerutan dahinya. “Beneran?” Tanyanya dengan alis terangkat membuat Filos menganguk. Habib menarik tangan Filos dan mendekati shofa.”cerita.. saya kok tidak tau..!” Ujarnya mendesak.
Flos mengeleng.” Enggak tuan akh. Disinisi serem banget.. sya atidka berani kalo besok-besok si oke aja..” Ujarnya menatap sekeliling yang terang redup akibat kilat.
Habib menatap sekeliling. Benar juga... “Iya sii..” Ujar Habib dengan lemas. Ia juga takut soalnya. Meksipun ia pria sii... Tanpa ia dan Flos sadari jika Rindu menatap mereka dari pintu dengan tatapan tak percaya...
.
.
.
__ADS_1
Kapan Rindu ktemu emak bapak?
nanti yey...