
"Sus.. tolongin saya sus.. tolong anak saya, anak saya butuh perawatan sus..” Seorang ibu-ibu dengan baju sederhana dan kepala yang ditutup dengan anak jilbab saja meraung sembari memeluk anaknya. Ia bersujud dikaki seorang suster perempuan, disamapingnya ada seorang pria paru baya yang mungkin adalah suaminya.
“Bantuin anak saya sus. Saya ngak mau anak saya kenapa-kenapa sus..” Suara ria itu memilukan dengan kedua tangan menangkup didada. Matanya penuh dengan air mata peerohonan.
“Maaf pak, buk. Tapi kalian harus membayar administrasi awal terebih dahu. Kami tak bisa membantu kalian. ini bukan wewenang kami.” Suster itu mengucapkannya penuh prihatin.
“Tolong sus. Saya nggak punya uang. Nanti jika saya sudah punya uang saya pasti bayar, tapi tolong bantu anak saya. Saya nggak mau dia kenapa-kenapa..” Pria paru baya itu kembali membungkuk-bungkukan badannya meminta bantuan. Ia bahkan tak malu menangis ditempat umum. Banyak yang menatapnya iba.
Air mata Rindu lolos lagi. Sebegitunyakah orang tua menyayangi anaknya? Ia bahkan melupaka rasa malunya kepada orang lain. Ia bahkan rela bersujud dikaki suster demi kesembuhan anaknya. Ia rela harga dirinya jatuh demi sang anak.” Ummi.. Abi.. maafin Rindu ya..” Gumamnya serak.. saat ini ia berada dirumah sakit untuk Cek Up sesuai janjinya dengan Ummi Ira. Saat ia ingin memasukin ruangan Dokter Rey. Ia melihat tragedi ini didepan trmpat administrasi membuat ia berhenti.
“Tolong Sus. Ambil ginja saya saja jika begitu. Tapi tolong bantu anak saya sus. Rawat dia..” Paru baya itu mengelap air matanya dengan baju depannya pilu. Nampak jika ia sangat takut dan khawatir. Ia bahkan mengikhlaskan ginjalnya saat ini.
“Berapa biayanya sus?” Rindu datang menghampiri suster yang sedang menghadapi orang tua anak itu. Napak dimata Rindu jika anak itu sudah sangat pucat digendongan sang ibu.
“Anda siapa?” Tanya suster itu takut. Ia melihat penampilan Rindu yang menyeramkan. Pakaian serba hitam membuat siapapun akan menghindar jika bertemu. Sedangkan sang orang tua anak itu hanya diam melihat Rindu dan suster. Ia masih tak percaya.
“Katakan berapa biaya pengobatan anak itu? Biar saya yang bayar.” Ucap Rindu tegas namun pelan.
Suster itu langsung saja melihat catatannya ddilaptop.” Bayaran awalanya hanya 500 nona.” Ucapnya.
Rindu membuka tasnya lalu mengeluarkan uang sebanyak 500.” Ini uangnya. Beri penanganan secepatnyya. Saya tidak mau terjadi apa-papa sama anak itu. Atau rumah sakit ini saya tuntut karena memandang orang dari kasta bawah dan tak mempunyai pri kemanusiaan.” Ancam Rindu...
“Ba baik. Pak mari ikuti suster ini.” Ia mengawahkan pada sang orang tua mengikuti suster satunya. Yang ditanggapi sang ibu dengan bahagia.
__ADS_1
Rindu tersenyum dibalik niqobnya. Ia bahagia bisa membantu orang lain.
“Te terimakasih mbak,ehh, dek, . Terima kasih..” Bapak-bapak itu membungkuk beberapa kali dihadapan Rindu. air matanya beruba dengan kelegahan.
Rindu tersenyum. Ia mengeluarkan uang 1juta didalan tasnya.” Ini untuk bayaran administrasi berikutnya pak. Nanti ada biaya lagi saat anak bapak keluar dari rumah sakit.” Ucap Rindu. Ia tau jika bapak ini tak msmiliki uang untuk membayar rumha sakit ini. Ia tak mau dikemudian hari anak itu akan dipersulit untuk keluar drai rumah sakit.
Bapak itu mendongak menatap mata Rindu yang merah, masih nampak bengkak dimata kirinya. Air matanya mengalir deras.” Tidak usah nak. Tidak usah. Nanti bapak bisa cari sendiri uangnya.” Ia menangis sembari menarik ingusnya berkali-kali.
Rindu tersneyum dibalik niqobnya lagi.Ia meletakkan uang itu ditangan bapak itu.” Ini uang untuk anak bapak. Bukan untuk bapka. terima saja. Ini bantua dari Allah untuk bapak.” Ucapnya.
Bapak itu menerima uang itu dengan tangan yang bergetar. Ia tak menyangka orang yang sangat menyerakan ini membantunya. Ia menggigit bibir bawahnya sembari bersujud syukur dilantai kotor rumah sakit itu, seakan menemukan kehidupan baru. Ia bahkan melafasan nama Allah berkali-kali. Ia bangkit lalu berbungkuk berkali-kali.” Terima kasih dik.. terimakasih. Saya akan memgembalikan uang ini nanti.” Ucapnya.
Rindu menggeleng.” Tidak usah dikembalikan pak. Itu bantuan dari Allah untuk anak bapak. Hanya saja saya sebagai perantaranya. Dan jika bapak mau mengembalikannya, maka berikanlah anak bapak pendidikan yang baik, beri dia pengetahuan dan didki dia dijalan Allah. berterimakasih lah pada Allah pak.” Jelas Rindu lembut.” Silakan pak lihat kondisi anak bapak. Saya assalamu’alaikum.” Rindu pergi meningalkan bapak itu... Sedangkn aang istri sudah pergi mengikuti auater untuk memeriksa anaknya.
Kenapa Rindu menyuruh bapak itu untuk mengajarkan agama? Karena ia tak mau anak itu menjadi anak seperti dirinya. Pemberontak dan membuat onar. Melihat aksi mengemis sang orang tua membuat ia dipukul dengan beton berkali-kali. Ia baru sadar jika selama ini ia sudah menghancurkan hati sang malaikat tanpa sayapnya. Mereka adalah orang tuanya.
..
“Rin Rindu? kamu Rindu?" Dokter Rey saat ini mengaga tak percaya melihat Rindu yang sudah berubah. Ia bagikan ninja saat ini. sudah beberapa buan tak konsul dan Cek Up. Ia sudah berubah.
Rindu menunduk dan mengangguk. “Iya dok. saya mau Cek Up.” Ucapnya nyaris tak terdengar.
“Kam kamu kemana saja selama ini? kenapa tidak cek Up? dan dan kenoa kamu oaksk jibah?” Tanya Rey masih inglung.
__ADS_1
“Tidak ada dok. saya mau Cek Up tak boeh?” Tanya Rindu pelan.
Rey menggeleng.” Boleh. Mari ikuti saya..” Ucapnya sembari menelan ludah. Ia takut. Tentu saja takut. Siapa yang tidak takit dengan penampilan Rindu ynag aneh?
“Bisakah saya konsulnya dengan dokter perempuan saja Dok?” Tanya Rindu. bagaimana bisa ia Cek Up pada dokter pria. Ia mau hijra secra jasnani dan rohani.
“Disini tidak ada dokter perempuan yang menangani penyakit organ dalam Rin. Semuanya laki-laki. Kenapa memangnya? Apa kamu tidak nyaman dengan saya? Apa saya pernah berbuat salah terhadap kamu?” Tanyanya takut.
Rindu tidak punya pilihan lon selain konsul lada doter Reym tapi tak apa bukan. ia hanya berobat kok. Yaa, tidak apa apa. Ia tau jika Allah mengetahui apa yang tidak ia ketahui. "Tidak apa dok. Jika mamang begitu. Saya nyaman kok sama dokter. Hanya saja jika sedama perempun akan lebih leluasa untuk bertanya ataupun lainnya." Jawabnya pelan. Tak mungkin bukan ia pergi dari rumha akait ini lalu mencari rumah sakit lain? Toh dokter Rey sangat baik. Ia bahkan sering berhutang.
.
.
.
.
.
Yuhuuu. Rindu maah comd back
**like komen and vote ya guys.
__ADS_1
btw author t kurang bisa bikin cover. klo ada yang mau bikin cover untyk novel Rindu. boleh dong hehe**