
Maaf yaa jika enggak ada degan romantis antara Habib dan Rindu. Nanti ada kok kapan kapan, tapi novelnya lebih kemengajarkan keikhlasan kalo tentang cinta....
Kalo mau ada adegan romatis ayooo baca novel aku satunya lagi dengan judul "Istri Butaku" Dijamin baper....
.
.
.
.
.
.
.
“Aduh tanganku sakit...” Habib merengek saat turun dari mobilnya. mereka baru saja sampai kerumahnya. Dengan Rindu yang juga baru turun dari pintu samping mobil.” Rindu bantu papah aku sampai kedalam, tanganku sakit..” Erangnya dengan menutup matanya, satu matanya sedikit mengintip untuk melihat Ekspresi Rindu.
Rindu bukan orang bodoh atau gadis polos!! Tolong ingatkan Habib akan hal itu. Rindu memasang wajah jengah mendengar ucapan Habib.” Kan yang sakit tangan tuan, bukan kaki, emang tuan jalan pakek tangan bukan pakek kaki?”
Habib diam dengan mata yang mengerjab polos. “Ehem... Makasud saya...saya lemas Rindu..” Ujarnya dingin.” Kamu beneran engga mau bantu atau sentu saya? Saya gini karena lindungin kamu. Super herro kamu...” Ia menatap Rindu penuh harap.
Rindu mengeleng kecil.” Cepetan kita masuk, nanti lukanya tambah para atau infeksi loo... Mau tanganya infeksi terus dipotong?”
Habib mengeleng lalu mengela nafas. Sepertinya memang Rindu anti disentu, dia yang luka saja Rindu tidak mau membantunya. Tapi bibirnya sedikit tersenyum saat mengingat Rindu memeluknya tadi, setidaknya Rindu akan membantunya saat darurat tadi. Salahkah ia terlalu lebay? Namanya juga cinta, pastinya taikkk ayam rasa coklat. Yakan Qaqa?
“Tu tu tuan muda kenapa Rindu?” Tanya bik Yanti pelayan rumah Habib itu pada Rindu. mereka baru saja memasuki rumah Habib, dengan keadaan Rindu dibelaang Habib, nampak jika Habib merising sembari memegang lengannya yang berdarah.
Rindu mengeleng. Ia menarik ujung baju Habib untuk duduk kesofa.” Bik tolong ambil obat ya.. sama air dan konpres..” Ujarnya pada bik Yanti yang masih bengong.
Ingat hanya ujung baju. Itupun hanya bagian lengannya...
“Iy iya Rindu. sebentar..” Ujarnya lalu bergegas pergi meningalkan Rindu.
“Tuan tidak mau menelpon doter saja? Saya takut lukanya dalam.” Ujar Rindu pada Habib khawatir, salah jika ada yang mengangap ia tak khawatir pada Habib, ia sangat hawatir sebenarnya, tapi ia tak tau bagaimana mengekspresikannya, apa lagi mereka punya keterbatasan masing-masing.
Habib menghela nafas. Ia suka Rindu khawatir.” Nanti jika saya telepon dokter pasti kamu akan disalahkan kembali oleh keluarga saya. Seperti om Hendrawan tadi. Saya tidak mau kamu disakiti orang lain. saya juga sakit ngeliatinnya, dengan bodohnya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk kamu.” Ia menatap Rindu penuh makna.
Rindu mendengar itu terdiam, ada desiran hangat menyusup dalam dadanya. Ia baper namun ia menepis rasa itu secepat mungkin, sebab ia sudah tak menaruh kepercayaan pada laki-laki. Ia terlalu banyak tersakiti oleh lakilaki. Dua kali hampir diperkosa sudah cukup membuat ia jera akan mepercayai lawan jenis. Dua kali hampir diperkosa itu ia selalu mendapatkan alasan mereka mencintai Rindu. apakah cinta selalu merusak? Ia ta suka menjadi bunga, yang didatangi banyak lebah karena kecantikannya, lalu akan ditingalkan oleh semua orang saat ia sudah layu. Ia lebih menyukai senja. Meksipun menunggu dan sesaat. Setidaknya ia memberi kesan hangat dan juga tak tersentu.
Ia lebih suka mengatakan pada dunia. ‘biarkan aku memiliki waktu hanya sedikit didunia ini, bagaikan warna emas dilangit sore., bagikan senja didepan mata manusia, meskipun hanya singga sebntar, tapi membekas untuk penikmatnya.’
“Kamu pasti baperan saya bilang gitu, makanya kamu ngelamun?” Tanya Hbaib sedikit menggoda Rindu. ia sediit tersenyum melihat Rindu.
Rindu yang tadi melamun sekarang menatap Habib sengit.” Apa’an sii Tuan.” Cicitnya pelan.
“Halo ngaku... Tadi kamu ngelamun pasti mikiran kata-kata saya saya manis dan romantis ya?” Tanyanya dengan satu telunjuknya berputar-putar diwajah Rindu. “Jika sudah baper mari menikah.” Lanjutnya.
Dasar Habib kebelet nikah...! Rutuk Rindu dalam hati, kenapa jika bicara dengan Habib, pasti ujung-ujungnya nikah, apakah tak ada pembahasan lain.
__ADS_1
“Ini Tuan air dan P3K nya..” Belum Rndu menjawab, tapi Bik Yanti sudah menyelah sembari meletakkan baskom kecil berwarna perak itu diatas meja, disana juga satu kotak putih atau P3K, Ada botol alkohol dan ada kapas.
Rindu bangkit dari duduknya.” Lo loo. Kamu mau kemana?” Tanya Habib pada Rindu.
.
Rindu mengeleng.” Saya hanya memberi ruang pada bik Yanti. Ayo bik obati Tuan Habib..” Ia menatap bik Yanti penuh dengan permohonan.
Habib menganga.” Saya maunya kamu yang ngobati saya. Kenapa bik Yanti?” Tanyanya bengong. Ia pikir Rindu mau mrngobatinya.
Rindu mengegelng.” Maaf tuan, saya tidak bisa. Saya liat saja ya.. sekaligus saya mau permisi kejamar terlebih dahulu..” Ia tak meminta jawaban dari Habib, ia memilih menaiki tangga lalu memasuki kamarnya.
Alasannya? Rindu tak mau bersentuhan dengan Habib. Salahkah ia? Tentu tidak, sebab mereka tidak dalam keadaan darurat, disana ada bik Yanti, jadi ia bisa membantu Habib, ia bisa membantu dan Rindu menghindar. Ia sudah terlalu jauh bersama Habib hari ini. ia tak mau terlalu banyak melakukan Zina. Ahh, andai ia bisa berkerja ditempat lan dengan gaji sebanyak ditempat Habib. Ia pasti sudah bekerja disana.
.
Habib mengerutu melihat Rindu menaki tangga dan meningalkannya. Ia fikir Rindu akan membantunya mengobati luka. Ini apa? Ia bahkan kabur sbeelum ia mengizinkan.” Pembantu lucnat...” Gumamnya.
Bik Yanti menatap Habib dengan sedikit tersenyum.” Mari tuan. Saya obati ya,.” Ujarnya lembut dan sopan.
Habib mengangguk. Ia membuka kemejanya lalu mempersilahkan bik Yanti mengobatinya, benar, lukanya tak terlalu dalam, tapi sedikit panjang, untunglah, jadinya ia tak perlu konsul dirumah sakitkan?.
....
Kelurga yang kata raya itu sudah berada dirumah sakit ternama, ia suda dipindahkan tadi kemarin diruang inap VVIP. Keadaan Sarah dan juga Ify sudah membaik, mereka memilih disatu kamar saja supaya keluarganya tak susah berbagi tempat.
Lagipula mereka bisa kembali kerumah besok karena memang lukanya sudah sembuh, hanya menunggu lukanya mengering saja.
Dudah tiga hari mereka dirumah sakit, dan besok mereka akan pulang, tapi saat ini mereka sedang diruangan itu dengan binar bahagia melhat makanan datang.” Ko makanannya beda ya sama makanan yang saya makan kemarin?” Tanya Hendrawan saat memakan nasi tupperwarenya,
“Kok makannya beda ya sama makanan yang sebelum-sebelumnya?” Hendrawan mengernyit dengan kunyahannya. Seperti ada yang kurang dalam makannya, enak sii, Cuma kurang sedap dan kurang greget gitu karena sudah terbiasa dengan rasa yang lebih menyatuh dengan lidahnya.
Dirumah Habib itu ada banyak pelayan. Dan sekarang pelayan ini adalah pelayan hik Yanti, ia menatap pak Hendrawan dengan mata kecewa.” Tidak enak ya tuan? Maafkan kami.” Ujarnya sedikit sedih.
“Todak. Hanya saja sedikit berbeda dengan yang saya makan sebelum-sebelumnya.” Hendrawan meletakkan piring itu diatas meja lalu mengambil minumnya, ia sudah tak berselerah untuk makan.
“Biasanya Rindu yang masak tuan---“
“Uhuhkk uhukk..
“Eehh tuan tidak apa apa?” ucapan bik Yanti terporong saat melihat Hendrawan terbatuk karena tersedak air minumnya. Ia bergegas memberi air mineral botol dimeja saja.
Hendrawan meminum minumnya sampai kands saking terkejutnya.” Siapa? Rindu?” Tanyanya menatap bi Yanti dengan mata yang masih memerah dan sedkit berair.
“Loh memang tuan tidak tau?” Bik Yanti mengerjab pelan.” Dia masak karena tak bisa datang kemari, jika ia kemari pasti diusir membuat ia masak saja untuk keluarga tuan. Katanya ia mau minta maaf...setiap pagi ia masak lebih banyak dan menyiapkannya untuk orang disini.”
Hendrawan mengerjab.” Dia sok baik ya.. pencitraan..” Gumamnya pelan. Ia tak percaya akan hal ini, banyakkan orang sok baik tapi pada nyatanya hanya mau minta perhatian dan minta pujian dan Rindu salah satunya, ia yain jika Rindu ada masksudnya, meskipun ada rasa penolakan dihati kecilnya.
Bik Yanti mengeleng cepat.” Tangannya bahkan melepu setiap pagi hanya untuk menggiling cabe dan rempah rempah. Kulitnya alergi cabe, tapi demi tuan, ia tau tuan pecinta pedas membuat ia harus menggiling cabe pakek ulekan, katanya kalo cabe itu diulek rasanya berbeda kalo diblander atau pakek mesin penggiling. Setiap hari tanganya panas pak, demi bapak, apakah itu tidak tulus?” Tanya bik Yanti pelan.
Ia ingat Rindu selaku merendam tanganya dengan air batu es supaya dingin, jika ditanya, ia pasti bilang’; enggak apa-apa kok bik, Cuma mau dinginin tangan aja’ itulah jawabannya. Padahal bik Yanti sangat ingat jika Rindu alergi cabe dikulitnya.
__ADS_1
“Kadang tu memang susah cri mana yang tulus dan mana yang modus bi. Jangan muda percaya sama mukanya, bisa jadikan dimuka dia bicara baik sedangkan didoanya itu semua kejahatan.’ Ujar Hendrawan masih menipisnya.
.
Bik Yanti kembali mengeleng cepat.” Saya memang tak bisa membaca pikiran dan isi hati orang lain, tapi saya bisa lihat dimata Rindu itu ada ketulusan yang sangat besar pak.” Ia memberi jeda sesaat. “ Jika memang ia hanya modus, kenapa tidak ia sendiri yang mengantarnya kepada bapak lau mengatakan jika itu sebagai tanda maaf? Tapi ia tidak lakuankan? Ia melakukanya bahkan tak mengatakan pada bapak jika itu akan-makanan buatannya
“Saya pernah bertanya pada nya kemarin. ‘kenapa kamu tidak memberinya sendiri Rindu? supaya dia tau kamu meminta maaf dan merasa bersalah’ tapi dengan ringan dia ngejawab ‘Saya tulus buatinya bik, lagipula apa yang kita perbatkan itu tak meski dilihatkan? Kadang yang tak terlihat lebih baik dari pada yang baik tapi terlihat bik. Saya memang salah, jadi jika pak Hendrawan tak mau memaafkan saya itu wajar bik. Saya ikhlas..” Ia menitihkan air matanya dengan rasa sedih mengenang kata Rindu. ia tau Rindu sangat bersedih.
“Rindu memang nggak suka bicara pak, dia enggak pernah lembut pada siapapun, enggak bisa nunjukin rasa simpati dengan baik sebagaimana perempuan layaknya. Tapi sungguh pak, dia itu hanya tak bisa menunjukannya saja. Mungkin ia sudah hidup dengan kekerasa membuat ia tak tau bagaimana cara melembut. Saya menyampaikan ini pada bapak bukan dari Rindu, tapi dari diri saya sendiri, saya tidak mau bapak masih memarahi Rindu dan masih salah paham, semoga bapak paham.” Ujarnya lagi."
Rindu memang menerapkan sistem jika tangan kanan memberi, maka tangan kiri tak meski tau, atau jika memberi tak meski nampak mukanya. Kadang jika kita berbuat baik lalu menampakkan wajah membuat kita minta pujian dengan makhluk hidup dan hal itu membuat ita lupa cara ikhlas sebenarnya.
Pak Hendrawan diam ia mendengaran kata bik Yanti. Ada rasa yang tersentil dihatinya. Apakah ia terlalu keterlaluan pada Rindu. ia semakin merasa bersalah pada Rindu. tampah sadar ia menghela nafas kasar berkali-kali. Sampai-sampai ia ta sadar jika Bik Yanti keluar dan mengucapkan kata permisi. Ia terlalu hanyut dalam pemikirannya.
...
“Syukurlah kalian udah bisa pulang...” Ujar Nina pada Sarah memasui rumah. disampingnya ada Ify yang sudah bisa berjalan, Sarah sekarang menggunakan Wix karena setengah kepalanya yang botak..
Senyum mereka mereka lebar. Hendrawan disanapun tersenyum dengan memegang kursi roda istrinya. “Allhamdulillah hehe... Enggak ngajak kita masuk ni Tan?” Tanya Ify pada Nina yang memeluknya erat.
“Astaga lupa tante makin senengnya. Ayo masuk...” Ia mengajak Ify dan keluarganya masuk dengan antusias juga mereka masuk. Beberapa dalam rumah sakit membuat mereka pulang karena sudah sehat.
Disudut lain Rindu mengintip disela-sela pintu, ia mengintip disela pintu dapur, disana ada rambai-rambai yang terbuat dari keong-keong itu lo.. air matanya menetes dengan syukurnya melihat keluarga Hendrawan kembali. Ia tak mendekat tapi ia cukup bahagia mendengar kabar ini.
Tak sengaja matanya bertemu dengan mata Hendrawan disana. Hendrawan dapat melihat mata Rindu memerah namun dengan segera Rindu pergi dari sana. Ada rasa sakit dihati Hendrawan saat ini. apakah Rindu sedang marah pada merka? Atau takut?
“Dad pergi sebentar ya...” Ujarnya pada keluarganya. Ia memilih medekati Rindu dan meminta maaf saja. Ia tak bisa hidup dalam rasa bersalah seperti ini.
“Dad mau kemana?” Tanya Ify pada daddynya. Tapi ditahan oleh Yohan karena ia tadi melihat arah mata Hendrawan dan ia tau jika Hendrawan mau menemui Rindu.
“Kita ikutin aja yuk..” Ujarnya Yohan pada sang cucu.
Dengan cepat mereka mengangguk patuh. Merea memilih mengikuti Hendrawan dari belakang tanpa sepengetahuan sang empu.
“Kenapa kamu pergi? Kamu enggak seneng liat keluarga saya pulang dan sehat?” Suara itu menghentikan langkah Rindu menujuh taman belakang.
Rindu bisa tau jika itu suara Hendrawan. Ia mengusap air matanya lalu menghela nafas. Ia tak boleh rapuh didepan orang lain. ia kuat. Ia berbalik lalu menunduk. “A apa bapak tak mau memaafkan saya pak? Sungguh pak, saat itu saya sama seali tak mendoakan keluarga bapak yang buruk-buruk..” Ujarnya Rindu pelan. Matanya berkaca-kaca. Rindu itu baperan jika ia berbuat salah pada orang lain, seperti saat ini, ia baper dan ia takut, takut jika orang lain tersaiti karenanya.
Hendarawan dapat mendengar kata-kata itu dengan syair ketulusan, dihunuskan dengan hati, dan dilafaskan penuh penjiwaan. Ia bahkan dapat metasakan rasa yang mendalam meskipun ucapan itu hanya singkat. “Saya punya syarat untuk kamu jika mau saya maafkan.” Ujarnya.
Rindu mendengar itu mendonga menatap pak Hendrawan, hanya dua detik lalu kembali menunduk.” Apa itu? Jika saya mampu, maka saya akan lakukan demi maaf bapak.” Ujarnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Karena kemarin nggak up. Jadi hari ini doble ya hehe..
Jangan lupa like komen and vote ya