Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Jauhi Habib...!


__ADS_3

Saat Rindu melanjutkan jalannya menuju dapur, ia bertemu dengan Mise dibalik pintu. Mise menarik tangan Rindu hingga memasuki ruangan tempat penyimpanan gelas dan piring. Disana tangan Rindu dicekal erat oleh Mise membuat Rindu terkejut. Tapi saat tau itu Mise membuat ia diam saja mau melihat apa yang Mise akan lakukan padanya.


“Jauhin Habib...!” Talak perintahnya. Tanpa basa basi langlung keinti...


Rindu melirik Miise dengan senyum termanisnya membuat matanya menjadi bulan sabit, tapi bagi Mise itu senyum ejekan membuat ia semakin geram. “Jauhin Habib Rindu... Dia calon suami gue. Atau loe bakal tau akibatnya..” Bentak Mise.


Selalu saja ada’loe bakal tau akibatnya’ dimanapun itu, diTv di Novel membuat Rindu sedikit tertawa, ini bagaikan sinetron pelakor, yaa. Pelakornya Mise membuat ia tertawa. Diakan hanya pembantu Habib..


“Kenapa loe ketawa bicth..?!” Bentak Mise melihat Rindu tertawa.


“Loe ngedrama. Intinya aja, kalo gue msih deket sama dia loe mau ngapain gue? sok misterius.” ketus Rindu sembari melirik Mise yang sedikit lebih tinggi darinya.


Mise menarik jilbab Rindu membuat kepala Rindu ikut tertarik, Rindu beristighfar supaya tak terpancing emosi. emosinya yang tak stabil harus ia jaga supaya tak terpancing. “Gue bakal bunuh loe... “Bentaknya.


Rindu meletakkan jari lentiknya dileher Mise lalu mencekiknya membuat tangan Mise yang berada dijilbabnya terlepas lalu beralih pada tangan Rindu yang mencekiknya. Setelahnya Rindu melepaskan cekikan itu, ia hanya mau bebas saja bukan membunuh Mise. “Apasii yang loe takut dari gue Mise? Loe takut gue jadi pelakor? Bukanya selama ini loe yang jadi pelakor hubungan gue? bahkan loe kasih tubuh loe suapaya mereka tertarik sama loe? Pelakor kok takut dipelakorin....!” Rindu tertawa.


Sebenarnya Rindu memang suka gonta ganti pasangan saat SMP, karena memang banyak sekali orang-orang yang menyukainya, tapi ia hanya pacaran dan jika mencintai, ia hanya mencintai satu orang dari semua mantannya, yaa, dia cinta pertama untuk Rindu, dan saat move on pun Rindu butuh 3tahun dan itupun bisa karena Satya, tapi nyatanya Satya sama ujung namanya BangSattYaa.


Rasa untuk pria? Hati Rindu sudah menjadi abu-abu karena dua prinstiwa yang hampir mengambil kehormatanya, dengan dalih mereka mencintai Rindu. apakah itu yang namanya Cinta? Cinta apa nafsu? Rindu memang suka berpacaran, tapi percaya tidak percaya Rindu tak pernah melakukan apapun kecuali pegangan tangan, itupun hanya seali-kali, atau pernah sang pacar mencubit pipinya yang cubby karena gemes dan langsung dimarah oleh Rindu hinga hubunganya kandas. Keterlaluan? Tentu saja, karena Rindu berpacaran itu hanya untuk menjadikan mereka motovasi, menjadikan mereka semangat. bagaimana bisa? Bisa dong, karena Rindu selalu mengambil pacar yang otaknya diatas dirinya, mengambil pacar yang ilmunya diatas dirinya, jika Rindu juara 1 dikelas 7 maka pacarnya adalah pria yang juara 1 olimpiade dan juga juara umum, baik ditingkat 1 2 ataupun 3. Rindu mencari pacar yang berpenampilan Rapi supaya ia bisa malu, iya malu.


Malu karena, masa pacarnya rapi sedangkan dia tidak? Masa pacarnya disiplin sedangkan dia tidak? Yaa hanya itu. Tapi jika hukuman Rindu tak pernah dihukum karena masalah sepeleh. Masalah nggak buat tugas lah. Ia lebih suka dihukum karena terlambat, ia bahkan pernah lompat dari pagar dan dibantu sang pacar dan ia sangat merasakan malu, yaa malu karena saat turun ia terjungkang dan roknya tersangkut direruncingan pager, all hasil tubuhnya mengambang membuat ia tak bisa bergerak. Dan itu terjadi didepan mata sang pacar, bayangkan saja malunya seperti apa. Belum lagi Rindu yang tersiram kuah bakso karena dilabrak kakak tingkat, Rindu juga suka kena tendang dipantatnya oleh guru olaraga karena Rindu suka makan dikantin saat dimata pelajaran.


“Loe masih aja nggak ikhlas liat mantan loe berpaling saa gue..” Mise terkekeh lalu melipatkan tanganya didada. “Makanya jangan sok suci jadi orang, dipegang dikit marah, dicium ditonjok, digrepe-***** patah tangan. Mana ada manusia yang tahan sama loe...! yakali mereka bisa ngelewatin cewek sexy kayak gue?” Ucap Mise sinis.


Rindu mendengus.” Dan loe bangga?”


Mise mamainkan kuku-kuku cantiknya. “ Belum, sebelum dapetin Habib.” Ia tersenyum.


Rindu menganguk. “Sebenarnya gue nggak peduli sama kehidupan loe ya. Gue juga nggak suka sama Habib,.” Rindu tertawa.” Tapi kayaknya Habib nggak kayak cowok lain de yang suka sama cewek kayak loe. Yaaa, kalo Hbaib mau digoda sama loe, Gue ucapin Longlast oke..” Ia beranjak dari sana.


Mise yang melihat itu langsung menampar Rindu tapi dengan cepat ditahan Rindu dengan cekalan yang erat. Mata Rindu menyalang marah dengan gemertakan gigi yang terdengar oleh Mise. “Loe mau nampar gue? bersihin dulu kotoran ditangan loe...”


Maafkan Rindu yaa yang mulutnya masih kasar.


“Loe jangan sok suci...!” Bentak Mise..


“Kata Abbi gue lebih baik gue sok suci, lagipula yang nentuin suci atau enggaknya seseorang itu dimulai dari diri sendiri, jika kita tidak menyucikan diri kita lantas masih mau bilang orang sok suci? Mending intropeksi diri sbelum ngomongin orang. Percuma cantik kalo munafik...” Rindu pergi dari sana tanpa mau menghajar Mis.


Jika diSMA dulu pasti Mise saat ini merasakan jika mulutnya diremas atau dipukul oleh Rindu, tapi sepertinya karena ia memasuki tahap Hijrah membuat ia ‘Sedikit’ menghilangi kebiasaan buruknya yang ‘Loe datang gue lawan.’ Atau motonya yang . ‘Tantang gue sama dengan nantang malaikat maut’ Yaa... sudah dikatakan jika Rindu itu pemberontak berjilbab.


Jika ada yang meyaahkan jilbabnya tolong diingatkan satu hal. ‘mengubah sifat tak semudah ganti pacar’


....


Setelah perdebatan itu Rindu memilih memasuki kamarnya untuk menyiapkan kebutuhan yang akan ia bawah untuk Rian dan Rani, sedangkan Mise sudah pulang karena Nina dan lainya sudah tak ada dirumah. Nina maminya Habib pergi kerumah neneknya yang sedang sakit, sedangkan Panji mengikuti Nina, Nayla? Ia masih kulia dan sekarang ia kulia. Jadilah sekarang Rindu bebas..

__ADS_1


Ia melangkahkan kakinya menuju panti asuhan dimana Rian dan Rani diasuh, tapi disaat diperjalanan ia merasa jika ada yang mengikutinya sedari ia keluar dari rumah Habib membuat ia bebarapa kali berhenti lalu berbalik, tapi tak menemukan siapapun.


Rindu mendengus lalu melakukan tipuan, ia berlari saat dijalanan yang sepi takut jika itu penjahat, tapi ternyata menang ada yang mengikuti Rindu, dan karena Rindu berlari membuat ia juga berlari, cukup lama Rindu berlari membuat Rindu lelah, rindu melirik kebelakang dan penguntit itu tak terlihat tapi masih mengikuti, rindu melihat sekeliling tapi tak menemukan apapun kecuali pohon mangga besar. Tak ada pilihan lain selain memanjat pohon. Dengan cepat ia memanjat pohon sebisa mungkin, untunglah daun pohon itu sangat rimbun membuat Rindu sedikit tertutupi, sedangkan penjahat itu hanya melihat lurus tak keatas.


Mungkin faktor kelelahan. Tak jauh dari pohon Rinu ia berhenti lalu menumuhkan kedua tanganya diatas lutut, ia mengambil nafas rakus lalu mengelap keringatnya. “Sial.. Nie cewe larinya kayak siluman..” Gumamnya.


Ia berdiri lalu melihat sekelilingnya.” Lewat mana ni... Ahkk, kena marah bos ni nanti..” Gumamnya. Ia memilih mengambil Handphonenya lalu mencari kontak bosanya, dengan sedikit ragu ia menekan tombol telepon. “Ha—“


“Kemana dia pergi?” Potong seseorang diseberang sana yang tak lain adalah Habib, tentu saja Habib tak akan membiarkan Rindu lolos dari penglihatanya, ia mau tau kemana Rindu mau pergi sampai-sampai mengotot dan berdebat.


“An anu bos, say saya ketahuan, jadi dia kabur, pas saya kejar dia udah ngilang.”Jawab penguntit itu sembari mengigit jempolnya gugup...


“Bodoh.. Masa mengikuti seorang perempuan saja tidak becus... Cari sampai ketemu, jika tidak kamu saya pecat...!” Habib langsung mematikan Handponenya diatas meja karena kesal


Ia menyugarkan keplanya dengan jari-jarinya.” Susah sekali dekati kamu itu....” Gumamnya kacau. Ia takut Rindu bertemu kekasihnya dan menggagalkan caranya. Yaa, dia membuat Rindu menjadi pembantunya itu hanya karena ingin dekat dengan Rindu, sebenarnya sedari awal ia berharap Rindu menerimanya menjadi istrinya, istri kontrak itu hanya rencana supaya ia tak terlihat mengemis cinta Rindu.


Ia meminta kontrak karena ia akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat Rindu menyukai sampai batas kontrak. Tapi nyatanya Rindu memilih pembantu. Meski begitu Habib bersyukur, setidaknya ia bisa membuat Rindu selalu berada didekatnya dan mengerjakan tugas istri. Yaa, dia suka melihat Rindu mengurusi semua yang ada padanya dan ia tertekat suatu saat nanti panggilan Tuan itu menjadi sayang’


Penguntit itu mulai merasakan kesal lalu pergi dengan umpatan tertuju pada Habib, siapa yang tidak kesal jika diancam seperti itu.


Rindu? ia menetralkan jantungnya karena sedari tadi ia tak bisa menahan lelah dan nafasnya yang masih naik turun.” Siapa siii nyuruh ngikutin gue?” Gumam Rindu heran. Sudah jadi pembantu sama menggunakan baju seperti ini saja masih ada saja yang mau mencari masalah dengannya.


Rindu memilih turun saat merasakan aman lalu pergi menuju panti dengan berlawanan arah dari penguntit membuat ia harus memesan ojol, yaa, setidaknya ia bisa menghindar orang yang mengikutinya.


.....


Yaa. Rindu sudah sampai tapi dismabut suara tangisan dan ledakan yang sangat ia kenali yaitu Rani... Kenapa dia? Kenapa dia mau dipisahkan dengan Rian abangnya?


Jantung Rindu sudah tak karuan membuat ia berari memasuki rumah panti yang sudah dikerumuni oleh beberapa orang, tapi ia bisa melihat disana koper Rani sudah disiapkan tetapi sang empu malah duduk dilantai dengan menghentak-hentakkan kakinya, kulit putih diwajahnya memerah karena menangis. Sedangkan Rian memeluk adiknya erat.


“Buk.. Rani kayaknya nggak bisa ikut. Yang lain saja ya..” Pujuk Umii Ira kasihan pada Rani dan Rian yang tak mau dilepaskan.


“Tapi saya mau Rani bu. Saya bawa Rian juga nggak papa ko. Saya mau mereka, saya akan biayakan semua kebutuhan mereka secara menyeluruh..” Ucap sang wanita paru baya dengan menggandeng suaminya, suaminya hanya menganguk.


Dug...


Jantung Rindu berserakan mendengar jika Rian dan Rani mau diadopsi. Apa-apaan ini, ia marah sekaligus kecewa. Ia hanya menitipkan Rian dan Rani karena memang tak punya Rumah, tapi bukan seperti ini. bahkan biaya hidup Rian dan Rani ia yang membiayakannya, yaa. Rindu setiap bulannya memberi uang pada Umi Ira untuk kebutuhan Rani dan Rian.


“Tapi Rian dan Rani tidak kami calonkan jadi anak adopsi. Soalnya ia sudah punya ibu..”


Untungnya Rindu masih mendengar penjelasan ummi Ira yang ini, jika tidak, ia pasti sangat kecewa pada Ummi Ira.


Yang pada intinya Rindu tau jika mereka ngotot untuk mengadopsi Rian dan Rani. Rindu berjalan mendekat dengan salamnya.” Assalamu’alaikum..” Ucapnya membuat semua pasang mata menatapnya.


“Kam kamu siapa?” Tanya Umi Ira melihat Rindu seperti itu. Yaa, Rindukan sudah berniqob dan ummi Ira belum tau sama sekali..

__ADS_1


“Saya Rindu ummi..” Ucap Rindu lembut namun tegas.


Rani dan Rian yang tadi menangis dan saling berpelukan sekarang mengada dan menatap Rindu.” Bunda...” Teriak mereka lalu berlari untuk memeluk kaki Rindu erat...” Kita nggak mau dipisahin bun. Kita mau sama bunda aja...” Tangisan Rani dan Rian pecah dikaki Rindu membuat Rindu tak dapat membendung air matanya.


Rindu melonggarkan tangan mereka yang memeluk kakinya lalu berjongkok dan memeluk mereka.”Bunda juga ngga mau pisah sama kalian. bunda kesini mau nepatin janji..” Ucap Rindu kepada Rian dan Rani lembut.


Semua orang mematung disana melihat Rian dan Rani yang tak mau melepaskan Rindu, sedangkan Ummi Ira mendadak merasa bersalah. Ia takut Rindu salah paham padanya. tapi ia tak mau bersuara takut mome Rindu ia hancurkan...


“Jan huuuuu huu janji apa bun?” Tanya Rani dan Rian hampir serempak, suara mereka bergetar pertanda mereka sudah lama menangis.


Rindu tersenyum dibalik niqobnya.” Katanya mau sekolah, bunda udah daftarin loe. Hari ini kita bakal siapin bajunya terus besok berangkat. Maukan?” Suara Rindu bergetar karena merasakan sesak dihatinya, sesak karena ia hampir terpisah dengan tujuan hidupnya yang satu ini.


“Be beneran Bun? Bunda ngak bohongkan? Sekolah dipondok tahfiz itu? Pondok Darusalam itu?” Tanya Rian gemetar takut menyalah artikan ucapan Rindu. matanya penuh dengan kepolosan.


Rindu menganguk.” Iya dong. Kaliankan udah hafal yang Bunda suruh? Bunda udah daftarin, kalian tingal disana nanti, terus bisa gapai mimpi kalian jadi penghafal Al-Qur’an..” Ucap Rindu menenangkan anak-anaknya.


Rian dan Rani saling pandang.” Tapi Bunda nanti nggak ningalin kitakan?” Tanya Rani takut.


Rindu terkekeh dengan matanya yang masih basa.” Kaliankan disana mondok, yaa bunda ngak selalu ada disamping kalian, tapi setiap mingu akan ada penjengukan dan bunda bakal jengguk, kalo ngak salah hari jum’at.” Jelas Rindu tanpa menghiraukan tatapan orang-orang. Ada yang menatap iri pada Rian dan Rani, yaa anak panti lainya iri, ada yang terharu ada yang tak suka. Biasalah manusia,


“Mau bun..” Jawab Riian da Randu membuat Rindu mengelus kepalanya merka.


“Jadi kamu ibunya? Kenapa anak ditaro dipanti sii kalo nggak mau orang adopsi.. kenapa hamil diluar nika ya? ” Tanya sang pengadopsi anak sinis melihat Rindu.


Rindu tersenyum manis “Itu bukan urusan anda.” Ia memegang erat tangan mungil Rian dan Rani yang bersembunyi dibalik gamis anjangnya.


Mata Rindu menatap ummi Ira.” Mii. Rindu bawah Rian dan Rani dulu yaa. Rindu mau ngajak beli perlengkapan buat mereka sekolah..” Ucap Rindu sopan.


“Tapi Ummi perlu jelasin sesuatu sama kamu dulu boleh?” Tanya Ummi Ira sedikit takut.


“Ngak ada yang dijelasin kok mi. Rindu udah paham. Nanti sesudah belanja perlengkapan Rindu bakal kesini lagi ko, bolehkan?” Tanya Rindu pada Umi Ira.


“Jika begitu saya dan anak-anak saya pergi dulu ya... Assalamu’alaikum..” Rindu menggandeng tangan mungil Rian dan Rani yang memang sudah rapi, mungkin karena mereka mau diadopsi tadi. Sebenarnya wajah jika Rian dan Rani mau diadobsi meskipun mereka baru tingal dipanti ini. wajah Rian dan Tampan dan jiwa nya yang sudah dewasa sebelum usianya, belum lagi Rani yang sangat cantik dengan kulit putihnya dan tingkah yang menggemaskan akan membuat siapapun luluh. Sama halnya dengan Rindu. ia lulu..


Rindu sadar. jika pertemuan dan pilihannya menjadi pembantu Habib adalah cara Tuhan untuk hari ini. Iyyaa... Hari ini. Coba ia tak terima tawaran.? Bagaimana nasib Rian dan Rani?


.


.


.


.


Like komen and vote yaa...

__ADS_1


terimakasih yg masih setia baca. Salam sayang dari Rindu....


__ADS_2