Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Cintai Allah melebihi cintamu padaku


__ADS_3

Sejak kejadian itulah keluarga Habib tak pernah lagi memperdebatkan Rindu. Mereka menyayangi Rindu dan tak pernah menganggpap Rindu pembantu lagi. Terlebih Nayla yang suka menghina Rindu. sekarang mereka lebih arab dan lebih dekat. Luka? Tak banyak, namun cukup mampu membuat Rindu tak sadarkan diri bukan? Sebenarnya banyak, hanya saja Rindu sudah terlalu terbiasa akan rasa sakit, bak pisik maupun pisiskis. Akh malang sekali bukan?


Maafkan author ya Rin. Sebab ujianmu semakin lama semakin banyak. Dan ini masih sedikit loe. Nanti ada ujian yang lebih sakit lagi..!! sabar saja,.. Ujianmu bukan ujian pelakor, ataupun yang lainnya hehe..


....


“Kamu sudah tidak apa-apaan Rin? Kamu tidanggal dirumah saja ya,..!!!” Habib masih tidak enak menyuruh Rindu bekerja padahal ia baru keluar rumah sakit kemarin sore.


“Saya tidak apa-apa tuan. Saya sudah kuat kog. Saya tidak mau makan gaji buta saja. Haram..!!” Ujar Rindu ringan. Uang yang ia dapatan itu bukan hanya untuk dirinya saja, tapi juga untuk Rian dan Rani, bahkan juga untuk ibu dan ayahnya diampung. Yaahh. Ia memberi tanpa memberitahu supaya keluargannya mau menerimanya.


“Sudah saya bilamg. Jangan panggil saya Tuan Rin. Panggil saya Habib saja, atau kak Habib. Yang bisa membuat kita lebih dekat.” Habib memang sudah menegaskan hal itu pada Rndu dari dulu namun masih saja Rindu tak melakukannya. Sebab jika diingat-ingat, apalagi Rindu sangat terlihat dekat dengan dokter Rey sebenarnya bukan karena terlihat dekat. Tapi mereka memang harus dekat bukan? Antara pasien dan dokter?


“Ya pak. Ehh Kak.” Rindu canggung membuat ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dulu paman, menjadi bapak, lalu Tuan dan sekarang naik pangkat menjadi Kak. Besok apa lagi ya?


“Iya sudah. Ayo kita berangkat..!!” Ujar Habib lalu membuka pintu untuknya masuk. Jangan harap ada adegan romantisnya. Tak ada Habib yang membuka pintu untuk Rindu, yang ada Rindu membukanya sendiri dan duduk dismping Habib.

__ADS_1


Seenarnya Rindu masih sakit, tapi ia harus apa? Ia harus sadar dengan posisinya sebagai pembantu, nanti jika ia malas malas dan suka berleha-leha kasihan dengan gajinya. Ia ta mau makan gaji buta saja. Ia sadar diri.


Diamnya Habib dan Rindu membuat suasana hening. Habib yang sibuk menghafal ilmu agama sedangkan Rundu juga ikut menghafal ayat yang sedang ia ulangi. Mereka sama-sama berada dijalannya.


brak...


Sesaat setelahnya mobil itu berhenti mendadak membuat Rindu yang terkejut mendadak hampir menabrak kursi depan. untunglah Habib cepat tangap memegang jidatnya membuat tangan Habib yang menghantam kursi itu. Sebarnya Habib reflek karena tak ingin Rindu kenapa-napa. Entah kenapa Rindu menjadi priorotasnya.


Sesaat setelahnya mereka saling pandamg salam lima detik lalu mengalihkan pandangan keluar jendela serentak karena cangung. “Maaf tuan, tadi ada kucing lewat..!!” Ujar Filos tersenyum manis. Sebenarnya bukan karena kucing. Ia hanya tak suka situasi cangung yang diciptakan oleh mereka membuat ia berinisiatip hal semacam ini.


Sejujurnya sifat Hbaib berubah seratus delapan puluh derajat, ia yang angkuh, ia yang menjunjung tinggi ego dan ia yang suka berkuasa. Ia yang sombong sekarag menjadi lebih baik. Ia suka tersenyum meskipun hanya tipis, ia tak lagi suka marah-marah dan ia menjadi orang yang tak egois lagi. Dan Filos mensyukuri akan hal itu. Apa itu karena Rindu?


Habib menatap Rindu yang memejamkan matanya membuat ia mengerutkan meningny.” Kamu tida apa-apa Rindu? apa kamu skit?” Tanyanya. Ia memang tak dapat meihat wajah Rindu, hanya saja mata Rindu terpejam sangat erat membuat ia berfikir jika Rindu menyimpan sakit yang mendalam.


Rindu yang sedang menahan gejolak sakit diginjalnya membuat ia mengerjab dan memandang Habib. Ia tersenyum “ Saya memang sedang sakit. tapi sakit itu adalah penggugur dosa. Jadi saya harus bersyukur apa yang saya rasakan bukan? Jadi jangan mengkhawatirkan saya..” Ujarnya jujur. namun tersenyum miris. Hari-harinya semakin sakit. Keadaan semakin buruk sedangkan ia masih belum mendapatkan maaf dari orang tuanya. Sesak rasanya.

__ADS_1


Habib diam menatap Rindu. kekagumannya semakin menggunung membuat ia semakin bertekat mempelajari agama islam.” Saya sudah bisa menghafal dua jus Al-Qur’an.. apakah kamu bahagia Rindu? saya hebat bukan?” Ujarnya menghibur. Ia tersenyum lembut pada Rindu saat menyampaikan hal yang menurutnya membangakan.


Filos yang tak paham hanya menyimak saja. Sesekali ia melirik spion untuk menatap dua insan dibelakang. Rindu tersenyum bahagia.” benarkah? Tapi apakah kamu sudah mempelajari kenapa kamu harus menghafal Al-Qur'an? Apa makna dan juga apa yang kamu dapatkan dari menghafal ayat suci?” Tanyanya membuat Habib bungkam.


Habib memutar otak untuk menjawab.” Y.. itukan syarat yang kamu buat untuk saya... apa saya salah?” Tanyanya bingung. Jujur ia memang belum bisa memahami mencintai Rindu secara benar. Bagaimana mencintai Tuhan lebih dalam dari pada mencintai Rindu. lebih tepatnya ia lebih mencintai Rindu dibanding Tuhannya. Buktinya ia masih berusaha menghafal Al-Qur’an karena Rindu, bukan karena Allah.


Rindu menatap jalanan sendu.” Kan saya sudah bilang. Cintai Tuhan terlebih dahulu cintai Ia melebihi kamu mencintai saya. Sebab saya tidak akan menerima kamu jika kamu belum mencintai Allah melebihi kamu cinta pada dunia ini. meskipun kamu hafal seluruh ayat Allah tapi kamu tidak paham arti hafalan kamu itu akan sia-sia tuan. “ Ujarnya pelan.


Habib menatap Rindu kecewa. Ia pikir ia akan dipuji. Tapi nyatanya Rindu tidak memujinya.” Apa kamu tidak bahagia saya bisa menghafal dua jus?” Tanyanya.


Rindu tersenyum miris.” Jika kamu menghafal itu hanya untuk mendapatkan saya. Maka kamu akan sia-sia tuan. Sebab Tuhan maha tau segalanya. Saya bangga sama tuan karena mudah menghafalnya. Tapi maaf, saya akan terima ketika Tuan bisa mencintai Allah swt melebihi dunia sekalipun, barulah saya akan mencintai Tuan. Cintai Tuhan baru cintai saya. Jika tuan melakukan sebaliknya maka saya terlahir hanya menjadi suatu kesalahan, bukan keberkahan. Jadi tolong, jangan mencintai saya melebihi tuan mencintai Allah swt..!!” ‘Sebab saya tidak tau kemudian hari saya bisa membalas cinta Tuan atau tidak, karena umur saya tidak tau kapan berakhirnya tuan. Tapi jika Tuan mencintai Allah melebihi tuan mencintai saya. Maka kekecewaan tuan terhadap saya bisa terobati dengan mengikhlaskan. Saya hanya mau mengajarkan tuan keikhlasan mulai dari sekarang..!!” Lanjutnya dalam hati.


Habib diam mencerna ucapan Rindu. ia kecewa tapi ia akan tetap berusaha.


Tanpa ia sadari jika Rindu menatap jalan disebelahnya dengan derai air mata. Tanpa ia sadari, ia sudah jatuh dalam pesona Habib. ia menangis dalam diam. sesakit ini rasanya ketika mencintai tapi tak bisa disatukan dengan alam? Tapi Rindu yakin. Jika Tuhan punya rencana jauh lebih baik dari apa yang ia harapkan. Rindu percaya akan hal itu..!!!

__ADS_1


__ADS_2