
hati yang damai adalah hati yang selalu berserah diri kepada Allah Swt. Yang sadar jika apa yang ada pada dirinya adalah yang terbaik baginya.. Karena Allah menyiapkan sesuatu pada hambanya adalah sesuatu yang memang sebaik baiknya dari apa yang kita anggap baik... NVS31..
Dipenuhi dengan air mata abi Rindu dan uminya saling berpelukan. Rasyid yang memukul lantai karena merasa tak berguna untuk adik kesayanganya itu. Caca mendekati Uminya dan membuat uminya memeluk anaknya itu. semuanya dilarut dalam duka disana.
“Maafin abang ya Rindu.. maafin abang yang enggak tau apa-apa tentang kamu dan pada akhirnya abang tetep jadi orang yang enggak berguna buat kamu..”Ujarnya disana memukul lantai dengan lemahnya karena merasa gagal sudah melindungi Rindu.
Abi Rindu tak kuat membuat ia memeluk istrinya kuat, ia tak tau harus apa sampai pada istrinya pingsan karena menangis.”Umi.. yaampun umi.”Gumamnya lalu cepat cepat membawah istrinya yang terkulai itu kekamar. Rasyid disana mengikuti abinya dengan nanarnya disana membantu supaya uminya cepat sadar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beda halnya dengan Rindu yang sama sekali tak mempedulikan hidupnya, yang ada difikiranya adalah satu, 'Mengikuti', ia hanya mengikuti apa kata takdir bukan dengan apa yang ia harapkan. Terlalu sakit untu berharap bukan? Sampai detik ini ia merasakan rasa rindu yang membunca pada seseorang dan menemukan titik pengharapan. ‘apa kabar Rey? Semoga kau bisa menemuiku nanti dan kita bisa bersatu’ hanya itu, bolehkan?
Rindu menatap perkarangan rumah yang dimasuki oleh mobil milik keluarga kandungnya itu, memasuki area rumah yang sangat besar bahkan sebesar rumah Habib membuat ia mnengerjab.,, apakah ini alasan kenapa ibunya dulu ingin membunuhnya? Apakah rumah ini lebih berharga dari dirinya? Speertinya iya batinnya.
Mobil berhenti didepan pintu besar membuat Rindu keluar tanpa kata kata dan semuanya pun ikut keluar. Disana sudah ada beberapa laki-laki dan pembantu yang bisa Rindu tebak jika mereka adalah pelayan dan juga penjaga karena itu bisa dilihat dari seragam yang mereka gunakan. Apakah ayahnya sekaya itu?
“Ngapain berdiri disitu. Ayoo masuk..!!” Ujar dari Gio kepada Rindu yang masih diam didepan mobil itu karena menatap orang otang disekitar. Rindu pun tampa banyak kata mengikuti jalan kakeknya itu membuat banyak pelayan curi curi pandang kepadanya karena penasaran.
Rindu disana menatap kedalam rumah yang bisa dikatakan wah,..ini bahkan sangat besar dan mewah membuat ia yakin jika orang tuanya sangat kaya. Tapi ia tetap menyetabilkan apa yang ia harus liat dan apa yang tidak boleh ia lihat supaya ia tidak kelihatan apapun itu. Rindu dibawa keruang keluarga yang disana sekarang sudah ada tiga wnaita yang masih cantik disana yang langsung menyambut tiga lelaki yang menjemput Rindu tadi.
“Kalian sudah pulang teryata.”Itu ucapan mereka dengan para lelaki itu dengan senyum, namun sama sekali tak dibalas oleh mereka, mereka malah melemparkan jas kepada wanita wanita itu membuat Rindu menatapnya datar. Disana mereka sangat kelihatan seksi dan juga modis meski sudah tua sekalipun, ada satu sosok yang masih sangat muda membuat Rindu menatapnya, ia diam saja menatap Rindus edari tadi membuat Rindu memalingkan pandanganya, ia tau jika ia adalah ibunya. Ia yakin itu.
“Rindu sini..!!” Ujarnya Gio kepada Rindu yang jauh dari mereka membuat Rindu mendekat dengan kepala yang terangkat, maafkan Rindu yang tidak sopan, tapi inilah yang diajarkan abbinya. Gio menatap Rindu tajam disana..
Rindu tegak didekat Gio dan lainnya disana membuat tiga wanitya itu menatap Rindu dengan tanda Tanya, siapakah gerangan? Apakah ia adalah selir atau istri baru? Tapi seprtinya tidak mungkin, karena disana Rindu tidak ada modis modisnya. Bahkan bajunya saja sobek, dan wajhnya saja ditutup.
__ADS_1
“Buka cadarmu.. saya mau melihat wajahmu…!!” Ujar dari Gio kepada Rindu yang ada didepanya itu dengan tegas membuat Rindu diam. Semua orang menatap Rindu dengan teliti karena ingin melihat wajah Rindu yang sebenarnya.
Rindu sekarang memiliki banyak pertanyaan, sebenarnya tidak apa-apa ia membukanya, tapi ia malu dna ia tak ingin, apalagi mereka baru kenal membuat ia diam menatap Guio itu. “Buar apa?” Tanyanya dengan datar dan juga tanpa ekpresi membuat para wanita disana melotot.
“Ku gadis yangsungguh susah diatur rupanya..”Ujar Gio terkekeh geli disana.” Kau bahkan tak mencerminkan wanita sesungguhnya…”Ujarnya lagi dengan menggeleng kepada Rindu membuat Rindu menatapnya datar.” Kami ini keluarganmu, jadi wajar jika kami memintamu membuka wajahmu, kami hanya ingin tahu saja bagaimana rupamu. Apakah rupamu begitu buruknya sampai kau menutupinya.. “Lanjutnya lantang.
Rindu juga yang terkekeh disana membuat mereka menatap Rindu dengan tak percaya.” Keluarga?” Tanya Rindu dengan cengenegsan.” Maaf, saya rasa kita hanya orang yang terikat darah namun asing dimata dan dihati. Kita hanya orang yang satu sel darah yang sudah membeku dimakan waktu.. kalian hanya orang asing yang tiba tiba datang dan mengatakan kita keluarga.. padahal definisi keluarga tidak sesingkat itu Tuan..” Ujar Rindu menantang disana.
Gipo disana menatap Rindu tajam, begitu juga Rion dan juga Nio. “Lancang kau menjawab ucapan dari suamiku ya..!”sosok perempuan yang tadi diam saja menatap Rindu tajam.,” Kau ini siapa ha? Kau tidak memiliki pangkat dan drajat untuk menjawab pembicaraan lelaki.. kau hanyalah kaum rendahan..!!” Ujarnya menekan kata katanya disana.
Rindu menatap sosok itu.” Ya nyonya tua..”Ujarnya disana dengan tenang.”Namun sayangnya saya bukan kaum rendahan, dan mungkin bisa jadi anda kaum rendahan, karena mau direndahkan, sedangkan saya yang rendahan saja tidak mau direndahkan oleh orang lain. Maaf lita beda level dan beda konteks.”Ujar Rindu tenang disana.
“Kurang ajar..!!!” Teriaknya lalu maju untuk menampar Rindu namun sayangnya ditahan oleh Rindu yang menatapnya tajam, Rindu disana tersenyum miring dibuatnya.”Jangan membuat rasa hormat saya kepada anda hilang..”Ujar Rindu lalu menghepaskan kuat tangan itu membuat wanita itu terpekik disana memegang tanganya yang terasa terkilir.
Rindu disana menatap semua orang disana dengan datar.”Katakan padaku apa tugas ku disini, biar semuanya bisa cepat selesai, saya muak dengan drama, saya lebih suka dengan kehidupan biasa saya.”Ujar Rindu disana jujur karena sudah gregeran disana.
” Rinjani.. antarkn Rindu kekamarnya, biarkan dia istirahat dan biarkan besok saja kita perkenalan, kasihan dia lelah.’”Ujatr Gio disana.
Perempuan cantik yang bernama Rinjani itu meremas roknya dan mendekat secara menunduk.” Ba baik Tu tuan.”Ujarnya gugup disana menatap Rindu. Nampak dilehernya ada bekas cekikan membuat rindu mendengus, sakit rasanya, apakah dia ibunya?
“Mar mari Rindu, ikuti saya.”Ujarnya kepada Rindu membuat Rindu mengangguk dengan tegasnya tanpa memikirkan hal lainya, apa yang harus dipikirkan selain dirinya sendiri sekarang? Ia mengikuti langkah perempuan itu yang mengajarknya naik lift. Ternyata rumah ini begitu besar sampai ada liftnya membuat Rindu diam saja sembari menatap wanita didepanya itu datar.
Ternyata ia memiliki tubuh yang mungil ini dari ibunya, matanya juga… oitu membuat ia tersenyum tipis, ternyata ia mirip dengan ayahnya dan ibunya, sedangkan Rinjani diam diam gugup dikalah ditatap oleh Rindu begitu membuat ia menatap kedepan saja.
Mereka menginjakkan kaki dilantai tiga membuat Rindu mengikuti jalannya Rinjani sampai didepan pintu putih membuat Rindu mengangguk.”Ini kamar kam kamu..”Ujarnya Rnjani gugup sembari membuka pintu putih itu. Menyaksikan kamar yang cukup cantik dan juga enak dipandang. Hanya saja Rindu tisak suka dekornya, karena isinya banyak boneka, bukan buku. Isinya juga banyak skincare bukan lainya.. ia tak suka warna yang cera begini. Ini warna orange sedangkan ia sukanya warna abu abu. Tapi tak apalah.
__ADS_1
Rindu menganggguk sembari memasuki kamar itu melewati Rinjani yang gugup.”Terimakasih.”Ujar Rindu datar lalu menatap Rinjani yang masih menatapnya.”Terimakaish sudah mau menghantarkan saya sampai sini.” Ujar Rindu ttulus disana.
Rinjani mengangguk gugup disana kepada Rindu.” Ya sama sama. Jika ada perlu kau bisa panggil pembantu disini, ya..”Ujarnya membuat rindu mengangguk saja tanpa menjawab.”Jika begitu, say saya pergi dulu ya.. sel sel selamat malam.”Ujarnya disana lagi lalu menutupi ointu Rindu dengan gugupmuya merasakan hatinya memanas dan juga sakit.
Rinjani memegang dadanya yang sesak yang seharusnya menumpahkan air mata sedari tadi.”Kmau sudah besar ya nak.”Gumamnya disana dengan helaan, dibarengkan dengan air mata yang jatuh,. Ia meremas bajunya dengan nanar lalu berkjalan dengan lunglai disana. Ia malu dengan anaknya, anaknya yang mengenakan cadar sedangkan ia sudah keluar dari islam dan sekarang lihatlah dia, bajunya yang bahkan sangat ketat bagaikan kurang bahan, roknya yang mimim dan sobek bagian paha membuat ia bagaikan wanita bayaran saja membuat ia malu kepada anaknya sendiri.
Ia dipaksa dan dituntut untuk selalu cantik dan modis supaya suaminya tak malu, ia dipaksa untuk merawat disi supaya selalu terlihat mengkilau didepan layar, ia dituntut menjadi sempurna dan bisa segalanya, itu membuat ia diikat dengan tali belenggu suaminya. Bagi lelaki mereka dirumah ini, perempuan hanyalah pameran, alat pemuas nafsu dan tidak ada harganya. Itulah yang membuat mereka makan hati setiap hari. Mau cerai? Tidak bisa kecuali para lelaki yang bisa, karena memang adat dan budaya turun menurun keluarga ini lelaki adalah raja. semua keputusan ada ditangan laki laki.
Sedangkan Rindu disana duduk dipingir ranjang setelah mengunci pintu kamarnya, matanya yang sedari tadi tidak menangis dan terlihat tegar itu sekarang memerah dengan air mata yang jatuh.” Yaallah.. maafkan hamba yang pura pura tidak mengenali ibu hamba, dan mafkan hamba yang tidak bisa bicara selayaknya anak kepada keluarga. Sebab hamba masih bingung., hamba bahkan merasakan jika semua ini hanya mimpi dan tidak nyata, semua ini terlalu mendadak dan terlalu sakit untuk hamba rasakan dan hamba pikirkan sebelumnya.”Gumamnya dengan nanar disana dengan nasibnya,
Rindu menghapus air matanya lalu mengambil air wudhu dikamar itu, tak ada apapun membuat ia hanya mengenakan baju yang ia kenalkan itu untuk sholat dan cadar sebagai alas untuk sajadah, ia tak punyaapapun disana tapi ia butuh ketenangan jiwa. Tak ada tempat untuk bersandar dan meminta tolong selain kepada Tuhannya membuat ia sesegera mungkin datang dan mencurahkan semuanya.
Benar kata orang, semakin sulit dan sakitnya perjalanan yang ia hadapi membuat semuanya semakin hari semakin tak terasa, semuanya bagaikan makanan bagi rindu membuat Rindu merasakan sesak didadanya, ia bersujud begitu lamanya kepada Tuhannya menumpahkan segala rasa didadanya, menumpahkan segala kepedihanya.
Siapa yangtak sedih jika tau jika orang yang selama ini mendidik dan mengajarkanya itu bukanlah orang tuanya, bahkan dengan bodohnya Rindu membenci mereka sedangkan mereka adalah penyelamat hidupnya, ia yang merawatnya dan menjaganya membuat Rindu malu pada dirinya sendiri, bisa bisanya dulu ia membenci keluarganya bukan?
Sampai pada Rindu bangkit karena merasakan cairan basah keluar dari hidungnya membuat Rindu merabah hidungnya, benar saja.. darah membuat air matanya jatuh dengan senyum piluhnya.. ia mengusapnya lagi dengan tangan lain dan ternyata semakin banyak dengan dada yang sakit. Ia merasakan mual membuat ia cepat cepat pergi ketoilet dikamarnya itu.. dan keluarlah darah pekat dan darah yang membongka bagaikan darah beku disana membuat Rindu menahan dadanya yang sesak.
Kepala Rindu sakit, dadanya sakit, nafasnya sesak dan tulang tulangnya bagaikan menjadi jelly membjuat ia lunglai dengan nafas yang naik turun, mendongak supaya darah tak keluar tapi masih tetap keluar membuat Rindu tak mampu menahanya. Ia memukul mukul marmer yang ada disisinya itu kuat menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan membuat tangannya membiru. Rindu tak ingat membawa obatnya membuat ia pasrah akan takdirnya…
Rindu menghela nafas berat menatap ketanganya dan berdoa kepada Tuhanya.” hamba serahkan semuanya kepadamu ya Rob, hamba lelah, hamba lelah.”Gumamnya tak bertenaga dan ia terkulai lemas pingsan di toilet itu, Tubuhnya bersandar didinding wastafer disana membuat keadaan dirinya sangatlah mengenaskan disana. Mungkin ni lebih baik bukan?
Disisi lain keluarga Gionio iinipun menatap keluarganya dengan tatapan tajam..” Dimana anak itu? Kami sudah membawa yang dia inginkan, dimana anak anak?”Tanyanya dengan nanar disana kepada para wanita.
Ranji dan lainya gugup dibuatnya.” Me mereka sedang main diluar, dan mungkin seperti biasa tidak pulang… “ujarnya perempuan yang tak lain bernama Argi, istrinya Rion sang kakaknya Nio itu gugup.
__ADS_1
Plak…. Itu tamparamn dari Rion untuk istrinya kuat.”Istri enggak guna.. mendidik anak saja kamu tidak bisa..!!!! bisa kamu apa ha? Lelah saya liat anak kamu itu..!!” Teriaknya kuat menatap istrinya itu yang mengusap pipinya yang perih dan juga sakit. Sedangkan Ranji dan lainnya hanya diam, ini bukan pertama bagi mereka.
”Sudahlah, kabarkan kepada mereka jika adik mereka sudah ketemu, dan tolong pulang jika tidak adik mereka akan kita bunuh sekarang juga..!!” Tekan Gio kepada mereka lalu pergi karena lelah, ia lebih tertarik akan menyelidiki tentang Rindu yang membuat hatinya cukup mengesankan....